Indonesia Tegaskan Komitmen Kuat Berantas Narkoba

Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso memusnahkan barang bukti narkotika di Lapangan Parkir BNN, Cawang, Jakarta Timur (dok humas BNN)

Indonesia meneguhkan komitmen kuatnya untuk terus memerangi peredaran dan penggunaan narkoba secara ilegal. Hal tersebut dilakukan melalui penegakan hukum yang tegas terhadap para pengedar dan pelaku tindak pidana narkoba.

Badan Narkotika Nasional (BNN) kembali memusnahkan 80.848,48 gram sabu dan 3.687 butir ekstasi. Barang bukti tersebut hasil dari pengungkapan 3 kasus yang diungkap selama periode Februari 2017 hingga Maret 2017.

“Kasus pertama diungkap pada Kamis 2 Febuari 2017 sekitar pukul 14.00 WIB di kawasan Abdul Rahman Saleh Lorong 3, Palu Selatan, Sulawesi Tengah. BNN berhasil mengamankan 3 tersangka MA, F dan AR seorang Napi Lapas Cipinang. Barang bukti yang kami amankan dari pengungkapan ini sabu seberat 851,6 gram,” kata Kepala BNN Komjen Budi Waseso di Kantor BNN, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (16/3/2017).

BNN kembali mengungkap peredaran narkotika. pria yang akrab disapa Buwas itu mengatakan pengungkapan ini dilakukan pada Minggu 19 Februari 2017 di Jl Raya Ringroad Setia Budi, Medan, Sumatera Utara. BNN mengamankan 2 tersangka, 1 di antaranya meninggal dunia.

“Dari Kasus ini kami berhasil mengamankan 2 tersangka, ABS dan BEP. ABS terpaksa dilumpuhkan petugas hingga tewas. Barang bukti yang berhasil kita amankan berupa sabu seberat 32.004 gram,” ujar Buwas.

Tak berhenti sampai di situ, Buwas mengatakan BNN kembali melakukan pengungkap jaringan peredaran narkotika di Kawasan Medan, Sumatera Utara pada tanggal 1 Maret 2017. Dalam pengungkapan ini BNN mengamankan barang bukti 48.163 gram, 3.702 butir ekstasi dan 454 Happy Five dengan 8 tersangka, satu di antaranya meninggal dunia.

“Kami mengamankan tersangka MUL dan RIS, RIS terpaksa dilumpuhkan petugas hingga tewas karena melakukan perlawanan. Dari mereka kami amankan 39.221 gram sabu. Kemudian dari situ kami lakukan pengembangan di Binjai, Sumatera Utara, dari situ kami menangkap SY dan AM di rumah HAB merupakan oknum TNI bersama tersangka ZAK. Dari tersangka tersebut kami amankan 12,72 gram sabu, 3.702 butir ekstasi dan 454 butir happy five,” tutur Buwas.

“Petugas kembali melakukan pengembangan ke Johor Permai, Medan, kembali kami amankan tersangka HER dan DED. Dari keduanya barang bukti yang kita amankan 8.929 gram sabu. Sehingga total barang bukti dari jaringan tersebut 48.163,28 gram sabu, 3.702 butir ekstasi dan 454 butir happy five,” lanjutnya.

Buwas menjelaskan sesungguhnya total barang bukti yang disita sejumlah 81.018,98 gram dan 3.702 butir ekstasi. Namun karena diperlukan untuk Iptek, diklat, dan pemeriksaan laboratorium, BNN hanya memusnahkan 80.848,48 gram sabu dan 3.687 butir ekstasi.
“Masing-masing kita sisihkan sebanyak 170,5 gram sabu dan 15 butir ekstasi untuk keperluan IPTEK, Diklat dan pemeriksaan laboratorium,” tandasnya.

Atas perbuatannya para tersangka terancam Pasal 114 ayat (2) dan Pasal 112 ayat (2) Jo Pasal 132 ayat (1) Undang-Undang Narkotika No. 35 Tahun 2009 dengan ancaman maksimal hukuman mati atau penjara seumur hidup.
Pada 9 Maret 2017, BNN juga telah memusnahkan 40.573,5 gram sabu dan 44.387 butir ekstasi. Barang bukti itu berasal dari pengungkapan 4 kasus yang melibatkan jaringan internasional.

“Kasus pertama itu pengungkapan ekstasi dari Jerman, dapat info dari petugas Bea Cukai Pasar Baru 19 Agustus 2016. Ada 2 paket berisi kotak makanan yang di dalamnya terdapat ekstasi sebanyak 49.447 butir. Kami lakukan control delivery tapi tidak membuahkan hasil sehingga barang ini dinyatakan sebagai lost and found,” kata Komjen Budi Waseso, di Kantor BNN, Jl MT Haryono, Cawang, Jakarta Timur, Kamis (9/3/2017).

Budi menuturkan kasus kedua melibatkan nahkoda kapal dari jaringan Malaysia. Penangkapan itu dilakukan terhadap pria berinisial MA di perairan Pulau Pramuka Kepulauan Seribu pada Kamis 2 Februari 2017.
“Petugas menyita sabu seberat 13.592,5 gram. Kami dalami, sabu itu akan diserahkan kepada pria Malaysia berinisial SBK. Kami tangkap SBK di Muara Angke, yang bersangkutan coba melarikan diri sehingga kami tindak tegas dan meninggal dalam perjalanan menuju rumah sakit,” ujar dia.

Tak berhenti di situ, BNN juga mengungkap kasus peredaran sabu seberat 20.100 gram dari Malaysia. Pria yang akrab disapa Buwas ini mengatakan peredaran itu dikendalikan dari dalam Rutan Klas II A Pontianak. Dalam kasus ini, BNN mengamankan 6 orang tersangka.

“Diungkap bersama BNN Provinsi Kalimantan Barat dan Kanwil Direktorat Bea Cukai Kalimantan Barat. Diamankan tersangka berinisial BB alias Planet dan HEN. Mereka bawa sabu di dalam mobil. Lalu kami dalami. Dari keterangan kedua tersangka, kami amankan GV dan NOT sebagai calon penerima barang. Dari pendalaman lanjutan, mereka ternyata dikendalikan oleh DD dan SAP dari dalam rutan,” papar Buwas.

BNN kembali mengungkap kasus narkotika jenis sabu seberat 6.943,23 gram. Pengungkapan itu dilakukan di sebuah kos di kawasan Utan Kayu, Jakarta Timur, Jumat (24/2). “BNNK Jakarta Timur menangkap seorang pria berinisial HWY. Di TKP, kami sita sabu seberat hampir 7 kg,” ucap Budi.

Total temuan BNN itu berupa 40.635,73 gram sabu dan 49.447 butir ekstasi. Budi mengatakan bahwa tidak semuanya dimusnahkan guna keperluan penelitian penelitian dan pendidikan.”Yang jenis sabu disisihkan 62,23 gram untuk laboratorium, jadi yang dimusnahkan seberat 40.573,5 gram. Ekstasi yang dimusnahkan sebanyak 44.387 butir setelah dikurangi 10 butir untuk laboratorium, 50 butir untuk IPTEK, dan 5 ribu butir untuk Diklat,” kata Buwas.  Dia menegaskan pemusnahan barang bukti sabu dan ekstasi itu diperkirakan mampu menyelamatkan lebih dari 247 ribu jiwa masyarakat dari jeratan narkotika.

Penangkapan dan pemusnahan barang bukti narkoba yang gencar dilakukan oleh BNN meneguhkan komitmen kuat Indonesia untuk terus memerangi peredaran dan penggunaan narkoba secara ilegal. Hal tersebut dilakukan melalui penegakan hukum yang tegas terhadap para pengedar dan pelaku tindak pidana narkoba.

Tak hanya di Tanah Air, di forum internasional pun Indonesia juga berperan aktif dalam perang melawan narkoba. Deputi Hukum dan Kerja Sama BNN Arief Wicaksono Sudiutomo selaku Ketua Delegasi Republik Indonesia menegaskan bahwa penyelesaian masalah transnasional yang muncul akibat peredaran narkoba harus diselesaikan dengan tetap menghormati kedaulatan dan prinsip non-intervensi urusan dalam negeri masing-masing negara dan tanpa mengesampingkan penghormatan terhadap HAM.

Arief menyampaikan hal tersebut di hadapan perwakilan lebih dari seratus negara dalam pembukaan sesi ke-60 Comission on Narcotic Drugs/CND (Komisi Obat-obatan Narkotika) di Wina, Senin waktu setempat atau Selasa 14 Maret 2017 Waktu Indonesia Barat.

Pada kesempatan itu, Arief menegaskan bahwa perdagangan dan peredaran narkoba secara ilegal merupakan kejahatan terorganisasi lintas batas dan bersifat luar biasa, di mana penanganannya tidak dapat dilakukan tanpa kerja sama antarnegara, baik secara bilateral, regional, maupun multilateral. “Meskipun diperlukan kerja sama antarnegara dalam memberantas perdagangan dan peredaran ilegal narkoba, tapi bukan berarti mengesampingkan kedaulatan negara dalam menegakkan hukum nasional,” tandas Arief.

Sebelumnya perwakilan negara-negara juga menyampaikan kemajuan telah dicapai dalam upaya mengatasi masalah narkoba yang dihadapi dunia. Namun peredaran dan penggunaan narkoba secara ilegal masih menjadi ancaman yang terus mengintai masyarakat, khususnya generasi muda. CND sesi ke-60 ini akan berlangsung selama empat hari di Vienna International Centre, Wina, Austria, sampai 17 Maret 2017.

Menurut Konselor Politik Zaim Nasution, yang bertindak selaku KUAI, akan dibahas 10 rancangan resolusi dan 2 rancangan keputusan yang tujuannya semakin meningkatkan upaya dan kerja sama multilateral dalam memerangi permasalahan obat-obatan terlarang yang dihadapi dunia. CND adalah badan pengambil keputusan di bawah United Nations Office on Drugs and Crime (UNODC) yang dibentuk, antara lain, untuk mengawasi implementasi traktat-traktat internasional mengenai pengaturan obat-obatan.

CND memiliki mandat untuk meninjau dan menganalisis situasi obat-obatan dunia serta membahas isu-isu terkait pencegahan penyalahgunaan, rehabilitasi bagi pengguna narkoba, dan peredaran obat-obatan secara ilegal. CND mengambil tindakan dalam bentuk resolusi dan keputusan. #stopnarkoba