Operasi Senyap Di Kota Batu

Wali Kota Batu Mengaku Sedang Di kamar mandi ketika Ditangkap KPK

Kota Batu  adalah sebuah kota di Provinsi Jawa Timur . Kota ini terletak 90 km sebelah barat daya Surabaya atau 15 km sebelah barat laut Malang . Kota Batu berada di jalur yang menghubungkan Malang-Kediri dan Malang-Jombang. 

Kota Batu berbatasan dengan Kabupaten Mojokerto dan Kabupaten Pasuruan di sebelah utara serta dengan Kabupaten Malang di sebelah timur, selatan, dan barat. Wilayah kota ini berada di ketinggian 700-1.700 meter di atas permukaan laut dengan suhu udara rata-rata mencapai 12-19 derajat Celsius.

Kota Batu dahulu merupakan bagian dari Kabupaten Malang, yang kemudian ditetapkan menjadi kota administratif pada 6 Maret 1993. Pada tanggal 17 Oktober 2001, Batu ditetapkan sebagai kota otonom yang terpisah dari Kabupaten Malang.

Batu dikenal sebagai salah satu kota wisata terkemuka di Indonesia karena potensi keindahan alam yang luar biasa. Kekaguman bangsa Belanda terhadap keindahan dan keelokan alam Batu membuat wilayah kota Batu disejajarkan dengan sebuah negara di Eropa yaitu Swiss dan dijuluki sebagai De Kleine Zwitserland atau Swiss Kecil di Pulau Jawa Bersama dengan Kota Malang dan Kabupaten Malang, Kota Batu merupakan bagian dari kesatuan wilayah yang dikenal dengan Malang Raya (Wilayah Metropolitan Malang).

Sekarang, kota ini menjadi lebih terkenal setelah Tim Satgas Penindakan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT). Dalam operasi senyap yang dilakukan Sabtu(16/92017 ) sore, tim menciduk  Wali Kota Batu,  Eddy Rumpoko, bersama 4 orang lainnya. Salah satunya seorang pengusaha.

Secara resmi tidak disebutkan di mana dan secang apa Eddy ditangkap. Namun dikabarkan dia dibekuk KPK saat melakukan transaksi suap dengan sejumlah pihak pada satu lokasi di Batu.  Dia segera dibawa ke Mapolda Jawa Timur di Surabaya.

Di Mapolda Jawa Timur wartawan sudah menunggu. Begitu Eddy digiring oleh penyidik KPK, dia langsung menjawab pertanyaan wartawan. Dan sebagaimana biasanya, terduga kasus korupsi pasti membantah.

“Saya di rumah, mandi. Terus tahu-tahu kamar mandi digedor. Ada petugas KPK Katanya OTT,” kata Eddy saat dibawa dari Mapolda Jatim ke bandara untuk diterbangkan ke Jakarta, Sabtu (16/9/2017).

Saat memberikan keterangan kepada wartawan, petugas meminta Eddy masuk ke dalam bus yang sudah menunggu. Namun Eddy ngotot ingin terus berbicara kepada wartawan.”Nggak apa-apa, sama wartawan nggak apa-apa,” lanjut kader PDIP yang suka beraksi dengan motor gedenya itu.

Eddy Rumpoko dan Motor Gede

 

Tapi Eddy tetap diminta masuk bus oleh petugas. Eddy meninggalkan Mapolda Jatim sekitar pukul 20.44 WIB. Eddy langsung dibawa ke gedung KPK untuk pemeriksaan lanjutan.

KPK menyita uang Rp 300 juta saat menangkap Eddy Rumpoko. Dari total duit itu, diduga Eddy menerima duit suap sebesar Rp 200 juta. “Uang yang diamankan berjumlah sekitar Rp 300 juta. Rp 200 juta untuk wali kota dan Rp 100 juta untuk Kepala ULP,” kata Wakil Ketua KPK Alexander Marwata pada pers.

Duit ini diduga diterima dari pihak rekanan terkait pengadaan barang dan jasa pada Pemkot Batu. Walkot Batu dan 4 orang lainnya ditangkap sekitar pukul 12.30 WIB dan langsung dibawa ke Mapolda Jatim untuk pemeriksaan awal.

“Terkait dengan penerimaan suap atau hadiah oleh Wali Kota Batu dan Kepala ULP Pemkot Batu dari rekanan (Philip) terkait pengadaan barang dan jasa,” sebut Alexander.