Dua Bandar Narkoba Di Terjang Pelor, Satu Mati

Mereka melakukan perlawanan saat akan ditangkap.

 

Tim Satuan Reserse Narkoba Polda Sumatra Utara, Minggu pekan lalu, menembak mati seorang tersangka pengedar narkoba di Medan. Dalam kesempatan yang sama, polisi menangkap tiga tersangka lainnya yang juga pengedar narkoba dalam kondisi hidup.

Tersangka berinisial TMY itu tewas setelah melakukan perlawanan ketika hendak diciduk petugas. Jenazah tersangka kini berada di instalasi jenazah RSU Bhayangkari Medan.

“Tersangka terpaksa kita tembak karena mencoba melawan petugas. Kita lakukan tindakan tegas dan terukur di kawasan Medan Sunggal,” ucap Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut, Kombes Pol Hendrik Marpaung, dalam paparannya di hadapan wartawan, di RSU Bhayangkara, Medan.

Pengedar Narkoba

 

Dia mengatakan, ditangkapnya para tersangka itu setelah sebelumnya petugas melakukan penyamaran sebagai pembeli barang narkoba jenis sabu tersebut. “Barang bukti narkoba seberat 2 kilogram dibungkus ke dalam bungkus teh Cina. Selain itu kita sita enam unit telepon genggam dan satu unit mobil merek Mitsubisi jenis Pajero Sport warna hitam,” ujar Hendrik.

Tersangka yang berhasil diringkus yakni Raja Mangaliat Hutapea alias Pak Jess, Anton Sopian alias Adi, dan Riki Rezeki alias Crup. Sedangkan tersangka yang tewas ialah Faizal.

Atas perbuatannya, para tersangka dikenakan Pasal 114 Ayat (2), Pasal 112 Ayat (2) jo Pasal 132 Ayat (1) UU RI No 35 Tahun 2009 tentang Narkotika. Ancaman penjara paling singkat 5 tahun dan paling lama 20 tahun atau hukuman mati atau denda paling sedikit Rp1 miliar.

Sepekan sebelumnya, Polisi juga menembak mati bandar narkoba di Sumatera Utara. Dia ditembak mati karena melawan kepada petugas. Dari tangannya, 1 kilogram sabu disita. “Pelaku meninggal dunia bernama Musli Adi (39), warga Aceh. Selain itu, dua orang ditangkap Yossi Andrian (30) dan Baktiar (29),” kata Kasubdit II Ditresnarkoba Polda Sumut AKBP Hilman Wijaya.

Ia mengatakan, penindakan tersebut di Besitang, Kabupaten Langkat. Saat itu, petugas mendapat informasi adanya peredaran narkoba. “Petugas dapat info bahwa mobil jenis Land Cruiser BK 1381 IM membawa narkotika. Kemudian petugas lidik dan menemukan mobil melintas di Besitang,” ujar Hilman.

Melihat hal itu, petugas kemudian mengikuti seterusnya melakukan penindakan dan menangkap 3 pelaku. Didalam mobil itu, ditemukan sabu seberat satu kilogram.

Dalam pemeriksaan, diketahui sabu tersebut dipesan oleh seseorang kepada pelaku Musli di daerah Percut Sei Tuan, Kabupaten Deli Serdang.

“Namun, pemesan tidak ditemukan. Saat di perjalanan, pelaku Musli Adi melawan dan berupaya merampas senjata api petugas sehingga petugas melakukan tindakan tegas (menembak pelaku) dan pelaku Musli Adi meninggal dunia,” jelasnya.

Selain sabu, petugas juga menyita 6 unit HP dan satu unit mobil jenis Land Cruiser. “Pelaku Yossi dan Baktiar dibawa ke kantor. Sedangkan pelaku meninggal dunia dibawa ke RS Bhayangkara,” tutup Hilman.

Musli Adi, bandar narkoba yang ditembak mati polisi di Sumut, masuk jaringan Indonesia-Malaysia. Selain Musli, dua orang lainnya yang ditangkap adalah Yossi Andrian dan Baktiar. “Info diperoleh akan dikirim narkoba dari Aceh dengan tujuan Palembang. Sabu asal Malaysia,” kata Wakapolda Sumut Brigjen Agus Andrianto di RS Bhayangkara, Medan.

Agus mengatakan penangkapan dilakukan pada Kamis (17/8/2017) malam di Besitang, Kabupaten Langkat. Setelah petugas mendapat informasi adanya pengiriman sabu, petugas kemudian menuju lokasi.

“Kemudian dihadang kendaraan mobil Land Cruiser. Ditangkap 3 pelaku dan ditemukan 1 kilogram sabu, 6 unit HP, dan ringgit Malaysia. Saat pengembangan, satu pelaku berusaha merebut senjata petugas dan ditindak tegas,” ujarnya.

Maraknya peredaran narkoba, membuat Polisi harus bertindak tegas. Seperti disampaikan Wakil Direktur Reserse Narkoba Polda Sumut AKBP Yossi Runtukahu bahwa persoalan narkoba sudah sangat meresahkan. “Yang terpenting sebenarnya adalah pencegahan,” ujarnya.

Dia menjelaskan, Anggota Polisi yang menangani Narkoba di Sumut sangat terbatas, dengan luas panjang pantai yang panjang, “Jadi kalau kita bicara tentang bahaya narkoba harus komprehensif, ada masyarakatnya, ada tokoh agama, tokoh masyarakat, pemerintah daerah, kalau hanya mengandalkan Polisi yang tak bisa tertangani, kami hanya bisa seperti pemadam kebakaran saja.”

Sindikat Pengedar Narkoba yang ditangkap BNN

 

Untuk menekan peredarannya tentu bisa dengan melakukan tindakan tegas, karena ini menyangkut pekerjaan ekonomi bagi pelaku. “Kenapa orang beralih usaha menjadi pengedar narkoba, karena uangnya cepat dan jumlahnya besar. Di tengah situasi ekonomi yang cukup sulit sekarang ini, berdasarkan pengakuan Bandar yang tertangkap, mereka memang semata-mata mencari keuntungan. Karena lebih cepat kaya. Tapi mereka tidak melihat resiko yang besar dan dampak yang ditimbulkannya.” tuturnya.

Lanjutnya, wilayah Sumut yang berdekatan dengan Malaysia, juga sudah menjadi analisa, mengapa barang narkoba yang berasal dari Malaysia pasti akan melewati Sumut. “Karena 99 persen,  barang yang beredar di Sumut ini berasal dari Malaysia. Ada yang dari provinsi Aceh, ada yang langsung ke Sumut, ada juga yang ke Riau dulu baru ke Sumut. Kebanyakan jalur yang digunakan adalah pesawat udara, kapal laut, dimana ada yang resmi dan ada juga yang menggunakan kapal-kapal kecil. Memang para tekong dan nakhoda nya sudah ahli yang mereka lakukan diam-diam. Mereka sudah terbiasa menyelundupkan bawang putih, baju-baju bekas, bahkan membawa TKI illegal dan juga narkoba. Sehingga yang bisa menyentuh dan mengetahui masyarakat, sehingga masyarakat harus aktif menyampaikan informasi,” urainya panjang lebar.

Pemberian sanksi sosial kepada para pelaku juga bisa menjadi cara agar  para Bandar yang berada di lingkungannya mengentikan perbuatannya. Namun pemerintah daerah juga harus mendukung, tujuannya adalah memberikan efek jera. “Karena bagaimana pun, kita Polisi yang terus giat melakukan pemberantasan, namun keterbatasan personil, luasnya wilayah harus tetap mendapat dukungan dari masyarakat,” ujarnya.

“Kalau saya berprinsip, pencegahan harus tetap yang terdepan. Sesuai dengan hukum pasar, ketika market sudah tidak ada, maka penjual pun akan tak ada lagi, karena mereka sudah tak bisa lagi menjual barangnya. Memutus rantai perdagangan dan ini adalah pencegahan dini dari keluarga, lingkungan menjadi sangat penting,” pungkasnya.

 

JULIE INDAHRINI