“First Travel Melakukan Kejahatan Secara Berulang”

Brigjen. Pol. Drs. Herry Rudolf Nahak M.Si. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri

 

Forumkeadilan.com –. Berangkat umrah ke Tanah Suci barang tentu impian seluruh umat Islam. Namun, tak semua bisa menjelmakan mimpi itu karena faktor biaya. Jemaah sekurang-kurangnya harus mengantongi Rp19 juta untuk bisa berziarah ke Tanah Suci. Bagi kalangan berduit, boleh jadi uang sebesar itu tak jadi soal. Tapi, beda cerita buat mereka yang berkantong cekak.

Brigjen. Pol. Drs. Herry Rudolf Nahak M.Si. Direktur Tindak Pidana Umum Bareskrim Polri

Belakangan, salah satu biro perjalanan umrah bernama First Travel bak memberi angin segar. Ia mematok harga umrah murah dengan embel-embel promo. Cukup dengan Rp14,3 juta, jemaah bisa berhaji kecil. Salah satu ketentuannya, jemaah umrah promo lewat First Travel baru bisa berangkat satu tahun setelah pelunasan biaya. Kebijakan itu rupanya tak jadi soal bagi mereka yang punya niat berangkat ke Tanah Suci. Walhasil, biro perjalanan umrah itu pun selalu dibanjiri peminat.

Di awal 2017, First Travel kesandung masalah. Ratusan jemaah umrah promo First Travel yang sudah membayar sejak tahun lalu, tertunda keberangkatannya. “Ada salah satu agen atau biro jasa yang dirugikan oleh First Travel yaitu Ibu Setianingsih yang sekaligus mewakili 13 agen yang menjadi korban dari First Travel melapor ke kita,” ungkap Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen Pol Herry Nahak kepada FORUM.

Untuk mengetahui lebih dalam mengenai pengusutan kasus dugan penipuan dan penggelapan yang dilakukan oleh pihak First Travel, berikut wawancara Julie Indahrini dan Abdul Farid dari FORUM dengan Dirtipidum Bareskrim Polri, Brigjen. Pol. Drs. Herry Rudolf Nahak M.Si. di kantornya, Bareskrim Polri, Jakarta, Rabu 23 Agustus 2017. Nukilannya;

Pengusutan kasus penipuan dan penggelapan yang diduga dilakukan oleh agen perjalanan First Travel merupakan inisiatif pihak kepolisian atau ada korban yang melapor karena kegaduhan yang dirasakan oleh para jamaah sudah lama sebelum kasus ini diusut oleh pihak kepolisian. Mengapa?

Bisa saya jelaskan bahwa penipuan dan penggelapan itu bukan kasus delik aduan. Itu delik aduan absolut, artinya kalau tidak ada yang melaporkan dan pihak kepolisian mengetahui adanya dugaan tindak pidana polisi bisa mengambil langkah langkah hukum. Tapi dalam kasus First Travel ini kami menerima laporan. Laporan tersebut disampaikan oleh salah satu korban yaitu pada tanggal 4 agustus 2017.

Ada salah satu agen atau biro jasa yang dirugikan oleh First Travel yaitu Ibu Setianingsih. Dia sekaligus mewakili 13 agen yang menjadi korban dari First Travel. Begitu terima laporan tanggal 8 Agustus kami langsung mendalami dan mempelajarinya.

Kenapa langsung dan intens kami mendalami kasus tersebut, karena informasi yang kita dapat ketika itu kasus ini akan menjadi besar karena korbanya banyak sekali. Itulah salah satunya yang membuat saya harus bereaksi cepat menanganinya.

Saya langsung perintahkan anggota untuk melakukan pemeriksaan saksi saksi, melakukan pengecekan dokumen dokumen. Setelah kita melakukan penyelidikan setelah kita bahas dengan tim akhirnya kita putuskan bahwa kasus tersebut bisa kita naikkan ke tingkat penyidikan. Bahkan saat itu kami juga putuskan pemilik atau pengelolanya bisa kita jadikan tersangka. Karena fakta perbuatan yang bersangkutan sudah terbukti melakukan tindakan penipuan.

ABDUL FARID/FORUM//SUASANA POSKO PENGADUAN KORBAN FIRST TRAVEL DI BARESKRIM POLRI

Di tanggal 8 Agustus itu juga saya perintahkan anggota untuk mendeteksi keberadaan dua orang pemilik First Travel. Di mana posisi keberadaan mereka. Malamnya kami mulai mengintai keberadaan mereka sambil melakukan pemeriksaan saksi-saksi. Kita dapatkan alat alat bukti serta dokumen. Sementara tim yang lain mengejar dua orang pemilik  First Travel tersebut.

Pada malam itu juga kami dapatkan sejumlah informasi yang membuat kami agak resah juga sebetulnya. Karena ada info mereka beberapa hari lagi akan ke luar negeri. Walaupun informasi tersebut tidak bisa kita klarifikasi langsung pada saat itu, tapi bagi kami informasi itu mengganggu, sebab kalau mereka sudah keburu keluar negeri ya repot, kita nggak bisa berbuat banyak. Apalagi kita dapat info mereka uangnya banyak. Asetnya di luar negeri ada.

Nah informasi awal beredar begitu. Makanya saya perintahkan cek manifest, setelah dilakukan pengecekan ada yang namanya sama dengan pemilik First Travel cuma baru keluar negeri minggu depanya. Itulah salah satu alasan kita untuk langsung melakukan penangkapan terhadap yang bersangkutan. Tapi alasan yang terpenting yaitu bahwa kalau itu tidak dilakukan penahanan maka akan kemungkinan kejadian penipuan ini akan terus berlanjut. Karena kami mendapatkan info masih banyak para jamah yang akan segera nyetor uang karena para jamaah ini diiming-iming segera diberangkatkan.

Ada beberapa ribu orang lagi yang akan nyetor, karena promonya First Travel itu jalan terus, makanya tanggal 9 Agustus itu tim saya perintahkan ikuti sehingga tim kami mendapatkan info keberadaan mereka di Kementerian Agama. Tujuan mereka datang ke Kementerian Agama saya kurang mengetahui, tapi sepertinya mereka meminta Kementerian Agama untuk mempertimbangkan pencabutan ijin operasional First Travel tersebut. Akhirnya saya perintahkan tim ya langsung tangkap saja.

Bagaimana koordinasi Bareskrim dengan pihak Kementerian Agama ketika melakukan penangkapan. Bisa Anda Jelaskan?

Pada saat melakukan penangkapan tim kami belum melakukan koordinasi dengan pihak pihak lain, termasuk Kementerian Agama. Tapi setelah kami melakukan penagkapan dan menahan para tersangka, kami langsung melakukan koordinasi dengan Kementerian dan lembaga terkait, termasuk PPATK.

Setelah para tersangka ditangkap dan dilakukan penahanan, bagaiamana koordinasi antara Bareskrim dengan pihak pihak terkait, seperti lembaga Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK), Kementerian Agama dan Otoritas Jasa Keuangan (OJK) sehingga melahirkan Posko pengaduan atau crisis center. Bisa Anda Jelaskan?

Lahirnya posko pengaduan itu merupakan hasil pembicaraan saya dengan Kasatgas Waspada Investasi OJK, Tongam Tobing. Kami berdiskusi kebetulan Beliau datang ke kantor bareskrim, kami ngobrol ngobrol terus kita sepakat untuk membentuk crisis center. Kita buat posko pengaduan itu bertujuan untuk menampung keluhan keluhan masyarakat terkait kasus First Travel. Karena selama ini masyarakat bingung mau melapor dan mendapat informasinya. Dan akhirnya informasi jadi sangat liar. Itulah kita sepakati buat crisis center.

Jadi aduan-aduan masyarakat tersebut bisa ditampung di satu tempat yaitu di crisis center, kemudian kami mencoba menyalurkan sesuai dengan kompentensi kepada Kementerian dan lembaga terkait. Tanggal 15 Agustus kami mengadakan rapat di OJK bersama dengan pihak dari Kementerian Agama dan kita sepakat buat crisis center, kemudian bergabunglah pada saat rapat itu dari pihak OJK yaitu Satgas Waspada Investasi, Kementerian Agama serta Bareskrim Polri. Kita sepakat bentuk crisis center dan petugas petugasnya masing masing Kementerian Lembaga ditugaskan di crisis center tersebut.

Apa saja yang dilakukan oleh Bareskrim Polri terkait pengusutan aset aset milik First Travel?

Untuk asset-asset kami lakukan penelusuran, baik yang ada di dalam negeri maupun yang di luar negeri. Untuk yang dalam negeri, kami lakukan penyitaan sebagian sudah kami dapatkan. Dan ini sangat tergantung pada keterangan ketiga tersangka, yaitu Andika, Annisa, termasuk Kiki. Selama ini kan kita sudah lakukan pemeriksaan beberapa hari ini dan kita masih mengandalkan keterangan dan kejujuran dari mereka bertiga. Saya ada rumah di sini, saya ada mobil di sini, saya ada kantor di samping itu ada juga dokumen-dokumen.

Tapi kan kita harus patut juga menduga bahwa asset-aset First Travel ini belum terungkap semua. Aset ini belum semua dilapork ke kita, sejauh ini mereka mengaku sudah kasi tahu semua, tapi kan kita tidak percaya begitu saja. Oleh karena itu Bareskrim Polri mengandeng PPATK untuk melakukan penelusuran aset aset First Travel tersebut. Kami kirim surat permintaan dan kami masukan nomor nomor rekening First Travel untuk di telusuri oleh pihak PPATK

Sebab ada 37 buku tabungan dan sebahagian buku tabungan tersebut sudah habis masa berlakunya, tapi rekeningnya milik First Travel  yang kami sita kurang lebih 13 rekening. Karena informasi yang kita peroleh ada penarikan atau transaksi yang diduga dilakukan oleh para tersangka pasca terjadinya penundaan keberangkatan jamaah umroh First Travel. Itu yang kami lakukan dan meminta pihak PPATK untuk menelusuri informasi tersebut. Bagaimana hasilnya kami belum terima laporan dari PPATK

Kemungkinan penarikan uang dalam jumlah besar itu ada. Jadi ketika sudah mulai goyang ini First Travel bisa aja mereka melakukan transfer uang itu dan tersebar kemana itu kita belum tahu. Tapi kalau sudah ada hasilnya penelusuran PPATK mengenai aset keuangan ini kami akan umumkan dan kami akan tanyakan ke para tersangka kemana saja uang itu dialihkan atau disimpan.

Ada sejumlah barang bukti yang sudah dijaminkan atau diagunkan oleh pihak First Travel. Terkait hal itu bagaiaman Bareskrim Polri menyikapinya. Atau proses hukumnya seperti apa. Bisa Anda Jelaskan?

Mengenai aset itu, sebelum laporan dibuat atau sebelum kami (Bareskrim) menerima laporan itu ada beberapa aset yang sudah dijual oleh pihak First Travel. Aset itu dijualbelikan jauh-jauh hari sebelum kami lakukan penyelidikan dan penyidikan. Sebagai contoh rumah yang di Sentul, Bogor. Rumah itu sudah jelas jelas diperjual belikan dan orang yang membelipun sudah kita mintai keterangan bahwa benar yang bersangkutan sudah membeli rumah itu dari pihak First Travel. Dan dokumen akte jual belinya ada lengkap. Jadi sebetulnya secara yuridis rumah itu sudah berpindah tangan ke orang lain. Tapi kami harus melakukan penggeledahan dokumen untuk memastikan tidak ada lagi alat bukti yang masih tersisa di sana.

Berdasarkan hasil penyidikan awal. Dari apa yang mereka sampaikan ke penyidik apa yang didapat dari ke tiga tersangka. Mereka memang berniat menipu atau mereka tidak sadar telah melakukan penipuan?

Begini ya, kadang modus operandi kejahatan itukan, mungkin pada awalnya gak ada niat. Mungkin pada awalnya niat hanya membangun usaha atau bisnis. Tapi dalam perjalanan nya apa yang mereka lakukan harusnya ada perhitungan perhitungan lah, perkiraan usaha ini akan seperti apa. Kan gitu. Dia kasi promo Rp 14.300.000. Ini kita bicara periode tahun 2015 akhir sampai tahun 2017. Mereka kasi promo sebesar itu, tapi mereka tahu bahwa untuk memberangkatkan orang untuk umrah itu tidak cukup sebesar itu yaitu Rp 14.300.000. Karena Kementerian Agama menetapkan untuk batas bawah keberangkatan Umrah itu sebesar Rp 21.000.000.

Ada juga yang bilang bisa berangkat umrah dengan biaya 18 hingga 19 juta. Intinya bahwa harga yang dipromokan oleh First Travel itu kurang. Otomatiskan First Travel perlu dana untuk disubsidikan agar bisa memberangkatkan jamaah umrahnya. Jadi butuh dana dulu untuk mensuport baru First Travel bisa memberangkatkan jamaah umrahnya. Nah dana itu diambil dari mana? Mereka ambil dari nasabah yang baru katanya para tersangka seperti itu. Dengan cara apa mereka mendapatkan dana dan nasabah baru? Mereka buat promo lagi yang murah. Kurang lebih samalah dengan promo yang sebelumnya. Menarik minat nasabah melalui agen-agen mereka.

Pihak First Travel menjanjikan bisa memberangkatkan jamaah umrah dengan biaya murah yaitu 14 juta, masuklah nasabah nasabah baru. Jadi mereka ini gali lubang tutup lubang. Makin lama jumlah nasabah ini makin besar. Jumlah yang dibutuhkan untuk mensubsidi itu makin besar. Kalau jumlahnya besar yang akan dibutuhkan untuk subsidi otomatis uang yang tersisa untuk memberangkatkan berikutnya itu pasti sangat sedikit karena sudah kesedot subsidi itu tadi.

Ketika memasuki tahun berikutnya dengan sisa uang yang sangat sedikit itu. Mereka berpikir lagi untuk menipu orang lagi untuk mengadirkan dana besar. Karena ini butuh uang banyak, jadi istilahnya lubang yang mereka gali itu sudah terlalu besar, jadi perlu uang banyak untuk menutupi lubang yang besar itu tadi. Nah ketika itu terjadi mulai tahun 2017 mulailah bermasalah. Mulai banyak jamaahnya yang tidak bisa diberangkatkan. Ada yang sudah sampe bandara, ada yang berkali kali tertunda keberangkatanya. Karena pihak First Travel selalu menjanjikan reschedule.

Bayangkan para jamah itu menunggu keberangkatan oleh pihak First Travel ada yang sampe dua tahun bahkan ada yang sudah sampe bandara batal berangkat dan ada juga dari daerah daerah sudah sampe Jakarta tidak juga diberangkatkan. Jadi para jamaah kecewa, dengan kondisi itu beberapa orang yang mungkin mulai merasa bahwa mereka sudah dibohongi atau ditipu melapor ke Bareskrim

Sebelum kasus ini ditangani Bareskrim, para jamaah dimintai tambahan uang supaya bisa diberangkatkan umrah oleh pihak First Travel. Dengan janji pasti bisa diberangkatkan dengan cara agar para jamaah menambah biaya dengan alasan carter pesawat. Karena pihak First Travel beralasan bahwa tiket pesawat yang menjadi kendala jadi agar bisa cepat berangkat pihak First Travel menjanjikan carter pesawat dan banyak jamaah mau menambah biaya demi harapannya untuk berangkat umrah.

Para jamaah ini nurut saja karena saking kepengen berangkat umrah. Jadi nambah 2,5 juta per orang, ada memang yang berhasil diberangkatkan oleh pihak First Travel. Tapi lebih banyak yang tidak berangkat karena ini hanyak akal-akalan pihak First Travel saja untuk menutupi kegaduhan. Dan ini merupakan salah satu modus penipuan yang dilakukan oleh pihak First Travel.

Ini adalah modus mereka tunjukan ke para jamaah bahwa kalau melakukan penambahan 2,5 juta meraka akan dijamin bisa berangkat umrah. Otak jahat mereka jalan, karena pihak First Travel tahu dengan penambahan tersebut tidak semua diberangkatkan karena sebetulnya mereka hanya modus untuk meyakinkan para jamah untuk bisa menyetor tambahan uang saja. Dan kejadian itu terus dilakukan oleh pihak First Travel itulah yang disebut kejahatan yang dibuat secara berulang.

Ada sejumlah artis yang menjadi ikon promosi oleh pihak First Travel. Apa ada tindakan pihak bareskrim terhadap para artis artis itu?

Untuk diketahui bahwa para artis itu juga merupakan bagian dari  promo First Travel. Tapi dalam konteks pemenuhan alat bukti kami berani bilang itu adalah bagian dari modus operandi kejahatan yang dilakukan oleh pihak First Travel. Untuk sementara waktu bagi artis-artis tersebut belum kami periksa, kami akan fokus dulu pada kasus pidana pokonya yaitu penipuan dan penggelapanya. Karena peran para artis itu tidak terlalu signifikan terhadap kasus ini. Mereka juga kan tidak tahu kalau ini menjadi kasus. Bisa jadi mereka para artis itu hanya diperalat oleh pihak First Travel untuk melancarkan aksi kejahatanya. Para artis itu bisa saja ditawarkan oleh pihak First Travel pergi umrah dengan gratis yang penting jadi atau membantu untuk ikon promo.

Kadiv Humas Mabes Polri Irjen Pol Setyo Wasisto bersama Dirtipidum Bareskrim Polri Brigjen Pol Herry Rudolf Nahak menunjukkan barang bukti kasus penipuan PT First Travel//ANTARA FOTO/Reno Esnir/aww/17.

Akhirakhir ini ada banyak modus modus penipuan serupa yaitu memberangkatkan umrah dengan cara Multi Level Marketing (MLM). Modus penipuan pun cukup beragam. Ada yang bermodus paket murah, paket cicilan, paket investasi, hingga MLM. Apa tanggapan pihak Bareskrim Polri?

Ya tentu informasi informasi itu dikumpulkan dan kita telaah, apalagi kalau dengan modus MLM itu sudah pasti ada kaitanya dengan OJK. Tidak hanya OJK, dengan Kementerian Agama juga kami akan melakukan koordinasi. Kita mau dan berharapa jangan ada lagi kasus kasus seperti ini.

Cukup kasus First Travel ini menjadi pelajaran bagi kita semua, ya bagi Polri dan paling utama bagi masyarakat. Dengan terungkapnya kasus First Travel ini saya harap masyarakat terbuka matanya. Harapan Polri ya ini pelajaran semua pihaklah, pelajaran bagi masyarakat yang menjadi jamah, pelajaran bagi perusahan perusahaan travel, pelajaran bagi Kementerian Agama juga yang memberikan ijin dan pelajaran juga bagi OJK yang memantau masalah investasi. Tidak kalah pentingnya pelajaran bagi Polri juga dimana ada tugas Polri yang bersifat preemtif dimana Polri wajib memberikan himbauan kepada masyarakat. Jadi intinya kasus First Travel ini merupakan pelajaran yang bagi bagi kita semua