Audit BPK Dan BPKP Tak Kunjung Selesai, Kejati Babel Lakukan Audit Sendiri Kerugian Negara

Kejaksaan Tinggi Kepulauan Bangka Belitunng (Romli Muktar/FORUM)

Forumkeadilan.com – Pangkalpinang. Penanganan perkara dugaan korupsi proyek pengadaan instrumen landing system (ILS) Bandara Depati Amir hingga saat ini belum kunjung dilimpahkan ke meja hijau Pengadilan Tipikor Pangkalpinang.

Hingga Sabtu (22/7/2017), pihak kejaksaan tinggi Bangka Belitung (Kejati Babel) masih terus mengusut kasus itu. Untuk mengungkap kasus itu, tim pidsus saat ini telah melakukan penghitungan sendiri atau audit terhadap kerugian negara dalam kasus tersebut. Pasalnya, audit yang dilakukan oleh BPKP dan BPK perwakilan Babel hingga saat ini  tak kunjung selesai dan diduga terhambat.

Hal itu diungkapkan Asisten Pidsus (Aspidsus) Kejati Babel, DR. Patris Yusrian Jaya dalam press release Hari Bhakti Adhyaksa (HBA) ke-57 di aula Kejati Babel, Sabtu (22/7/2017). “Kadangkala penghitungan kerugian negara terhambat seperti halnya kasus ILS, berlarut-larut penghitungannya di BPKP dan kita bawa ke BPK juga seperti itu. Akhirnya kami ambil kesimpulan untuk dihitung sendiri,” ungkap Patris.

Menurutnya, dalam perkara kasus ILS ini, anggaran untuk pengadaan ILS bandara tersebut sudah ada, tetapi justru barangnya tidak ada. “Karena memang anggaran sudah ada, barangnya tidak ada. Bisa kami hitung sendiri,” bebernya. Patris mengakui, kendati audit sendiri untuk kasus yang ditangani kejati, ada kasus yang tidak bisa dihitung pihaknya dalam hal kerugian negara. “Seperti kasus Bank Sumsel Babel. Begitu kita ajukan ke BPK, ternyata modal dari daerah-daerah yang menanamkan modal tersebut tidak berkurang. Cuma keuntungannya yang berkurang,” ujarnya.

Lebih lanjut ditambahkan Patris, pihaknya dan BPK beranggapan belum ada kerugian negara yang diderita oleh masing-masing daerah. “Sekarang kami tidak bisa menghitung sendiri kalau kesimpulannya seperti itu. Kasus itu akan kami hentikan,” terangnya. Dia mengimbau kepada masyarakat yang merasa kurang puas dengan penanganan kasus tersebut, yang diduga sebelumnya telah menetapkan AFS sebagai tersangka untuk menempuh jalur hukum.

“Silahkan masyarakat atau pihak-pihak terkait yang merasa keputusan kami ini tidak tepat, tempuh jalur hukum. Kami siap dengan dasar keputusan tersebut. Kami punya dasar untuk menaikkan itu,” pungkasnya. Kejaksaan Tinggi Provinsi Bangka Belitung (Kejati Babel) menetapkan seorang tersangka yakni Elfin Fahluzi terkait kegiatan proyekInstrument Landing System (ILS) Bandara Depati Amir, Kecamatan Pangkalan Baru, Kabupaten Bangka Tengah (Bateng).

Elfin Fahluzi sendiri terjerat perkara tindak pidana korupsi (tipikor) selaku kuasa pengguna anggaran. Bahkan dalam waktu dekat ini pihak Pidana Khusus (Pidsus) Kejati Babel akan melimpahkan berkas perkara yang bersangkutan guna disidangkan di meja hijau. Elfin Fahluzi diketahui merupakan PNS Dirjen Perhubungan, Kementrian Perhubungan ditetapkan sebagai tersangka oleh pihak penyidik Pidsus Kejati Babel.

Diketahui, Proyek ILS Bandara ini bersumber dari APBN tahun anggaran 2008 senilai Rp12 miliar. Tiga instrumen tersebut sudah lama terpasang di Bandara Depati Amir, tetapi tidak berfungsi apa pun. Instrumen tersebut diduga merupakan barang hasil kanibal, sehingga tak bisa difungsikan.

Padahal tiga instrumen navigasi tersebut merupakan keharusan untuk dimiliki setiap bandara. Bahkan Bandara Hananjudin di Tanjungpandan Belitung juga sudah sejak lama mengoperasikannya. Tidak hanya itu, diduga sejak 2008 hingga 2016 biaya perawatan instrumen tersebut tetap dianggarkan hingga mencapai puluhan miliar rupiah.

Romli Muktar/FORUM