Hari Gelap Marwah Daud Dan Suaminya

Marwah Daud Ibrahim (photo.sindonews.com)
Marwah Daud Ibrahim (photo.sindonews.com)

Pekan ini Marwah Daud Ibrahim dan suaminya, Ibrahum Tajdu dijadwalkan diperiksa oleh Polda Jawa Timur terkait kaus penipuan di padepokan Dimas Kanjeng. Surat sudah dilayangkan pekan lalu.

Salah satu pengikut yang diangkat jadi sultan adalah Ibrahim Taju, suami Marwah Daud Ibrahim–merupakan Ketua Yayasan Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Peran sultan di Padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi amat strategis. Mereka tangan kedua Taat yang bertugas mengumpulkan uang santri.

Kewenangan Taju bisa dibilang sepenting Abdul Ghani, sultan yang diduga dibunuh Taat. Tapi, menurut Hidayah Ismail, tersangka pembunuh Ghani, Taju itu orang paling dekat Taat. Kalau yang lain disebut sultan, maka Taju disebut Sultan Agung.

Nama suami Marwah ini berbeda-beda di setiap media. Tempo menyebutnya Tajul Ibrahim. Ada juga media yang menyelipkan D di namanya menjadi Tadju Ibrahim. Sebagian lagi ada yang menyebutnya Ibrahim Taju, seperti yang penulis pakai. Nama itu merujuk situs resmi Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI).

Sultan di padepokan itu membawahi koordinator. Koordinator ini mencari orang yang rela menyerahkan mahar untuk digandakan. Kemudian, saat orang itu sudah jadi santri, maka harus mencari orang lain lagi agar uangnya berlipat ganda. Persis konsep pemasaran berjenjang alias multi level marketing.

Taju sudah membawa tiga ribuan pengikut dari Makassar ke padepokan. Mereka berprofesi dosen, pengusaha, tentara, polisi, masyarakat biasa, dan ada juga profesor. Salah seorang dari mereka – sebut saja Andi — membeberkan peran Taju. Andi mengatakan Taju menjebak dengan iming-iming uang yang bisa berlipat ganda.

Andi diajak bergabung kegiatan padepokan pada 2012, yang mulanya hanya kegiatan sosial dan keagamaan. “Saya kenal Taju di organisasi keagamaan semasa kuliah dulu,” katanya. Taju kemudian meminta uang mahar Rp50 juta kepada Andi, yang selanjutnya meminta lagi dan lagi. Total, ungkap TST, dirinya menyetor Rp100 juta lebih selama jadi santri. “Jika tak ada Taju, yang menerima setoran ada adiknya, Alim Taju”.
Saat menjadi santri, Andi mendapat peti yang dipercaya akan berisi uang belanja harian. Peti ini juga bisa berfungsi sebagai ATM dalam rumah, jika tidak ada bank terdekat di sekitar pemukiman santri. Janji sang sultan agung, peti yang berisi uang Rp10 ribu, akan bisa menghasilkan uang sebesar Rp3,5 juta per hari. Namun, semuanya omong kosong.

Jumlah sultan di padepokan cukup banyak. Pada Januari 2016 lalu, tercatat ada 158 sultan dilantik oleh Taat, yang mengklaim bergelar sebagai Sri Raja Anom Prabu Rajasa Nagara. Acara pelantikan berlangsung di pendopo padepokan yang disebut Rahmatan Lil Alamin.

Taju tercatat menikahi Marwah Daud Ibrahim pada 1983 ketika Marwah masih bekerja di Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi. Pekan ini pasangan suami istri ini akan diperiksa polisi terkait dugaan penipuan yang dilakukan Taat. Polda Jawa Timur telah memanggil Marwah dan dan suaminya, Ibrahim Taju. Keduanya dijadwalkan diperiksa oleh penyidik Polda Jawa Timur, Senin 17 Oktober 2016. Ibrahim Taju dipanggil polisi karena merupakan sultan dalam struktur Padepokan Dimas Kanjeng. Sementara, Marwah Daud dipanggil sebagai ketua Yayasan Padepokan Dimas Kanjeng.

Selain kedua orang itu, 10 sultan yang ada di Padepokan Dimas Kanjeng, juga dipanggil. Menurut Kabid Humas Polda Jatim Kombes Pol Argo Yuwono, Rabu 12 Oktober 2016, mereka semua akan dimintai keterangan terkait praktik penipuan penggandaan uang dan pengumpulan mahar dari para pengikut Taat Pribadi.

Menurut Kabid Humas Polda Jatim, Kombes Pol Raden Argo Yuwono, di Mapolda Jatim, Surabaya, Jumat 11 Oktober 2016, selain pemanggilan saksi, polisi tengah berkonsentrasi memburu satu buron dari kasus pembunuhan terhadap pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Pada Senin siang ada daftar pencarian orang (DPO) yang menyerahkan diri, inisialnya EY. Dia diantar oleh saudaranya ke Polda Jatim.

Alasan EY menyerahkan diri, tambah Argo, karena yang bersangkutan merasa tidak tenang terkait pemberitaan kasus ini. Pergi ke mana-mana tidak bisa, ada keterbatasan. EY asalnya dari Kediri. Dia ikut serta dalam kasus pembunuhan dengan korban Abdul Ghani. Dengan penyerahan ini, tersisa satu DPO yang masih dicari. Perkembangan kasus pembunuhannya sedang menunggu penyusunan berkas perkara. Seluruh barang bukti dari kedua kasus tersebut sudah dibawa dari Probolinggo ke Polda Jatim. “Sedang dipilahpilah oleh penyidik, untuk mana nanti yang diajukan ke pengadilan,” tutur Argo.

Sementara itu, Kadiv Humas Mabes Polri, Irjen Pol Boy Rafli Amar mengatakan Mabes Polri mendapat informasi awal kalau uang triliunan rupiah, yang sebelumnya dikuasai Dimas Kanjeng sudah disetor ke sejumlah pihak. Untuk itu, Mabes Polri bekerja sama dengan Pusat Pelaporan dan Analisa Transaksi Keuangan (PPATK) untuk menelusuri uang tersebut.
Dalam kasus Dimas Kanjeng, tambah Boy, polisi telah mendapatkan barang bukti uang dari kediaman Dimas Kanjeng. “Barang bukti uang sedang dipelajari. Dari barang bukti tersebut, ada yang diduga palsu karena ada kertaskertas yang disusun membentuk uang, tapi ada juga uang asli,” kata Boy.
Dari informasi yang beredar, ujar Boy, ada yang mengatakan, kalau uang mahar triliunan rupiah yang diterima Dimas Kanjeng dari para pengikutnya disembunyikan di bungker dan rumah para sultannya. Namun, setelah dicek ke rumah Dimas Kanjeng ternyata tidak ditemukan uang triliunan rupiah tersebut.

“Bisa jadi tidak disembunyikan di sana, apakah dititip atau disembunyikan di rekening tertentu. Kami belum tahu, tapi yang jelas, uang yang ditemukan di rumah Dimas Kanjeng Taat Pribadi itu tidak banyak. Keaslian dari uang yang ditemukan itu akan kami lihat,” ujar Boy.
Penyidik terus mencari keberadaan uang triliunan rupiah tersebut. Informasinya uang besar itu sudah ke manamana, karena itu akan ditelusuri uang tersebut. Untuk melihat apakah uang itu asli atau palsu, polisi bekerja sama dengan Bank Indonesia (BI).

Lantas bagaimana dengan Ibrahim Taju dan Mawah Daud. Hingga akhir pekan lalu belum ada tanggapan dari keduanya perihal pemeriksaan tersebut. Hingga akhir pekan lalu, dia lenyap. Kepala Kepolisian Daerah (Kapolda) Sulsel, Irjen Pol Anton Charliyan mengaku saat ini terus mengawasi pergerakan suami Marwah daud, Ibrahim Taju terkait kasus Dimas Kanjeng Taat Pribadi. Pasalnya, Ibrahim Taju dinyatakan Daftar Pencarian Orang (DPO) dari Polda Jatim.

Polda Sulsel juga telah menetapkan suami Marwah Daud, Ibrahim Taju masuk dalam Daftar Pencarian Orang (DPO). Polisi menyebut suami Marwah Daud Ibrahim itu merupakan pimpinan padepokan Dimas Kanjeng Taat Pribadi di Sulsel. “Kami sudah menetapkan 5 orang dalam daftar pencarian. Polda Sulsel akan mengerahkan seluruh tenaga untuk menangkap kelima pengikut Dimas Kanjeng Taat Pribadi,” kata Kapolda Sulsel Irjen Pol Anthon Chahliyan pada media massa.

Joko Mardiko/FORUM

Comments are closed.