Ancang-Ancang Serangan Korea Utara

Ancaman serangan nuklir Korea Utara semakin nyata. Negara ini diam-diam menempatkan senjata rudalnya mengarah ke Korsel dan Amerika. Korsel siaga, Amerika pun was-was.

Semenanjung Korea semakin mencekam. Ancaman serangan nuklir Korea Utara (Korut) semakin nyata. Korut diam-diam telah memindahkan roket yang diduga rudal nuklir antar benua mengarahkannya ke Korsel dan Amerika Serikat, Senin pekan lalu.

Koran Korea Selatan, Asia Business Daily menyebutkan bahwa roket tersebut bergerak ke arah pantai barat Korut. Pemindahan roket ini hanya dilakukan malam hari untuk menghindari deteksi. Kementerian Pertahanan Korsel sendiri sempat memperingatkan bahwa Korut siap meluncurkan rudal antar benua mereka kapan saja. Namun, pihak kementerian menolak berkomentar soal pemberitaan tentang pergerakan misil Korut yang disebut-sebut mampu terbang sejauh 10 ribu kilometer dari Pyongyang ke wilayah Amerika Serikat.

Pengarahan rudal itu membuat Korea Selatan (Korsel) siaga penuh. Mereka tak ingin kecolongan jika Korea Utara (Korut) benar-benar meluncurkan Intercontinental Ballistic MIssile (ICBM) pada Sabtu, 9 September 2017. Sebelumnya, Korsel dan Amerika Serikat (AS) menuntaskan pemasangan sistem antirudal Terminal High-Altitude Area Defense (THAAD) di Seongju County.

 Sementara itu, beberapa negara mulai merumuskan sanksi terhadap negara yang dipimpin Kim Jong-un tersebut.”Sudah tiba waktunya untuk meningkatkan sanksi dan tekanan terhadap Utara (Korut) semaksimal mungkin,” kata Yoon Young-chan, jubir Presiden Korsel Moon Jae-in.

Moon sempat bertemu dengan Perdana Menteri (PM) Jepang Shinzo Abe sebelum menghadiri Eastern Economic Forum (EEC) di Kota Vladivostok, Rusia. Dalam pertemuan itu, mereka sepakat membuat Kim Jong-un jera. Moon dan Abe berusaha menggalang dukungan dari Rusia dan Tiongkok. Moon bertugas membujuk Beijing. Sedangkan Abe bakal berusaha meyakinkan Presiden Vladimir Putin agar mendukung perumusan sanksi.

Sanksi dan hukuman, menurut Moon dan Abe, bakal menjadi cara yang jauh lebih efektif untuk membuat Korut menghentikan program nuklirnya. ”Itu lebih efektif ketimbang dialog,” ungkap Yoon.

Di ibu kota Korsel, PM Lee Nak-yon memimpin rapat penting yang dihadiri para petinggi Kementerian Pertahanan. Dalam kesempatan itu, dia kembali menegaskan bahwa Korut sangat mungkin kembali meluncurkan ICBM atau misili balistik lintas benua pada 9 September. Laporan intelijen, menurut dia, juga mendukung ramalan Seoul. ”Situasinya sangat genting. Sepertinya Korut tidak butuh waktu lama untuk mencapai target utama program nuklirnya,” kata Lee.

Karena sudah sangat dekat, Seoul lebih memilih jalur sanksi dan embargo untuk memaksa Korut melupakan ambisinya. Sebab, jalur dialog bakal membutuhkan waktu lama.  Apalagi, Pyongyang sudah menegaskan bahwa mereka tidak mau tawar-menawar soal nuklir di meja perundingan.

Lee menyatakan, kali ini ICBM Korut akan diarahkan ke koordinat yang tepat. Tapi, dia tidak bisa menjelaskan koordinat yang dimaksud. Dia tidak bisa memastikan jika yang Korut bidik adalah Kepulauan Guam meski sebelumnya Jong-un mengumumkan rencananya untuk merudal teritori AS di Samudra Pasifik. ”Yang jelas, kami harus lebih tegas,” ungkapnya.

Bersamaan dengan rapat pertahanan di Seoul, Korsel dan AS menuntaskan pemasangan empat peluncur THAAD. Dengan demikian, THAAD yang dipasang di bekas padang golf milik Lotte Group itu siap beroperasi.

Sebelumnya, dua peluncur sistem antirudal sudah dipasang di sana. Kini, total enam peluncur sudah terpasang dengan sempurna. Pemasangan empat peluncur THAAD menuai protes publik. Kemarin, sekitar 8.000 polisi antihuru-hara dikerahkan ke Seongju.

Dengan perisai dan tongkat, polisi-polisi itu mengamankan konvoi mobil pembawa empat peluncur THAAD melewati sekitar 400 demonstran. Sejak pagi, mereka menduduki lokasi pemasangan THAAD karena tak ingin pemasangan sistem antirudal itu membuat situasi kian runyam.

Penasihat Khusus Kepresidenan Korsel Moon Chung-in menyatakan, THAAD perlu segera diaktifkan. ”Meningkatnya ancaman dari Korut membuat pemerintah perlu menyiagakan THAAD,” katanya.

Namun, selain para aktivis lingkungan yang mengeluhkan dampak sosial sistem antirudal dan aktivis cinta damai yang khawatir Semenanjung Korea terjerumus dalam perang, Tiongkok menentang THAAD.

Geng Shuang, jubir Kementerian Luar Negeri Tiongkok, menyatakan bahwa THAAD hanya membuat masalah keamanan regional kian parah. Seharusnya, Korsel mempertimbangkan dampak pemasangan sistem antirudal buatan AS itu terhadap negara-negara tetangga. Salah satunya Tiongkok. Negeri Panda itu memprotes THAAD Korsel karena serpihan rudal yang dihancurkan bisa jatuh ke Tiongkok. Sementara itu, Washington mengajukan proposal kepada Dewan Keamanan (DK) PBB tentang sanksi baru untuk Korut. Dalam draf resolusi itu, pemerintahan Presiden Donald Trump membidik aset Jong-un dan sektor ekonomi.

AS berniat membekukan seluruh aset milik pemimpin 33 tahun itu. Selain itu, AS mengusulkan agar pasokan minyak bumi ke Korut diberhentikan dan dunia tidak menerima ekspor tekstil dari mereka.

Tanda-tanda Korut melakukan penyerangan semakin terdeteksi. Tembakan rudal Hwasong-12 yang sempat memicu alarm bahaya Jepang karena melintasi Pulau Hokkaido, disebut sebagai sinyal. Demikian juga uji coba bom hidrogen alias termonuklir di fasilitas nuklir Punggye-ri yang diklaim sebagai sebuah kesuksesan.

Dalam Conference on Disarmament di Kota Jenewa, Swiss, Korut mengaku masih punya banyak kejutan lain. Han Tae-song, duta besar Korut untuk Swiss, menyebut rangkaian kejutan yang dipersiapkan rezim Kim Jong-un itu sebagai paket hadiah untuk AS. “Serangkaian mekanisme bela diri yang baru saja negara kami luncurkan adalah paket hadiah untuk AS, bukan yang lain,” katanya.

Han juga menyatakan bahwa Korut masih punya banyak hadiah yang lain untuk Negeri Paman Sam. “AS akan mendapatkan lebih banyak hadiah selama mereka masih melanjutkan provokasi dan tekanan terhadap DPRK (nama resmi Korut),” ungkapnya tanpa menyebut hadiah apa yang dimaksud.

Soal penembakan Hwasong-12 dan uji coba nuklir ke-6 yang memantik amarah dunia, Han justru mengaku bangga pada negerinya. Di hadapan perwakilan diplomatik AS dan negara-negara PBB yang lain, Han menegaskan bahwa ancaman dan sanksi atau gertakan tidak akan membuat ciut nyali Korut. Rezim Jong-un, menurut dia, tidak mempan diancam atau disanksi. “Dalam kondisi apa pun, DPRK (Korut) tidak akan pernah membawa program nuklir ke meja perundingan,” tegasnya.

Semakin ditekan, dia mengaku bahwa Korut bakal semakin nekat. “Semua yang kami lakukan itu hanyalah bagian dari upaya untuk membela diri dan melawan ancaman serta permusuhan yang AS tebarkan selama beberapa dekade terhadap negara kami,” papar Han.

Robert Wood, diplomat AS yang hadir dalam konferensi tersebut, sama sekali tidak menyinggung tentang perundingan. Setelah mendengar keterangan Han, dia mengatakan bahwa Korut menodai kepercayaan masyarakat internasional lewat uji coba bom hydrogen. “Sekali lagi, mereka telah menipu kita. Kini semuanya terserah Dewan Keamanan (DK) PBB,” ujarnya.

Presiden Vladimir Putin kembali menyerukan imbauannya kepada semua pihak yang berkonflik di Semenanjung Korea untuk bisa menahan diri. AS dan sekutunya diminta berhenti menekan Korut. Adu kekuatan AS dan sekutunya versus Korut bisa memantik bencana global. “Sanksi baru tidak akan ada gunanya. Mereka (Korut) akan lebih memilih untuk makan rumput ketimbang menghentikan program nuklirnya,” tukas Putin.

Zainul Arifin Siregar