FILSAFAT KEPEMIMPINAN

Soen’an Hadi Poernomo * Dosen Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (IISIP), Jakarta. *Pengurus Ikatan Sarjana Perikanan Indonesia (ISPIKANI)

Soen’an Hadi Poernomo : Perilaku kepemimpinan yang baik adalah yang berorientasi kepada dua arah sekaligus, yakni mengacu kepada tujuan organisasi (goal oriented), dan bersamaan juga memperhatikan kebutuhan anggota yang dipimpinnya (member oriented). Sikap pemimpin dalam menjalankan kewenangannya bisa beraneka, itupun menilainya bisa dari berbagai dimensi. Ada yang terlihat menjalankan kepemimpinannya dengan gaya partisipatif, atau ada yang secara otoriter, dalam skala besar dikategorikan demokratis atau monarkis.

Salah satu potret kepemimpinan juga dapat dilihat dari filosofi yang digunakan dalam menjalankan roda organisasi atau mengelola kewenangan dan tanggungjawabnya. Ada yang menonjol idealismenya sebagaimana aliran Plato, adapula yang realistis sebagaimana ajaran Aristoteles, namun banyak juga yang model Machiavelli, yakni boleh benar atau salah, yang penting tujuan tercapai. Tentu semuanya memiliki kelebihan dan kekurangan masing-masing.

Model Plato

Plato yang hidup tahun 428-347 sebelum Masehi, banyak mengikuti ajaran Socrates. Aliran filsafatnya berpendapat bahwa manusia dalam melihat segala sesuatu senantiasa tergantung pada pikiran dan kejiwaannya. Aliran yang disebut Idealisme ini, dalam kelompok Subyektif Idealisme, bertentangan dengan aliran filsafat Naturalisme, sedangkan kelompok Obyektif Idealisme, bertentangan dengan aliran filsafat Realisme. Pemahaman aliran Idealisme diibaratkan dalam perumpamaan “Allegory of Cave”, yakni bila ada seseorang sepanjang hidupnya di dalam gua, yang belakangnya terdapat nyala api, maka bayangan dirinya dalam dinding gua akan dianggap sebagai suatu hal yang nyata.

Penganut Idealisme ini berpendapat, barang yang sama bisa dipersepsikan sebagai sosok yang berbeda. Sebagai contoh, di jaman penjajahan, Bung Karno oleh kolonialis Belanda dianggap sebagai pemberontak dan pengacau yang harus disingkirkan, tapi bagi rakyat Indonesia, sosok yang sama ini adalah sebagai pahlawan yang patut diagungkan.

Penganut Idealisme memiliki kehebatan bertujuan yang menganggapnya sempurna, perfect, dan harus diwujudkan. Pendapat yang berbeda dianggapnya harus diabaikan, bahkan dilawan. Dinilainya sebagai opini yang konservatif, kuno, tidak sebagus atau maju, disbanding pendapat dirinya.

Gaya pemimpin idealis semacam ini sangat bagus kalau yang bersangkutan memang menguasai bidangnya, serta memahami kekuatan dan kelemahan gagasannya. Sebaliknya, sangat berbahaya bila dimiliki oleh pemimpin yang tidak memahami bidangnya, hanya mendapatkan referensi dari sumber yang salah, dan tidak komunikatif. Oleh karenanya, pengikut aliran ini memberikan beberapa tambahan pencerahan. Rene Descartes (1596-1650) mengingatkan mengenai penggunaan filsafat Idealisme untuk tidak bermodal pemikiran yang buruk : “wipe the mirror clean to be ready for undistorted vision”. Ditegaskan pula oleh Immanuel Kant (1724-1804): “it does not reflect the world, but tries to understand and interpret it”.

Sekilas contoh, seorang idealis sangat bagus bila memiliki gagasan melestarikan sumberdaya perairan. Namun akan menjadi buruk, bila kurang faham, lantas   membabat semua mata pencaharian orang yang menangkap ikan. Seharusnya berkomunikasi dengan ahli yang memahami dan pelaku bidang perikanan, untuk tetap membuka peluang bagi nelayan guna mencari nafkah, namun diatur sehingga kelestarian juga tetap dipertahankan.

Model Aristoteles

Aristoteles (384-322 sebelum Masehi), anak seorang dokter istana, ditinggal wafat ayahnya saat masih remaja. Ketika umur 17 tahun dikirim walinya untuk “nyantri” pada Akademi yang dikelola Plato di Athena, hingga gurunya tersebut wafat tahun 347 sebelum Masehi. Disamping mengajar, ia aktif meneliti dan menulis. Karya Aristoteles, baik prosa populer maupun puisi, merambah berbagai bidang. Mulai dari biologi—zoology maupun botani, fisika, politik, psikologi, dan tentu saja filsafat. Banyak istilah keilmuan masa kini yang terambil dari karya Aristoteles. Banyak pula filosof yang mengikuti pemikirannya, Romawi maupun Kristen, bahkan ada juga dari Arab—al-Kindi dan Ibnu Sina di Bagdad pada abad IX dan X, serta Ibnu Bajjah dan Ibnu Rushdi di Spanyol pada abad XII.

Pada mulanya Aristoteles pengikut setia pemikiran Plato, hingga gurunya tersebut wafat. Dalam periode sekitar 12 tahun setelahnya, ia sering mulai mengkritisi beberapa pemikiran Plato. Sejak tahun 335 sebelum Masehi, ia menolak pemikiran Plato, dengan meyakini pemikiran filsafatnya sendiri, yakni metode keilmuan, dan menyanggah metafisik. Alirannya yang menjadi dasar filsafat Realisme ini bersandar pada kenyataan yang dilihat dan dirasakan panca-indera, lantas diolah oleh logika pemikiran.

Gaya pemimpin yang beraliran Realisme akan bagus karena realistis, tepat untuk diaplikasikan, difahami oleh publik, dan rasional. Akan lebih hebat lagi apabila diikuti dengan kreatifitas, akan memberikan kemajuan, inovasi, dan manfaat yang besar.  Hanya apabila tidak disertai etika hokum atau moral, bisa mendatangkan pragmatisme yang negatif.

Contoh ilustrasi, penggagas gerakan Saemaul Udong di Korea Selatan secara kreatif, setelah melihat realitas, berhasil mengendalikan liberalism dan kapitalisme ekstreem, menggantikan dengan ekonomi kerakyatan tanpa mengurangi modernitas dan produktivitas. Adapun contoh buruk aliran ini yang melihat realitas kekayaan alam Nusantara,  tanpa etika, melakukan penggalian tambang mineral dan pembabatan hutan untuk perkebunan, yang demi mengeruk keuntungan, mengabaikan kesejahteraan rakyat dan kelestarian.

Model Machiavelli

Niccolo Machiavelli (1469-1527) memang terkenal sebagai pemikir politik dari Italia, dan sempat menjadi sekretaris Dewan Negosiasi Diplomatik maupun Dewan Penasehat Perang  dinegerinya. Dalam bukunya The Prince dan The Discourses tertulis filosofinya tentang politik, yang pada intinya untuk memperoleh kekuasaan, tidak perlu mempertimbangkan aspek moralitas, yang penting cepat berhasil mencapai tujuan dan efisien. “A prince is admonished to disregard the question of whether his action would be called virtuous  or vicious. A ruler ought to do whatever is appropriate to the situation in which he finds himself and may lead most quickly and efficiently to success. Sometimes cruelty, sometimes leniency, sometimes loyalty, sometimes villainy might be the right course. The choice depends on circumstances”.

Memang ada pepatah, dalam politik hanya ada satu kepastian, yakni ketidak pastian. Dalam bahasa halusnya sebagaimana yang diungkapkan oleh tokoh reformis Cina, Deng Xiao Ping: “Tidak peduli kucing hitam atau putih, yang penting dapat menangkap tikus”.

Bisa jadi dalam politik agak memaklumi apabila ada yang menghalalkan segalacara. Namun apabila ada pemimpin yang bertabiat model Machiavelli, tingkat kepercayaan public akan merosot, dan kemenangan pasti akan menjauh.***