Begini Sulitnya Mengungkap Penyerang Novel

 

 

Forumkeadilan.co. Polda Metro Jaya sampai saat ini masih terus berupaya mengungkap pelaku di balik kasus penyiraman air keras terhadap Penyidik Senior KPK, Novel Baswedan. Namun hingga kini belum diketahui siapa aktor yang terlibat dalam kasus itu.

Peristiwa terjadi pada 11 April 2017, usai Novel shalat Subuh di Masjid Al-Ihsan dekat rumahnya di kawasan Kelapa Gading, Jakarta. Pelaku diduga dua orang yang berboncengan dengan sepeda motor. Akibatnya, mata kiri Novel cedera dan sulit melihat. Hingga kini, ia masih menjalani perawatan di Singapura.

Penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan (tengah) menyapa wartawan saat akan dirujuk ke rumah sakit khusus mata di Jakarta, Selasa (11/4). Penyidik senior KPK itu diserang dengan air keras oleh orang tak dikenal seusai menjalankan Salat Subuh di masjid dekat rumahnya. ANTARA FOTO/Aprillio Akbar/kye/17.

Kepala Polri Jenderal (Pol) Tito Karnavian  pernah menyatakan Anggota DPR dari Fraksi Hanura, Miryam S. Haryani, berpotensi terlibat dalam kasus penyiraman air keras yang menimpa Novel. Miryam saat ini berstatus tersangka dalam kasus korupsi e-KTP karena diduga memberi keterangan palsu.

“Miryam Haryani dari sudut pandang kami dia punya potensi, termasuk link-nya, digerakan dalam penyerangan. Tapi hasil belum positif,” ujar Tito dala rapat kerja bersama Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Selasa, 23 Mei 2017.

Ia mengungkapkan, dalam menangani kasus penyiraman terhadap Novel, polisi menggunakan metode induktif berdasarkan olah TKP dan deduktif berdasarkan orang-orang yang berpotensi terlibat. Tito menambahkan, dalam penggunaan metode deduktif tadi, sejauh ini polisi telah memeriksa dua orang, yakni Miryam dan Miko yang belakangan muncul melalui videonya di youtube.

Sedangkan melalui metode induktif, polisi sudah memeriksa tiga orang, di antaranya Muhammad Lestaluhu, dan belum menemukan hasil yang sudah positif. “Semenjak 11 April, Polri telah membentuk tim gabungan yang berasal dari Polres Jakarta Utara, Polda Metro Jaya, dan Mabes Polri dan ini terus bekerja,” lanjut Tito ketika itu.

Titik terang pertama muncul saat penyidik mendapatkan petunjuk dari foto-foto yang diambil tetangga Novel. Dalam gambar tersebut, tertangkap sosok dua orang yang dianggap mencurigakan. Setelah ditelusuri, keduanya diketahui bernama Muklis dan Hasan. Polisi pun mengamankan keduanya dan dilakukan pemeriksaan.

Namun, kemudian mereka dilepaskan polisi karena tidak terbukti sebagai penyiram air keras ke wajah Novel. Mereka dianggap punya alibi yang kuat saat kejadian. Saat itu, Muklis dan Hasan tidak berada di Jakarta. Hasan berada di Malang, Jawa Timur, pada 6-13 April. Sementara Muklis berada di Tambun, Bekasi. Kedua orang tersebut mengaku berprofesi sebagai “Mata Elang” dan informan polisi dalam kasus pencurian kendaraan bermotor.

Polisi kemudian memeriksa Novel di Singapura setelah keadaannya berangsur membaik. Novel kemudian menyerahkan foto orang yang dia curigai sebagai penyerangnya. Kemudian diketahui orang tersebut berinisial AL. Namun, tidak diketahui dari mana Novel mendapatkan foto AL dan menduga bahwa dia lah pelakunya.

Akhirnya, AL juga diamankan polisi dan diperiksa secara intensif. Namun, setelah diperiksa, lagi-lagi polisi belum mempunyai cukup bukti untuk memastikan AL sebagai pelaku. Ternyata, AL masih kerabat Hasan dan Muklis, dua orang yang sempat diamankan sebelumnya.

Kapolri Jenderal Pol Tito Karnavian menunjukkan sketsa wajah terduga pelaku penyerangan terhadap penyidik Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) Novel Baswedan, di Kantor Presiden, Jakarta, Senin (31/7). Kapolri dipanggil oleh Presiden Joko Widodo untuk melaporkan perkembangan kasus Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Puspa Perwitasari/kye/17

Setelah bukti-bukti yang diperoleh dari TKP dan keterangan saksi dianggap tidak cukup, maka polisi mempelajari kemungkinan motif pelaku penyerangan. Penyidik mengurut kasus-kasus yang pernah ditangani Novel atau masalah pribadinya, apakah ada potensi pihak yang sakit hati sehingga berniat balas dendam. Hingga akhirnya polisi menemukan video Niko Panji Tirtayasa alias Miko yang viral di media sosial.

Di video tersebut, Miko mengaku dipaksa Novel selaku penyidik untuk memberi kesaksian palsu dalam pemeriksaan di KPK. Dari pengakuan itu, polisi menganggap Nico berpotensi menjadi pelaku penyiraman karena motif dendam.

Namun, setelah diperiksa selama beberapa hari, Miko tidak terbukti terlibat dalam penyiraman Novel. Alibinya kuat, didukung oleh bukti-bukti serta keterangan pihak keluarga bahwa dia tidak berada di lokasi saat kejadian. Lagi-lagi, Polri gagal unjuk gigi.

Penanganan kasus di kepolisian tidak bisa dibandingkan “apple to apple” karena beberapa di antaranya punya tingkat kesulitan yang lebih tinggi. Salah satunya kasus Novel. Kepala Bagian Penerangan Umum Divisi Humas Polri Kombes Pol Martinus Sitompul mengatakan, barang bukti yang didapatkan di lapangan tidak cukup mendukung untuk mengungkap siapa pelakunya.

Penangkapan para saksi, menurutnya, justru menunjukkan keseriusan Polri untuk terus mengejar pelaku berbekal petunjuk sekecil apapun. “Mengamankan orang yang dicurigai, kemudian diperiksa intensif, cek alibi apakah yang dia bilang benar, waktunya, lokasi dia, dikonfirmasi keterangannya dengan keluarga. Sampai sekarang faktanya memang belum ada,” kata Martinus.

Sejumlah pegawai KPK menggelar doa bersama untuk Novel Baswedan di gedung KPK, Jakarta, Kamis (20/7). Doa bersama yang dihadiri pimpinan, mantan pimpinan, dan pegawai KPK serta istri dari Novel Baswedan, Rina Emilda, itu digelar dalam rangka memperingati 100 hari peristiwa penyerangan terhadap penyidik senior KPK, Novel Baswedan. ANTARA FOTO/Reno Esnir/kye/17.

Oleh karena itu Martinus meminta masyarakat bersabar menunggu proses hukum yang berjalan. Ia memastikan pihaknya terus bekerja keras mengusut perkara ini hingga tuntas. Martinus juga mengimbau masyarakat untuk bekerja sama dengan kepolisian. “Masyarakat yang memiliki informasi terkait ini, silakan disalurkan. Jangan disimpan. Bantu polisi ungkap kasus ini,” kata dia.

Kepala Kepolisian RI Jenderal Tito Karnavian mengatakan sulitnya mengusut kasus Novel Baswedan yang diserang orang tak dikenal. Dibandingkan dengan kasus bom Bali dan bom Kampung Melayu, kata Tito, pengusutan Novel lebih sulit.

“Kasus hit and run jauh lebih sulit. Penanganan kasus bom molotov dan bom Kampung Melayu lebih mudah,” kata Tito dalam rapat kerja bersama Komisi Hukum DPR, di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin 17 Juli 2017.

Tito menjelaskan, kasus penyerangan Novel tanpa jejak dan sulit dilacak karena minimnya alat bukti. Berbeda dengan pengusutan bom Bali dan Kampung Melayu, mobil rusak dan potongan tubuh pelaku dapat dijadikan alat bukti. “Saat bom Bali buktinya banyak, termasuk mobil yang hancur,” ujarnya.

Kepolisian, kata Tito, telah menawarkan kepada KPK untuk membentuk tim mengusut kasus ini secara bersama-sama. Terakhir, Tito mengatakan telah bertemu dengan saksi penting untuk mengidentifikasi wajah terduga pelaku. “Ini kemajuan dibanding sebelumnya,” ujarnya.

Joko Mardiko