Rantai Bunga Cerpen Ratih Damayanti (Kriminologi UI)

 

Ratih Damayanti

Kriminologi Universitas Indonesia

 

Hujan turun dengan deras. Bau darah semerbak di udara. Ada pepatah lama mengatakan, hujan akan menghapus semua yang ada di tanah, tapi tidak di udara.

“Korban diketahui bernama Sandra Oak, 28 tahun. Pekerjaan, penjaga perpustakaan” sebut seorang petugas penyelidik setelah membaca kartu identitas korban pembunuhan “Kami akan membawanya ke rumah sakit untuk autopsi lebih lanjut” lanjutnya. Tak lama, ia dan tim medis yang datang bersamanya membawa tubuh korban yang telah kaku dengan tandu menuju keluar dari lokasi kejadian

“Hey, Felicita” panggil Marco, rekanku “Penyelidikan sudah selesai, makan atau kantor?” ajaknya

Take away, lalu ke kantor” jawabku singkat sambil melihat jam. Suara hujan masih terdengar jelas dari luar gedung tempat kami berada, “Masih ada laporan yang perlu kita kerjakan”

“Tentu saja” sahutnya, “Sepertinya akan ada banyak yang perlu kita kerjakan setelah ini”  lanjut Marco sambil memandang tanda pembatas dimana korban ditemukan. Tak lama, kami bergegas menuju sebuah restauran masakan Italia lalu menuju kantor.

“Jadi, korban dibunuh dengan racun melalui senjata tajam lalu pelaku membaringkannya di tempat tidur?” gumam Marco sambil membaca laporan hasil autopsi yang dilakukan pihak medis

“Ya. Hasil otopsi menunjukan bahwa korban meninggal karena racun yang menghentikan jantungnya, dan korban juga menderita luka tusuk di bagian perut yang membiru” sahutku “Pihak medis menambahkan bahwa racunnya menyebabkan korban mati perlahan-lahan dan diawali dengan kelumpuhan”

Sandra Oak, perempuan berusia 28 tahun dan merupakan petugas sekaligus pemilik salah satu perpustakaan di Florence, Italia. Dari penyelidikan, tidak terlihat ada keanehan baik dari latar belakang ataupun perilakunya beberapa hari sebelum ia dibunuh. Lokasi kejadian yang merupakan rumahnya sendiri memberikan indikasi bahwa ia mengenal pelaku, atau mungkin pelaku memaksa masuk ke dalam rumah tersebut. Tidak ada indikasi terjadinya perampokan, pencurian, atau bentuk kekerasan lain pada korban. Yang mengherankan justru cara pelaku membunuh korban serta bagaimana kondisi korban ditemukan. Pembunuhan dengan racun serta senjata tajam merupakan teknik yang sudah jarang dilakukan. Selain itu, jenis racun yang pelaku gunakan juga tidak mudah didapatkan di pasar. Korban ditemukan terbaring di kasurnya dengan tangan terlipat seperti mayat dan mayatnya dikelilingi kelopak mawar putih.

Jelas sekali ini pembunuhan berencana……” gumamku pelan sambil membaca laporan hasil penyelidikan. Ada sesuatu yang menggelitik pikiranku. Rasanya, seperti ada yang hilang atau terlewat

Thug

Terasa seseorang memukul kepalaku pelan

“Hey, jangan mengernyitkan alis begitu. Nanti kau cepat keriput” ejek Marco sambil menyeringai setelah memukul kepalaku pelan dengan buku “Ayo, kita dipanggil bos ke kantornya”

“hmm? Dia sudah kembali?”

“Sepertinya setengah jam yang lalu”

Beberapa hari kemudian

Terdapat beberapa foto dan sebuah laporan di meja atasan. Foto-foto korban pembunuhan. George, atasan kami terlihat mengusap mukanya perlahan lalu menarik napas dalam

“Kasus pembunuhan lagi” ucapnya “Korban ditemukan dibunuh dan terdapat kandungan racun arsenik di dalam tubuhnya dan cangkir teh yang ia gunakan”

Racun? Tertarik, aku memeriksa foto-foto yang ada di meja. Tidak ditemukan adanya bentuk kekerasan ataupun perlawanan dari korban. Bahkan, tidak ada tanda ia bersama dengan orang lain saat kejadian. Hanya terdapat satu cangkir di meja, posisi korban duduk di kursinya. Hmm? Di pergelangan tangannya ada tato berbentuk bunga, entah apa. Di saku kardigannya juga ditemukan bunga azalea. Bunga? Lagi?

“Tidak ada tanda ataupun saksi yang menunjukan bahwa ada orang lain di lokasi kejadian. Kondisi lokasi yang tidak banyak penghuni dengan pengawasan rendah membuat sulit bagi kita untuk mengumpulkan keterangan saksi yang dapat menjadi bukti pendukung”

Tiba-tiba pintu terbuka dan pegawai yang masuk terlihat tergesa-gesa

“Bos, ada kasus lagi. Kau diperintahkan segera ke lokasi TKP” ucapnya

“Felicita, Marco. Ikut denganku. Kita bertemu di lobi” perintahnya singkat

Bau darah. Saat kami sampai ke lokasi, bau darah perlahan tercium di udara. Hujan yang turun membawa darah yang ada di tanah mengalir ke saluran pembuangan air. Terlihat beberapa petugas datang untuk mengamankan lokasi dan melakukan penyelidikan. Aku dan Marco mulai menyelidiki lokasi, sementara George berbicara dengan salah satu petugas yang sepertinya atasan dari pekerja lainnya.

Korban diketahui bernama Schezara, perempuan berusia 25 tahun. Ia ditemukan oleh salah seorang pejalan kaki di sebuah jalan sempit. Tubuhnya penuh luka memar serta luka tusuk di bagian perut. Saat ini korban dirawat di rumah sakit dengan penjagaan ketat oleh polisi dan masih belum sadarkan diri. Tidak ada yang ganjil dari lokasi kejadian kecuali lokasi TKP yang agak jauh dari pusat keramaian kota. Tidak ada barang bukti yang ditemukan, baik benda tumpul ataupun tajam yang digunakan untuk menyerang korban. Semua seperti sudah terencana.

Tunggu. Aku mengambil sesuatu yang terlihat di tanah, dekat dengan lubang saluran air. Kelopak bunga iris. Bunga? Lagi?. Muncul berbagai macam pikiran dan dugaan tentang berbagai pembunuhan yang terjadi akhir-akhir ini. Bunga dan posisi ketika korban ditemukan seperti menjadi sebuah pesan.

Setelah berbicara dengan salah satu tim medis, George menghampiriku dan Marco. Kami memutuskan untuk pergi ke rumah sakit dimana korban dirawat. Kondisi korban telah stabil setelah melewati operasi selama beberapa jam. Luka tusuk yang dideritanya tidak mengenai bagian yang fatal sehingga nyawanya dapat diselamatkan. Saat kami datang, korban baru saja sadar meskipun belum dapat dimintai keterangan. Suasana ruangan perawatan sepi, hanya ada aku dan George dengan penjaga di dalam dan luar ruangan, sementara Marco kembali ke kantor.  George sedang menjawab telepon, sementara aku memperhatikan kondisi korban. terdapat beberapa lebam di wajahnya dan ia bernafas dengan pelan. Korban terlihat sangat muda, lebih muda dibandingkan umurnya sendiri.

“Edelweis….” ucap korban pelan

“Edelweis?” sahutku sambil mendekatinya. Perlahan, ia menoleh ke arahku dengan tatapan sayu. Sepertinya obat bius dari operasi masih mempengaruhi kesadarannya

“Edelweis….dia be—“ ucapannya terpotong, tiba-tiba ia memegang kepalanya dengan keras dan mengerang kesakitan.

Beberapa hari setelah kejadian itu, aku bergegas menuju kantor. Jika dugaanku benar, ada bukti yang terlewatkan di antara para korban. Sesuatu yang tidak disadari kami yang hanya terfokus kepada pesan yang disampaikan oleh pelaku. Fakta bahwa korban percobaan pembunuhan menyebutkan sebuah nama membuktikan bahwa ia mengenal pelaku. Pembunuhan berantai yang terencana.

Sesampainya di kantor, aku menyelidiki kembali latar belakang para korban. Hampir tidak ada yang sama di antara ketiganya. Latar belakang sekolah, daerah asal, pekerjaan, hampir tidak ada yang sama. Lalu aku beralih ke kumpulan bukti foto dari hasil autopsi serta olah TKP. Ini dia. Ketiganya memiliki tato bermotif bunga yang berbeda satu sama lain. Semua terdapat di sisi kiri tubuh korban, baik di pergelangan tangan, perut, ataupun bagian tubuh lain. Jelas sekali mereka menjadi target pelaku yang sama. Tapi, tidak ada persamaan antara pekerjaan, asosiasi, ataupun latar belakang lainnya di antara ketiga korban.

Schezura yang menjadi korban selamat saat ini sedang dalam pengawasan dokter karena kommplikasi pada kepalanya akibat luka memar yang ia derita. Tidak ada kerusakan fatal, tapi ia memerlukan istirahat serta menghindari segala hal yang dapat memicu rasa sakitnya, termasuk beban psikologis. Aku dan Marco harus bergerak sendiri untuk menyelediki kasus ini sebelum ada korban lainnya

“Felicita, lihat ini” ucap Marco di meja kerjanya “Kedua korban bersama yang lainnya pernah menjadi peserta konferensi Euro Tetrade Union 

“Euro Tetrade Union?”

“Konferensi tingkat nasional dan global yang membahas berbagai ilmu terkait dengan pembangunan berkelanjutan secara global. Pesertanya adalah siswa dari berbagai sekolah di Uni Eropa yang mengajukan proposal program terkait pembangunan berkelanjutan”

Kami sama-sama menyelidiki lebih lanjut soal keterkaitan ketiga korban. Tak lama, George mengirimkan email kepada kami berdua. George mengirimkan laporan hasil percakapannya dengan Scheza. Bingo. Ketiga korban merupakan anggota organisasi rahasia, Fioresenth. Organisasi rahasia beranggotakan siswa sekolah dan mahasiswa dari berbagai institusi pendidikan di Italia. Hanya mereka yang terpilih yang masuk dan memiliki akses terhadap organisasi ini. Hingga saat ini, info yang beredar seperti sebuah rumor yang tidak dapat dikonfirmasi kebenarannya. Dan ketiga korban bergabung pada periode yang sama.

Pikiranku semakin bertambah seiring membaca laporan yang dikirimkan George lebih lanjut. Para anggota non-aktif ini akan berkumpul lagi di Florence, atas permintaan Pierre, korban kedua yang ditemukan meninggal karena racun arsenik. Pikiran tentang kaitan antara pembunuhan berantai dengan rencana reuni muncul, serta kemungkinan lainnya tentang pelaku yang memiliki hubungan dengan ketiga korban, serta informasi lainnya. Bingo. Ada satu orang yang sangat dekat dan melakukan kontak dengan mereka semua beberapa saat sebelum kejadian. Tiba-tiba fokusku teralihkan pada bunyi telepon yang berdering

“Schezara diserang oleh pelaku” suara George tergesa disana “Sekarang ia sedang melarikan diri”

“Ah sial” umpat Marco. “Hey, feli—“

Aku segera berlari sambil mengecek ponselku. Tak ku hiraukan suara Marco yang memanggilku sambil berusaha menyusul. Aku mempercepat lariku sambil berusaha melacak pelaku. Kemarin saat menjenguk Schezara, aku menitipkan sebuah chip yang dapat menempel seseorang dengan mudah. Chip ini berguna untuk mendeteksi lokasi seseorang dalam radius 200 km, radius yang cukup luas untuk kota ini. Aku merasa ia akan kembali diserang, karena ia merupakan misi yang gagal dilakukan oleh pelaku. Seorang pelaku pembunuhan berantai akan mengikuti urutan yang telah ia tentukan dalam menentukan korbannya, dan ia pasti akan mencoba membunuh Schezara lagi.

Edelweiss dalam bahaya” ucapnya saat terakhir aku mengunjunginya

“Hey, Felicita!” panggil Marco yang berhasil meraih bahuku dan membuat kami berhenti berlari “Apa yang kau lakukan?”

“Marco, aku tidak punya waktu. Aku sudah bisa melacak pelaku sekarang” jawabku singkat lalu kembali mengecek ponselku. Ia berhenti di suatu titik. Tak jauh dari sini. Aku mempercepat lariku sambil memberitahukan titik koordinat lokasi pelaku kepada Marco. Kuharap kami berdua dapat menemukannya sebelum sesuatu terjadi.

Akhirnya aku sampai di lokasi dimana pelaku  berada. Seorang perempuan muda berdiri membelakangi kami. Ia hanya terdiam dan tidak bergerak sama sekali. Marco berusaha mendekat dari arah yang lain dari tempatku berada. Mendekatinya hanya dari satu sisi tidak akan efektif dalam hal ini. Tak lama, ia berbalik menghadapku lalu tersenyum

“Lihat siapa yang datang” ucapnya dengan tatapan kosong “Kenapa kalian lama sekali? Kupikir kalian sudah menyerah saking bodohnya” Marco mulai mendekatinya sambil bersiaga “Tunggu disitu, tuan. Aku tau kau disana dan apa yang mau kau lakukan” ucapnya sambil menatap tajam Marco

“Kalian semua orang-orang yang tidak akan mengerti. Dunia ini butuh perubahan, butuh orang-orang yang pintar untuk membuat perubahan. Kalau mereka tidak mau membantu, bunuh saja” ia mulai berbicara dengan suara yang tidak terkendali, lalu kemudian tertawa. Ada yang aneh dengan dirinya “Kupikir aku mendapatkan kesempatan. Tapi ternyata….” ia menarik nafas pelan, lalu menatap Marco dan kemudain ke arahku, kemudian tersenyum “Senang bertemu denganmu, Felicita”

Eh? Dia tahu namaku?

BAM!

Terdengar suara tembakan dari arah lain, dan perempuan yang kuduga bernama Yvone itu terjatuh. Aku dan Marco segera menghampirinya. Darah mengalir di belakang kepalanya, dan di dekatnya terdapat tulisan

Nikmati hadiahmu.

Des Lires

Berbagai rangkaian bunga dihias di sekitar nisan Yvonne. Dia memang seorang pelaku pembunuhan, tapi ia tetap harus dimakamkan dengan baik. Yvonne, pelaku pembunuhan berantai dibunuh oleh orang tidak dikenal dengan tembakan yang mengarah ke kepalanya. Ia meninggal seketika dan tidak ada yang dapat kami lakukan untuk menyelematkannya. Aku dan Marco yang saat itu berada di lokasi di interogasi oleh penyelidik lain.

Dari keterangan Schezara, Yvonne dan Pierre merupakan pencetus reuni kelompok mereka. Mereka yang merupakan anggota non-aktif Fioresenth telah bekerja di tempat mereka masing meskipun masih melakukan kontak satu sama lain. Pada sebelum dan saat reuni, Yvonne terus mengajak mereka semua untuk bergabung dengan Des Lires¸organisasi kejahatan yang menjadi dalang berbagai kejahatan. Tetapi, mereka semua menolak. Schezara merasa hal inilah yang menyebabkan Yvonne membunuh mereka semua, termasuk mencoba membunuh dirinya. Ia merasa bahwa para korban menyia-nyiakan apa yang mereka miliki dan memilih untuk menjadi “orang bodoh”. Gejala narcissist dan agresifitas akut.

 

 

 

“Halo, Felicita” panggil seseorang saat aku berjalan pulang. Aku pun menoleh, tak mengenali siapa dia. Aku bahkan tidak mendengar langkahnya “Perkenalkan, aku Dui, dari Des Lires”

Des Lires? Sedang apa orang ini disini?

“Ah, aku tau tatapan itu” ucapnya sambil tersenyum. Aku tau senyum itu, senyuman penuh kelicikan. “Aku kesini hanya untuk sebuah penawaran. Mari bergabung dengan kami”

Gila. Itulah yang pertama kali kupikirkan

“Kakakmu dan keluargamu yang lain sangat merindukanmu. Tenang saja, kami mengenalmu dengan baik Felicita. Ah, atau perlu kupanggil Keyko?”

Seketika jantungku terasa berhenti berdetak. Sudah lama sekali aku tidak mendengar nama itu. Aku menatapnya tajam. Aku tidak pernah suka hal semacam ini

“Sepertinya kau masih butuh waktu untuk berpikir. Tidak apa-apa, kami akan kembali lagi nanti” ucapnya sambil berjalan mundur dan menjauh dariku. “Kami selalu mengawasimu” bisiknya, lalu kemudian menghilang dibawah bayangan gedung.

Des Lires, organisasi kejahatan dengan anggota tersebar di seluruh negara dengan basis di Italia. Misi besar mereka adalah menguasai pemerintahan, terutama seluruh Eropa. Mereka merekrut berbagai orang berbakat, terutama dari kelompok mafia lainnya di seluruh dunia untuk bergabung. Sebuah organisasi yang ambisius dengan jaringan yang luas dan berbahaya.

Keyko, nama yang telah kulupakan dan kuhapus dari sejarah hidupku. Mereka tau siapa aku. Keluargaku, Takahino merupakan yakuza Jepang yang menjadi salah satu target perekrutan mereka. Aku “melarikan diri” dari keluargaku dengan bantuan kakakku sendiri. Aku dan tunanganku melarikan diri dari keluarga kami masing-masing, sesama keluarga yakuza. Setelah itu, kami dibantu oleh seseorang yang kami kenal, ia yang membantu kami membangun identitas dan kehidupan baru, serta membawa kami pada pekerjaan kami saat ini, secret agent untuk Organisasi PBB. Sejak saat itu, kami hidup sebagai orang yang baru dan tidak lagi menjadi bagian dari anggota keluarga kami. Tidak kusangka, aku masih belum lepas dari jeratan mereka

Lakukanlah sesukamu” gumamku sambil kembali berjalan pulang

Mereka bisa melakukan hal apapun, tapi aku akan tetap di jalan ini. Aku akan tetap di jalan untuk melawan mereka