Wajah Lesu Tersangka KPK

Posisi Setya Novanto sebagai Ketua Umum Golkar sepertinya sulit dicongkel. Namun, sebagai tersangka, Setya Novanto tidak dapat menutupi kecemasannya.

Walau Komisi Pemberantasan Korupsi  (KPK) sudah menetapkan Ketua Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) sekaligus Ketua Umum Partai Golkar, Setya Novanto, sebagai tersangka kasus korupsi proyek e-KTP, namun belum ada upaya pembelaan hukum dilakukan Novanto atas status hukumnya ini. “Saya belum ada niat untuk langsung pada proses praperadilan tetapi kita akan terus melakukan kerja-kerja di dalam tugas-tugas yang sedang kita hadapi lebih,” kata Novanto di Kompleks Patra Kuningan XIII, kuningan, Jakarya Selatan, Senin, 24 Juli 2017.

Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (tengah) disaksikaan Wakil Ketua Dewan Kehormatan Golkar Akbar Tanjung (kanan) dan Ketua Harian DPP Golkar Nurdin Halid (kiri) seusai melakukan pertemuan di kediaman Ketua Dewan Kehormatan Golkar BJ Habibie di Jakarta, Senin (24/7). Pertemuan Setya Novanto beserta jajaran pimpinan DPP Golkar dengan BJ Habibie itu membahas situasi yang terjadi di Golkar serta kasus hukum yang menjeratnya. ANTARA FOTO/Hafidz Mubarak A/foc/17.

Dia mengaku hanya akan fokus menjalankan tugas kedewanan dan juga kepartaian. Namun, dia mengatakan akan selalu menghormati proses hukum harus dijalani. “Langkah-langkah hukum tentu masalah hukum ini saya tetap menjalankan bagaimana secara serius untuk menangani kedewanan dan juga tugas-tugas partai dan tugas-tugas negara. Dan saya menghargai proses hukum dan masalah praperadilan saya tetap ini kita dengan sabar,” ungkapnya.

Namun dia melakukan langkah-langkah politik untuk memperkuat posisinya di Golkar maupun DPR. Setnov, misalnya, menunjungi kediaman Ketua Dewan Kehormatan DPP Partai Golkar BJ Habibie. Pertemuan itu dilakukan untuk membahas kondisi Partai Golkar setelah Setnov ditetapkan sebagai tersangka. Hal ini dikisahkan oleh Akbar Tanjung, mantan Ketua Umum Golkar yang kini menjadi Wakil Ketua Dewan Kehormatan Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Partai Golkar.

“Saudara Setnov pertama melaporkan mengenai perkembangan Partai Golkar termasuk situasi yang dihadapi Partai Golkar termasuk dengan asumsi yang dialami oleh beliau, yang pada hari ini kita semua tahu beliau ditetapkan sebagai tersangka dan kita semua tentu menghormati dan biarlah proses hukum bekerja,” tutur  Akbar Tanjung, di Kompleks Patra Kuningan XIII, kuningan Jakarta Selatan, Senin, 24 Juli 2017.

Dalam pertemuan itu, Akbar mengatakan BJ Habibie mengingatkan bahwa Golkar harus tetap fokus menjalani agenda politik. Terutama jelang pemilu legislatif 2018 dan pemilu presiden 2019 mendatang. “Pak Habibie mengatakan kita harus konsentrasi jika harus become number one itu yang disampaikan oleh Pak Habibie atau setidak-tidaknnya nomor dua sebagaimana yang kita ini uji menjadi nomor dua itu yang dikatakan oleh Pak Habibie dan Setnov telah mengambil langkah-langkah hukum,” ungkapnya.

Ketua Dewan Pakar Partai Golkar Agung Laksono (kedua kiri) dan Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto (kanan) menghadiri Rapat Pleno X Dewan Pakar Partai Golkar dengan DPP Partai Golkar di Kantor DPP Golkar, Jakarta, Jumat (21/7). Dewan Pakar Partai Golkar mendukung keputusan Rapat Pleno DPP Partai Golkar tanggal 18 Juli 2017, dan akan memberikan bantuan hukum kepada Setya Novanto dalam menyelesaikan permasalahan hukum, serta mendorong Pra-Peradilan dan upaya hukum lainnya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/ama/17

Selain itu tambah Akbar, Habibie juga mendukung semua proses hukum yang akan dilakukan oleh Setnov. Salah satunya dengan menempuh jalur praperadilan. “Dalam semangat itu Setnov juga punya hak untuk melakukan langkah-langkah hukum langkah hukum yang akan dilakukan oleh Setnov ini adalah yaitu proses di praperadilan. Proses praperadilan itu sedang dipersiapkan oleh Setnov oleh lawyer dengan ahli yang mendampingi beliau,” ungkapnya.

Sebelumnya diketahui, Setya Novanto datang dengan didampingi Wakil Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar Akbar Tanjung, Ketua Harian Partai Golkar Nurdin Halid, dan juga Nurul Arifin. Pertemuan itu berlangsung sekitar satu jam.

Setelah bertemu Ketua Dewan Kehormatan Partai Golkar, B.J Habibie, kali ini Ketua Umum Setya Novanto menemui menemui Ketua Dewan Pembina Golkar Aburizal Bakrie (Ical) di Bakrie Tower, Kuningan sore tadi.

Bendahara Umum Partai Golkar Robert Kardinal mengatakan, Ical memberikan wejangan kepada Novanto yang telah ditetapkan tersangka kasus e-KTP. Pertemuan itu sekaligus menyerahkan hasil rapat pleno DPP Partai Golkar terkait status tersangka Novanto. “Oh itu silaturahmi. Terus kan dewan pembina rapat jadi waktu kita ketemu sebelumnya kan mereka belum pernah rapat. Itu rapat undang makan siang. Ya kasih nasehat wejangan sebagai senior,” kata Robert di Komplek Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 25 Juli 2017.

Dia mengungkapkan, Ical berpesan kepada pengurus DPP dan Fraksi Partai Golkar untuk kompak mendukung Setnov yang tengah tersangkut kasus hukum. Robert menyebut Ical belum memberikan saran agar DPP menempuh jalur praperadilan. “Enggak enggak sampai ke situ. Dia prihatin mengharapkan supaya DPP dan Fraksi harus solid mendukung, tadi lihat ada beberapa fakta lihat sesuai aturan yang ada,” ujarnya.

Sepertinya, Setnov masih sulit digoyang. Sekretaris Jenderal Partai Golkar Idrus Marham menyatakan Golkar tidak akan mengganti Setya Novanto dari posisi ketua umum meski telah ditetapkan sebagai tersangka.

Idrus mengatakan, pada rapimnas Golkar juga telah memutuskan untuk tidak menggelar musyawarah nasional luar biasa, meskipun ada masalah yang dihadapi. “Kenapa, karena yang dihadapan kita (ke depan) ini terbentang berbagai momentum politik ada pilkada tahun 2018, pileg, pilpres 2019,” kata Idrus, di DPP Golkar, Jalan Anggrek Neli, Jakarta Barat, Selasa, 18 Juli 2017.

Idrus mengatakan, tentu kunci untuk memenangkan pertarungan politik pada momentum poltik itu adalah solid dan terkonsolidasi. Jika digelar munaslub, lanjut Idrus, berpotensi memicu perpecahan di tubuh partai. “Apabila munaslub dilakukan maka mau tidak mau akan memicu perpecahan, perbedaan-perbedaan dan tentu konsolidasinya perlu waktu,” ujar Idrus.

Namun bukan berarti Setya Novanto tak cemas. Sewaktu mengadakan konferensi pers seusai memimpin rapat Dewan Pimpinan Pusat (DPP) Golkar, wajah Setneov tampak lesu. Rapat itu digelar di Kantor DPP Golkar Slipi, Jakarta Barat, Selasa, 18 Juli 2017 untuk menyikapi situasi terkini setelah Novanto ditetapkan sebagai tersangka oleh KPK.

Selama konferensi pers berlangsung di Kantor DPP Golkar, hampir tak ada senyum terpampang di wajah Novanto. Ia juga enggan menyampaikan keputusan Rapat Pleno DPP Golkar. Novanto menyerahkan kepada Sekretaris Jenderal Golkar Idrus Marham dan Ketua Harian Golkar Nurdin Halid untuk menyampaikan keputusan Rapat Pleno.

Saat Idrus dan Nurdin bergantian menyampaikan keputusan rapat, Novanto sama sekali tak memperhatikan dengan seksama. Tatapannya terlihat tidak fokus kepada para wartawan. Novanto justru menatap ke sekeliling ruangan tanpa memedulikan sorotan kamera televisi dengan wajah lesu dan terkadang menunduk. Sesekali matanya menatap secarik kertas yang sedari awal digenggamnya, lantas ia pun kembali menatap sekeliling ruangan dengan ekspresi lesu tanpa senyuman.

Novanto sempat bertemu pandang dengan salah satu pewarta, ia pun lantas melempar senyum kepada pewarta tersebut dan itulah satu-satunya senyum yang ia tunjukan selama konferensi pers. Setelah itu, tatapannya kembali tidak fokus kesana-kemari. Sementara petinggi partai yang berada di sekitar Novanto justru fokus menatap kamera yang menyorot sepanjang sesi konferensi pers.

Saat konferensi pers selesai, Novanto bersama sejumlah petinggi Golkar lantas berdiri dan saling menggenggam tangan untuk menunjukan kesolidan meski sedang menghadapi situasi yang berat. Di saat itulah Novanto kembali tersenyum dan ia langsung menuju ruangan di samping aula menghindari kejaran awak media.

Joko Mardiko