Perempuan Film Pendek Karya Daniella Kartika Kriminologi UBL

/>

Daniella

Realitas media di Indonesia menunjukkan adanya bias gender dalam representasi perempuan dalam media, baik media cetak maupun elektronik. Berbagai bentuk ketidakadilan gender seperti marjinalisasi, subordinasi, stereotipe atau label negatif, beban kerja, kekerasan dan sosialisasi keyakinan gender terlihat. Mengutip Rhenald Kasali, bagi profesional pemasaran, perempuan merupakan potensi pemasaran yang luar biasa. Sebagai target market, perempuan telah “menciptakan” begitu banyak produk baru dibandingkan laki-laki. Itu sebabnya, jika dihitung, jumlah majalah atau tabloid dengan segmentasi perempuan lebih besar ketimbang laki-laki. Belum lagi consumer goods yang ditujukan “hanya untuk wanita”.

Tanpa disadari, sesungguhnya perempuan cenderung dijadikan obyek. Terbitnya majalah, tabloid, berbagai macam produk telah menggiring perempuan menjadi sasaran kaum kapitalis. Sesuatu yang tidak diperlukan perempuan, dibuat sedemikian rupa sehingga perempuan merasa wajib memiliki/menggunakannya. Hal ini bisa terlihat ketika melihat iklan-iklan yang ditayangkan dalam televisi, produk-produk kecantikan, atau program diet dan sebagainya mengetengahkan perempuan sebagai objeknya. Disitu perempuan hanya memerankan sisi bagusnya saja dari produk tersebut. Bahkan ketika terjadinya kasus pelecehan seksual atau penceraian, perempuan lah yang sering ditampilkan oleh media. Semisalkan bagaimana pakaian yang dikenakan perempuan saat dilecehkan, kemudian gugatan perempuan sebagai tersangka dalam penceraian. Jarang-jarang membuka secara detail permasalahan yang ada.

Antropolog Kartini Syahrir mengatakan bahwa perempuan menjadi perbincangan, karena ia di samping menjadi subyek juga menjadi obyek, di dalam kediriannya, perempuan mengaktualisasikan pikiran-pikiran, kehendak-kehendak, dan tujuan hidupnya. Tetapi di lain pihak, karena wujud fisik yang dimilikinya, dia menjadi “sasaran tembak” dari anggota masyarakat di mana ia berada. Dan posisi kedua inilah yang  yang sering dialami perempuan. Dalam perannya sebagai obyek ini, perempuan dilihat sebagai makhluk yang memiliki keterbatasan gerak dan dia berfungsi tak lebih dari  sekedar pemenuh kebutuhan ekonomi, sosial, dan rohani dari anggota masyarakat. Pemikir Perancis, Beauvoir, mengatakan dalam masyarakat, perempuan senantiasa digambarkan berada dalam kehidupan yang serba kepasifan, sehingga sub-ordinasi perempuan terhadap pria pun dianggap sebagai sesuatu yang alamiah. Di dunia jurnalistik, kondisi ini sedikit banyak  terpantul, karena perempuan lebih banyak terlibat dalam fungsinya sebagai cover dan model majalah atau sumber untuk diberitakan atau “digosipkan” daripada sebagai penuang gagasan.

Program-program televisi di Indonesia memiliki andil yang cukup besar dalam pembentukan citra perempuan. Komisi Penyiaran Indonesia tampaknya harus lebih banyak mengerahkan energinya pada program-program televisi yang bermasalah.