Sang Pengemplang BLBI Syamsul Nursalim Alias Liem Tjoen Ho

Sjamsul Nursalim kini diduga tinggal ongkang kaki di Singapura. Bisnisnya terus mendatangkan fulus dari Indonesia.
Pada 1998. Sjamsul sempat ditetapkan menjadi tersangka oleh Kejaksaan Agung dan dicegah tangkal pada tahun tersebut.

Namun Kejaksaan Agung saat itu menyebut tak ada nama Sjamsul dalam daftar buronan. Saat kasus terjadi, Sjamsul adalah pemilik Bank Dagang Nasional (BDNI). Dia diduga menyuap Jaksa Urip Tri Gunawan sehingga lolos dari penyidikan kasus itu.

Plaza Indonesia

Bank milik taipan Sjamsul Nursalim itu merupakan salah satu penerima Bantuan Likuidiyas Bank Indonesia (BLBI) saat krisis moneter melanda Indonesia. Nilainya mencapai Rp 47,2 triliun. Ketika krisis usai, Sjamsul menyerahkan aset bank, perusahaan, dan uang tunai untuk membayar utang itu. Namun utang Sjamsul tersisa Rp 4,75 triliun. Pada April 2004, Kepala Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) Syafruddin Tumenggung menerbitkan surat keterangan lunas (SKL) untuk Sjamsul
Nama Sjamsul Nursalim diambil dari kalimat bahasa Arab. Kalau diurai, Syamsu artinya “matahari”. Sedangkan Nur artinya “cahaya”. Dan Salim bermakna “selamat”. Kalau mau didefenisikan, arti Sjamsul Nursalim kira-kira, “Cahaya Matahari yang Selamat”. Nama aslinya adalah Liem Tjoen Ho.
Walau Badan Penyehatan Perbankan Nasional (BPPN) mengaku sudah melego perusahaan Sjamsul Nursalim, kuku sang taipan masih terasa mencengkram. PT Plaza Indonesia Realty misalnya. Posisi Boy Gozali di perusahaan pengambang properti serba luks itu adalah Vice Presdien Director.

Sebelum di Plaza Indonesia, Boyke lebih dulu bermain di PT Mitra Adi Perkasa (MAP). Awalnya Boyke hanya punya 20 persen saham. Berkat sang paman (tahun 1996), MAP diakuisisi oleh PT Panen Lestari Internusa yang sebagian besar sahamnya dipegang oleh sang paman bersama bibi, Itjih Nursalim, isterinya Sjamsul Nursalim.
Di MAP, Boyke bertindak sebagai Wakil Presiden Komisaris. Sedangkan Presidennya adalah orang lama juga, Mien Sugandi, mantan Menteri Pemberdayaan Perempuan era Soeharto. Di Bursa Efek Jakarta (2004), MAP punya 7.500 karyawan, lebih dari 450 gerai di lokasi retail utama 22 kota besar di Indonesia. Pada tahun 2006, jumlah ini meroket menjadi 530 outlet.
Sebagai raksasa retail, MAP membuka waralaba eksklusif dengan merek ternama. Seperti Starbucks, Sogo, Debenhams, Seibu, Reebok, Pizza Marzano, Courtyard, Soccer Station, Planet Sports, The Athlete’s Foot, Burger King, Zara, Mark and Spencer, Golf House, Kidz Station, Nine West, Moran, dan Calvin Klein.
Meskipun Sjamsul berkali-kali dapat lampu kuning, produk-produk itu melaju tak bergeming. Dalam sebuah email, pengirimnya mendaftar nama-nama produk di atas, lalu menganjurkan seperti ini. “Salah satu cara menunjukkan sikap anti korupsi ialah dengan berhenti mengkonsumsi barang dagangan hasil korupsi”.
Tapi apa bisa? Sjamsul Nursalin, kata dia, kini memang sedang duduk tenang. Dia ongkang kaki di Singapura. Maklum, umurnya sudah uzur, lahir tahun 1942 lalu. “Boyke tiap minggu ke Singapura untuk melapor kegiatan-kegiatan bisnis ke sang paman,” ujar sebuah sumber Di Plaza Indonesia.
Kalau demikian adanya, Sjamsul Nursalim memang sedang menikmati rintisannya selama ini. Di mata para bankir, sejak tahun 1970-an ia dikenal sebagai industriawan. Tapi sinar bisnisnya mengkilap sejak ia sukses menjadi dewa penyelamat Bank Dagang Nasional Indonesia (BDNI), tahun 1980-an.
Saat itu, Paulus Wibowo, Direktur Utama BDNI, terjebak utang sampai 30 juta dolar AS. Tetapi lewat kepiawan sang taipan dan jaringannya, ia mampu menyicil utang hingga 50 persen. Konon jumlahnya Rp1,5 miliar. Sisanya, ditutup perusahaan milik Sri Sultan Hamengkubuwono IX.
Sejarah BDNI lahir tak lepas dari peran Sri Sultan. Wakil Presiden masa Soeharto inilah yang mendirikan BNDI itu. Karena dia dikenal sebagai pejuang, di masa Orde Baru BDNI sempat digelar sebagai Bank Republikein.
Sebuah seumber menyebutkan, dulu Sjamsul di back-up oleh sejumlah pejabat tinggi Polri dan TNI. Misalnya, Kepala Staf Angkatan Laut Laksamana (Purn.) R. Kasenda, mantan Panglima Kostrad Jenderal (Purn.) Wismoyo Arismunandar, Kepala Staf Kostrad Mayjen (Purn.) Sang Nyoman Suwisma, mantan Kepala Polri Jenderal (Purn.) Dibyo Widodo, dan Kepala Badan Intelijen Negara (BIN) Mayjen TNI (Purn) Syamsir Siregar.
Bagaimana dengan Wismoyo Arismunandar. Ipar Soeharto ini pernah menjadi Preskom PT Dipasena Citra Darmaja (DCD) saat dalam masa revitalisasi tahun 2000 lalu. Awalnya memang berjalan sukses. Akhir Juli 2007, program uji coba revitalisasi tambak dengan model kerjasama Inti-Plasma, berlangsung memuaskan (2005-2006).
Sejak itu Wisoyo mundur, dan digantikan dari manajemen Konsorsium Naptune karena menang tender atas DCD. Konsorsium Naptune dikendali oleh PT Aruna Wijaya Sakti (AWS). Tetapi ditengarai masih tak lepas dari modal Sjamsul. Tapi kepada FORUM, Rizal I Shahab, Direktur Komunikasi PT AWS pernah membantahnya.

Tambak Udang Dipasena Lampung

Kemana Sjamsul paska BDNI dibekukan BPPN? Taipan ini lihai bak tupai. Di luar negeri bisnisnya masih terus beroperasi. Ketika PT Gajah Tunggal milik Sjamsul dilego misalnya, sekarang ini kabarnya dipakai oleh Denham Pte Ltd dan Lightspeed Resources Ltd di Singapura yang bebasis di British Virgin Islands. Siapa pemiliknya. Hantu.
Di Singapura, kerajaan bisnis taipan bernama asli Liem Tjoen Ho ini dikendalikan Tuan Sing Holdings, perusahaan induk milik Keluarga Besar Sjamsul Nuralim. Perusahaan ini beranak-pinak jadi 80 anak perusahaan. Di antaranya, Habitat Propertres Ltd, menggarap proyek-proyek ternama di negeri singa itu. Misalnya University Park, Royal Court, Anderson Greendan, dan Century Woods.
Di Australia, Tuan Sing Holdings juga punya saham di Hotel Grand Hyatt Melbourne. Tak puas, lalu dengan Morgan Stanley Real Estate, Tuan Sing Holdings ikut berkongsi menguasai hotel berkharisma di Australia, Grand Hotel Group.
Para Keluarga Besar yang mengendali imperium bisnis Sajmsul Nursalim, selain sang istri, Itjih Nursalim (nama asli Go Giok Lian), dan Boyke Gozali sang ponakan, tentu para anak-anak dan menantunya. Ada nama dua putri Sjamsul, Liem Mei Kim dan Michelle Liem (putri tertua), serta putra Sjamsul bernama Susanto Nursalim (William Liem). Susanto disebut-sebut sebagai putra Mahkota untuk mengganti sang Kaisar kelak.
Para ponakan lain yang ikut beriprah, selain Boyke Gozali, ada nama Husni Ali (keponakan dari Itjih Nursalim) dan Mulyati Gozali. Menantunya yang nimbrung ada nama David Lee Kay Tuan dan Enke Tan.
Sekarang, kalau produk-produk Sjamsul mau dibokot, bagaimana dengan produk kegiatan sosial? Selain polisi tadi, dengan jejaring Keluarga Besarnya, sinar matahari Sjamsul Nursalim terus menerangi himpitan orang .
Plaza Indonesia misalnya, membentuk Yayasan Untukmu Guru. Yayasan ini memberi beasiswa buat pelajar miskin, mendongkrak mutu para guru, dan memberikan pelatihan kepada karyawan penyewa di Plaza Indonesia. Untuk mendongkrak citra sosial itu, ditunjuk aktris senior, Christine Hakim, sebagai dutanya.
Boyke Gozali, kata sumber FORUM, tak peduli dengan citra buruk sang paman. Yang terpenting, pembuktian pada bakti sosial. Lalu, biar publik yang menilai. Lewat Starbucks yang dikendali Boyke, warung kopi kelas elit ini juga menyediakan bantuan dana dalam kegiatan lingkungan hidup, pendidikan, dan pekerja penghasil kopi.
Dengan “membina “petani-petani kopi Indonesia, Starbucks mampu mengemas produknya unggulannya bernama Starbucks Anniversary Blend. Pertama kali produk ini diluncurkan pada peringatan ke-25 Starbucks lisensi Indonesia. Saat itu diberi apresiasi luar bisa di dunia, terutama di Seattle, AS, markasnya Starbuck dunia.
Aroma kopi “bakti sosial” Sjamsul Nursalim semakin nikmat saja, ketika Tuan Sing Holdings berderma buat dunia. Apalagi kata sumber FORUM, legislator pro interpelasi BLBI juga sudah “diderma-kan”. Cahaya matahari pemilik nama Sjamsul Nur pun pantas disanding dengan kata Salim, karena sudah 9 tahun ini selalu “selamat” dari jerat hukum.
Bahkan, Desember 2007 , Sjamsul Nursalim malah masuk dalam daftar 40 orang terkaya di Indonesia versi majalah Forbes Asia. Ia duduk di ranking 17 (kekayaan US$ 550 juta). Sementara peringkat I ditempati oleh Aburizal Bakrie (US$ 5,4 miliar) dan perikat II taipan Sukanto Tanoto (US$ 4,7 miliar).