Kesalahan Tokoh Islam

Priyono B. Sumbogo

Enam ratus juta rupiah tidaklah seberapa bila dibandingkan dengan 7 persen dari hampir Rp. 6 triliun atau dari kasus-kasus dugaan penilepan uang negara dengan jumlah yang jauh lebih besar. Memang cukup mengusik rasa keadilan bila Amien Rais yang diduga menerima aliran dana hanya Rp. 600 juta dijadikan isu nasional oleh para tokoh nasional dan diberitakan sebegitu gencarnya. Karena yang menuduh adalah Jaksa Penuntut Umum Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK), citra Amien Rais telah remuk di mata publik, meskipun ia belum tentu bersalah.
Namun sikap Amien Rais juga mengganggu harapan rakyat. Dia mensiyalir adanya kebusukan di internal KPK. Amien juga mendorong Dewan Perwakilan Rakyat (DPR) yang telah membentuk Panitia Khusu Angket KPK, untuk meninjau ulang keberadaan KPK.
Dari sisi Amien Rais, dapat dimengerti bila dia dan para pendukungnya mencurigai KPK sedang diperalat oleh suatu kekuatan untuk menjatuhkan citra Amein Rais. Karena Amien adalah tokoh Islam sekaligus ulama, dicurigai pula tuduhan kepadanya merupakan proyek sistematis untuk menghancurkan citra para tokoh Islam.
Sebagai manusia biasa, Amien dan para ulama lain yang sedang menghadapi kasus hukum, tentulah memiliki kesalahan dan dapat alpa. Hanya saja, bila dibandingkan dengan kesalahan para politisi, pejabat, atau pengusaha yang sudah dipenjara atau belum dibui karena tak tersentuh hukum, kesalahan Amein – kalau memang bersalah – tidaklah sepadan untuk dijadikan isu nasional dan diberitakan secara besar-besaran.
. Namun Amien adalah tokoh Islam. Dan di situlah letak “kesalahannya”. Di bumi saat ini, termasuk di Indonesia, menjadi ulama atau tokoh Islam, merupakan pilihan yang mengandung risiko besar. Dunia yang dikuasai oleh negara-negara nonmuslim sedang membenci Islam. Indonesia yang walau berpenduduk mayoritas muslim, sesungguhnya bukan penguasa negara ini, baik secara ekonomi maupun secara politik. Penguasa ekonomi pada umumnya bukan muslim. Para politisi yang menduduki posisi puncak jabatan politik maupun jabatan birokrasi, bukanlah para pengibar bendera Islam.
Amien dan para ulama yang sedang berhadapan dengan hukum terlalu berani melawan penguasa ekonomi dan politik. Juga penguasa lembaga hukum. Sebagai salah seorang pelopor reformasi, pendiri partai, dan figure terpandang di organisasi kemasyarakat Islam, mungkin dia mengira tidak akan ada pihak yang berani mengusiknya. Padahal sesungguhnya dia – juga para ulama lainnya – bukanlah apa-apa dimata para penguasa ekonomi dan politik, serta pelaksana hukum.
Dia akan senantiasa diincar untuk diremukkan citranya. Sedikit saja ditemukan kesalahannya, maka kesalahan itu akan dijadikan jalan untuk mengantarnya ke jurang kehancuran, bahkan ke pintu jeruji besi.
Kasus dugaan aliran dana ke Amien Rais, boleh jadi memang merupakan proyek sistematis untuk menghancurkan citra tokoh Islam dan ulama. Namun jika kecurigaan tersebut benar, hal ini justru menjadi jalan bagi Amien Rais untuk menunjukkan kearifan Islam.
Tidak sepatutnya Amien menempuh langkah politik untuk membantah tuduhan Jaksa KPK. Lebih-lebih turut mendukung Panitia Khusus Angket KPK yang dibentuk DPR RI. Sebab kita tahu, DPR RI menghasilkan banyak koruptor.
Betapapun KPK adalah lembaga yang menjadi harapan rakyat, walau memang belum tentu sesuai dengan harapan rakyat. Sebagai tokoh reformasi, Amien sepantasnya tetap berdiri untuk mempertahankan KPK dan bukan mendukung Pansus Angket KPK yang ingin meninjau ulang keberadaan KPK.
Sebagai tokoh Islam, Amien seyogyanya menunjukkan diri sebagai muslim yang taat aturan main hukum. Hendaknya ia mempersilahkan KPK mengusut tuduhan yang dialamatkan kepadanya. Jika terbukti bersalah secara hukum, sebaiknya dia menyatakan bersedia menanggung akibat hukumnya. Dan tentu, bila tidak terbukti bersalah, dia berhak untuk dipulihkan nama baiknya.
Untuk memperjuangkan Islam memang dibutuhkan kearifan, serta kesadaran untuk menanggung risiko yang besar. Sebab dunia saat ini, termasuk Indonesia, bukanlah milik umat Islam.

You might also like