Bupati Rita Widyasari Mewarisi Bakat Bapaknya Jadi Koruptor

Rita jadi tersangka kasus yang nilainya mencapai Rp3 Trilyun.

Kali ini teori kriminolog Cecare Lombroso memperoleh pembenaran. Bahwa perilaku jahat adalah bakat yang diturunkan secara genetik.

Baru saja Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan Bupati Kutai Kartanegara (Kukar), Rita Widyasari, sebagai tersangka dugaan kasus korupsi. “Benar, Rita ditetapkan sebagai tersangka. Tapi ini bukan OTT, melainkan hasil pengembangan kasus,” kata Wakil Ketua KPK Laode Muhammad Syarif di Gedung DPR, Jakarta, Selasa (26/9/2017).

Rita Widyasari dengan gaya modis

 

Politisi Golkar yang maju sebagai Bupati Kukar dengan dukungan Partai Gerindra, PKS, Demokrat, PAN, PKS, Hanura dan PDIP itu ditetapkan sebagai tersangka sejak 17 September 2017. Dia diduga menerima suap dan gratifikasi dari beberapa pihak terkait mengeluarkan perizinan tambang.

Meski telah ditetapkan sebagai tersangka, Rita tidak langsung ditangkap, karena hingga sore tadi masih bekerja seperti biasanya. Namun surat pemberitahuan dari KPK kepada Polda Kalimantan Timur berupa permohonan bantuan pengamanan untuk melakukan penyidikan terhadap Rita sudah dikirimkan sejak 25 September 2017.  Dugaan sementara, kabarnya Rita jadi tersangka terkait kasus infrastruktur multiyears yang nilainya mencapai Rp3 Trilyun.

Laode juga menuturkan, penetapan sebagai tersangka kepada yang bersangkutan berdasarkan penggeledahan terakhir dari Tim KPK di Kantor Bupati Kukar tersebut.

Namun Rita mengaku belum tahu perihal penggeladahan yang berlangsung di kantor dadn rumah dinasnya. Meski demikian, dia mengaku akan menghadapi kasus hukumnya.
“Saya masih mau cek ada apa dan akan hadapi dengan tenang,” kata Rita , Selasa 26/9/2017 kepada wartawan.

 

Siapa sosok bupati ini? Rita Widyasari lahir diTenggarong, Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur pada 7 November 1973. Karir politiknya  cukup melejit di daerah yang terkenal sumber minyak dan gas bumi itu. Maklum, dia adalah anak dari mantan Bupati sebelumnya, Syaukani Hasan Rai

Sosok Syaukani sudah tidak asing lagi dalam blantika  otonomi daerah era awal-awal reformasi. Suami dari Dayang Kartini yang sekaligus ibunda Rita itu, pernah menjadi Ketua Asosiasi Pemerintah Kabupaten Seluruh Indonesia (Apkasi). Menjadi Bupati tahun 1999-2004. Dan kemudian kembali menjadi Bupati melalui pemilihan langsung pertama di Indonesia tahun 2005.

Namun karir Syaukani anjlok. Belum genap lima tahun, Syaukani jadi tersangka oleh KPK dalam kasus korupsi pembebasan lahan Bandara Loa Kulu. KPK akhirnya memvonis dengan hukuman penjara dua tahun enam bulan. Padahal saat itu, Syaukani berencana ingin melaju menjadi Gubernur Kalimantan Timur.

Syaukani akhirnya diberikan grasi  bebas oleh Presiden era  Susilo Bambang Yudhoyono pada 17 Agustus 2010 dengan alasan sudah sakit parah. Dan kini Syaukani sudah meninggal dunia pada 27 Juli 2016.

Syaukani Hasan Rais yang sakit stroke setelah divonis 2 tahun

Ketika Syaukani menjalani pemeriksaan KPK, sejak 2006 hingga 2010, Kabupaten Kukar dipimpin oleh pejabat pelaksana tugas. Pertama Samsuri Aspar yang sebelumnya menjadi Wakil Bupati. Kemudian digantikan Sjachruddin, dan setahun kemudian digantikan oleh Sulaiman Gafur.

Setelah berakhir periode itulah, Rita Widyasari, Istri Endri Elfran Syafril dengan memunyai tiga orang ini terpilih menjadi bupati pada tanggal 30 Juni 2010. Dia secara sah menggantikan bapaknya, Syaukani. Dan  Tahun ini jabatan yang kali keduanya untuk periode 2016-2021. Dia dicalonkan oleh Partai Golkar.

Di Partai Golkar Kalimantan Timur, Rita bukan sosok asing lagi. Lagi-lagi, karir organisasi politiknya juga meneruskan bapaknya, Syaukani. Dari sebagai Ketua DPD Partai Golkar Kukar dan sekarang menjadi Ketua DPD Golkar Kaltim sejak tahun 2016.

Dari peristiwa yang terjadi dengan bapaknya, Syaukani hingga meninggal dunia, nampaknya hal ini juga terjadi dengan Anaknya, Rita. Antara Syaukani dan  Rita sama-sama tersandung kasus, sama-sama ingin menjadi Gubernur Kalimantan Timur, sama-sama kasusnya di periode kedua, sama-sama dari Partai Golkar, dan sama-sama tersangkanya ditetapkan oleh KPK. Kok Mirip ya!