Baru Hampir Setengah Miliar Yang Ketahuan

Boleh Jadi Masih Ada Yang Terlibat Suap Kambing Sapi

Forumkeadilan.com. Panitera Tarmizi diduga telah menerima sejumlah uang sebesar Rp 425 juta dari Zaini selaku kuasa hukum PT ADI yang berpekara di PN Jaksel. Pemberian uang itu dilakukan secara bertahap sejak Juni 2017 hingga 21 Agustus 2017.‬Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) menetapkan panitera pengganti Pengadilan Negeri Jakarta Selatan (PN Jaksel) Tarmizi dan seorang pengacara PT Aquamarine Divindo Inspection (ADI) Akhmad Zaini sebagai tersangka. Keduanya ditetapkan sebagai tersangka kasus dugaan suap pengamanan perkara perdata.‬”Diduga total penerimaan sebesar Rp 425 juta,” ungkap Ketua KPK, Agus Rahardjo di gedung KPK, Jakarta, Selasa (21/8/2017).

Lebih lanjut dikatakan Agus, uang yang diberikan Zaini ke Panitera tersebut melalui rekening pegawai honorer PN Jaksel Teddy Junaedi (TJ) diduga untuk memengaruhi perkara PT ADI. Dimana Zaini ingin gugatan perkara perdata dimenangkan kliennya yakni PT Aquamarine Divindo Inspection.

‪”Diduga Pemberian AKZ, selaku kuasa hukum PT ADI kepada TMZ, agar gugatan PT E limited terhadap PT ADI ditolak, dan menerima gugatan rekonfensi PT ADI,” ujar Agus.

Untuk menyamarkan, Zaini menggunakan istilah sapi dan kambing untuk penyebutan suap. Dimana sapi untuk nilai ratusan juta, sedangkan kambing merujuk puluhan juta.

“Dalam komunikasi antara AKZ dan TMZ digunakan sandi sapi untuk rujuk nilai ratusan juta, dan sandi kambing puluhan juta. Mungkin ini karena situasi mendekati hari kurban,” tutur Agus.

Awalnya, kata Agus, Tarmizi meminta tujuh sapi dan lima kambing atau senilai Rp 750 juta kepada Akhmad untuk mengurus kasus PT ADI. Setelah disepakati, akhirnya pemberian uang senilai Rp 400 juta. Akhirnya uang yang diterima Tarmizi dari Zaini melalui Teddy Junaedi senilai Rp 425 juta.

“Tapi sampai akhirnya disepakati Rp 400 juta untuk perkara tersebut,” terang Agus.

Atas dugaan itu, Akhmad Zaini yang ditetapkan sebagai tersangka pemberi suap disangkakan melanggar Pasal 5 ayat (1) huruf a atau Pasal 5 ayat (1) huruf b atau Pasal 13 UU Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan UU Nomor 20/2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi jo Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Sementara Tarmizi yang ditetapkan sebagai tersangka penerima suap dijerat dengan Pasal 12 huruf a atau Pasal 12 huruf b atau Pasal 11 Undang-Undang Nomor 31 tahun 1999 sebagaimana diubah dengan UU nomor 20 tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.

Penetapan tersangka itu dilakukan setelah KPK memeriksa secara intensif Tarmizi, dan Akhmad Zaini yang ditangkap dalam operasi tangkap tangan (OTT) di PN Jaksel, Senin (21/8/2017).
Dalam OTT itu, Satgas KPK juga mengamankan Teddy Junaedi; Fajar Gora yang juga kuasa hukum PT Aquamarine Divindo Inspection; dan seorang sopir bernama Solihan.

‪”Disimpulkan ada dugaan tindak pidana korupsi penerimaan hadiah atau janji oleh panitera pengganti PN Jakarta Selatan dan KPK meningkatkan status penanganan perkara ke penyidikan,” tandas Agus.

‪PT ADI merupakan perusahaan konstruksi dan survei bawah laut.‬ Perusahaan itu berkantor pusat di Jl. Raya Sedati Gede, Komplek Pergudangan, Juanda, Airpor, Sidoardjo, Jawa Timur.

Dengan kemampuan, pengalaman dan teknologi dalam hal kontruksi dan survey bawah laut, perusahan itu dipercaya banyak pelanggan, baik lokal maupun mancanegara.

Antara lain yakni PT Pertamina Hulu Energi, PT Freeport Indonesia, PT PAL Indonesia, PT Trada Maritime, Tbk, CMA CGM Group, Vietnam Ocean Shipping, PT Samudera Raya Line, Smit Maritime Ltd, Ocean Shipping Pte Ltd, dan lainnya.