POLDA BABEL AMANKAN 22 TON MIGOR KADALUARSA

PANGKALPINANG, Forumkeadilan.com — Kepolisian Daerah (Polda) kepulauan Bangka Belitung (Babel) kembali mengungkap kasus penjualan minyak goreng (Migor) kadaluarsa yang dikemas ulang untuk dipasarkan kembali.

Hal ini disampaikan langsung Kapolda Kep.Babel, Brigjen(pol) Anton Wahono ketika menggelar konfrensi pers bersama Gubernur Kep.Bangka Belitung,Erzaldi Rosman dalam tema ‘ Press Realese Ungkap Kasus Minyak Goreng Kadaluarsa’ dikawasan Gudang milik PT Nusantara Jaya Makmur Sejahtera(PT NJMS) di kawasan Selindung, Pangkalpinang, Jum’at (11/8/2017).

Dikatakan Kapolda, anggota Subdit Indag Dit Krimsus Polda Kep Bangka Belitung telah berhasil mengungkap penjualan minyak goreng kadaluarsa yang dikemas ulang untuk dipasarkan kembali. Barang Bukti sebanyak 22 ton minyak goreng dalam kemasan bungkus plastik 1 liter dan 1/4 liter dari salah satu merk yang sudah kadaluarsa dalam berbagai kemasan diamankan di Gudang PT Nusantara Jaya Makmur Sejahtera(PT NJMS) kawasan Selindung Kota Pangkalpinang. Polisi juga mengamankan HS selaku GM PT NJMS dan langsung ditetapkan sebagai tersangka. HS merupakan orang yang berwenang di Gudang PT NJMS itu.

BB yang disita

“HS inilah yang mengatur pengoplosan Migor tersebut. Dimana minyak goreng merk Hemart dan Fitri yang telah kadaluarsa dan telah ditarik dari pasaran. Secara diam-diam ia dibantu beberapa pekerja membongkar kemasan minyak goreng itu. Lalu kemudian minyak goreng tersebut disaring dengan kain kasa agar terlihat lebih jernih.
Selanjutnya dimasukkan kedalam jeriken ukuran 5 liter untuk dipasarkan kembali. Harusnya minyak goreng ini tidak boleh lagi dipasarkan setelah ditarik,” kata Anton.

Dijelaskan Kapolda, terungkapnya penjualan minyak goreng kadaluarsa yang dikemas ulang dikawasan Selindung Kota Pangkalpinang yang meresahkan masyarakat ini, oleh tersangka HS  penjualannya disasarkan kepada penjual Pecel Lele dan penjual gorengan. Cukup banyak yang membeli minyak goreng kadaluarsa tersebut sebab untuk 5 liter minyak goreng dijual hanya Rp 30.000. Padahal harga pasarannya mencapai Rp 60.000.
“Memang kebanyakan pelaku ini menjual kepada pedagang pecel lele penjual gorengan,” kata Anton.

Terkait penetapan tersangka yang yang ditetapkan kepada HS selaku GM PT NJMS dan bukan kepada pemilik. Dikatakan Anton, dirinya tidak yakin keterangan tersangka HS yang mengaku menjual kembali minyak goreng kadalursa sepengetahuan pemilik usaha.
Apalagi gudang milik PT NJMS digunakan untuk salah satu produk makanan bukan minyak goreng.
Selain itu produk makanan jenis mie yang ada di gudang PT NJMS itu tidak sama produsennya dengan minyak goreng kadaluarsda tersebut.

“Selain itu gudang tempat penyimpanan mie instan berada gudang bagian depan terpisah dengan minyak goreng kadaluarsa yang disimpan oleh HS di gudang lain di belakang. Saya sangat yakin pemiliknya tidak tahu aktifitas tersangka kebetulan saya kenal dan sudah saya hubungi yang bersangkutan,” pungkas Anton.

Sementara itu, Gubernur Provinsi Kepulauan Bangka Belitung(Babel), Erzaldi Roesman Djohan yang juga sempat hadir dalam press release tersebut, meminta pihak terkait untuk mencabut Izin operasi PT Nusantara Jaya Makmur Sejahtera(PT NJMS) sampai proses hukum selesai.

Selain itu, Gubernur juga akan meningkatkan pengawasan terhadap gudang distributor yang ada di Provinsi Babel agar barang konsumsi berbahaya bagi kesehatan masyarakat ini tidak beredar di masyarakat.

” Sangat perlu ditingkatkan pengawasan yang intensif yang tentu konsekuensinya anggaran yang diperlukan juga pasti bertambah, akan tetapi sebagai pemerintah kami akan tetap melakukannya apalagi sudah membahayakan masyarakat, ” ungkapnya.

Mantan Bupati Bangka Tengah ini juga menghimbau agar masyarakat tidak perlu cemas dan harus lebih selektif dalam membeli barang barang kebutuhan pokok.

” Saya harap masyarakat lebih seleftif dalam membeli kebutuhan pokok dan jangan sampai mudah tergiur dengan barang yang dijual jauh lebih murah dari harga yang telah ditentukan, ” imbuhnya.

Kepada distributor dan pengusaha ia mengingatkan untuk tidak menjual barang yang berbahaya bagi kesehatan masyarakat, karena itu merupakan perbuatan melawan hukum.

” Ya kalau mau berjualan produk murah gak apa apa asalkan produknya benar aman dikonsumsi, jangan sampai seperti ini dan saya berharap tidak ada lagi kejadian seperti ini terhadap komoditi lain, ” pungkasnya.