Justru Sopir Angkot Yang Menolong Ibu Gendong Jenasah Bayi

Ibu yang menggendong jasad bayinya dengan angkot terus menjadi pemberitaan baik di media massa maupun media sosial. Ia dan suaminya tinggal di Desa Gedung Nyapah, kecamatan Abung Timur Kabupaten Lampung Utara. Bayi mereka yang baru berusia sekitar satu bulan meninggal dunia di RSUD Abdoel Moeloek Bandar Lampung. Karena tidak memperoleh pelayanan ambulance, mereka terpaksa membawa jenasah bayi mereka dengan angkutan umum.

“Kami  tidak mendapatkan pelayanan pengantar ambulance sampai ke rumah duka,”kata ayah sang jabang bayi Ardiansyah di kediamannya, Rabu (20/9) malam.

Ia menceritakan awal permasalahan terjadi ketika sedang mengurus administrasi kepulangan anaknya. Saat itu, salah seorang petugas mengatakan adanya perbedaan nama yang tercantum antara kartu BPJS dengan nama yang tertera dibagian formulir pendaftaran. Sehingga harus diurus terlebih dahulu untuk mendapatkan pelayanan dari ambulance, dan prosesnya membutuhkan waktu.

“Alasannya karena ada perbedaan nama antara yang tertera di pendaftarannya Delpasari dan kartu BPJS tertera Berlin Istana. Saat itu, ada sopir ambulance disana yang mengambil inisiatif menawarkan jasa dengan imbalan rupiah,” kata dia saat itu.

Tidak lama berselang, Adriansyah berinisiatif bernegosiasi dengan sang sopir tersebut. Namun ayal, harga yang ditawarkannya terlalu tinggi baginya yang dipatok Rp 2 juta sekali jalan. Sehingga mereka memutuskan tidak menggunakan ambulance, melainkan dengan angkutan umum. “Isteri sayalah yang gendong Berlin saat naik angkot,” ujarnya.

Sementara itu Delva, ibu korban saat itu sudah berada didalam mobil ambulan milik RSUAM. Tetapi oleh suaminya diminta turun, karena tidak memiliki uang untuk membawa anaknya. Saat itu, perasaannya sangat campur aduk melihat kondisi anaknya yang sudah meninggal, tidak diantarkan kerumah duka.

Di dalam angkot, ada perempuan yang memberitahukan ada layanan ambulan gratis. Oleh sopir angkot langsung ditelepon. “Saya sempat menunggu setengah jam datangnya ambulance di bundaran Rajabasa,” ujarnya.

Anaknya lahir pada 17 Agustus 2017 lalu, di RSU Ryacudu Kotabumi. Saat itu, anaknya ada benjolan dikepalanya. Karena tidak sanggup, akhirnya anaknya dirujuk ke RSU Abdoel Moeloek di Bandar Lampung. Berlin, terang dia sudah dua kali konsultasi ke dokter di RSUAM. Pertama pada Jumat tanggal 25 Agustus, kedua kalinya pada Senin 18 September. Keberangkatannya kedua kalinya, menggunakan kereta api dan angkot. Saat turun naik angkot itulah, bayi Berlin mengalami kejang. “Anak Saya langsung masuk ruang Alamanda RSU Abdoel Moeloek,” katanya.

Setiba di rumah duka, anaknya langsung dimakamkan, yang letaknya di belakang rumahnya. Kondisi pemakaman, saat itu terang Dia sedang hujan deras. Seusai pemakaman, langsung digelar tahlilan di rumah bercat hijau itu. Keluarganya mendapat bantuan dari pemerintah kabupaten, berupa uang tunai.

Jefri Irwansyah sopir ambulance, bercrita bahwa ia membawa jenazah anak dari Ardiansyah dikarenakan merasa iba dengan kondisi mereka. Ia langsung membawa keluarga tersebut ke rumahnya yang terletak di Dusun Labuhandalam, desa ‎Gedungnyapah, kecamatan Abung Timur, Lampung Utara. “Kami langsung antar kerumah setelah dapat telepon dari orangtuanya,” ujarnya.