“Masih Ada Embrio-Embrio Lain Seperti First Travel”

Baluki Ahmad, Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH

 

Forumkeadilan.com. Ketua Umum Himpunan Penyelenggara Umrah dan Haji (HIMPUH) Baluki Ahmad menilai kasus penipuan penyelanggara umrah seperti First Travel buka baru pertama terjadi. Bahkan masih banyak diluar sana benih-benih penyelanggara lainnya yang berpotensi seperti First Travel. “Masih ada embrio-embrio lain, hampir dengan pola yang sama seperti First Travel, Kemenag juga sudah banyak melilhat, di media juga berseliweran dengan harga murah, dan berangkat tahun depan, ujung-ujungnya sama seperti First Travel,” kata Baluki Ahmad. Nilai paling murah itu Rp 19 juta, kalau dibawah itu ya sangat tidak mungkin. Ketika travel menawarkan hal yang diluar nalar, batalkan saja. Celakanya masyarakat kita banyak yang memilih yg murah,” jelasnya. Berikut ini wawancara dengan Baluki Ahmad.

ABDUL FARID/FORUM//PARA JAMAAH KORBAN PENIPUAN PERUSAHAAN FIRST TRAVEL DI POSKO PENGADUAN DI BARESKRIM POLRI

 

Apa yang menyebabkan peserta umrah gagal selain persoalan visa?

Tidak pernah ada alasan visa belum. Itu bohong! Visa kalau dikelola dengan baik sudah ada, pagi diserahkan ke kedutaan, sore sudah bisa diambil. Kami mengimbau, kepada manajemen travel sebagai pengelola umrah untuk segera berbenah dan menyelesaikan persoalan tersebut. Jangan main-main. Kalau pengelola amanah, benar, lurus, aman-aman saja, tidak akan ada keterlambatan seperti sekarang. Saya kira ada masalah sebelumnya, pemerintah harus tegas pada travel yang bandel macam ini. Satu lagi, kalau misal pengelolanya amanah, ya rasanya nggak perlu pake pengacara.

Dengan harga yang sangat murah apakah masuk akal untuk melaksanakan umrah?

Saat ini, harga paket umrah dengan fasilitas seminimalis mungkin yaitu berkisar antara Rp 18 hingga Rp 19 juta. Tiket penerbangan termurah 900 dolar AS (sekitar Rp 11 juta). Belum lagi biaya administrasi pengurusan visa Rp 1 juta. Kalau menjual paket umrah Rp 13 atau Rp 14 juta tidak ‘ketemu’. Belum akomodasi dan operasional. Himpuh pernah mengkaji model bisnis umrah murah ala First Travel dengan mengundang berbagai ahli. Hasilnya, bisnis tersebut dinilai tidak aman dan tidak masuk akal. Sejak lima tahun lalu, kami menduga pasti ada korban. ‘Bom’ akan meledak, akhirnya sekarang kejadian.

Solusinya seperti apa?

Perusahaan tersebut segera menyelesaikan masalahnya dan tidak mencari ‘kambing hitam’. First Travel sempat mengajukan solusi yakni dengan cara jamaah menambah biaya Rp 2,5 juta lagi jika ingin segera berangkat ke Tanah Suci. Kalau jamaah menambah uang Rp 2,5 juta apakah cukup? Apakah uang per jamaah yang nanti menjadi Rp 16,5 itu masih utuh? Kita tidak tahu akuntingnya bagaimana. Kalau saja sistem auditnya benar, ini tidak akan terjadi.

Apa yang menyebabkan penyelanggara haji dan umrah melakukan pratik ponzi?

Ponzi merupakan skema investasi palsu. Ciri-ciri praktik ini adalah tawaran imbal hasil tinggi yang dibayarkan oleh investor berikutnya, bukan dari keuntungan hasil dana yang dikelola pemilik atau perusahaan. Dugaan praktik ponzi dalam pengelolaan bisnis First Travel terlihat dari tarif yang tidak masuk akal. Praktik ini menemukan jalan buntu ketika jumlah jemaah yang mendaftar di perseroan terus menyusut. Untuk memberangkatkan satu orang, pembiayaannya harus ditopang dua orang. Biaya untuk dua orang itu habis, lalu biaya untuk dua orang tadi diambil dari siapa? Itu terus terjadi sampai seperti gunung es. Skema ponzi bisa berjalan lancar ketika sumber dana baru terus datang. Namun, saat aliran dana seret atau berhenti, skema ponzi dipastikan hancur. Usia skema investasi abal-abal ini memang tak panjang. Paling lama sekitar dua tahun hingga tiga tahun. Kami sudah kaji ke ahli-ahli perbankan, tidak mungkin menggunakan cara itu. Karena tidak mungkin mengelola dengan biaya sebesar itu.