Teriakan Kebencian Sebelum Membunuh Polisi

Teror di Mabes Polri hanya terpaut lima hari dari serangan kepada polisi sebelumnyua, yakni di Markas Kepolisan Daerah (Polda) Sumatera Utara. Kebencian teroris kepada polisi tergambar dari teriakan “thoghut”, penyembah “tuhan lain” selain Allah SWT, sebelum pelaku teror menikam dua anggota Brimobi. Para pelaku diduga anggota atau setidaknya simpatisan ISIS.
.
Shalat isya berjamaah di Masjid Falatehan baru saja usai. Masjid tersebut berada tidak jauh dari Kompleks Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia (Mabes Polri), di kawasan Kebayoran Baru, Jakarta Selatan.
Para jamaah, termasuk sejumlah polisi, baru mengucapkan salam penutup shalat ke kanan dan ke kiri. Kemudian jamaah bersalam-salaman. Sekonyong-konyong seorang pria tidak dikenal, yang juga ikut shalat Isya, berteriak nyaring seraya menikam dua orang personel Polri. Hari itu, Jumat 30 Juni 2017 malam. “Thoghut’ dan mengeluarkan sebilah sangkur untuk menusuk dua anggota polisi.
Thoghut atau Thaghut adalah istilah dalam agama Islam yang merujuk kepada sesuatu yang disembah atau ditaati selain Allah. Dalam pengertian itu pun terkandung makna, bahwa jika manusia mengabaikan hukum Allah, maka hukuman terhadap mereka disebut hukum Thoghut.

Polri menggelar jumpa pers terkait kasus penyerangan Mapolda Sumatra Utara (Sumut), di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Jumat (30/6). Kelompok teror menyerang pos jaga Mapolda Sumut dan menyebabkan seorang anggota polisi tewas. (Liputan6.com/Herman Zakharia)

Setelah menikam, pelaku berlari ke arah Terminal Blok M, setelah melakukan aksinya. Aparat di sekitar lokasi sempat melepaskan tembakan peringatan agar pelaku berhenti. Namun, pelaku malah berbalik arah dan menantang aparat sambil terus mengacung-acungkan pisau. Polisi pun melumpuhkan pelaku dengan timah panas, dan dia pun jatuh tersungkur. Pelaku tewas seketika.
Sedangkan dua aparat yang terkena tikaman segera dilarikan ke Rumah Sakit Pusat Pertamina, sekitar 1 kilometer dari lokasi kejadian, Kedua korban adalah AKP Dede Suhatmi (Detasemen I Gegana) dan Briptu M Syaiful Bakhtiar (Detasemen III Pelopor). Mereka anggota Brigade Mobil (Brimob). Saat itu mereka sedang menjalankan tugas pengamanan Lebaran. Mereka tidur di tenda-tenda yang didirikan di lapangan Bhayangkara Mabes Polri. Keduanya mengalami luka di bagian leher dan wajah.
Dari pelaku, polisi menemukan Kartu Tanda Penduduk (KTP) milik Mulyadi, 28 tahun. Diduga kartu identitas itu milik pria yang menyerang dua anggota Brimob di Masjid Falethen, Kebayoran baru, Jakarta Selatan. “Dalam kartu identitasnya tertulis alamat Cikarang, Bekasi,” kata Kepala Divisi Hubungan Mayarakat Polri Inspektur Jederal Setyo Wasisto Jumat, 30 Juni 2017.
Beberapa hari kemudian, polisi memastikan penusuk dua anggota Brimob di Masjid Falatehan adalah Mulyadi, warga Cikarang, Kabupaten Bekasi. Kepastian itu berdasarkan hasil tes DNA terhadap seorang perempuan yang merupakan kakak Mulyadi. “Hasil pemeriksaan DNA Mulyadi identik dengan DNA kakaknya yang di Bekasi. Ditesnya dengan DNA dari kromosom kakak perempuan,” kata Kadiv Humas Polri, Irjen Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, Selasa, 4 Juli 2017.
Karena rangkaian pemeriksaan identifikasi pada jasad Mulyadi sudah selesai, maka jasadnya dapat dimakamkan. “Kalau sudah identik dikembalikan. Tinggal keluarganya ambil,” imbuh Setyo.
Lantas apa motif serangan nekat itu. Yang jelas Kapolda Metro Jaya Irjen Pol M Iriawan mengatakan polisi telah mendapatkan identitas pelaku penusukan di Masjid Falatehan, Jakarta Selatan. Menurutnya, tim sedang bekerja untuk mengungkap motif penusukan tersebut. “Tim sedang bekerja. Kita akan ungkap motif penusukan tersebut,” kata Iriawan kepada wartawan di Rumah Sakit Polri, Kramat Jati, Jakarta Timur, Senin 3 Juli 2017.
Iriawan menuturkan bahwa polisi sudah memeriksa beberapa saksi. Polisi akan terus mendalami pelaku penusukan tersebut apakah terkait salah satu kelompok jaringan teroris atau tidak. “Terus kita akan dalami yang jelas pelaku sudah ada. Kita akan dalami dari kelompok mana itu, dari jaringan mana,” ungkap M Iriawan.
Dugaan sementara dari hasil pemeriksaan saksi, pelaku bernama Mulyadi yang diketahui mendukung jaringan Islamic State of Iraq and Syria (ISIS). “Dari hasil pemeriksaan didapat informasi dia selalu sibuk dengan HP-nya dan selalu mengatakan bahwa ISIS itu baik, khilafah itu baik. Kelihatannya dia sudah terkontaminasi pemikirannya dengan media sosial tentang konten radikal,” kata Kadiv Humas Polri Irjen Setyo Wasisto, Senin 3 Juli 2017.

 

Kepala Divisi Hubungan Mayarakat Polri Inspektur Jederal Setyo Wasisto Jumat, 30 Juni 2017/http://bogordaily.net

Kepala Biro Penerangan Masyarakat Divisi Humas Mabes Polri Brigadir Jenderal Rikwanto juga bilangbahwa Mulyadi, adalah sipatisan kelompok radikal ISIS. “Mulyadi merupakan simpatisan ISIS yang terkooptasi radikal dari materi-materi yang diunggah pada website radikal maupun grup-grup messenger radikal yang diikutinya,” kata Rikwanto dalam keterangan tertulis di Jakarta, Ahad, 2 Juli 2017. Mulyadi, kata dia, diduga tidak bergabung dengan kelompok-kelompok jaringan teror yang ada di Indonesia.
Rikwanto menjelaskan Mulyadi melakukan aksi terornya secara lone wolf (bagai srigala yang menyerang sendirian). Menurutnya, Mulyadi termotivasi dari maraknya materi-materi yang diunggah pada grup telegram radikal. “Khususnya mengenai amaliyah dengan modus penusukan kepada anggota Polri dan kemudian melakukan perampasan senjata,” ujarnya.
Rikwanto menjelaskan, dari hasil penelusuran barang bukti digital yang ditemukan di lokasi kejadian, belum ada temuan yang menyatakan Mulyadi terkait dengan kelompok jaringan teror yang ada di Indonesia. Namun, terdapat materi yang menunjukan Mulyadi adalah simpatisan kelompok radikal ISIS. “Untuk perkembangan kasus menyusul,” ujar dia.
Diduga pula, Mulyadi, yang berusia 28 tahun, merupakan anggota jaringan Jamaah Ansharud Daulah (JAD) yang bermarkas di Suriah. Kini polisi sedang menelisik hubungan pelaku teror di Mabes Polri tersebut dengan JAD Bekasi pimpinan Nur Solihin, yang sempat merancang pengeboman Istana Negara tahun lalu.
Teror di Mabes Polri hanya terpaut lima hari dari serangan kepada polisi sebelumnyua, yakni di Markas Kepolisan Daerah (Polda) Sumatera Utara. Sekitar pukul 03.00 WIB dini hari. Dua pelaku penyerangan masuk ke polda dengan cara melompat pagar. Mereka kemudian merangsek ke arah pos penjagaan.
Di dalam Polda Sumatera Utara ada tiga pos penjagaan yakni Pos 1 sampai 3. Tiga pos ini saat malam atau setelah lewat pukul 18.00 akan ditutup. Selanjutnya untuk yang hendak masuk ke markas harus melalui Pos 1. Setiap pos, lanjut Setyo, seharusnya dijaga empat orang. Tapi pada saat penyerangan, dua personil pos tersebut sedang patroli di markas, satu lagi sedang mengontrol di luar pos.
Hanya Pos 3 yang dijaga. Dan para pelaku menyerang ke pos ini dengan cara melompat pagar. “Dua orang ini lompat kemudian serang di pos tiga,” kata Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto, di Mabes Polri, Jakarta, Minggu, 25 Juni 2017. Dua pelaku penyerang yang bersenjatakan senjata tajam lalu menyerang Aiptu Martua Sigalingging yang berada di dalam pos.
Serangan mendadak itu menewaskan seorang anggota polisi di pos penjagaan. “Yang diserang ini yang di dalam pos yang sedang istirahat. Pada saat diserang, anggota atas nama Aiptu Martua Sigalingging gugur karena ditikam dengan senjata tajam,” ujar Setyo.
Aiptu Martua gugur dengan luka tikaman di leher, dada dan tangan. Setyo mengatakan, rekan Aiptu Martua, Brigadir E Ginting kemudian meminta tolong kepada anggota Brimob yang ada di pos lainnya di dalam Polda Sumut.
Anggota Brimob kemudian melumpuhkan para pelaku dengan tembakan, dan menewaskan salah satunya. “Anggota Brimob di pintu lain ambil tindakan dengan satu pelaku tewas di tempat dilumpuhkan, satu kritis,” ujar Setyo, seraya menjelaskan pelaku yang kritis dirawat di rumah sakit. Kasus ini sudah ditangani Densus 88.
Sudah tentu Kepala Polda Sumut Inspektur Jenderal Rycko Amelza Dahniel dibikin geram. Ia menyebut 2 pelaku penyerangan pos jaga Polda Sumut sebagai teroris. Namun belum diketahui pasti kelompok atau jaringan 2 penyerang yang menjalankan aksinya bertepatan di hari Idul Fitri. “Penyerangan pos jaga Polda Sumut terjadi sekitar pukul 03.00 WIB tadi pagi membuktikan sel teroris itu nyata dan ada di Sumatera Utara.”kata Rycko dalam keterangan pers di Markas Polda Sumut.
Menurut Rycko, kedua pelaku memang berniat membunuh anggota polisi. Hal itu, kata Rycko,bisa dilihat dari senjata tajam yang dibawa kedua pelaku. Keduanya membawa pisau dan menikam anggota Polri Ajun Inspektur Satu Martua Sigalingging yang saat itu berjaga di pos tiga pintu keluar Mapolda. Kedua pelaku kemudian membakar pos jaga yang dijaga Aiptu Martua dan Brigadir E.Ginting. “Aiptu Martua tewas ditempat akibat ditikam,” kata Rycko.
Rycko menegaskan, jumlah penyerang pos 3 pintu keluar Markas Polda Sumut ada 2 orang. “Satu mati ditembak anggota Brimob yang menjaga pintu dua setelah mendengar teriakan minta tolong dari pos jaga tiga Brigadir E.Ginting.” tutur Rycko. Sedangkan satu pelaku lainnya dilumpuhkan anggota Brimob yang menembak paha pelaku. Saat ini pelaku dibawa ke Markas Brigade Mobil Polda Sumut di Jalan Wahid Hayim Medan.
Sebelumnya, Densus 88 pada Selasa malam 6 Juni hingga Rabu 7 Juni 2017 menangkap tiga orang di Medan terkait bom Kampung Melayu. Salah satunya adalah
Komandan Laskar Forum Umat Islam Sumatera Utara Azzam Abu Yakub. Tapi apakah ada hubungannya dengan penangkapan kelompok ini. Polisi, kata Rycko, sudah mengidentifikasi 2 penyerang yang diduga kuat teroris. Namun Rycko belum membuka identitas kedua penyerang pos jaga pintu keluar Markas Polda Sumut dini hari tadi.
Ada dugaan yang dikemukakan oleh Kepala Divisi Humas Polri Irjen Pol Setyo Wasisto. Menurutnya ada indikasi serangan di Polda Sumut sebagai aksi teror atas perintah dari Bahrun Naim alias Anggih Tamtomo alias Abu Rayan warga negara Indonesia di Suriah yang menjadi pengikut ISIS. Bahrun Naim disebut mengimbau pengikutnya untuk melakukan aksi amaliah. “Indikasinya mungkin rekan-rekan kemarin dengar ada imbauan dari Bahrun Naim yang imbau bahwa mereka diminta untuk amaliah, apapun yang di dia (punya), kalau dia enggak punya bom pakailah sajata apa aja untuk menyerang,” ujar Setyo.
Setyo juga menyinggung kasus penangkapan tiga orang terduga teroris oleh Densus 88 di Medan beberapa waktu kemarin. Pihak Densus 88, menurutnya, sedang menyelidiki apakah dua terduga teroris yang menyerang Polda Sumut ada kaitannya dengan yang ditangkap sebelumnya. “Ini kelihatan masih kelompok mereka atau sel lain yang melakukan serangan yang sama,” ujar Setyo.
Sejauh ini polisi baru mengungkap identitas keduanya, SP yang berumur 47 tahun dan AR (30 tahun). AR diketahui merupakan warga Jalan Sisingamangaraja, Simpang Limun, Medan, Sumatera Utara. AR berprofesi sebagai penjual jus. Sedangkan SP adalah warga Jalan Pelajar Ujung, Gang Kecil, Medan. Dia berprofesi sebagai penjual rokok. AR tewas ditembak,, sementara SP ini kritis.
Selain teror secara fisik dan langsung, ada enam perwira polisi yang dikisahkan pernah diancam oleh ISIS yang bermarkas di Suriah. “Ancaman itu disampaikan belum lama ini. Intelijen Amerika Serikat dan Australia secara resmi sudah mengingatkan para perwira itu agar mewaspadai ancaman tersebut,” kata Ketua Presidium Indonesia Police Watch (IPW) Neta S Pane dalam keterangan tertulisnya, Jumat, 4 Desember 2015.
Dari enam perwira tersebut, ia memerinci dua perwira tinggi di Mabes Polri, dua kepala kepolisian daerah, satu jenderal purnawirawan, dan satu komisaris besar. Neta mengatakan, para perwira itu dianggap sebagai pihak yang bertanggung jawab atas penangkapan kelompok-kelompok radikal di Indonesia. “Polri sendiri tampaknya sudah mengantisipasi ancaman dengan memperketat pengamanan di berbagai fasilitas Polri. Seperti di Mabes Polri, petugas dilengkapi senjata laras panjang. Selain itu, beberapa perwira tinggi beraktivitas menggunakan mobil antipeluru,” kata Neta.
Neta menambahkan, ancaman serupa juga ditujukan ke perwira-perwira negara lain yang menjadi musuh ISIS. “Serangan teror beruntun di satu kota, seperti di Paris, memang menjadi perhatian masyarakat internasional saat ini.Tentunya diharapkan hal itu tidak akan pernah terjadi di Indonesia, meski Indonesia pernah beberapa kali mendapat serangan teror bom, di antaranya serangan bom beruntun,” kata dia.
Ada pula teror yang terkesan meledek. Selembar bendera yang diduga merupakan lambang Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) ditemukan terpasang di pagar depan kantor Kepolisian Sektor Kebayoran Lama, Jakarta Selatan. Pemasangan atribut ini ditemukan pada Selasa pagi, 4 Juli 2017. “Betul, sekitar pukul 05.30, petugas dari Polsek Kebayoran Lama menemukan sehelai bendera hitam dengan tulisan lafaz ‘Lailahaillahaillallah’ yang menyerupai lambang ISIS,” kata Wakil Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan Komisaris Alam Nur saat dikonfirmasi, Selasa.
Alam menuturkan peristiwa ini berawal saat anggota Polsek yang tengah berada di kantor curiga dengan seseorang yang menghentikan sepeda motornya di depan kantor. Namun, saat dihampiri, orang tersebut langsung pergi terburu-buru. Polisi kemudian menelisik semua titik di sekitar kawasan Polsek Kebayoran Lama. Selain menemukan bendera lambang ISIS, polisi menemukan botol air mineral satu liter yang di dalamnya terdapat sepucuk surat. “Isi suratnya ancaman terhadap Polri, TNI, dan satuan lain,” katanya.
Polisi masih memeriksa saksi-saksi terkait dengan peristiwa ini. Selain itu, polisi akan mengecek CCTV yang berada di sekitar lokasi.
Peristiwa-peristiwa di atas, khususnya serangan yang menimpa personel Polri dalam pekan ini menjadi sinyal penting di korps Bhayangkara dan Polda Sumut, menarik perhatian masyarakat luas, jua wakil rakyat. “Ini bukan serangan yang biasanya dilakukan para pelaku teror kepada polisi,” ujar Anggota Komisi III DPR, Abdul Kadir Karding dalam keterangan tertulis yang diterima JawaPos.com, Minggu, 1 Juli 2017.
Sekarang polisi mendapat serangan di dalam masjid bahkan saat sedang melakukan salat. “Saat seseorang yang beribadah diserang, dilukai, bahkan hendak dibunuh, atas nama tuhan yang sama, saya kira ini menjadi pesan yang serius dari para pelaku teror,” ujarnya. Sekretaris Jenderal (Sekjen) Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) ini mengatakan terorisme di Indonesia tidak terlepas dari pemahaman teologis.
Untuk itu, selain pendekatan hukum, Karding meminta aparat kepolisian juga melakukan pendekatan kultural. Misalnya saja lebih dengan merangkul sebanyak-banyaknya kelompok keagamaan untuk berdialog. “Polisi harus merangkul sebanyak-banyak kelompok keagamaan untuk berdialog. Jangan sampai ada kelompok yang merasa dianaktirikan oleh negara,” katanya.
Ir. H. Adies Kadir, SH, M.Hum, Anggota Komisi III DPR RI dari fraksi Partai Golkar, menilai bahwa serangkan kepada polisi cenderung brutal. Namun ia menghimbau agar polisi tidak emosional menghadapi serangan teror tersebut. “Harus bersikap tenang dalam menghadapi aksi teror tersebut dan ini memang bukan hanya khusus masalah Polri tetapi ini merupakan masalah seluruh anak bangsa,” katanya pada Abdul Farid dari Forum.
Peran serta masyarakat juga tidak kalah penting. Karding meminta kepolisian lebih sering lagi terjun ke kampung-kampung. Mengaktifkan siskamling. Hal ini agar segala bentuk ancaman dan keganjilan di masyarakat bisa segera terdeteksi. Menurutnya, kerja melawan terorisme adalah kerja panjang. Hal ini tidak bisa dilakukan sendirian oleh aparat kepolisian. Butuh dukungan banyak pihak, termasuk masyarakat.
Hamdani