Empat Catatan Teror Kepada Polisi

 

 

 

Sekurangnya ada empat insiden penyerangan terhadap polisi baik di markas maupun di jalan raya. Para penyerang begitu nekat dan tidak takut pada polisi.

 

Serangan yang terjadi Markas Besar Kepolisian Negara Republik Indonesia dan di pos penjagaan pintu keluar Markas Polda Sumatera Utara bukanlah serangan pertama yang menyasar anggota kepolisian. Beberapa penyerangan terhadap polisi telah terjadi beberapa kali di sejumlah daerah di Indonesia. Tak tanggung-tanggung, penyerangan yang diduga dilakukan kelompok jaringan terorisme itu telah memakan banyak korban.

Bom Kampung Melayu

Masih hangat dalam ingatan tentang bom bunuh diri terjadi di terminal bus Kampung Melayu, Jakarta Timur. Serangan ini ditujukan kepada polisi yang sedang berjaga di sana. Setidaknya, ada dua kali ledakan dan diduga sebagai aksi bom bunuh diri. Tiga anggota kepolisian tewas atas peristiwa tersebut. Mereka adalah adalah Bripda Imam Gilang asal Klaten, Bripda Ridho Setiawan dari Lampung, dan Bripda Taufan asal Bekasi

Sekitar  pukul 18.00 sebanyak 17 polisi dar i Unit 1 Peleton 4 DirektoratSabhara Polda Metro Jaya berjaga di sekitar Terminal Kampung Melayu, Jakarta Timur. Mereka bertugas di sini membantu kelancaran lalu lintas yang akan dilintasi Pawai Obor menyambut Ramadan. Rombongan pawai diperkirakan melintas pukul 21.45 WIB. Sebagian polisi berjaga di sudut toilet terminal.

Selain berjaga di dekat toilet terminal, pada pukul 20.00 WIB 6 polisi berjaga di sudut terminal terletak di sisi kanan Jalan Otto Iskandardinata menuju Jatinegara, Jakarta Timur. Sejumlah personel Sabhara lainnya berjaga di seberang toilet terminal.

Sekitar 20.55 WIB, Jihan Thalib dan Susi Afitriani, keduanya mahasiswa, melintasi sejumlah polisi yang berjaga di dekat toilet terminal. Pukul 20.57, bom pertama meledak. Sejumlah polisi di seberang jalan mendekat, mendapati empat koleganya tergeletak. Beberapa orang berkerumun, sebagian menolong korban.

Sesuai jadwal pawai obor diperkirakan tiba di kawasan Kampung Melayu pukul 22.00. “Mereka berangkat dari kawasan Petamburan, lalu ke arah Kampung Melayu, kemudian ke arah Jakarta Pusat,” begitu tutur Kapolres Jakarta Timur Komisaris Besar Andry Wibowo di Terminal Kampung Melayu Kamis, 25 Mei 2017.

 

Menurut Andry ketika itu, pengamanan pawai obor yang salah satu kelompoknya dari Front Pembela Islam (FPI) itu sudah dilakukan sejak pukul 18.00-19.00 di Terminal Kampung Melayu. Ada 17 polisi yang berjaga di terminal itu. Mereka tim dari Polda Metro Jaya. “Kalau tim dari Kepolisian Resort Jakarta Timur menjaga gereja. Penjagaan di terminal ini untuk penguatan saja,” kata Andry.

Mabes Polri sudah mengindentifikasi dua pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta Timur. Keduanya merupakan warga Bandung, Jawa Barat bernama Ahmad Sukri (AS) dan Ichwan Nurul Salam (INS).

Ada beberapa kesamaan di antara kedua bomber ini. Keduanya berusia sama dan lahir pada tahun yang sama yakni 1985. Keduanya juga sama-sama memiliki satu istri dan dua orang anak.

INS merupakan warga asli di kawasan Cibangkong. Dia dan keluarganya sudah dua tahun menetap di sebuah rumah kontrakan di Jalan Cibangkong RT 02 RW 07 Kelurahan Cibangkong, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung, Jabar. INS, yang sehari-hari bekerja sebagai pedagang susu murni dan obat-obatan herbal, dikenal sebagai pribadi yang pendiam dan tertutup.

Yuniar Hidayat (40), paman INS, menuturkan sosok INS berubah sikap semenjak 2 tahun terakhir. INS dikenal lebih agamis. “Dua tahun yang lalu, dia jadi lebih agamis. Seperti memperdalam agama,” ucap paman INS, Yuniar Hidayat (40), saat ditemui di sela-sela penggeledahan di kediamannya, Kamis 25 Mei 2017.

Sepengetahuan Yuniar, INS mengikuti kegiatan keagamaan. Hanya saja, ia tidak mengetahui secara jelas terkait kegiatan keagamaan yang diikuti INS. “Dia sepertinya ikut pengajian, cuma kita enggak tahu ikut dimana-mananya. Dia orangnya sejak dahulu memang pendiam jadi enggak banyak ngobrol sama keluarga juga,” katanya.

Selain itu, Ichwan juga diketahui kerap pergi keluar rumah bersama teman-temannya. Bahkan, Ichwan sempat dalam beberapa hari tidak pulang ke rumah. “Sering pergi sama temennya beberapa hari tapi enggak pernah nyebut kemana-kemananya,” katanya.

Sebelum ditemukan tewas dan diduga menjadi pelaku bom bunuh diri di Kampung Melayu, Jakarta, INS berpamitan kepada keluarga pergi ke Tasikmalaya. Ia tidak berpamitan secara langsung kepada ibu atau keluarga besarnya. Ia hanya berpamitan kepada istrinya untuk pergi pada Sabtu 20 Mei 2017. “Dia bilang ke istrinya. Saya tahu dari istrinya. Bilangnya mau ke Tasikmalaya bantuin konfeksi temannya,” kata Yuniar.

Yuniar menambahkan INS juga diketahui mengalami sakit tifus sebelum diketahui pergi dari rumah. “Waktu hari Jumat-nya saya mau nengok, cuma katanya sudah sembuh dan dapat kabar lagi Sabtu sudah pergi,” ujar Yuniar. Dia juga tidak mengetahui secara jelas soal kepergian INS. “Istrinya yang tahu. Dia nggak bawa motor. Biasanya kalau ke mana-mana suka bawa motor,” tuturnya.

Sementara, Ahmad Sukri atau AS merupakan warga Kampung Ciranji 02/05, Desa Sirnagalih, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat. Ia bekerja sebagai penjahit pakaian di sebuah pabrik di Bandung. Pelaku sudah selama tiga bulan terakhir tinggal di rumah kontrakan di wilayah Garut bersama istri dan anaknya. Polisi sudah menjemput ibu AS, Eti Nurhasanah untuk dilakukan tes DNA.

INS diduga satu jaringan dengan para pelaku teror bom panci di Taman Pendawa, Cicendo, Kota Bandung beberapa waktu lalu yakni jaringan Jamaah Anshar Daulah (JAD) yang terafiliasi dengan ISIS. “Istrinya sempat dikenalkan oleh suaminya (INS) ke salah satu pelaku bom panci di Cicendo yang namanya Agus,” ucap Kabid Humas Polda Jabar Kombes Pol Yusri Yunus di sela-sela penggeledahan rumah Ihwan di Jalan Cibangkong, Kota Bandung, Jabar, Kamis 25 Mei  2017.

Agus  ditangkap di indekosnya di Jalan Kebon Gedang III RT 02 RW 11, Kelurahan Maleer, Kecamatan Batununggal, Kota Bandung pada Rabu 8 Maret 2017 lalu. Saat penangkapan itu, ditemukan sejumlah komponen bahan peledak. “Semuanya ini keterkaitan dengan yang Purwakarta juga,” tuturnya.

Sebelumnya, Departemen Luar Negeri (Deplu) AS menyatakan seperti dilansir kantor berita AFP, Rabu 11 Januari 2017), JAD merupakan kelompok teroris yang berbasis di Indonesia yang dibentuk pada tahun 2015 dan terdiri dari hampir dua lusin kelompok-kelompok ekstremis Indonesia yang merupakan pengikut ISIS. JAD dipimpin oleh Aman Abdurrahman dan Bachrumsyah.

Aman saat ini menjalani hukuman di penjara Indonesia. Sementara, Bachrumsyah kini berada di Suriah setelah Baghdadi menunjuknya untuk memimpin batalion tempur asing dari Asia Tenggara yang bergabung dengan ISIS di Timur Tengah.

Pejabat-pejabat AS menyatakan, para militan dari JAD melakukan serangan penembakan dan bunuh diri di kawasan Sarinah, Jakarta pada Januari 2016 lalu, yang menewaskan empat warga sipil. Empat militan juga tewas dalam serangan pertama ISIS di Asia Tenggara itu.

Polisi menduga aksi bom di terminal Kampung Melayu terkait dengan JAD. Hal itu terlihat dari pola serangan. “Ini patut diduga melihat pola, melihat jenis serpihan bomnya itu, kontennya dan komponennya itu sama dengan kelompok teror ISIS yang selama ini melakukan aksi di Indonesia,” kata Kepala Bagian Penerangan Umum Mabes Polri Kombes Martinus Sitompul, di Mabes Polri, Jakarta Selatan, Kamis 25 Mei 2017.

Ia mengatakan modus serangan bom yang menyasar ke anggota kepolisian merupakan pola yang hampir sama dengan jaringan JAD. “Itu hampir sama pola dan modus. Serangannya kan ditujukan kepolisian,” kata Martinus.

Kelompok militan Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) memang mengklaim bertanggung jawab atas teror Kampung Melayu  yang menewaskan tiga personel kepolisian dan melukai 15 orang lain pada Rabu malam, 24 Mei 2017. “Pelaku ledakan yang menyerang polisi Indonesia di Jakarta adalah milisi ISIS,” ujar ISIS dalam pernyataannya di Amaq, seperti dikutip dari Channel News Asia, Jumat, 26 Mei 2017.

Patut dicatat Teror bom Kampung Melayu merupakan serangan paling mematikan sejak teror pada 14 Januari 2016 di kawasan Sarinah, Jalan Thamrin, Jakarta. Dalam peristiwa di Sarinah, delapan orang tewas, empat di antaranya pelaku ledakan.

 

Serangan di Polres Banyumas

 

Bom di Mapolresta Surakarta (Foto: Bramantyo/Okezene)

 

Selasa siang 11 April 2017, seorang pemuda bernama Muhammad Ibnu Dar (MID) dari Kabupaten Purbalingga, Jawa Tengah, nekat menyerang anggota kepolisian. Penyerangan dilakukan di Markas Polres Banyumas, Jawa Tengah.

MID menyerang target dengan membawa sepeda motor transmisi otomatis warna hitam dengan nomor polisi R 3920 SV. Pelaku juga membawa senjata tajam untuk menyerang anggota polisi. Pelaku mengendarai sepeda motor itu masuk ke dalam markas kepolisian dan langsung menabrakkan motornya ke arah Aiptu Ata Suparta. Secara membabibuta ia juga membacokkan golo ke arah polisi.

Siang harinya, puluhan polisi dari Polres Banyumas menggeledah kediaman Muhammad Ibnu Dar, warga desa Karang Aren, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga. Kepala Satuan Reserse Kriminal Kepolisian Resor Banyumas, Ajun Komisaris Djunaedi mengatakan pelbagai barang disita dari rumah orang yang menyerang markas Mapolres Banyumas, Jawa Tengah. “Seluruhnya ada 38 item,” kata Djunaedi usai penggeledahan, Selasa, 11 April 2017.

Dari penggeledahan tersebut, ada beberapa barang yang diduga terkait barang-barang tersebar di beberapa ruangan dan disimpan dalam lemari. Barang-barang yang diamankan diantaranya seperti puluhan sim card, panci yang dipasangi rangkaian kabel, timbangan duduk, trafo penguat daya, komputer dan plastik pijar. “Kami belum bisa menyimpulkan barang-barang ini akan difungsikan untuk apa,” kata Djunaedi.

Menurut Djunaedi, sejumlah foto pelatihan militer ditemukan di rumah Ibnu Dar. Di foto tersebut terdapat 3 orang, salah satunya pelaku. Foto tersebut nampaknya diambil di hutan atau kebun. Meski demikian, dia belum bisa menyimpulkan di mana foto tersebut diambil.

Yanto, salah seorang warga RT 2 RW 1 Desa Karang Aren, Kecamatan Kutasari cukup kaget melihat rumah Muhammad Ibnu Dar didobrak polisi dan dipasang garis polisi. Hal tersebut dilakukan pada pukul 13.00 WIB. Yanto menilai, meski tergolong pendiam, Ibnu memiliki hubungan yang baik dengan warga sekitar. Ibnu yang lulus SMA dua tahun lalu memilih bekerja di Pabrik Kayu Purbayasa. “Sejak ibunya meninggal dia tinggal sendirian di rumahnya,” ujarnya.

Kepala Kepolisian Daerah Jawa Tengah, Inspektur Jenderal Condro Kirono mengatakan pelaku yang menyerang Mapolres Banyumas, Jawa Tengah, Muhammad Ibnu Dar merupakan simpatisan Jamaah Ansharut Daulah. Ibnu sempat berhubungan dengan Karno, terduga teroris yang terlibat aksi penembakan polisi di Tuban beberapa waktu lalu.

Condro mengatakan Ibnu melakukan aksinya atas inisiatifnya sendiri. Ia menyebut Ibnu merupakan simpatisan ISIS. Organisasi tersebut, menurut Condro, dapat melakukan baiat melalui jaringan internet untuk mendoktrin paham radikal sebagai ideologi. Saat penggeledahan di rumahnya di Desa Karang Aren, Kecamatan Kutasari, Kabupaten Purbalingga, polisi menemukan barang-barang yang dicurigai digunakan Ibnu untuk belajar merakit bom. “Kami masih terus berkoordinasi dengan Densus, apa kasus ini ditangani di sini atau di Jakarta,” kata Condro kepada pers di RSUD Prof Margono Soekarjo Pusat Geriatri Purwokerto, Rabu, 12 April 2017.

Karno dan Ibnu sama-sama berasal dari Kecamatan Kutasari, Purbalingga. Hal itu, menurut Condro, menjadi perhatian khusus Kepolisian RI. Ia pun telah meminta kepada Kementerian Agama, Badan Nasional Penanggulangan Terorisme dan pemerintah daerah untuk berkolaborasi dalam upaya deradikalisasi.

Selain itu, dia juga melakukan pemeriksaan di batas-batas wilayah di Jawa Tengah guna mengantisipasi persebaran teroris. “Ini paham radikal, kalau sudah tertanam sulit menghilangkan. Kami kesulitan menginterogasi orang-orang seperti itu,” katanya.

Muhammad Ibnu Dar telah dilumpuhkan dengan tembakan. Namun ia tidak tewas. Ia didakwa dengan pasal tindak pidana terorisme Pasal 7 pengganti UU No.1 tahun 2002 dengan ancaman 20 tahun. Ibnu juga dikenakan pasal berlapis UU Darurat No.12 tahun 1951 pasal 2 dengan ancaman 12 tahun. “Karena dia membawa senjata tajam dan senjata pemukul dan percobaan pembunuhan berencana karena niat dari rumah ingin membunuh polisi yang dianggapnya jihad,” katanya.

Kepala Kepolisian Resor Purbalingga, Ajun Komisaris Besar Agus S.P. menerangkan Muhammad Ibnu tidak termasuk dalam daftar terduga teroris yang berada di Purbalingga yang diamati oleh Direktorat Intel. Menurut dia, ada beberapa terduga teroris di wilayahnya yang diamati, seperti Mistam, Umar Pamungkas, dan Karno, terduga teroris di Tuban. “Dari pengamatan mereka tidak ada aktivitas radikalisme di Purbalingga, dengan kata lain bisa dilakukan di luar kota. Mereka lahir dan tinggal di sini,” ujarnya.

 

Serangan di Tangerang

Tiga anggota polisi di Cikokol, Tangerang, jadi sasaran penikaman salah satu pelaku teror. Serangan pisau itu terjadi sekitar pukul 07.10 WIB pagi di dekat pos lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, kota Tangerang, Banten. Dalam kejadian ini, korban luka, yakni Kapolsek Tangerang Kota, Kompol Efendi, dilarikan ke rumah sakit Siloam Karawaci, Kabupaten Tangerang akibat terluka tusukan di bagian dada dan perut. Di lokasi kejadian, polisi menemukan antara lain bom pipa dan pisau yang diduga milik pelaku serangan.

Insiden tersebut dapat disaksikan dalam video amatir yang direkam seorang warga dekat lokasi kejadian penyerangan pos polisi lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol, Tangerang Kota, Kamis pagi, 20 Oktober 2016. Pelaku yang berpakaian serbahitam, yang belakangan diketahui berinisial SA, 21 tahun, menyerang petugas kepolisian di pospol lalu lintas dengan menggunakan sebilah badik. Diduga SA melakukan penyerangan karena tersinggung lantaran dilarang menempelkan stiker yang biasa dipakai bendera Negara Islam Irak dan Suriah atau ISIS.

Serangan terhadap petugas pos polisi di Kota Tangerang, Kamis 20 Oktober 2016, berawal ketika petugas mengatur lalu lintas di Jalan Perintis Kemerdekaan, Cikokol. Menurut Kepala Divisi Hubungan Masyarakat Inspektur Jenderal Boy Rafli Amar, saat itu waktu menunjukkan pukul 7.10 WIB.  “Tiba-tiba ada laki-laki yang menyerang petugas secara brutal,” kata Boy di Mabes Polri, Jakarta. Pria itu menyerang petugas menggunakan senjata tajam.

Selain itu, pelaku juga melemparkan barang yang diduga bahan peledak ke dalam pos. “Barang dengan ciri-ciri seperti bahan peledak, ada sumbunya.” Akibatnya, anggota kepolisian yang berada di lokasi terluka parah, termasuk Kepala Kepolisian Sektor Tangerang Kota Komisaris Effendi.

Serangan itu, kata Boy, awalnya hanya mengarah pada dua anggota polisi, yakni Brigadir Kepala Sukardi dan Inspektur Satu Bambang Heriadi. Mereka mengalami luka tusuk di punggung dan dada.

Effendi yang berada tidak jauh dari lokasi langsung melakukan pengecekan ke pos tersebut dan mendapati pelaku masih memegang senjata tajam. “Dia berusaha melumpuhkan pelaku dengan menembak pada bagian kaki. Namun, pelaku tetap melakukan penyerangan secara brutal,” kata Boy.  Akhirnya, Effendi pun turut menjadi korban serangan tersebut dan menderita luka di bagian dada.

Pada akhirnya, pelaku tidak sanggup bergerak lagi setelah menerima tembakan tersebut. Dia diamankan dan dilarikan ke rumah sakit beserta tiga korban. “Sementara beberapa barang bukti yang di temukan di TKP ada dua senjata tajam, dua buah (benda) yang diduga bom pipa,” kata Boy.

Pelaku yang belakangan diketahui berinisial SA itu diduga beraksi sendiri dalam melakukan serangan ini. Namun, hal ini masih terus didalami lebih lanjut oleh kepolisian.
“Kami belum mendapat informasi berkaitan dengan adanya pihak-pihak lain. Masih dalam penyelidikan untuk dikembangkan oleh tim kita untuk melakukan investigasi,” kata Boy.

Meski diduga pelaku tunggal, SA diduga juga merupakan bagian dari jaringan teror yang selama ini sudah beraksi di Indonesia. “Kami masih dalami dulu. Yang jelas mereka mengunakan sarana-prasarana serangan-serangan yang selama ini kita lihat mirip terhadap petugas-petugas di lapangan,” kata Boy.

 

Bom Bunuh Diri Di Polres Surakarta

Sebuah bom bunuh diri terjadi di Markas Kepolisian Resor Surakarta pada Selasa 5 Juli 2016ty pukul 07.45 WIB. Insiden terjadi saat seorang pengendara sepeda motor nyelonong memasuki Markas Polres Kota Surakarta.

Anggota Provos Polresta Surakarta, Brigadir Kepala Bambang Adi, bermaksud menahannya, tapi si pengendara terus melaju. Saat itu, Bambang berusaha mengejar. Tepat di depan kantor Sentra Pelayanan Kepolisian Terpadu, ledakan terjadi yang menewaskan si pengendara. Adapun Bambang terluka pada bagian wajah dan langsung dilarikan ke Rumah Sakit Panti Waluyo, Solo.

Pria terduga pelaku bom bunuh diri itu merupakan warga Sangkrah, Pasar Kliwon, Solo, Jawa Tengah. Pelaku diketahui bernama Nur Rohman (31) warga RT 001/ RW 012 Sangkrah. Ia tewas setelah meledakkan diri di Polresta Surakartai.

Kapolresta Surakarta, Kombes Ahmad Lutfi, kepada wartawan mengungkapkan bahwa pelaku tewas di tempat kejadian.”Kondisi paha ke bawah hancur,” ujar Ahmad. Ahmad memperkirakan pelaku berusia antara 30 sampai 50 tahun.

Itulah sebagian aksis teror kepada polisi.