Pohan Tersandung Cek Kosong

Ramadhan Pohan di Polda Sumut – (Fadli/Kriminalitas.com)
Ramadhan Pohan di Polda Sumut – (Fadli/Kriminalitas.com)

Terlilit utang piutang pasca gagal menjadi Walikota Medan, kini Pohan harus berurusan dengan Polisi. Partai tidak akan mengintervensi.
Kehadiran Wakil Sekretaris Jenderal Partai Demokrat, Ramadhan Pohan, ke Medan Sumatera Utara bukan dalam rangkaian tugas kepartaian, apalagi urusan mudik, maklum lebaran Idul Fitri sudah lewat. Pohan datang ke Medan, tepatnya ke Polda Sumatera Utara untuk dimintai pertanggungjawaban.

Terungkap bahwa kasus yang menjerat mantan calon wali kota Medan 2011-2016 itu bermula dari laporan kepada polisi tertanggal 18 Maret 2016. Pelapornya adalah Laurenz Henry Hamonangan (LHH) Sianipar yang mengaku ditipu sebesar Rp 4,5 miliar. Dari laporan tersebut, diketahui bahwa pada awalnya, Laurenz tidak mengenal Ramadhan. Dia mengenal Ramadhan dari seseorang bernama Savita Linda Hora Panjaitan.

Dari sejumlah pertemuan, LHH mengaku terbujuk rayu dan janji hingga mau memberikan uang sebesar Rp 4,5 miliar miliknya untuk kepentingan pilkada Ramadhan. Uang diserahkan di posko pemenangan pasangan Ramadhan Pohan yang berpasangan dengan Eddy Kusuma (Redi).

LHH percaya karena pihak Ramadhan menyerahkan kepadanya selembar cek bernilai Rp 4,5 miliar dan berjanji akan memberi uang imbalan saat mengembalikan pinjaman sebesar Rp 600 juta. Dia dijanjikan, paling lama uangnya akan kembali dalam satu minggu.

Namun, janji tinggal janji. Sampai hari ini, cek yang diberikan tersebut tidak dapat dicairkan karena dananya tidak mencukupi. Korban lalu menagih janji pembayaran kepada Ramadhan, tetapi dia selalu mengelak dan memberikan alasan yang tidak masuk akal.

LHH pun mengadu ke polisi. Berdasarkan pengaduannya, Polda Sumut mengeluarkan surat perintah penyidikan tertanggal 23 Maret 2016 dan menjadikan Ramadhan sebagai tersangka dugaan penipuan dan penggelapan.

Ditreskrimum Polda Sumut kemudian melakukan penyelidikan lanjutan dan melakukan pemanggilan kepada Ramadhan sebanyak dua kali. Namun, Ramadhan tak pernah datang dengan alasan sakit.

Pada panggilan ketiga, petugas menjemput paksa Ramadhan di rumahnya di Jakarta dengan membawa surat perintah membawa yang dikeluarkan Ditreskrimum Polda Sumut. Dia lalu dibawa dan tiba di markas Polda Sumut di Medan, Senin tengah malam, 19 Juli 2016.

“Yang bersangkutan kami jemput ke Jakarta dengan surat perintah membawa. Kenapa dengan surat perintah membawa? Karena penyidik sudah mengirimkan surat panggilan sebagai tersangka sebanyak dua kali, tetapi yang bersangkutan tidak pernah memenuhi panggilan penyidik dengan alasan sakit,” kata Kabid Humas Polda Sumut Kombes Rina Sari Ginting, Kamis (21/7/2016).

Pada pagi harinya, Ramadhan yang menggunakan kemeja batik berwarna biru langsung menjalani pemeriksaan di lantai 2 ruang penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum (Ditreskrimum).

Namun, setelah hampir 12 jam lebih menjalani pemeriksaan, Ramadhan melangkah meninggalkan Polda Sumut pada Kamis dini hari, 21 Juli 2016. “Penyidiknya bilang, pemeriksaan terhadap yang bersangkutan sudah cukup. Yang bersangkutan berjanji tidak akan melarikan diri. Namun, meski tidak dilakukan penahanan, proses penyidikan tetap berjalan,” kata Rina.

Kasubdit II Ditreskrimum Polda Sumut AKBP Frido Situmorang yang menjadi penyidik Ramadhan membenarkan apa yang diucapkan Rina. “Tidak kita lakukan penahanan karena masih ada pemeriksaan lanjutan lagi terhadap tersangka,” kata Frido.

Dalam kasus ini, 13 saksi sudah dimintai keterangannya. Barang bukti yang disita seperti sejumlah fotokopi legalisasi cek, fotokopi tanda terima uang sebesar Rp 4,5 miliar pada 18 Desember 2015, dan selembar invoice pemberian ponsel sebanyak 1.074 unit. “Berdasarkan hasil penyidikan, pemeriksaan saksi-saksi, dan barang bukti, yang bersangkutan akan dikenakan Pasal 378 dan 372 KUH Pidana,” kata Rina.

Selain kasus penipuan dengan korban LHH, Rina menambahkan bahwa pihaknya juga sudah menerima laporan dari warga bernama RH br Simanjuntak pada 18 Maret 2016. Dia melapor karena juga merasa ditipu oleh Ramadhan Pohan sebesar Rp 10,8 miliar. “Dalam kasus ini, yang bersangkutan masih berstatus saksi. Perkara ini sedang menunggu untuk digelarperkarakan,” kata Rina.

RH br Simanjuntak tak lain adalah ibunda LHH. Berkasnya terpisah dan saat ini masih dalam proses penyidikan. “Jadi kalau ditotal kerugian dari kedua laporan ini sebesar Rp 15,3 miliar. Kalau LP yang kedua, kami sudah memeriksa saksi-saksi, tinggal menunggu gelar perkara dalam waktu dekat ini,” ucap Rina.

Rina mengatakan, pemberian uang pada Laporan Polisi (LP) yang pertama pada Desember 2015 di pos pemenangan RP dan diterima langsung oleh RP sesuai bukti-bukti yang mereka miliki.

“Waktu itu memang menjelang Pilkada Wali Kota Medan. Ya, RP langsung yang menerima. Kan, kami ada bukti-bukti bahwa yang bersangkutan menerima langsung. Ada satu orang perantara yang mengenalkan korban dengan tersangka. Inisialnya LP,” ujarnya.

Kuasa hukum Ramadhan, Sahlan Rifa’i Dalimunthe, mengatakan, kliennya hanya korban. Pasalnya, tidak pernah mengetahui dan melihat uang yang dituduhkan digelapkannya. “Klien kami ini korban. Angka Rp 4,5 miliar itu saya tidak tahu dari mana keterangan itu. Intinya klien kami adalah korban, itu dulu, jangan masuk materi penyidikan kami,” katanya.

Ada kisah lain di balik pemeriksaan Ramadhan Pohan, politikus Partai Demokrat, Ruhut Sitompul, menceritakan kondisi Ramadhan Pohan sebelum dibawa polisi, dia sempat mengirimi pesan pendek permintaan bantuan. “Bang, aku di Cikini, ada reserse dari Polda Sumut. Tolong abang telepon balik Kapolda,” tulis Ramadhan dalam pesan pendek yang dituturkan Ruhut dikutip dari Tempo, Rabu, 20 Juli 2016.

Namun Ruhut malah menasihatinya. Ia meminta Ramadhan menghadapi masalahnya tersebut. “Kalau tidak salah, kenapa tidak dihadapi saja. Hormati kepolisian,” ucapnya.

Ruhut berujar, partainya tidak akan mengintervensi kasus yang sedang menimpa Ramadhan tersebut. Menurut dia, sudah ada pakta integritas, bila kader memiliki masalah pribadi, penyelesaiannya tanpa intervensi partai. Ruhut menambahkan, bagi siapa pun yang sudah berstatus tersangka, partainya tidak segan memberhentikannya. Menanggapi kasus ini, Ruhut menyarankan Ramadhan bersikap kooperatif dengan kepolisian.

JULIE INDAHRINI/FORUM

Majalah FORUM Edisi No. 12, Tanggal 25 Juli- 07 Agustus 2016

Comments are closed.