Menilik Dusun Terisolir di Labuhanbatu Selatan

Dusun Sihalombuk tak tersentuh pembangunan. Kondisinya terisolir akibat longsor. Warganya hanya dijadikan komoditas politik saat Pilkada di Labuhanbatu Selatan.

Dusun Sihalombuk yang kini terisolir. Warga dusun ini tidak bisa keluar masuk karena satu satunya akses jalan terputus akibat longsor. (Foto Rizky Wardhana Siregar)

Pagi masih berkabut. Matahari belum menampakkan sinarnya. Butir gerimis halus yang tersapu angin seakan salju menghampar di rerumputan. Riak air sungai Aek Kanan saling bersahutan dengan kicau burung yang bertengger di rerindang pepohonan. Sepanjang jalan, deretan Bukit Barisan tampak gagah menjulang.

Suasana dingin serasa menusuk tulang saat menapakan kaki di Dusun Sihalombuk Desa Marsonja, Kecamatan Sungai Kanan, Kabupaten Labuhanbatu Selatan, Sumatera Utara, Minggu pekan lalu. Dusun ini berada di kaki gugusan Bukit Barisan. Lokasinya sangat terpencil. Dari Kotapinang, ibukota Labuhanbatu Selatan (Labusel), jarak tempuh menuju dusun ini sekitar 70 kilometer. Medannya pun terjal. Sisi kiri dan kanan jalannya selalu diwarnai jurang yang dalam.

Kehidupan masyarakat Dusun Sihalombuk terbilang sederhana dengan penghasilan seadanya. Selain berkebun, warga juga menambang batu kali di bantaran sungai Aek Kanan untuk dijual sebagai bahan bangunan. Menjala ikan sungai sepertinya turut menjadi keseharian para lelaki di dusun tersebut. Mereka acap mendapatkan jenis ikan Baung yang dikenal dengan nama latin Hemybagrus Nemurus. “Di sini yang banyak itu ikan Baung. Bupati Labusel, Wildan Aswan Tanjung, sering ke sini untuk mancing ikan,” ucap Gontar Siregar, Kepala Dusun Mandala yang bersebelahan dengan Dusun Sihalombuk.

Saat ditemui, Gontar baru usai menyadap karet di kebun miliknya yang berkontur perbukitan. “Kalau ancak (lahan-red) saya harus menyeberang sungai,” ujar Gontar kepada Rizky Wardhana Siregar dari FORUM Keadilan.

Tanah di Desa Marsonja cukup subur. Masyarakat jarang memupuk tanaman karet dan sawit mereka. Meski begitu, hasil panen tanaman keras itu tetap berlimpah. Sayangnya, kuantitas produksi tersebut tidak diimbangi dengan harga komoditas yang tinggi. Penyebabnya adalah akses transportasi yang sulit dilalui. Tak heran kalau harga komoditas karet dan sawit di desa itu tidak sebagus daerah-daerah lainnya.

Akses ke Dusun Sihalombuk termasuk sebagai jalan utama lintas batas Labuhanbatu Selatan menuju Dusun Tanjung Longat, Kabupaten Padang Lawas Utara. Akses jalan ini  jauh dari perhatian  Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan. Kondisinya babak belur. Padahal, Dusun Tanjung Longat sendiri adalah kampung kelahiran Bupati Labuhanbatu Selatan, Wildan Aswan Tanjung.

Saat ini akses jalan tanah ke dusun kabupaten tetangga tersebut telah lumpuh total dan tak bisa dilalui kendaraan roda empat karena longsor tergerus air dan membuat lubang jurang sedalam lebih kurang 15 meter. Hanya kendaraan roda dua saja yang bisa melintas. Mirisnya, akses badan jalannya pun sudah nyaris tak terlihat karena ditutupi semak belukar.

Akses jalan Dusun Sihalombuk menuju Tanjung Longat itu dibuka pertama kali pada 2009 silam.  Itu pun karena untuk kepentingan Pilkada yang dimenangkan Wildan Aswan Tanjung, pasca pemekaran Kabupaten Labuhanbatu. Sedangkan sambungan listrik masuk ke wilayah ini pada tahun 2015 lalu, saat momen kampanye Pilkada yang kembali dimenangkan Wildan Aswan Tanjung.

Terputusnya akses jalan Sihalombuk-Tanjung Longat ditengarai akibat longsor. “Dahulu ada batu besar panjang di bibir tebing, saat pembukaan badan jalan batu itu tercabut, makanya longsor,” jelas Gontar.

Bila musim penghujan, masyarakat Sihalombuk selalu terisolir. Mereka tidak berani keluar dusun karena jalannya licin dan terjal. Hanya untuk mengantarkan anak-anaknya sekolah, jalan itu terpaksa dilalui warga. Mereka harus menanggung risiko tergelincir dengan bahaya yang mengancam jatuh ke jurang. “Jalan itu satu-satunya akses keluar-masuk, jadi terpaksa dilalui,” sebut Gontar.

Pihak Pemerintah Kabupaten Labuhanbatu Selatan, baik Dinas Pekerjaan Umum maupun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) sudah berulang kali melihat kondisi jalan yang longsor. Warga sekitar sempat gembira karena beranggapan jalan tersebut segera diperbaiki. Kegembiraan itu ternyata hanya mimpi. Faktanya, hingga kini jalan itu belum disentuh pembangunan sama sekali.

Untuk akses keluar masuk dusun, saat ini warga menggunakan jembatan dari bambu. Itu pun mereka harus rela membayar Rp 5000 untuk sekali lintas karena jembatan bambu itu berada di tanah pribadi warga. “Kalau pun Pemkab Labuhanbatu Selatan tidak bisa membangun jembatan beton, minimal dibangun jembatan rambin (gantung) di lokasi yang longsor. Kami berharap pemerintah dapat memperhatikan kondisi ini,” harap warga. (Rizky Wardhana Siregar — Labuhanbatu)