Korban Aksi Brutal Dua Brigadir

Gara-Gara Urusan Keluarga, Polisi Terlibat Penganiayaan

 

 

Siang itu suasana yang biasa tenang Desa Cinta Makmur, Kecamatan Panai Hulu, Kabupaten Labuhanbatu, Sumatera Utara mendadak heboh. Warga berbondong-bondong menyaksikan aksi brutal yang dilakukan dua orang oknum yang bertugas di Polsek Panai Tengah. Aksi itu sendiri sempat menjadi tontonan warga hingga menimbulkan kemurkaan para warga disana.

 

Musyawarah menyelesaikan insdien

 

Kala itu salah satu warga Desa bernama Sukarman (40) beserta anaknya Bambang Samudra (18) tengah dianiya oleh oknum Polisi bernama Bripka Seba Rewal dibantu rekanya Bripka Yunus Ritonga. Diketahui memang Seba Rewal merupakan oknum Polisi yang berdinas di Polsek Panai Tengah, yang membawahi Kecamatan Panai Tengah dan Kecamatan Panai Hulu Kabupaten Labuhanbatu, Sukarman turut dianiaya lantaran membela anaknya Bambang Samudra yang sebelumnya dituduh mencuri oleh Rodiatin  Ibu kandungnya sendiri.

Akibat kejadian itu ratusan warga secara spontan beramai-ramai membubuhkan tandatangan ke dalam surat yang dilayangkan ke Propam Polres Labuhanbatu meminta agar perkara tersebut diusut tuntas.

Kejadian itu sendiri berawal dari adanya konflik didalam keluarga Sukarman pasca bercerai dengan istrinya Rodiatin setahun lalu.

Sukarman yang memutuskan tak lagi serumah dengan mantan istrinya dan memilih tinggal bersama kakak iparnya Syamsul yang hanya berjarak sekitar 200 meter.

Sementara itu anak pertamanya Bambang Samudra tinggal di asrama SMA Negeri Plus Sipirok Kabupaten Tapanuli Selatan hingga saat ini berhasil menyelesaikan pendidikanya, sedangkan Dimas Alfan si bungsu hanya sesekali tinggal bersama ibunya dan cenderung memilih tinggal bersama ayahnya.

Sukarman dan bambang memperlihatkan : Sukarman dan Bambang ketika
memperlihatkan laporan propam dan foto bekas luka penganiayaan./Rizki Wardhana Siregar

Kondisi ekonomi Sukarman sendiri terbilang baik, sebagai petani kelapa sawit Sukarman memiliki rumah mewah berkonsep minimalis berukuran 12 x 20 meter. Dia juga merintis usaha pembuatan tempe bersama istrinya hingga sang istripun kini beralih berdagang sayuran di Pekan Ajamu yang menjadi Ibu Kota Kecamatan Panai Hulu.

Entah alasan apa Kamis siang itu tepatnya tanggal 29 Juni 2017, Sukarman yang tengah duduk bersama warga di halaman rumah kakaknya

didatangi oleh Ryan Hidayat mantan adik iparnya beserta seorang yang tidak dikenalnya hingga belakangan diketahui bernama Yunus Ritonga seorang petugas Polisi yang berdinas di Mapolsek Panai Tengah.

Bersama Yunus, Ryan menanyakan kepada pihak keluarga Sukarman keberadaan Bambang Samudra dengan alasan tengah dicari oleh ibunya Rodiatin, oleh keluarga Sukarman, lantas memberikan informasi jika Bambang Samudra sedang bermain bersama temannya. “Terus saya dengar si Ryan bilang, itu bapak si Bambang, langsung Yunus bilang ke Ryan bapak si Bambang panggil aja,” jelas Sukarman.

Atas permintaan kehadiran itu, Sukarman mencari Bambang dan menemukan anak sulungnya tengah duduk bersama temannya dirumah salah seorang warga setempat. Sehingga diapun meminta anaknya untuk datang kerumah mereka yang sudah ditunggu oleh sang Ibu. Remaja yang baru tamat  SMA ini pun dengan polos pulang ke rumahnya, saat itu ternyata delapan orang kerabat ibunya berada dalam rumah itu juga telah menunggu bersama dua orang petugas Polisi berpakaian preman yang belakangan diketahui bernama Bripka Seba Rewal dan Bripka Yunus Ritonga.

Usai masuk kedalam rumah Bambang kemudian berniat hendak duduk, namun Bripka Seba Rewal langsung menghalau remaja ini dan membawa Bambang ke dalam garasi rumah mereka. Seisi rumah tersebut hanya diam saja. Bripka Seba Rewal lantas mengunci pintu garasi dari dalam. Saat itu Bambang mulai menaruh curiga dengan gelagat pria tersebut. “Sesudah pintu garasi dikunci, aku langsung ditanyai, sama siapa kau masuk, apa yang kau ambil,” kata Bambang menirukan ucapan Seba Rewal.

“Aku masuk sendiri namanya ini rumahku, apa yang kuambil,” kata Bambang menjawab pertanyaan Seba Rewal.

Seperti orang kesurupan Bripka Seba Rewal langsung memukuli perutnya, hingga dia meringis kesakitan dan berusaha keluar dari dalam garasi rumahnya.  Namun, usaha Bambang tidak berhasil karena bajunya terus ditarik oleh oknum Polisi tersebut, bahkan dia memastikan ibunya beserta delapan orang di dalam rumah tersebut mendengar suara kesakitanya.  Tapi tak seorangpun memberikan pertolongan terhadapnya atas aksi yang diyakini sudah direncanakan tersebut.

 

Beberapa saat kemudian Seba Rewal kemudian membawa Bambang kembali ke ruang tengah. Di sana Bambang meronta-ronta minta dilepaskan dari cengkraman Seba Rewal, lagi-lagi keluarga dari pihak ibunya hanya diam saja. Bahkan menurut Bambang, sang Ibu kandung saat itu hanya tampak berpura-pura tidak melihat kejadian, sembari memainkan ponselnya.

Kala itu pula, Sukarman beserta anak bungsunya Dimas Alfan, hadir kerumah tersebut, ia terkejut karena melihat anaknya meronta-ronta minta dilepaskan. Sukarman langsung berteriak membentak Seba Rewal karena marah atas tindakan Polisi yang memperlakukan anaknya layaknya penjahat. “Kenapa kalian tarik-tarik anakku dan kalian pukuli, apa salah anakku,” bentak Sukarman.

Munculnya kemarahan Sukarman membuat Seba Rewal naik pitam, ia kemudian balik membentak, “Diam kau gak ada hak kau disini,” kata Sukarman menirukan ucapan Seba Rewal. “Loh, inikan rumahku, kok kalian pula yang mukuli di sini,” balas Sukarman.

Wargapun saat itu mulai berdatangan melihat kejadian tersebut, marah menyaksikan aksi brutal kedua oknum Polisi tersebut.  Meski begitu warga tetap menghalangi  Sukarman yang berusaha mencari kayu sebagai upaya pembelaan terhadap dirinya.

Takut melihat kemarahan warga, dua oknum Polisi itu kemudian bergegas meninggalkan lokasi, Bripka Seba Rewal kemudian terlihat berboncengan dengan Rodiatin, begitu juga dengan seluruh kerabat Rodiatin juga buru-buru meninggalkan rumah tersebut.

Bambang  sendiri mengaku heran atas sikap ibu kandungnya yang tidak punya hati membiarkan dia dan ayahnya dipukuli sampai babak belur, “Saat itu ku bilang sama mamaku dan saudara-saudaranya, gilanya kalian, kami dipukuli kalian diam saja,” tutur Bambang.

 

Usai kejadian, didampingi beberapa warga kedua korban langsung bergegas menuju klinik Restu milik dr Piter S. kemudian merencanakan bahwa tindakan tidak manusiawi yang dilakukan oleh dua petugas Polisitersebut akan dilaporkan ke Propam Polres Labuhanbatu.

Namun, upaya itu sempat coba ditengahi oleh Kapolsek Panai Tengah AKP Muhammad Basyir yang membawahi wilayah hukum Kecamatan Panai Tengah dan Kecamatan Panai Hulu. Saat itu, Kapolsek bersama Bripka Seba Rewal dan Bripka Yunus Ritonga, pada malam kejadian langsung buru-buru mendatangi rumah keluarga Sukarman meminta agar persoalan itu diselesaikan secara kekeluargaan.

Oleh korban dan tokoh masyarakat yang hadir dalam perundingan tersebut menolaknya, dan bersikukuh jika persoalan itu tetap akan dibawa ke jalur hukum. Sehingga Sukarman didampingi kerabatnya dan beberapa warga yang menyaksikan aksi itu berangkan ke kota Rantauprapat menuju

Mapolres Labuhanbatu untuk melaporkan tindakan penganiayaan tersebut dan tercatat sesuai laporan polisi nomor :LP/13/VI/2017/Provos, Jumat  tanggal 30 Juni 2017 yang diterima oleh Bripka Rencus M Situmorang.

Berjalan satu bulan lebih, laporan Sukarman ternyata tidak berjalan mulus, laporannya ke Mapolres Labuhanbatu terus dibayang-bayangi bujuk rayu upaya perdamaian yang terus dilakukan oleh jajaran Polsek Panai Tengah. Kapolsek Panai Tengah AKP Muhammad Basyir ketika dihubungi mengakui jika pihaknya telah berupaya melakukan perdamaian terhadap keluarga Sukarman, namun karena tidak menemui titik terang akhirnya kasus tersebut telah dilimpahkan ke Propam Polres Labuhanbatu.

Sementara itu Kasi Propam Polres Labuhanbatu Iptu K Hutagalung baru beberapa Minggu menempati posisi tersebut menyebutkan sejauh ini kasus tersebut masih dalam proses pemeriksaan saksi-saksi, “semalam sudah saya kirim SP2HP-nya kepada korban,” kata Hutagalung. Dia juga berharap kedua belah pihak dapat berdamai.  Dijelaskanya diluar pidana umum, dua konum Polisi itu jika terbukti bisa kena sanksi berupa penundaan kenaikan pangkat dan penundaan pendidikan serta kurungan badan paling berat selama dua minggu.

 

ZAINUL ARIFIN  SIREGAR, dan RIZKI WARDHANA SIREGAR (Medan)