Menyibak Kematian Saksi Kunci e-KTP

Johanes Menyimpan data rekaman semua pertemuan terkait e-KTP, Ia Tewas.

 

 

Kasus e-KTP makin kusut dengan ditemukannya saksi kunci kasus tersebut dalam kondisi tak bernyawa. Johannes Marliem ditemukan tewas di rumahnya di Los Angeles, AS, Kamis dini hari waktu setempat, 10 Agustus 2017. Berdasarkan pemberitaan media di negeri Paman Sam, Johannes disebut tewas bunuh diri.

Johanes Marliem http://kabar.news

Menurut pihak Kepolisian setempat, Johannes yang ditemukan di kediamannya di Beverly Grove, Los Angles, diduga keras tewas bunuh diri. Ia ditemukan tewas dengan luka tembak, yang diduga berasal dari peluru miliknya sendiri.

Beverly Grove merupakan salah satu kawasan hunian mentereng di LA. Permukiman ini berada di pusat LA dan dan termasuk kawasan yang sudah ada sejak lama. Disebutkan bahwa sebagian orang terkaya di LA juga tinggal di kawasan ini.

Dilansir laman L.A Biz, Beverly Grove pada tahun 2011 menjadi kawasan yang paling elite di urutan ke-6 setelah Bel Air, Marina Del Ray, Beverlywood, Castle Heights, Melrose dan Hollywood Hills. Namun pembangunan kawasan ini setelah itu juga pesat dengan mal dan kondominium mewah di areanya.

Permukiman Beverly Groove terbilang kawasan tenang dengan kebanyakan hunian bergaya Spanyol. Namun area tersebut makin modern dengan bertambahnya kondominum mewah dan gedung megah serta rumah-rumah yang dibuat bergaya mansion modern.

Johannes Marliem dinyatakan tewas di Amerika Serikat pada Kamis, 10 Agustus pukul 02:00 dini hari waktu setempat./// Foto diambil dari akun Twitter

 

Menurut LA Times, kebanyakan penduduk yang tinggal di Beverly Groove adalah warga ras kulit putih. Hanya sebagian kecil imigran dan warga keturunan yang tinggal di lokasi tersebut.

Sebelum tewas, Johannes diketahui pernah menyampaikan kekhawatiran mendapat ancaman ke media dan Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK). Apalagi Johannes juga pernah berbicara di salah satu media massa bahwa ia memiliki bukti rekaman percakapan yang diduga melibatkan pihak-pihak penting dalam proyek e-KTP yang berujung korupsi tersebut.

Perusahaan Johannes dalam dakwaan kasus korupsi e-KTP, yakni PT Biomorf Lone LLC merupakan penyedia produk automated finger print identification system (AFIS) merk L-1 yang digunakan dalam e-KTP. Johannes juga disebut ikut memberikan US$200 ribu kepada mantan Direktur Pengelolaan Informasi Administrasi Kependudukan (PIAK) Sugiharto pada Oktober 2012. Pemberian itu disebut sebagai fee karena konsorsium PNRI dinyatakan lulus evaluasi.

Johannes juga disebut mendapatkan keuntungan seluruhnya berjumlah US$ 14,88 juta dan Rp25,242 miliar dari proyek e-KTP.

Dia merupakan provider produk Automated Fingerprint Identification System (AFIS) merek L-1 yang digunakan dalam proyek e-KTP, dan dikatakan memiliki peran penting dalam pengungkapan kasus e-KTP.

Dikutip dari Weho Ville, Minggu 13 Agustus 2017,  Johannes adalah direktur Biomorf Lone LCC, sebuah perusahaan yang memiliki kantor di India, Indonesia, dan Minneapolis, AS. Perusahaan itu yang membuat program pengelolaan identitas, salah satunya sidik jari otomatis seperti yang didapatkannya dalam proyek e-KTP.

Dalam wawancaranya dengan salah satu media nasional, Johannes mengaku memiliki rekaman percakapan dengan pihak-pihak yang terlibat dalam skema pembayaran dan kontrak e-KTP yang dilakukan pemerintah dengan Biomorf. Tidak tanggung-tanggung, rekaman yang disimpan hingga ratusan gigabite.

Di AS, Johannes bukanlah warga biasa. Dia juga merupakan Chief Executive Officer dan pendiri Marliem Marketing Group, sebuah perusahaan AS yang menjual produk dan layanan di Indonesia. Dia pun pernah tidak asing dalam perpolitikan di AS.

 

Juru Bicara KPKJuru Bicara KPK Febri Diansya//| Foto : Wartabuana.com

 

Pada 2013, Minneapolis Star-Tribbune mengungkapkan, Johannes menyumbangkan uang sebesar US$225 ribu dolar untuk perayaan kemenangan Presiden Barack Obama periode kedua. Uang tersebut diberikannya kepada Partai Demokrat yang merupakan pengusung Obama menjadi Presiden.

Namun, Star-Tribune mengungkap bahwa uang yang disumbangkan Johannes itu dihasilkanya dari pencurian dan penipuan yang dilakukan. Dia pada 2010, mengaku bersalah atas penerbitan cek kosong yang jumlahnya lebih dari US$10 ribu. Para pejabat Partai Demokrat AS, langsung merespons hal tersebut. Sumbangan Johannes yang telah digunakan, pasti tidak akan diterima jika partai tahu dari mana asal uang itu didapatkan.

Di Indonesia, Johannes merupakan saksi dari kasus korupsi tingkat tinggi yang diduga melibatkan puluhan politisi senior dan beberapa pejabat di pemerintahan. Kasus pengadaan e-KTP tersebut sendiri menyebabkan kerugian negara sebesar Rp2,3 triliun.

Kabar kematian Johannes yang mendadak itu pun, menimbulkan pertanyaan besar di Indonesia. Apalagi, setelah wawancara kontroversialnya dengan media nasional itu membuat namanya semakin terekspos ke publik.  “Menurut kami, perlu ditelusuri lebih lanjut soal kematian ini. Konfirmasi juga apa dia meninggal, atau tidak. Kita khawatir misal, setelah diekspos di media itu akan berdampak terhadap dia.” ujar Peneliti Indonesia Corruption Watch (ICW), Febri Hendri.

ICW menilai, Johannes memang memiliki peran yang penting dalam kasus ini. Terlebih, sebelum penetapan status tersangka e-KTP berinisial SN beberapa waktu lalu, Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) mengaku sedang menggali informasi penting terkait kasus ini dari Amerika.  “Apakah yang dimiliki Johannes terkait penetapan tersangka SN, atau tidak? Kasus Johannes ini bagi kami janggal, karena kalau saksi kunci ini meninggalnya biasanya karena stroke. Kalau ini kan menembak diri sendiri, atau karena tembakan,” ungkapnya.

Meskipun diduga keras melakukan bunuh diri, hingga saat ini motif dari kematian Johannes masih menjadi misteri. Bahkan, pemberitaan mengenai kejadian tewasnya Johannes pun ada bermacam versi.   “Dan, mungkin bisa bekerja sama dengan CIA, atau Kepolisian,” ungkapnya.

Dia menegaskan, semua pihak terkait harus turun tangan mengungkap kematian Johannes. Sebab, kejadian ini bakal terulang kembali, jika memang dibiarkan berlalu begitu saja.  “KPK harus mengirimkan orang, Kemenlu (Kementerian Luar Negeri RI) juga harus mengirimkan orang, cari informasi lebih lanjut,” tegasnya.

Febri mengatakan, ICW menyesalkan kejadian ini. Misteri tewasnya Johannes yang merupakan saksi kunci, dinilai sedikit banyak menghambat upaya KPK untuk menguak kasus e-KTP.

Lebih lanjut, Febri mengatakan, ICW menyoroti masih lemahnya perlindungan saksi pada kasus-kasus korupsi yang terjadi di Indonesia. Kejanggalan kematian Johannes, juga terjadi pada beberapa saksi kasus-kasus korupsi kakap.

Johannes Marliem terlihat menyalami mantan Presiden Barack Obama. Ia diundang ke Gedung Putih karena ikut menyumbang untuk upacara pelantikannya senilai US$ 225 ribu. //Foto diambil dari situs pribadi Johannes Marliem

Kasus korupsi Hambalang misalnya, berdasarkan catatan ICW ada empat saksi kunci yang meninggal pada saat proses penyelidikan berlangsung.  “Dan, keempatnya meninggal dengan motif berbeda. Saksi kunci di Hambalang ada juga yang meninggal, karena dinilai loncat dari jembatan di cawang. Itu kan janggal,” tambahnya.

Dalam hal ini, Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) ungkapnya, juga harus berperan aktif menjalankan fungsinya dengan benar. Apalagi, saat ini Undang-undang Perlidungan Saksi dan Korban telah direvisi guna memperkuat lembaga tersebut.  “Di mana program perlindungan saksi itu kan tidak lewat permohonan lagi, tetapi bisa langsung proaktif buat perlindungan di LPSK,” ungkapnya.

Menanggapi tewasnya Johannes, Wakil Ketua DPR Fahri Hamzah menyatakan kasus dugaan korupsi proyek pengadaan e-KTP seharusnya terhenti karena saksi kunci kasus tersebut, Johannes Marliem meninggal dunia. Menurut Fahri, saksi kunci merupakan penentu sebuah kasus bisa berlanjut atau tidak. Jika saksi kunci hilang, ia berkata, sebuah kasus harus dihentikan. “Katanya (Johannes) saksi kunci, kalau hilang kasusnya juga hilang dong,” ujar Fahri di Gedung DPR, Jakarta.

Fahri mengatakan, pernyataan tersebut untuk mengkritisi pernyataan KPK yang mengklaim tidak terganggu pasca kematian Johannes Marliem. Pernyatan itu, kata Fahri, berbeda dengan sebelum Direktur PT Biomorf Lone LCC itu meninggal.

Kala itu KPK menurut Fahri pernah mengaku kesulitan mengungkap kasus e-KTP karena Johannes menghilang. “Sekarang mulai bilang lagi kami tidak akan terganggu dengan hilangnya saksi kunci,” ujarnya.

Di sisi lain, Fahri menegaskan, tidak sepakat dengan penetapan Johannes sebagai saksi kunci. Pasalnya, ia menilai, KPK belum pernah memeriksa Johannes sejak kasus e-KTP begulir. “Bagaimana bisa disebut saksi kunci padahal dia (Johannes) belum pernah diperiksa. Dan kami tidak pernah dengar signifkan apa yang dilakukan,” ujar Fahri.

Menjawab itu, Juru Bicara KPK, Febri Diansyah mengklaim tetap bisa membuktikan kasus korupsi e-KTP tanpa harus menggunakan kesaksian Johannes Marliem. Klaim tersebut diperkuat dengan putusan Pengadilan Tindak Pidana Korupsi yang menyatakan dua terdakwa kasus korupsi e-KTP, Irman dan Sugiharto terbukti bersalah.

“Hakim sudah mengatakan kasus ini terbukti bersalah. Indikasi kerugian (dari korupsi e-KTP) terbukti,” kata Febri, dalam perbincangan di tvOne, Sabtu malam, 12 Agustus 2017.

Dalam sidang tersebut, kata Febri, KPK telah menghadirkan 110 saksi di persidangan, sekali pun tanpa menghadirkan kesaksian Johannes.  “Tetapi, kami bisa buktikan (ada korupsi e-KTP). Apapun yang terjadi kemarin (tewasnya Johannes), penyidikan e-KTP ini tetap berjalan. Karena, kita dapatkan bukti elektronik termasuk dokumen-dokumen,” ujarnya.

KPK menegaskan pihaknya merasa tidak pernah menyebut Johannes Marliem sebagai saksi kunci dalam kasus dugaan korupsi pengadaan Kartu Tanda Penduduk (KTP) berbasis elektronik atau e-KTP. Menurut KPK, Marliem sendiri yang membuka diri kepada media. “No no no, KPK tidak pernah membuka dia. Dia yang membuka dirinya sendiri. Kami tidak pernah membuka-buka, kan dia yang ngomong ke media,” ujar Wakil Ketua KPK, Saut Situmorang, di Gedung KPK, Jakarta, Kamis 17 Agustus 2017.

Menurut Saut, Marliem sendiri yang bersedia diwawancarai media massa. Marliem juga yang mengaku memiliki rekaman terkait kasus tersebut dan lainnya sebesar 500 GB.

Lebih lanjut Saut mengatakan, bisa jadi Marliem benar-benar tewas karena bunuh diri lantaran merasa stres dan mendapat tekanan. “Kalian tahu dari mana yang 500 GB, apa dari KPK? Enggak kan?” Kata Saut.

Saut menjelaskan, KPK masih mencari tahu penyebab meninggalnya Johannes. Lembaga antirasuah tengah berkoordinasi dengan Federal Bureau of Investigation (FBI) dan Los Angeles Police Departemen (LAPD) untuk mengetahui penyebab meninggalnya Johanes Marliem. “Haruslah koordinasi (dengan FBI dan LAPD). Nanti, kami masih koordinasi dulu,” ujarnya.

Saut mengaku, pihaknya mendapat informasi meninggalnya Johanes Marliem dari FBI dan LAPD. Menurut Saut, lembaga antirasuah kini tengah menunggu informasi lanjut terkait meninggalnya Johanes. “Biarkan apgakum (aparat penegak hukum) AS bekerja dulu, kita tunggu laporan mereka saja. Karena almarhum kan warga AS,” kata Saut.

Lalu bagaimana tanggapan Penyidik senior Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan? Dia menegaskan, saksi kunci kasus dugaan korupsi e-KTP tak hanya Direktur Biomorf Lone LLC Johannes Marliem yang meninggal dunia di Amerika Serikat. Menurut Novel, KPK punya banyak saksi kunci untuk mengungkap kasus dugaan korupsi yang merugikan negara Rp2,3 triliun itu.

“Tentunya kalau saya mau bicara saksi kunci, saksi kuncinya juga banyak, tidak cuma satu. Ini yang harus jadi perhatian kita semua, dan kalau salah satu saksi e-KTP meninggal tentu tidak terlalu berpengaruh terhadap pembuktian perkara tersebut,” kata Novel di Singapura, dikutip Antara, Selasa, 15 Agustus 2017.

Novel sendiri enggan berspekulasi meninggalnya Johannes terkait kasus e-KTP atau tidak. Namun, Novel menertawakan sejumlah pihak yang mengusulkan agar KPK menghentikan pengusutan kasus e-KTP usai meninggalnya Johannes. “Saya kaget di beberapa media saya baca, ada beberapa yang senang dan kemudian meminta agar dengan meninggalnya saksi tersebut agar ditutup perkara e-KTP. Ini lucu, kenapa? Karena e-KTP ini faktanya banyak sekali,” ujar Novel yang juga menjadi penyidik dalam kasus e-KTP tersebut.

 

JULIE INDAHRINI