Pedofil Bergetayangan di Dunia Maya

Kapolda Metro Jaya, Irjen Pol M Iriawan saat konprensi pers kasus pedofil anak (tribunnews.com)

Awasi anak anda yang telah memiliki akun media sosial. Kejahatan anak di media sosial sulit dibendung. Jajaran Polda Metro Jaya kembali mengungkap jaringan prostitusi anak di bawah umur yang beroperasi secara online. Kapolda Metro Jaya Irjen Mochammad Iriawan menerangkan bahwa prostitusi ini menggunakan media Facebook. Berdasar informasi, grup FB tersebut dipakai untuk berkomunikasi. Sebuah grup bernama “Official Loly Candys Group 18+” yang dibentuk sejak September 2016 digunakan sebagai sarana komunikasi pelakunya. “Dari pengungkapan ini, kami amankan empat pelaku kejahatan pornografi anak secara online,” ucap dia di Polda Metro Jaya, Selasa 14 Maret 2017.

Belum setahun dibuat, menurut Iriawan, anggota di grup itu sudah mencapai 7.497 orang. Di dalam grup itu juga menampilkan foto porno anak di bawah umur. Mantan Kapolda Jawa Barat ini memerinci, empat pelaku itu yakni MBU alias Wawan alias Snorlax (25), DS alias Illu Inaya alias Alicexandria (27), SHDW alias Siha Dwiti (16) dan DF alias T-Day (17).

Jenderal bintang dua ini juga berkata, sejauh ini para anggota grup itu berdiskusi, berbagi dan menampilkan foto maupun video berkonten pornografi dengan obyek anak berusia 2-10 tahun. Menurutnya, meski tidak saling mengenal, para pelaku memiliki kelainan yang sama sehingga mengelola akun facebook itu secara bersama-sama. Diketahui, Wawan berperan membuat akun facebook, sementara tiga tersangka lainnya sebagai administrator dan membuat aturan bagi anggota grup.

Polisi menyebut para pelaku kejahatan seksual anak yang baru saja mereka tangkap terhubung dengan jaringan pedofilia internasional. Jaringan tersebut ditemukan seorang pelaku saat berselancar di dunia maya. “Memang ada di Facebook ada grup khusus yang berkaitan dengan kejahatan seksual terhadap anak kecil, itu ada. Itu yang menemukan pertama saudara WW alias SNL ini. Dia mendapatkannya dari luar juga. Setelah itu di-connect-kan ke luar,” ujar Kapolda.

Tiga Orang pelaku lainnya pun kerap mengirim dan menerima foto dan video yang berisi konten pornografi anak dari seseorang yang berasal dari Kolombia. Setelah berhubungan, mereka kemudian secara rutin mengirim dan menerima foto dan video porno untuk di-share di grup Facebook dan WhatsApp. “Makanya TJ (pelaku lain), itu mengirim pesanan dari Pepe, itu dari Kolombia. Dan yang bersangkutan kirim juga ke TJ tadi. Kami akan perdalam ke sana, tapi ini (akun ‘Official Candys Group’) sudah di-block sama Facebook. Kami akan bekerjasama nanti,” jelas Iriawan.

Iriawan mengatakan jaringan internasional ini tak hanya berasal dari Kolombia saja. Ada beberapa negara lain yang ikut disebut. “Ini asal negara banyak sekali ada Peru di sana, Argentina, Meksiko,El Salvador, Cile, Bolivia, Kolombia, Kosta Rika, Amerika,” ujar dia.

Untuk mengungkap jaringan pedofil online internasional ini, Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya juga akan bekerjasama dengan FBI yang ada di Amerika Serikat. “Adalah FBI yang bisa kami minta bantuan. Dan sudah ada komunikasi Pak Dirkrimsus dengan pihak FBI,” kata Iriawan.

Empat orang pelaku dan 8 orang korban berikut barang bukti telah diamankan polsi. Saat ini pihak kepolisian masih melakukan pendalaman untuk mencari tahu apakah ada grup lain yang terlibat kejahatan pedofilia di Indonesia.

Seto Mulyadi selaku Ketua Lembaga Perlindungan Anak Indonesia kaget mendengarkan pengungkapan kasus penyebaran konten adegan seks anak tersebut. “Saya kira cukup terkejut, ini anak masih usia remaja, masih SD, sudah berhubungan seks dan salah satu tadi mengaku pernah jadi korban pelecehan seksual,” kata Seto di Mapolda Metroolda Metro Jaya, Jakarta Selatan.

Pria yang akrab disapa Kak Seto itu menilai, fenomena kejahatan seksual anak terjadi karena orangtua tidak peduli dengan buah hatinya. “Kadang-kadang kami abai kepada anak yang perlu perhatian. Kita lupa kepada anak-anak yang butuh perhatian. Di banyak tempat. Mudah terungkap menengah ke bawah,” tuturnya.

Menurutnya, kebanyakan orangtua hanya menuntut anaknya agar bisa mencapai pendidikan yang tinggi. Namun, melupakan perhatian sehingga anak depresi. “Jadi cukup banyak anak-anak remaja banyak frustasi. Kita hanya tekan pada aspek satu saja, akademik. Kita lupa dengan hobi, perasan mereka, lupa sehinggga akhirnya mereka cenderung melakukan penyimpangan. Apa itu narkoba, tawuran, seks bebas. Jadi ini soal hal yang sering terjadi di masyarakat yang belum terungkap,” paparnya.

Sementara itu, Anggota Komisi VIII DPR, Maman Imanulhaq dikutip dari Okezone mengatakan, kasus prositusi anak di bawah umur yang menyebarkan konten pornografi berupa video dan gambar melalui akun media sosial adalah gunung es yang ada di Indonesia. “Iya, berkali-kali katakan bahwa kekerasan seksual terhadap anak ini adalah gunus es yang ada di Indonesia,” katanya.

Selain itu, ia juga menilai Indonesia telah menjadi darurat pada kekerasan seksual anak. Ia sangat prihatin dengan zaman seperti ini. Pasalnya bukan lagi anak yang menjadi korban, tapi ada juga yang menjadi pelaku kekerasan pedofil. Dengan kasus ini, Maman akan meminta pertanggungjawabkan pada pihak Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (KPPA) untuk mempertanyakan sikap dari Kementerian dalam menangani kasus seperti ini. “Kami akan meminta pertanggungjawabkan dari Kementerian Anak untuk sikapnya sebagai Menteri dalam beberapa kasus. Jangan sampai kasus ini dibiarkan lalu tiba-tiba tapi tidak ada tindakan,” tuturnya.

JULIE INDAHRINI