Meikarta Dan Ambisi Pengusaha Tionghoa

Demi Kebaikan Rakyat Indonesia ataukah Ada tujuan lain

 

Dua tahun lalu, persisnya Sabtu 28 September 2015. Chairman Lippo Group Mochtar Riady dengan bersemangat mengajak pengusaha Tionghoa untuk tidak ragu berinvestasi di Indonesia meski situasi ekonomi dunia saat ini tengah mengalami keterpurukan. Bila perlu, pengusaha Tionghoa melakukan kerja sama dengan mengumpulkan modal bersama dalam berinvestasi.

 

“Ini merupakan gagasan yang saya tawarkan kepada pengusaha Tionghoa kalau mereka ingin berinvestasi di Indonesia. Kalau mereka mau tentu sangat bagus karena investasi di Indonesia masih punya prospek bagus,” ujar Mochtar saat tampil sebagai pembicara dalam Konferensi ke-13 Pengusaha Tionghoa Sedunia, di Nusa Dua, Mangupura, Badung, Bali, Sabtu (26/9/2015).

Menurutnya, gagasan urunan investasi ditawarkan, selain untuk meningkatkan kerja sama di antara para pengusaha Tionghoa, juga untuk mengumpulkan modal lebih besar. Dengan modal dari urunan itu memudahkan pula dalam investasi. “Indonesia sekarang ini kan membutuhkan investasi yang besar untuk membangkitkan perekonomian,” katanya.

 

Ranangan Proyek Meikarta

 

 

Dalam gagasan yang disampaikan secara singkat itu, Mochtar sempat menyampaikan soal properti yang mempunyai daya untuk menggerakkan ekonomi suatu bangsa. Ia mendeskripsikan, besarnya pengaruh sektor properti terhadap perekonomian negara adalah saat raksasa ekonomi dunia, Amerika Serikat, limbung pada 2008 karena sektor propertinya mengalami kesulitan.

Tak hanya memberi contoh negari Paman Sam, Mochtar pun mengambil satu nama negara besar lainnya yakni Tiongkok. Negara tersebut mengalami kesulitan serius saat sektor propertinya dalam kondisi over supply dan over capacity. Ledakan propertinya tak terbendung, yang didorong tingginya gross domestic product (GDP) dengan nilai US$ 10.000 per kapita.

Mochtar mengibaratkan konstelasi ekonomi dunia saat ini, yang diwarnai gonjang-ganjing nilai tukar mata uang, dalam frasa the world is flat. Seluruh negara saling ketergantungan satu sama lain, tidak bisa berdiri sendiri atau stand alone. Indonesia, kata Mochtar, jelas sangat terpengaruh kondisi Tiongkok.

“Apa yang saya sampaikan ini mudah-mudahan direspon oleh teman-teman pengusaha Tionghoa yang sekarang hadir di Bali ini,” kata Mochtar.

Hal yang disampaikan Mochtar tersebut mendapat respons positif dari pengusaha Tionghoa, seperti Ketua Perhimpunan Pengusaha Indonesia Tionghoa (Perpit) Kiki Barki.

Kiki mengundang investor keturunan Tiongkok di seluruh dunia berinvestasi di Indonesia, yang merupakan negara dengan potensi besar dalam jangka panjang.

“Untuk jangka panjang, Indonesia memiliki potensi besar. Ini peluang, saya sarankan kepada pengusaha Tionghoa, datanglah ke Indonesia,” kata Kiki.

Saat ini, menurut dia, sedikitnya terdapat 3.000 pengusaha keturunan Tionghoa yang tersebar di seluruh dunia. Kiki, yang juga ketua Konferensi ke-13 Pengusaha Tionghoa Sedunia itu, memaparkan bahwa Indonesia sebagai negara kepulauan besar memiliki sejumlah potensi yang masih perlu dimanfaatkan di sejumlah daerah, di antaranya pertambangan seperti batubara dan properti.

“Kalau tiga tahun lalu datang ke Indonesia dengan US$ 2, maka hari ini dengan US$ 1 sudah bisa. Investasi properti, tambang batubara dan tambang lainnya adalah harga yang paling rendah saat ini,” ujarnya, seraya menambahkan hal itu merupakan momentum emas untuk berinvestasi di Indonesia.

Kiki menambahkan, potensi investasi di Tanah Air tidak hanya di kawasan Jakarta dan Bali, melainkan di daerah lain yang memiliki potensi besar seperti Sulawesi, Kalimantan, dan Sumatera.

Sebelumnya, Menteri Koordinator Politik Hukum dan Keamanan (Menko Polhukam) Luhut Binsar Pandjaitan membuka konferensi tersebut mewakili Presiden Joko Widodo. Sebelum membuka acara, Luhut mempresentasikan peluang investasi di Indonesia dari berbagai sektor, di antaranya kelistrikan dan infrastruktur tol laut.

Acara konferensi juga dihadiri Presiden kelima RI Megawati Soekarnoputri, Ketua MPR Zulkifli Hasan, sejumlah menteri Kabinet Kerja, di antaranya Menteri Perhubungan Ignasius Jonan, Menteri Pemberdayaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi Yuddy Chrisnandi, serta Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Komisaris Jenderal Pol Budi Waseso

Grup LIPPO adalah penggagas  proyek senilai sekitar  200 Triliun juga di daerah Cikarang, yakni Meikarta.Tapi mengapa Mochtar Riyadi sampai perlu menyerukan kepada tiga ribu taipan di seluruh dunia agar menanam investasi di Properti, Infrastruktur dan Tambang-Batubara di Indonesia. Demi kebaikan masyarakat Indonesia atau ada tujuan lain?

Sudah tentu para pengusaha itu berkata bahwa mereka berbisnis demi kebaikan rakyat Indonesia. Namun perlu juga kita melihat perspektif lain. Umpamanya pemikiran  Michael Bakunin yang menulis buku ” Statisme dan Anarki.”

Bakunin menyorot sebuah kejadian maha penting di Eropa pada 1870, ketika dia penasaran dan nggak habis pikir bagaimana ceritanya Prancis yang begitu digdaya secara militer, bisa dengan mudah takluk pada tentara Jerman. Apa karena Jerman lebih unggul di bidang teknologi militer? Menurut Bakunin sama sekali tidak. Keunggulan militer kedua negara ini sama kuat.

Menurut Bakunin, kesadaran borjuis dan gaya hidup hedon masyarakat perkotaan Prancis yang berasal dari bangawan pemilik tanah dan bangsawan pemilik uang itulah yang jadi biang keladi kekalahan Prancis.

Kesadaran borjuis dan gaya hidup hedon masyarakat perkotaan prancis, pada perkembangannya merupakan faktor penyebab matinya rasa patriotisme dan nasionalisme Prancis yang terkenal itu. Celakanya, kesadaran borjuis dan gaya hidup hedon inilah yang menjadi dasar terbangunnya peradaban perkotaan di Prancis.

Dan di sinilah, menurut Bakunin, siapa yang punya kuasa kepemilikan terhadap sektor properti, maka mereka inilah yang mempunyai kuasa dan pengaruh membentuk peradaban perkotaan di Prancis.

Menurut Bakunin, tak akan ada revolusi tanpa semangat untuk menghancurkan sesuatu yang buruk, untuk kemudian membangun hal baru yang lebih baik dan bermanfaat. Sebab hanya melalui proses itulah, dunia baru bakal lahir dan bangkit. Tak mungkin ada kebangkitan, tanpa kiamat lebih dahulu. Mungkin begitulah dalam bahasa lain dari saya.

Namun, menurut Bakunin, kesadaran borjuis dan gaya hidup hedon sebagai landasan terbentuknya peradaban perkotaan di Prancis, justru menghindarkan diri dari gagasan penghancuran untuk kebaikan dan kemanfaatan itu.

Bagi warga Prancis yang kala itu sangat didominasi oleh peradaban borjuis yang pada saat sama masih dipengaruhi juga oleh watak feodalisme dalam peralihan dari bangsawan pemilik tanah ke bangsawan pemilik uang, maka tidak ada semangat patriotisme dan nasionalisme tersebut.

Ketika tentara Jerman memasuki wilayah Prancis, baik perkotaan maupun desa, mereka lebih baik menyerah kalah daripada meriskir kehancuran wilayah-wilayah perkotaan di Prancis.

Demi menjaga harta benda dan kekayaan plus gaya hidup enak dan nyaman, mereka lebih baik menggadaikan kebebasan dan kedaulatan nasionalnya. Daripada kehilangan harta benda.

Mereka tidak setuju jika dengan tetap berperang melawan Jerman,terjadi penghancuran kota dan rumah tempat tinggal mereka. Sehingga dengan cara pandang dan pola pikir seperti itu, Prancis akhirnya menyerah dengan begitu mudah terhadap invasi Jerman.

Dalam hal ini, menurut Bakunin, Jerman menjadi negara penakluk yang amat beruntung. Menariknya, Bakunin menyimpulkan situasi ini dengan kalimat singkat: “Kita telah melihat bahwa kepemilikan properti sudah cukup untuk merusak petani Prancis dan memadamkan percikan terakhir patriotismenya.”