Skandal Ridho Rhoma: Dukungan Dari Sang Ayah

 

Ridho Rhoma Memohon direhabilitasi.

 

 

forumkeadilan.com.  Ada yang berbeda dalam sidang lanjutan kasus narkotika yang menjerat artis kondang sekaligus penyanyi, Ridho Rhoma. Sang ayah yang juga pedangdut senior, Rhoma Irama, turut hadir menyaksikan anaknya yang menjadi terdakwa di Pengadilan Negeri Jakarta Barat, Selasa pekan lalu.

Penyanyi dangdut Ridho Rhoma menaiki mobil seusai menjalani pemeriksaan di BNN, Jakarta//ANTARA FOTO/Rivan Awal Lingga/foc/17.

Bukan hanya Rhoma Irama, persidangan yang beragendakan pembacaan eksepsi dari tersebut juga disaksikan kedua kakak Ridho Rhoma, yakni Debby Irama dan Vicky Irama.  Rhoma yang datang dengan setelan pakaian serba putih ini hadir di pengadilan untuk memberikan dukungan moril kepada putranya.

Pelantun lagu Mirasantika ini pun mengungkap bagaimana keadaan Ridho yang sedang menunggu di ruang tahanan Pengadilan Negeri Jakarta Barat itu. “Alhamdulillah sehat, psikologus bagus, fisik juga bagus. Alhamdulillah,” ujarnya.

Untuk proses peradilan, Rhoma pun menyerahkan nasib Ridho kepada jaksa dan majelis hakim. “Kami percayakan sepenuhnya kepada jaksa dan hakim,” katanya.

Sementara itu, Ridho Rhoma tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan dengan menggunakan mobil tahanan pada pukul 15.00 WIB. Dengan mengenakan kemeja putih dan kopiah putih, Ridho memilih bungkam dan memasuki ruang tahanan. Ia tidak bersedia menjawab pertanyaan dari para awak media yang sejak lama menantinya.

Dalam persidangan tersebut, kuasa hukum Ridho, Achmad Cholidin, menyampaikan beberapa hal menyangkut eksepsi Ridho. Achmad menilai dakwaan yang dibuat Jaksa Penuntut Umum (JPU) kurang cermat dalam unsur formalnya. “Kita melihat dari unsur formalnya. Dia (JPU) tidak cakap dalam membuat suatu dakwaan,” pungkas Achmad.

Ia menyoroti isi dakwaan soal barang bukti (barbuk) yang tidak sama. Dalam dakwaan disebutkan, ketika ditangkap barbuk yang diamankan dari tangan Ridho seberat 0,7 gram. Namun setelah diperiksa di labolatorium berubah jadi 0,5 gram. “Kan itu sudah jelas tidak singkron. Kemudian tidak menguraikan pasal yang dituduhkan, didakwakan,” ujarnya.

Achmad mengkritik tidak detilnya dasar penggunaan pasal yang digunakan Jaksa seperti pasal 136 namun tidak diuraikan dalam surat dakwaan. “Seperti pasal 136, itu kan perbuatan jahat. Mana perbuatan jahatnya tidak ada dalam uraian dakwaan. Atau lima-limanya yang di pasal 27 tidak dijelaskan,” katanya.

Penyanyi dangdut Ridho Rhoma tiba di Pengadilan Negeri Jakarta Barat untuk mengikuti sidang perdana kasus penyalahgunaan narkoba, di Jakarta, Selasa (4/7). Ridho Rhoma ditangkap Polisi di sebuah hotel di kawasan Tanjung Duren, Jakarta Barat, Sabtu (25/3/2017) dengan barang bukti berupa 0,7 gram sabu beserta alat hisapnya. ANTARA FOTO/Galih Pradipta/pd/17

Tim kuasa hukum Ridho pun merasa yang pihak yang berwajib tidak menyampaikan tuduhan secara rinci.  Mereka menilai tidak seharusnya jaksa mendakwa Ridho Rhoma bersalah. Pasalnya, sesuai dengan hasil assesment (pemeriksaan) Badan Narkotika Nasional (BNN), Ridho Rhoma seharusnya hanya menjalani proses rehabilitasi, bukan menjalani pidana.

“Nanti berkenaan dengan hal-hal lainnya, kesaksian bersama teman-teman media untuk bisa melihat didakwaan JPU. Benar atau tidaknya, di depan pengadilan yang akan menentukan. Tapi yang utamanya kami menginginkan kembali bahwasanya Mas Ridho direhab lagi,” Achmad.

Menurutnya, dalam aturan BNN dan Undang undang 75 tahun 2009, dijelaskan dalam proses penyidikan penuntutan dan persidangan,  dibolehkan mengajukan rehabilitasi. Rehabilitasi tersebut sudah melewati proses assessment. Pihaknya akan sangat berusaha agar kliennya bisa kembali jalani rehabilitasi.

Achmad mempertanyakan pula alasan Ridho masih ditahan di rutan, padahal ia bukan penjahat. Menurutnya, Ridho hanya korban sehingga patut direhabilitasi.  “BNN ada, penyidik JPU juga. Jadi saya bingung kenapa mas Ridho masih ditempatkan di rutan. Apakah mas Ridho itu seorang penjahat? Dia ini kan hanya korban. Jadi alangkah baiknya mas Ridho di rehabilitasi,” bebernya.

Terlebih, Achmad melihat perilaku Ridho sejak awal sangat kooperatif dan selama menjalani masa hukuman.  Ridho kena narkoba karena memang salah pergaulan. “Sebab kita ketahui bagaimana sih tipikal mas Ridho. Apakah dia seperti artis lain yg kena narkoba karena memang pergaulan, kan tidak,” ungkapnya.

Sebab itu, kuasa hukum memohon majelis hakim agar mengabulkan Ridho untuk direhabilitasi dalam rangka pengobatan agar psikisnya tidak terguncang. “Rehab ini kan medik dan sosial. Karena tidak ingin juga terguncangnya psychology dari mas Ridho,” tambah Achmad. Kendati demikian, kuasa hukum Ridho menyerahkan sepenuhnya kepada keputusan pengadilan.

Hal senada disampaikan sang ayah, Rhoma Irama. Ia berharap Jaksa meralat berkas dakwaan yang dikenakan kepada putranya dan mengacu pada undang-undang. “Jadi kita berharap kepada hakim tentunya juga kepada JPU agar mengacu kepada UU secara yang sebenarnya,” ucap sang raja dangdut.

Rhoma menilai pasal yang dipakai tidak sesuai dengan hasil rekomendasi assessment terpadu dari BNN.  Pengguna narkoba dibawah 1 gram berstatus sebagai korban dan tidak dapat dipidana. Alasan inilah yang lantas membuat Rhoma menyampaikan harapannya kepada putusan majelis hakim nantinya.

Menurutnya, Ridho sebagai pengguna sesuai rekomendasi BNN harus direhabilitasi, bukan menjalani proses pidana. “Dia sebagai pengguna sebagaimana rekomendasi dari assesment terpadu BNN. Dan kemudian bahwa Ridho harus di rehab bukan dipidana. Kemudian diajukan ke kepolisian,” ujar Rhoma Irama.

Rhoma merasa adanya ketidakadilan dalam kasus narkotika putranya tersebut.  Misalnya ada perbedaan pengajuan barang bukti yang dituduhkan oleh jaksa seperti yang diutarakan tim kuasa hukum Ridho.

Seperti diketahui, Ridho Rhoma ditangkap pada 25 Maret 2017 pada pukul 03.00 WIB oleh tim Satuan Narkoba Polres Jakarta Barat. Sebelum diciduk aparat kepolisian, Ridho diketahui sempat manggung bersama sang ayah, Rhoma Irama.

Pada 24 Maret 2017 silam, manajer Ridho, Tanti mendatanginya ke apartemen untuk fitting baju yang akan dipakai saat mengisi acara. Ridho juga menandatangani kontrak bersama Tanti. Setelah tanda tangan kontrak, Ridho pamit untuk keluar.

Ia mengaku ingin nonton ke bioskop bersama teman-temannya. Esoknya pukul 04.00 WIB. Polisi menangkap Ridho saat hendak naik lift di hotel di kawasan Jakarta Barat. Pasalnya polisi mendapat informasi dari masyarakat akan adanya rencana pesta narkoba di lokasi itu. Tak ada perlawanan dalam penangkapan ini. Ridho juga mengaku meletakkan paket sabu di mobilnya.

Dari hasil pemeriksaan kepada Ridho, polisi kemudian menangkap satu tersangka lagi, MS di tempat tinggalnya di sebuah apartemen yang berada di kawasan MH Thamrin, Jakarta Pusat. Kepada polisi, Ridho mengaku mendapat paket narkoba dari MS.  Sementara MS mengaku mendapatkan barang haram itu dari seorang berinisial A.

Setelah ditangkap, Ridho kemudian ditahan di Rutan Salemba untuk kelancaran proses persidangan.  Ia juga harus menjalani rehabilitasi di Rumah Sakit Ketergantungan Obat (RSKO) Cibubur. Kendati menjalani rehabilitasi, tak menghentikan Polres Jakarta Barat melanjutkan kasusnya.

Usai pemberkasan, polisi melimpahkan kasus Ridho ke Kejaksaan Negeri Jakarta Barat. Dinyatakan lengkap atau P-21, kasus narkotika Ridho selanjutnya dilimpahkan ke PN Jakarta Barat. Di persidangan dengan agenda pembacaan dakwaan, Ridho mengakui telah menyimpan narkotika jenis shabu di dalam mobil Honda Civic warna hitam No.Pol B 1240 ZAA miliknya yang terparkir di hotel.

Ridho menunjukkan paketan narkotika jenis sabu tersebut yang berada di dalam paper bag warna cokelat yang berada di tas jok sebelah kiri mobil.   Ditemukan barang bukti berupa satu paket plastik berisi narkotika jenis sabu-sabu 0,72 gram, satu buah cangklong dan satu unit ponsel. Ridho Rhoma pun mengakui bahwa barang haram tersebut adalah miliknya yang didapat dari MS.

Dalam eksepsinya, pelantun lagu “Menunggu” itu meminta agar menjalani rehabilitasi dan tidak menjalani proses pidana. Namun demkian, keputusan tetap ditangan hakim, apakah harus direhabilitasi total atau tidak.  Apabila dikabulkan, Ridho hanya menjalani proses rehabilitasi tanpa pidana penjara. Sidang perkara narkotika yang membelit Ridho sendiri akan dilanjutkan pada 18 Juli dengan agenda pembacaan tanggapan Jaksa atas pengajuan eksepsi.

 

AFKHAR