Polisi Jakarta Timur Bersinergi Lewat Penguatan Warga

Bom yang meluluhlantakan halte busway di Kampung Melayu tak hanya menyisakan kesedihan, tetapi juga melahirkan kewaspadaan. Kepolisian Resort Metro Jakarta Timur langsung mengambil langkah cepat pasca terjadinya bom bunuh diri yang terjadi pada tanggal 19 Mei 2017 lalu itu. Bom Kampung Melayu yang disebut sebagai kejahatan national tersebut sebenarnya diarahkan sasarannya kepada aparat keamanan.

Terkait adanya ancaman teroris tersebut, tentu sudah dipahami oleh pihak kepolisian. Oleh karena itu polisi terus mengingatkan kepada masyarakat untuk selalu waspada. “Kesiapsiagaan dan kewaspadaan terhadap itu selalu diingatkan dan dijadikan peringatan rutin ataupun periodik,” ujar Kapolres Metro Jaktim Kombes Pol Andry Wibowo Kepada Majalah FORUM Keadilan ketika dimintai tanggapannya beberapa waktu lalu di Jakarta.

Dia menegaskan, pihaknya akan selalu mengingatkan jika di tempat lain terjadi hal yang sama. Seperti akhir-akhir yang terjadi ledakan bom dan teror di Mancester Inggris dan juga di Marawi, Filipina.

Namun, untuk menumpas teroris secara terbuka tidak bisa dilakukan. Sebab,

sifatnya yang tertutup dan dinamis. Karena itu, kepolisian menampik kalau kecolongan dalam kasus Bom Kampung Melayu. “Kelompok teror tidak mudah untuk didektesi gerakan atau rencana target secara tepat. Karakter yang dinamis dan memilih target acak juga menjadi permasalahan tersendiri,” tegasnya.

Tidak hanya menetapkan langkah pasca bom Kampung Melayu, Polres Mertro Jaktim juga merespon maraknya aksi begal dan gang motor di Wilayah Jakarta Timur. Secara sistem operasional Polres Metro Jaktim langsung membentuk dan  mengoperasionalkan Satuan Tugas Khusus Yang dinamakan Satuah Gerak Cepat “Rajawali”. Adapun model pemolisian yang di gunakan oleh satuan ini adalah model pemolisian pemadam kebakaran atau Fire Brigade Model Policing.

“Hal ini merupakan inovasi dalam wujud konsolidasi kemampuan organisasi Polres Metro Jakarta Timur dalam menghadapi ancaman yang nyata, khas wilayah Polres Metro Jakarta Timur yang merupakan daerah kompleks dan cenderung daerah kaum pekerja dan low-Middle class society,” urainya.

Hal lain yang tidak luput dari perhitungan Polres Jaktim adalah terkait dengan jumlah penduduk Jakarta Timur yang  hampir mencapai 3,2 juta orang. Jumlah tersebut menjadi daerah yang paling banyak didiami penduduk Jakarta.

Semementara itu, Jakarta Timur juga merupakan penyanggah ibu kota DKI karena ia menjadi pintu masuk pertama masyarakat urban yang datang ke Jakarta melalui jalur udara,darat via kereta api maupun bus dan kira transportasi darat lainnya.

Jakarta Timur juga menjadi basis pemukiman dan markas berbagai tangsi militer maupun objek vital nasional dan merupakan jalur utama dinamika kegiatan kenegaraan. Jakarta timur juga merupakan basis utama dari distribusi ekonomi utama tidak saja Jakarta tetapi juga menjadi fondasi ekonomi nasional dengan adanya pasar induk Cipinang, Kramat Jati Maupun Cijantung.

Lembaga pemasyarakatan terbesar di Indonesia juga berada di Jakarta Timur. “Tentunya kompleksitas kondisi sosial  struktur dan sosial masyarakat (ipoleksosbud) di wilayah ini memberikan implikasi pada dimensi permasalahan keamanan  dengan spektrum ancaman yang rendah sampai dengan tinggi dengan tingkat potensi kejadian dari yang moderat sampai dengan hampir pasti terjadi dari mulai trans national crime sampai dengan conventional crime, dari mulai individual crime sampai dengah collective atau group crime,” imbuhnya.

Namun, khusus berkaitan dengan Begal, tawuran dan geng motor kata Andry merupakan bagian dari permasalahan yang umum terjadi. Sebab dalam kehidupan bermasyarakat, dimana ada modernisasi yang bisa memberikan pengaruh budaya menyimpang. Hal itu disebabkan oleh hilangnya family care terhadap anak-anak.

Menurut Andry kebanyakan orang tua yang anaknya terlibat dalam tawuran dan geng motor terlalu sibuk dengan dunia masing masing. Rapuhnya community care yaitu kepedulian komunitas atas situasi budaya yang ada di wilayah atau komunitasnya itu akan berdampak pada tingkah laku anak-anak.

“Situasi daerah seperti ini akan sangat rawan terjadi gangguan keamanan dan ketertiban masyarakat yang berbasis pada tradtional atau konvensional crime seperti street crime maupun social order disturbance yang disebabkan oleh gesekan antar warga (community friction) atau group crowd conflict (gesekan antar ormas dan kelompok sosial lainnya),”imbuhnya.

Belajar dari situasi tersebut sistem yang ada di Polres Jaktim sudah melaksanakan berbagai upaya operasional, seperti penguatan warga untuk peduli terhadap masalah keamanan melalui kegiatan pemolisian masyarakat seperti pembentukan paguyuban-paguyuban masyarakat mitra kepolisian seperti Forum Komunikasi Ulama dan Umaroh dalam menjembatani permasalahan yang berhubungan dengan praktek keagamaan. Ada juga Forum Kemitraan Religius yang berkaitan dengan Komunikasi Antar Umat Beragama, Aliansi Ormas Penjaga Pancasila yaitu dalam menguatkan hubungan antar ormas yang ada berdasarkan orientasi etnis, sistem keamanan lingkungan dan revitalisasi RT dan RW agar dapat terwujud suatu situasi sosial budaya, agama dan politik yang rukun.

“Kita juga mengoperasionalkan patroli beat yang setiap saat berpatroli di beat-beat patroli wilayah, polisi juga sudah lama mengoperasionalkan bhayangkara pembinaan kamtibmas (Bhabinkamtibmas) di setiap kelurahan.Polisi juga punya satuan pengurai massa (Raimas) Sabhara,” terangnya.

Diatas semua itu, salah satu yang dimiliki Polres Jaktim adalah adanya sistem satuan intelijen yang mengkaji dan menilai situasi. Juga ada satuan reserse kriminal dalam rangka upaya penyelidikan dan penyidikan kejahatan. Dan kehadiran satuan gerak cepat ‘Rajawali’ adalah sebuah inovasi dan konsolidasi dalam memperkuat seluruh sistem yang sudah berjalan.  Sehingga keterbatasan jumlah personel polisi dapat dimaksimalkan dengan upaya-upaya terobosan yang bertujuan meningkatkan daya gerak, daya cegah dan daya tangkal terhadap ancaman yang dapat timbul sewaktu waktu dan terjadi secara acak.

Adapun upaya lainnya adalah dengan mengevaluasi sistem penugasan anggota Polres Jaktim dari orientasi pagi dan siang menjadi malam sampai dengan pagi hari. Dimana, jika sebelumnya jumlah penugasan anggota Polres Metro Jaktim lebih didominasi pada pagi-siang dan sore hari, maka sejak Ramadhan jumlah yang bertugas di malam hari sampai dengan pagi hari diperbanyak.

Hal tersebut tidak terlepas dari situasi dan dinamika kegiatan masyarakat di Jaktim yang juga terjadi di malam hari sampai dengan pagi hari. Yang mana intensitas tinggi dan kompleksitas atau keragaman kegiatan yang tidak sedikit tersebut dapat menimbulkan faktor krimininogenik yang membutuhkan penanganan polisi yang cepat, darurat dan solutif.

“Kombinasi penataan aspek pendayagunaan sumber daya dan inovasi operasional ini diharapkan mampu meningkatkan kualitas dan kuantitas kehadiran polisi di tengah-tengah masyarakat yang dinamis dan kompleks,” tandasnya.