Teganya Om, Alat KB Kok Dikorupsi Juga

Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Jadi Tersangka

 

Korupsi memang tak mempedulikan jenis proyek yang dikorupsi. Kejaksaan Agung menetapkan Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) Surya Chandra Surapaty tersangka kasus dugaan korupsi pengadaan alat KB II Batang Tiga Tahunan Plus Inserter Tahun Anggaran 2014-2015.

“Tersangkanya kepala (BKKBN),” kata Jaksa Agung Muda Pidana Khusus (Jampidsus) Arminsyah, kepada wartawan di Kejagung, Jakarta, Jumat (15/9/2017).

Jampidsus menjelaskan penetapan Surya tersangka sejak Kamis (14/9/2017) kemarin. Menurut dia, Kepala BKKBN terlibat dalam penyertaan dan penggunaan harga penawaran, serta turut memainkan harga tender alat KB.

Surya Chandra Surapaty

 

Kasus ini bergulir saat satuan kerja Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi (KB-KR) pada Direktorat Jalur Pemerintah BKKBN Pusat melaksanakan pengadaan susuk KB atau implan II Batang Tiga Tahunan Plus Inserter. Dana yang dialokasikan Rp191.340.325.000. Dana ini bersumber dari APBN sesuai DIPA BKKBN.

Namun, saat pelelangan berlangsung, penawaran harga yang dimasukkan peserta lelang justru di bawah satu kendali, yakni PT Djaya Bima Agung. Modus ini membuat harga-harga menjadi tak wajar dan menyebabkan rendahnya tingkat kompetensi.

Sebelumnya, penyidik telah menetapkan tiga orang tersangka yakni Direktur Utama PT Tryasa Nagamas Farma Yenny Wiriawaty (YW), Direktur PT Djaja Bima Agung Luanna Wiriawaty (LW), dan Kasi Penyediaan Sarana Biro Program/Kasi Sarana Biro Keuangan BKKBN Karnasih Tjiptaningrum (KT).

Ketiganya dijerat dengan Undang-undang (UU) Nomor 31 tahun 1999 yang diubah dengan Nomor 20 tahun 2001 tentang Tindak Pidana Korupsi dengan ancaman 20 tahun penjara.

Modus mengutip untung dari alat KB juga pernah terjadi pada tahun 2015. Pada agustus 2015  Tim penyidik Kejaksaan Agung mengungkap kasus korupsi pengadaan alat kontrasepsi jenis Intrauterine Device (IUD) Kit di Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN). Kali ini, satuan tugas khusus Kejagung menahan Direktur CV Bulao Kencana Mukti, Haruan Suarsono.

Menciduk lima pelaku. Mereka adalah adalah Direktur PT Hakayo Kridanusa Sudarto, mantan Manager Institusi PT Kimia Farma Slamet Purwanto, Kepala Subdirektorat Akses dan Kualitas Pelayanan KB Galciltas BKKBN Sobri Wijaya, Kepala Seksi Standarisasi Pelayanan KB Jalur Pemerintah BKKBN Wiwit Ayu Wulandari, dan Kepala Cabang PT Rajawali Nusindo Sukadi.

Proyek pengadaan IUD KIT pada Deputi Bidang Keluarga Berencana dan Kesehatan Reproduksi BKKBN itu terbagi dalam tiga tahap penganggaran selama kurun tahun anggaran 2013-2014. Tahap pertama sebesar Rp 5 miliar, tahap kedua Rp 13 miliar dan tahap ketiga sebesar Rp 14 miliar.

.