Kivlan Zein: “Mereka Bilang PKI Tidak Salah, Yang Salah Soeharto”

Ada orang yang keluar dari kantor LBH menggunakan lambang palu arit,

Mayjen TNI (Purn) Kivlan Zen membeberkan sejumlah bukti-bukti adanya bau komunis di acara yang digelar di Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Jakarta, saat terjadi penyerangan pada Minggu malam, 17 September 2017. “Ada kok terlihat semua. Ada tulisan seminar. Ada yang berbicara. Isinya bahwa PKI nyatanya tidak masalah,” kata Kivlan di Gedung Bareskrim Polri, Kementerian Kelautan dan Perikanan, Gambir, Jakarta Pusat.

Bahkan, menurut Kivlan, seminar yang digelar LBH Jakarta hanya sebuah kedok, yang sebenarnya bertujuan untuk meminta TAP MPRS Nomor 25 tahun 1966, dicabut dan PKI hidup lagi. “Ada orang saya di dalam yang memberitahukan ada seminar tetap jalan meski ditutup. Mereka tetap jalankan meskipun sudah jam 15.00 WIB. Hari Sabtu dan Minggu dilanjutkan dengan kesenian. Dan kemudian mereka katakan ‘dilanjutkan’. Saya bilang ‘sudah lah cukup lah karena sudah dihentikan polisi pada hari Sabtu’. Tapi mereka tetap lanjutkan atau siapa sehingga rakyat marah,” ujarnya. Berikut ini penjelasannya:

Anda dituding sebagai aktor penyerangan ke Gedung YLBHI?

Ketawa lagi saya. Ada buktinya nggak saya yang mendalangin? Ada ucapan saya nggak mendalangi itu? Ada nggak kehadiran saya di tempat itu? Ya toh?. Jadi LBH salah tuding menuduh saya sebagai aktor, sebagai dalang. Kalau itu kan berarti saya yang berperan. Tapi saya kan tidak hadir di tempat itu. Kalau memang saya dalang ya saya mimpin dong demonya.

 

Pada aksi tersebut Anda berada dimana?

Hari minggu saya ada di Bogor. Kalau saya dituduh bahwa yang kejadian hari Minggu ada penyerangan ada kerusuhan di depan LBH saya tak berada di sana dan tak merancang menyerang.

Anda mendapat informasi darimana?

Dari informasi yang saya terima, ada orang yang keluar dari kantor LBH menggunakan lambang palu arit, lambang yang identik dengan paham komunisme. Ada lagu-lagu yang dinyanyikan Genjer-Genjer. Itu lagu perangnya PKI ketika menyerang. Itu yang saya dengar. Mereka tak seminar. Tapi pas pentas seni dan menyatakan PKI tidak salah, yang salah Orde Baru, yang salah pemerintah Soeharto, yang salah adalah tentara, mereka benar dan menyatakan PKI tak salah dan harus dihidupkan lagi.

Kemudian apa tujuan Anda melaporkan Ketua Bidang Advokasi YLBHI Muhammad Isnur ke Badan Reserse Kriminal Polri?

Melaporkan Isnur yang memfitnah saya mencemarkan nama baik saya sebagai dalang atau operator di dalam penyerang LBH Jakarta. Karena itu saya melaporkan. Ada yang barang bukti dari Public News. Kemudian ucapan M Isnur di depan media, di depan Komnas Perempuan. Yang menuduh saya dalang aksi. Sudah diucapkan dia. Bukti satu lagi ada kiriman di FB dan WA saya bahwa mereka ada rapat dan memakai lambang kacamata seperti marxisme.

Anda juga disebutkan meminta pemerintah membubarkan YLBHI?

LBH melawan hukum. Hizbut Tahrir Indonesia (HTI)I juga kan melawan hukum, ya dibubarkan. Kalau LBH melawan hukum, ya kami minta dibubarkan juga dong.

Alasannya?

Mereka minta cabut TAP MPR tentang larangan adanya PKI. Berarti mereka sudah melanggar hukum. Kalau melanggar hukum berarti bisa kita bilang LBH melanggar hukum. Mereka melanggar TAP MPRS, berarti melangar UUD, berarti pembangkang. Ini bukan hanya sekali dua kali. Berarti LBH harus dibubarkan seperti HTI. Saya bilang, ‘udah lah, cukup lah, karena sudah dihentikan polisi pada hari Sabtu’. Tapi mereka tetap lanjutkan atau siapa sehingga rakyat marah. Waktu saya dengar ada yang keluar pakai lambang palu arit dari kantor LBH. Ada lagu-lagu yang dinyanyikan Genjer-Genjer. Itu lagu perangnya PKI ketika menyerang. Itu yang saya dengar.

Anda pernah mengatakan “Anak PKI, Ribka Tjiptaning, dia tetap menjadi anggota DPR. Dia terang-terangan bang­ga sebagai anak PKI masuk DPR,”. Nggak takut tuding-tuding Budiman Sudjatmiko dan Ribka Tjiptaning PKI?

Nggak takut. Ngapain takut, orang mereka sudah menunjuk­kan eksistensinya kok.

 

Pemakai kaos berlogo palu arit ditangkap

 

Menurut Anda, siapa yang menyokong mereka, sehingga mereka berani menunjukkan eksistensinya?

Di balik itu pasti ada kekua­tanlah. Siapa yang menyokong itu, bisa birokrat.

Birokrat itu termasuk peme­gang kekuasaan?

Kekuasaan, DPR, bisa dari orang-orang partai gitu toh. Sekarang Hansip sudah dibubar­kan, sekarang di dalam buku-buku mereka bubarkan Babinsa, Koramil sampai Kodim. Kaki dan tangan sudah dipotong, sekarang mata dan telinga juga mau dipotong. Kalau mereka siap perang kita juga siap perang. Sebelum mereka mulai, kita pu­kul duluan. Kalau mereka yang nyerang duluan, kita hantam. Kekuatan kita cukup.

Ini perang PKI apa akan seperti masa lalu?

Seperti masa lalu lah.

Pakai kekerasan lagi?

Ya pakai kekerasan. Doktrin mereka yang baru, hasil kongres ini menyebutkan agitasi, propa­ganda, teror, fitnah, memutarba­likkan fakta, masih tetap kok.

Kok bisa PKI masuk ke kekuasaan?

 

Ya sudah dihapus kok larangan untuk mereka. Nggak ada lagi larangan.

Ke depan apa ada rencana agar PKI dan pengikutnya dilarang masuk kekuasaan?

Ya nggak perlulah. Masak kita larang, orang kita sudah memaafkan mereka kok. Tapi jangan pula mereka (ambil) kesempatan karena nggak di­larang langsung mengambil kekuasaan.
Apa yang perlu dikhawatirkan dari PKI?

Karena kalau mereka berkuasa, kemudian mengambil langkah-langkah untuk meng-komunis­kan Indonesia, ya perang. Perang saudara. Ribka Tjiptaning dua minggu yang lalu ngomong di DPR: Kami pengikut PKI 15 juta orang siap bergerak. Belum lagi pendukung, anak, dan cucu-cucunya. Dia sudah ngomong, apalagi. Berarti mereka siap perang.

Ada yang mengatakan ko­munisme tidak bisa dihapus. Selama masih ada kesenjangan ekonomi atau kemiskinan, ko­munisme tetap akan menjadi alternatif pilihan?

Makanya jangan miskinlah. Untuk nggak miskin itu maka perkuat ekonomi kita. Islam kan juga memperhatikan kaum dhuafa, dan orang miskin, da­lam Islam memperhatikan. Ada ayatnya itu: Ara aytalladzi yuka dzibu biddin, fadza likalladzi yad’ul yatim, wala yuhuddu ‘ala ta’amil miskin, iya kan. Bukan hanya Islam, Pancasila juga memperhatikan kaum miskin.
Tapi ada yang berpendapat komunisme itu lawan kapital­isme, agar tidak ada kesenjan­gan ekonomi. Apa itu salah?

Nggak, lho komunisme itu kan kawannya kapitalisme. Ideologi komunis, ekonominya kapitalis sekarang. Jadi komunis itu merangkap kapitalis. Jadi berbahaya, dua-duanya. Lebih berbahaya lagi.

Barangkali simposium tand­ingan ini adalah phobia atau ketakutan para jenderal ter­hadap apa yang dilakukan di masa lalu?

Lho, mereka juga jenderal yang mendukung kok. Sama-sama jenderal.

Jadi bukan phobia?

Bukan phobia.

Jadi apa dong?

Waspada.

 

You might also like