Minat Jadi ISIS Masih Tinggi

Kebohongan ISIS makin terkuak. Janjinya memberikan kesejahteraan, ternyata hanya hoax. Meski penuh dusta, minat orang Indonesia gabung ke kelompok militan itu masih tinggi.

Mabes Polri menyebut ada 671 warga Indonesia saat ini bergabung dengan ISIS di Suriah. Minat bergabung ke kelompok teroris ini terus meningkat, meski sejumlah mantan pendukungnya sudah membeberkan berbagai kebohongan ISIS.

Sejumlah kebohongan ISIS baru-baru ini kembali diungkap ke publik menyusul kepulangan 18 warga Indonesia yang sempat bergabung dengan kelompok pimpinan Abu Bakar Al-Baghdadi itu. Tak satu pun dari mereka memiliki pengalaman indah saat berada di jantung pertahanan ISIS selama dua tahun.

“Apa yang saya baca tentang ISIS semuanya tidak benar. Bohong,” kata Nurshadrina Khaira Dhania yang sempat berada dua tahun di kamp pertahanan ISIS di Suriah.

Nurshadrina merupakan satu dari 18 WNI yang pulang ke Indonesia, medio Agustus lalu. Sementara 17 orang lainnya ialah Lasmiati, Muhammad Saad Al Hafs, Mutsanna Khalid Ali, Difansa Rachmani, Muhammad Habibi Abdullah, Muhammad Ammar Abdurrahman, Dwi Djoko Wiwoho, Fauzakatri Djohar Mastedja, Febri Ramdhani, Sita Komala, Intan Permanasari Putri, Sultan Zuffar Kurniaputra, Ratna Nirmala, Heru Kurnia, Tarisha Aqqila Qanita, Mohammad Raihan Rafisanjani dan Syarafina Nailah.

Keterlibatan Nurshadrina di ISIS tidak terlepas dari bujuk raya pamannya, Djoko Wiwoho. Latar belakang Djoko sebagai pegawai BP Batam cukup berandil besar membuat gadis berusia 19 tahun ini mendalami ISIS. Namun tidak banyak referensi yang diperoleh gadis ini untuk menelusuri rekam jejak kelompok yang ngotot menegakkan syariat Islam di bumi. Dirinya hanya mendapat informasi satu arah dari internet.

Nurshadrina mengaku semakin tertarik bergabung dengan kelompok ini karena mendapat kesan kalau kehidupan di bawah kepemimpinan ISIS serba damai, dan penuh kemakmuran. “Kenyamanan yang digambarkan dalam tulisan itu seperti kehidupan di bawah kepemimpinan Nabi Mumammad,” tuturnya.

Niat merantaunya ke Suriah semakin tinggi karena ISIS juga menyebarkan video kesaksian warga yang sudah lebih dulu bergabung. Warga tersebut mengajak umat muslim tidak ragu berangkat ke Suriah karena kesejahteraan telah menanti, seperti sekolah gratis dan pekerjaan yang banyak dengan gaji besar. “Sebelum berangkat, ISIS janji akan mengganti seluruh biaya keberangkatan kami ke Suriah,” lanjut Nurshadrina.

Gadis ini berangkat tidak sendiri, karena ada empat anggota keluarga lain yang mendampinginya. Namun bukan kesenangan dunia yang membuat wanita ini memutuskan berangkat ke Suriah. Nurshadrina lebih memikirkan akhirat. “Hidup di sana itu kesaanya, dunia dapat, akirat dapat. Saya ingin keluarga saya masuk surga,” bebernya.
Tapi semua promosi yang dilahapnya melalui internet itu hanya bualan. Setibanya di Suriah pada Agustus 2015, kehidupan Nurshadrina langsung berubah karena diperlakukan tidak manusiawi. Kaum perempuan yang berasal dari luar Suriah ditempatkan di sebuah asrama yang tidak layak dan kotor. Sementara kaum laki-laki dipaksa untuk ikut berperang.

Kaum perempuan didata berdasarkan statusnya, antara yang sudah berkeluarga, belum menikah, dan janda. Setelah itu ditempatkan secara terpisah di asrama tersebut. Hampir setiap hari anggota ISIS mendatangi asrama tersebut meminta perempuan yang belum menikah atau janda untuk dijadikan istri.

Lasmiati, bibi dari Nurshadrina yang juga ikut bergabung dengan ISIS mengaku mereka telah tertipu. Harapan akan kehidupan yang lebih baik, pupus setelah dia memutuskan hijarah ke Suriah. “Di benak saya, masyarakat di Suriah berlomba-lomba untuk beribadah. Itulah kenapa saya mau ikut. Kenyataannya bohong semua,” timpalnya.
Lasmiati bersama 17 warga Indonesia lainnya diketahui meninggalkan Suriah pada awal Agustus 2017. Sebelumnya mereka tinggal di kamp pengungsian Ain Isaa yang berjarak 50 kilometer dari Raqqa yang merupakan ibu kota ISIS. Petugas Kamp Ain Issa di Suriah kemudian menyerahkan mereka kepada perwakilan pemerintah Indonesia di perbatasan Suriah Irak, 8 Agustus 2017.

Direktur Perlindungan WNI dan Bantuan Hukum Indonesia (PWNI dan BHI) pada Kementerian Luar Negeri, Lalu Muhammad Iqbal menyebut warga Indonesia ini melarikan diri dari penjara dan rumah isolasi milik ISIS pada 10 Juni 207, setelah dibantu pihak ketiga. Mereka sempat 40 hari berada di Raqqa, sebelum akhirnya dimasukkan ke penjara.

Kepulangan 18 WNI ini bukan berarti pekerjaan rumah pemerintah selesai. Sebab ternyata masih ada 671 WNI masih bertahan di Suriah untuk mendukung perjuangan ISIS. Secara keseluruhan warga Indonesia yang terkait foreign terrorist fighters (FTF) di Indonesia ada 1478 orang. Seribuan WNI ini tersebar mulai dari Irak, Suriah hingga Filipina.

Ini jelas persoalan serius karena bisa saja sebagian di antaranya pulang tanpa diketahui petugas yang kemudian melakukan aksi terorisme di Indonesia. Sebab Badan Nasional Penanggulangan Teroris meyakini WNI yang terkait FTF memiliki keahlian merakit bom.

Kepala Divisi Humas Polri Irjen Setyo Wasisto menyebut WNI yang bergabung dengan ISIS dan masih hidup yakni 239 laki-laki, 104 perempuan, dan 99 anak-anak. Sementara jumlah tewas 95 anak-anak dan dua perempuan. Di sisi lain Polri berhasil mencegah 105 WNI yang akan berangkat ke Suriah dan Irak, terdiri dari 76 pria dan 29 wanita. Sedangkan WNI yang dideportasi dari Turki, Malaysia, dan Singapura karena berniat pergi ke Suriah untuk bergabung dengan ISIS sebanyak 354 orang, terdiri dari 310 laki-laki dan 224 perempuan.
“Tak hanya WNI, ada juga WNA yang berangkat dari Indonesia menuju Irak dan Suriah sebanyak tiga orang laki-laki, ujar Setyo, Selasa pekan lalu.

Data WNI yang bergabung dengan kelompok radikal di Filipina diprediksi sebanyak 13 orang. Sebelumnya enam orang sudah dipulangkan, sedangkan yang tewas mencapi enam jiwa.

Kementerian Dalam Negeri Turki baru-baru ini merilis jumlah WNI yang menjadi militan ISIS merupakan terbesar kedua setelah Rusia. Data ini merujuk dari jumlah militan asing yang ditangkap Turki. Dari 4.957 yang ditahan, 804 orang dari Rusia dan 435 warga Indonesia.

Melihat fenomena tersebut DPR berharap pemerintah segera mengambil tindakan tegas sekaligus memikirkan upaya pencegahan atas aksi radikal tersebut. Pemerintah pun diingatkan agar mau duduk satu meja membahas aturan perundangan yang membolehkan aparat menahanWNI yang terlibat aksi teror di negara lain. ‎Aturan itu dinilai sangat perlu karena data menyebut sudah ada 84 WNI diduga terlibat ISIS) sudah kembali ke Indonesia.

“Aparat keamanan tetap tak bisa menangkap mereka. Sebab, aparat keamanan tak memiliki bukti terkait kegiatan mereka di luar negeri. Padahal seharusnya WNI yang terafiliasi dengan kelompok teroris dan terlibat dalam pertempuran di negara lain harus diawasi secara ketat,” kata Wakil Ketua Komisi I DPR Tubagus Hasanuddin.
‎Sebenarnya pemerintah memiliki pandangan serupa dengan legislatif. Menteri Dalam Negeri Tjahjo Kumolo menilai WNI simpatisan ISIS yang kembali ke Indonesia memang perlu dipantau keberadaannya. Hal itu perlu dilakukan untuk mencegah penyebaran paham radikalisme yang diperoleh mereka dari ISIS. Karena itu, ia menginstruksikan bupati, wali kota, dan camat setempat untuk memantau tempat tinggal dan aktivitas mereka sekembalinya ke Indonesia.

“Saya minta kepada bupati, camat, jemput mereka. Pastikan mereka pulang ke daerahnya, alamatnya di mana, supaya bisa termonitor. Jadi mereka kalau mau pulang enggak bisa kita tolak, tapi ya kita pantau,” ujar Tjahjo, belum lama ini.

Tjahjo juga meminta BNPT melakukan deradikalisasi agar mereka tak menyebarkan paham radikal. “Makanya begitu mereka pulang langsung didoktrin dulu. Mereka dulu pergi dicuci otak. Mereka pulang ya kita cuci otaknya lagi,” tukasnya.

Zainul Arifin Siregar