Bukan Narkoba, Tapi PCC Sudah Menelan Banyak Korban

Para korban ini megalami gejala kelainan seperti orang tidak waras

Reski (20), warga Jalan Bunga Palem, Kelurahan Watu-Watu, Kecamatan Kendari Barat, tewas di Teluk Kendari, Kamis (14/9/2017).

Sebelumnya korban bersama adiknya Reza meminum obat jenis PCC (Paracetamol Caffein Carisoprodol) beberapa butir, sehingga menyebabkan Reski kepanasan, kemudian melompat ke laut sekitar Teluk Kendari tak jauh dari rumahnya pada Rabu (13/9/2017) dan tenggelam.

Ayah korban, Rauf mengatakan, kedua anaknya pulang ke rumah dalam keadaan mabuk dan beberapa kali melompat ke selokan yang ada di depan rumahnya.

“Adiknya berhasil saya selamatkan dan langsung bawa ke rumah sakit jiwa. Namun kakaknya Reski berlari ke arah laut kemudian melompat hingga tenggelam dan ditemukan meninggal oleh Tim SAR Kendari tadi pagi,” kata Rauf.

 

Seorang anak yang baru kelas 6 SD juga meninggal setelah mengkonsumsi obat jenis golongan G ini. Korban sempat dirawat di rumah sakit Bhayangkara Kendari, namun pada pada Selasa (12/9/2017) korban dinyatakan meninggal.

Koban yang masuk rumah sakit untuk diobati lebih banyak lagi. Data dari BNN Kendari, Kamis, dari sekitar 50 orang anak yang menjadi korban penyalahgunaan obat itu sebanyak 26 orang di antaranya sedang menjalani perwatan di RSJ Provinsi, sedangkan sisanya tersebar di empat rumah sakit lainnya seperti di RSU Bahterams (dua orang), RSU Bhayangkara (empat orang), RSU Kota kendari (lima orang) dan RSU Korem 143 Kendari (satu orang).

Sebelumnya, Kepala Badan Narkotika Nasional (BNN) Kota Kendari, Hj Murniati menyebutkan bahwa korban penyalahgunaan obat yang sebelumnya diketahui hanya 30 orang, setelah beberapa jam bertambah hingga mencapai angka 50 orang lebih.

“Rabu (13/9-red), pagi dalam pendataan kami hanya sekitar 30 orang, namun hingga pada tengah malam sudah berambah menjadi 50 orang,” katanya.

Ia bersama unsur terkait terus melakukan pendataan di beberapa rumah sakit ketika ada pasien yang masuk dengan gejala kelainan yang sama. Sebab tidak tertutup kemungkinan masih ada pasien yang mengalami gejala yang sama, namun dari pihak keluarga mungkin tidak melapor dengan alasan tertentu.

“Para korban ini megalami gejala kelainan seperti orang tidak waras, mengamuk, berontak, ngomong tidak karuan setelah mengkonsumsi obat yang mengandung zat berbahaya itu, sehingga sebagian harus diikat,” katanya.

 

Menurut Murniati, pengakuan beberapa korban yang sudah ditangani dan dikembalikan ke rumahnya bahwa mereka mendapatkan obat itu dari oknum yang mereka tidak kenal.

“Obat itu ada yang dalam bentuk cair dan juga dalam bentuk tablet. Yang cair dicampur ke dalam minuman. Sampai saat ini kami belum bisa pastikan jenis obat apa yang dikonsumsi para korban itu,” katanya.

Pada Rabu (13/9), Kepala RSJ Kendari, dr Abdul Rasak menilai para korban overdosis seteleh mengkonsumsi jenis obat yang menyebabkan adanya gangguan mental dan kejiwaan.Gejala kelainan yang dialami bahkan ada yang membentur-benturkan kepala.

Oknum pelaku yang diduga mengedarkan obat terlarang sudah ditahan di Mapolsek Mandonga Kendari dengan identitas seorang ibu rumah tangga berinisial “ST” (39 tahun).

Oknum penjual PCC di Kendari, Sulawesi Tenggara itu antara lain  lima perempuan. Mereka ditangkap Kepolisian Daerah Sulawesi Tenggara, Rabu 13  September 2017 malam.

Direktur Narkoba Polda Sultra Komisaris Besar Satriya Adhy Permana mengungkapkan dari lima perempuan yang diringkus kepolisian dua diantaranya merupakan karyawan apotek yang ada di seputaran Jalan Saosao Kelurahan Bende, Kendari. Adapun tiga perempuan lainnya beradal dari Kabupaten Kolaka dan Konawe. Mereka berstatus ibu rumah tangga dan karyawan swasta.

Korban PCC

Dari para tersangka polisi mengamankan ribuan butir obat yang mengandung zat psikotropika yakni tablet PCC (Paracetamo, Cafein, Carisoprodol) dan kapsul Tramadol yang diidentifikasi digunakan puluhan remaja yang menyebabkan mereka kehilangan kesadaran

“Dari IRT 2.651 butir somadril. Adapun dua tersangka yang petugas apotek polisi mengamankan 1.112 butir kapsul Tramadol. obat-obatan itu tergolong obat-obatan golongan G alias gefarlik atau golongan obat keras,” jelas Satriya di aula media center Polda Sultra, Kamis siang.

Lebih jauh Satriya menjelaskan Tramadol digunakan dalam dunia kesehatan .   Peruntukanya untuk menghilangkan rasa sakit pasca operasi. Penggunaanya pun dalam pengawasan dokter .  Dua petugas apoteker diamankan karena diduga menjualnya langsung kepada pembeli tanpa resep dokter. Adapun Somadril jelas Satriya sudah ditarik peredaranya sejak tahun 2014 lalu karena banyak yang menyalahgunakanya untuk kebutuhan hiburan.

“Bila digunakan secara berlebihan akan berdampak pada halusinasi, badan kejang dan kehilangan kesadaran bahkan sampai meninggal. Penggunaan obat ini mengganggu jaringan syaraf otak,” kata Satriya.”Harga 20 biji, Rp25 ribu. Ini sedang kita kembangkan,” kata Deputi Pemberantasan Badan Narkotika Nasional Irjen Pol Arman Depari di Jakarta, Kamis, 14 September 2017.

Dengan harga itu, maka satu butir obat PCC di pasaran dibanderol Rp1.250 per butirnya. Harga ini jelas sangat murah dan terjangkau oleh siapa pun.

Namun demikian, sejauh ini dari pemeriksaan BPOM, meski obat PCC telah memakan korban nyawa dan membuat puluhan lain terpaksa dilarikan ke rumah sakit, Arman menyebut jika PCC bukanlah narkoba seperti yang disimpulkan oleh publik.

“Kandungan obat sementara ini bukan merupakan narkotika dan juga bukan yang tersebar di tengah masyarakat adalah jenis flakka,” kata Arman.