Amarah Suami Yang Terluka

Staf Badan Narkotika Nasional ditemukan tewas dengan luka tembakan. Pelaku yang tak lain suaminya sendiri sudah ditangkap. Isu KDRT terhadap pelaku mengemuka.

Pita kuning menjadi penanda sebuah rumah di Perumahan River Valley Blok B2, Desa Palasari, Kecamatan Cijeruk, Kabupaten Bogor telah terjadi kejahatan. Garis polisi itu membentang, menghalangi siapa pun yang akan masuk, kecuali petugas kepolisian.

Rumah itu menjadi saksi bisu tewasnya Indria Kameswari, 38 tahun, seorang pegawai di Pusat Rehabilitasi Badan Narkotika Nasional (BNN) Lido, Bogor. Dari hasil olah TKP, kata Kapolsek Cijeruk Kompol Safiudin, ditemukan luka di punggung korban. Namun ia tidak bisa memastikan apa penyebab luka tersebut. “Tidak ada barang-barang korban yang hilang. Di tubuh korban ditemukan luka terbuka di bagian punggungnya. Tapi kita belum tahu itu karena luka apa, kita masih tunggu hasil forensik,” kata Safiudin.

Hingga saat ini, anggota Polsek Cijeruk dan Polres Bogor masih melakukan penyelidikan terkait kasus dugaan pembunuhan tersebut. Pihak kepolisian masih memburu suami korban berinisial AM, yang menghilang sejak kejadian tersebut. “Motif belum bisa kita pastikan, kasus masih dalam penyelidikan. Suami korban masih kita telusuri keberadaannya,” terangnya.

Menurut keterangan saksi, Maulana yang merupakan Kepala Keamanan perumahan, menjelaskan suami korban terakhir kali terlihat pada sekitar pukul 03.00 WIB, Jumat 1 September 2017. “Suaminya itu masuk ke perumahan sekitar jam 3 pagi, pas malam takbiran. Dia pakai mobil Avanza putih,” kata Maulana kepada wartawan.

Pada sekitar pukul 07.00 WIB, suami korban keluar dari rumah sekitar pukul 07.00 WIB. Saat itu suami korban menggunakan mobil. “Kaya buru-buru gitu keluarnya, agak ngebut,” sambungnya.

Sesaat setelah suami korban pergi, Indria ditemukan warga sudah tidak bernyawa setelah anaknya berteriak sambil berlari ke rumah tetangga. “Si anak itu minta tolong ke yang warung, Pak Hengky itu, datanglah beliau, kebetulan beliau kasih tahu juga ke Pak Tri, kan perum lagi sepi karena pada shalat Idul Adha, kebetulan mereka non-muslim,” ujar Maulana.

“Saya tahu karena dapat laporan dari security, waktu itu saya sudah di rumah. Pas saya datang sudah ramai warga. Saya langsung lapor polisi karena waktu itu belum ada yang laporan ke polisi,” terang Maulana.

Tak menunggu lama, Akbar ditangkap di rumah saudaranya di Tanjung Buntung, Bengkong, Batam, pada Minggu 3 September 2017. Keberhasilan penangkapan tersebut berkat kerjasama petugas gabungan Polres Bogor, Polda Kepri dan Direktorat Penindakan dan Pengejaran Deputi Bidang Pemberantasan Badan Narkotika Nasional (BNN). Dari pengakuan sementara, Akbar menyebut pembunuhan terjadi karena cekcok rumah tangga. Namun belum diketahui motif sebenarnya dari pembunuhan Indria.

Direktur Kriminal Umum Polda Jabar Kombes Umar Fana saat dikonfirmasi wartawan mengatakan, dari hasil pemeriksaan tersangka sudah mengakui melakukan pembunuhan terhadap Indria Kameswari. Umar menyebut, Abdul Malik Azis sudah merencanakan pembunuhan tersebut. “Berdasarkan pengakuan sementara, dia (Abdul Malik) memang berniat melakukan pembunuhan kepada korban Indria Kameswari,” kata Umar saat dikonfirmasi wartawan.

Karena perbuatannya, lanjut Umar, tersangka Abdul Azis dijerat dengan pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana. Namun, kata Umar, pihaknya masih melakukan penyidikan lebih lanjut untuk mengetahui motif dan cara AM melakukan aksinya. Pihaknya juga masih mencari senjata api yang diduga digunakan pelaku untuk membunuh korban.

“Berdasarkan visum, betul korban memang luka (karena) tembak. Untuk jenis senjata yang digunakan tersangka kita belum pastikan. Kita masih cari bukti otentiknya (senpi),” ujar Umar.

Soal keberadaan pistol yang digunakan Akbar untuk mengakhiri nyawa belahan jiwanya itu hingga kini masih misteri. Polisi masih mencari pistol itu. “Dia plin-plan saja. Keberadaan pistol itu dikatakannya di rumah temannya, kita ke sana tapi pistol ternyata tidak ada,” kata Kepala Bidang Humas Polda Jawa Barat Kombes Yusri Yunus.

Keterangan yang diberikan Akbar yang kini menjadi tersangka pembunuhan itu masih tidak konsisten. Polisi masih terus berusaha menemukan keterangan yang benar. Namun sayangnya Akbar belum memberi jawaban yang pasti.

Sebelumya, Kapolres Kabupaten Bogor AKBP AM Dicky Pastika Gading menyatakan pistol itu dinyatakan Akbar sebagai pistol rakitan.

Hal lain yang juga mengundang tanda tanya besar adalah, Akbar menggunakan KTP palsu atas nama Abdul Malik Aziz. Di KTP palsu itu, Malik tercatat lahir 17 Desember 1978. Malik beralamat di Kelurahan Warakas, Tanjung Priok, Jakarta Utara. Adapun di KTP asli, Akbar tercatat lahir 28 Desember 1979. Entah pertimbangan apa yang melatarbelakangi Akbar menggunakan KTP palsu itu. “Sampai sekarang masih kita dalami. Masih kita tanya, namun dia masih belum kooperatif,” kata Yusri.

Kasus suami bunuh istri ini memang belum terang benderang. Sehari setelah penangkapan, beredar transkip percakapan yang berisi tentang kekerasan yang dialami oleh pelaku dan dilakukan oleh korban. Kebenaran transkip itu dikonfirmasikan kepada kakak pelaku yang menegaskan bahwa adiknya selama ini memang menjadi korban KDRT.

Pakar psikologi forensik Reza Indragiri menilai hal itu bisa saja terjadi. Sebab seorang suami jarang melakukan tindak kekerasan tanpa ada pemicu dari pasangannya. “Tapi seberapa besar kemungkinan lelaki bangun tidur sekonyong-konyong langsung menempeleng istri, kecuali jika si suami mabuk atau gila. Sayangnya, kita acap tidak cukup jauh berpikir bahwa kekerasan fisik lelaki bisa dilatarbelakangi oleh kekerasan verbal perempuan,” kata Reza.

Reza menyebut, jika seorang perempuan menjadi pelaku kekerasan terhadap pasangannya, mereka kerap menggunakan ‘battered woman/wife syndrome’ sebagai pembelaan diri. Hal serupa pun juga bisa terjadi pada laki-laki. “Para terdakwa tersebut menyebut telah mengalami penghinaan, penistaan, dan penganiayaan yang sedemikian buruknya dari pasangan, sampai-sampai tidak lagi mampu berpikir secara rasional. Dalam kondisi sedemikian terpuruk, tiada lain yang terpikir oleh para perempuan tersebut untuk membela diri dan keluar dari situasi pedih itu kecuali dengan menghabisi pasangannya,” ungkapnya.

JIR