Bersih-bersih ala Erdogan

Turkish President Tayyip Erdogan addresses during an attempted coup in Istanbul, Turkey July16, 2016. REUTERS/Huseyin Aldemir TPX IMAGES OF THE DAY *** Local Caption *** Presiden Turki Tayip Erdogan memberikan pernyataan mengenai percobaan kudeta di Istanbul, Turki, Sabtu (16/7). ANTARA FOTO/REUTERS/Huseyin Aldemir/djo/16
Turkish President Tayyip Erdogan addresses during an attempted coup in Istanbul, Turkey July16, 2016. REUTERS/Huseyin Aldemir TPX IMAGES OF THE DAY *** Local Caption *** Presiden Turki Tayip Erdogan memberikan pernyataan mengenai percobaan kudeta di Istanbul, Turki, Sabtu (16/7). (ANTARA FOTO/REUTERS/Huseyin Aldemir)

Rakyat bersatu atas permintaan presiden dan kemudian berhasil menggagalkan kudeta. Erdogan langsung melakukan bersih-bersih.
Langkah cepat diambil Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan pasca kudeta gagal yang terjadi dua pekan lalu. Media Turki melaporkan sebanyak 15.300 guru telah dipecat. Tidak kurang dari 1.577 dekan diminta untuk mengundurkan diri. Selain itu, 8.777 staf kementerian dalam negeri diberhentikan dan 1.500 pegawai kementerian keuangan dipecat.

Selain itu badan pengatur media Turki, juga telah mencabut izin 24 channel TV dan stasiun radio karena dituduh terkait dengan Gulen. Sebelumnya, 6.000 personil tentara dan 9.000 polisi telah ditahan dan ditangkap. Sekitar 2.000 hakim juga dicopot jabatannya.

Pemecatan dan penangkapan yang dilakukan pemerintah Turki ini membuat Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) mengingatkan untuk tetap memperhatikan hak asasi manusia.

Presiden parlemen Eropa, Martin Schulz, menuding Turki melakukan “balas dendam” kepada lawan-lawan dan pihak yang mengkritik pemerintah. Schulz juga mengungkapkan diskusi yang muncul bahwa Turki akan kembali mempertimbangkan penerapan hukuman mati, “amatlah mengkhawatirkan”.

Uni Eropa telah mengingatkan Turki bahwa jika hukuman mati kembali diterapkan, Eropa akan menghentikan pembicaraan terkait niat bergabungnya Turki ke dalam Uni Eropa.

Bersih-bersih yang dilakukan Erdogan dinilai banyak kalangan bahwa Erdogan telah menggunakan kudeta militer oleh lawan politiknya untuk membenarkan pembersihan pejabat negara dan perwira militer yang dianggap tidak loyal kepadanya. Dia diduga menggunakan momentum tersebut sebagai jalan menuju islamisasi penuh yang tidak tampak semenjak jatuhnya Kaisar Ottoman.

Pascainsiden kudeta berdarah pada Jumat malam, 15 Juli 2106, pembersihan terus dilakukan dengan melakukan pemecatan pada Senin, 18 Juli 2016, terhadap 8.000 polisi, 30 gubernur, dan 52 pejabat pegawai negeri sipil setingkat eselon. Selain itu, 70 laksamana dan jenderal bersama dengan 3.000 tentara serta 2.700 anggota peradilan dipecat atau ditahan sejak kudeta gagal pada Sabtu, 16 Juli 2016.

Selama pembersihan orang-orang yang dituduh prokudeta, ada parade dari para pengikut fanatik agama di jalan-jalan yang meneriakkan “Allahu Akbar” dengan beberapa ulama terkemuka yang membacakan ayat-ayat Al-Quran menggunakan pengeras suara raksasa di Taksim Square di pusat Kota Istanbul.

Seperti dilansir Independent pada 18 Juli 2016, 85 ribu masjid Turki dilaporkan memainkan peran penting dalam memobilisasi massa untuk berunjuk rasa secara besar-besaran melawan kelompok prokudeta. Area Gezi Park di Istanbul, pusat protes sekuler dan liberal terhadap pemerintahan otoriter Erdogan tiga tahun lalu, sekarang dipenuhi banyak orang yang setia kepada Presiden.

Islamisasi semakin mempengaruhi adat istiadat sosial di Istanbul. Selin Derya, 26 tahun, yang bekerja di sebuah perusahaan bisnis, mengatakan, sejak kelompok pro-Erdogan membanjiri pusat kota pascakudeta, dia takut keluar mengenakan gaun khas wanita Eropa. Dia khawatir hal tersebut akan mengundang kemarahan warga ekstremis muslim yang kini seakan-akan  menguasai semua lini kehidupan.

Ada tanda-tanda meningkatnya intoleransi dari gaya hidup sekuler dalam beberapa tahun terakhir, termasuk serangan pada Juni lalu terhadap puluhan orang di sebuah toko musik di Istanbul. Puluhan penggemar Radiohead dipukuli karena dituduh minum alkohol selama bulan suci Ramadan. Ketika demonstran berkumpul untuk memprotes serangan, polisi membubarkan mereka menggunakan gas air mata dan meriam air.

Program partai pimpinan Erdogan, Partai Keadilan dan Pembangunan (AKP), yang memenangi pemilihan umum pertamanya pada 2002, telah membalikkan sekularisasi yang diperkenalkan oleh Kemal Ataturk, pendiri republik, pada 1923. Ketika kekuatan AKP semakin besar, banyak lembaga-lembaga sekuler di negara tersebut yang dihilangkan. Hal itu mendorong islamisasi pendidikan dan perilaku sosial serta berusaha menyisihkan pejabat dan petugas non-Islam.

Langkah yang diambil Erdogan merupakan buntut dari kudeta yang dilakukan oleh militer Turki. Jumat malam, 15 Juli 2106 kudeta berdarah dan memakan korban hingga ratusan jiwa. Malam itu, terdengar suara letusan senjata, pasukan militer menyerbu masuk gedung pemerintahan, dan suara jet terdengar terbang di langit ibukota Ankara.

Perdana Menteri Turki Binali Yildirim mengatakan sebuah grup pada kelompok militer Turki berupaya untuk menggulingkan pemerintahan. Pemberlakuan jam malam nasional pun diumumkan. Selain itu, pasukan keamanan lainnya telah dipanggil untuk ‘melakukan apa yang diperlukan’. “Sejumlah orang secara ilegal mengambil aksi ilegal di luar rantai komando,” demikian pernyataan Perdana Menteri Turki Binali Yildirim pada siaran NTV seperti yang dilaporkan Reuters.

Tak menunggu lama, pemerintah resmi Turki mengumumkan bahwa upaya kudeta yang dilakukan sebagian kecil anggota militer Turki berhasil digagalkan. Mayoritas militer Turki menolak aksi kudeta tersebut. Komandan Angkatan Darat Turki Umit Dundar menegaskan bahwa anggota militer yang melakukan aksi pemberontakan hanya sebagian kecil dari militer.

“Tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Kami mengambil langkah-langkah yang diperlukan dengan tentara yang belum bergabung dengan mereka dan masih bertindak dalam rantai komando.” ujar Komandan Angkatan Darat Turki Umit Dundar seperti dilansir Anadolu Agency .

Penggagalan kudeta militer oleh ribuan rakyat Turki pada Jumat malam telah menjadi sorotan media dunia. Gagalnya kudeta militer Turki secara sekilas menunjukkan jeniusnya Presiden Tayyip Erdogan yang mampu menggerakkan ribuan orang hanya dengan fitur FaceTime di iPhone untuk melakukan perlawanan.

Ketika kudeta militer Turki berlangsung pada Jumat malam, Presiden Erdogan sejatinya sedang sedang berlibur di sebuah resor di Marmaris—pantai di Mediterania.  Saat itu, personel militer Turki sudah menduduki lokasi strategis di seluruh Istanbul dan Ankara.

Terkait langkah yang diambil Erdogan, Sekjen Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) Ban Ki-moon mengaku sangat prihatin akan gelombang penangkapan yang terus berlangsung di Turki. Penangkapan massal itu dilakukan menyusul upaya kudeta di Turki pada 15 Juli lalu. Kepada Menteri Luar Negeri Turki Mevlut Cavusoglu seperti dilansir kantor berita AFP, Kamis (28/7/2016), Ban mengatakan dalam percakapan telepon bahwa “bukti-bukti kredibel” harus segera disampaikan, sehingga status hukum para tahanan bisa diputuskan oleh pengadilan.

Juru bicara PBB, Farhan Haq mengatakan, dalam percakapan telepon dengan Cavusoglu, Ban menyinggung tentang laporan penyiksaan dan perluan buruk yang dialami sebagian tahanan. Ban juga menekankan keprihatinannya atas penangkapan massal dan pemecatan ataupun skorsing yang terus berlangsung. “Bukti-bukti kredibel mengenai mereka yang tengah berada dalam penyelidikan, harus disampaikan segera ke sistem pengadilan sehingga kepastian hukum bisa diperoleh di depan pengadilan,” ujar Haq menirukan ucapan Ban.

Disampaikan Haq, Ban juga menyatakan, dirinya berharap Turki akan tetap memperhatikan hak-hak dasar dan mematuhi kewajiban internasional di tengah operasi pembersihan yang terus dilakukan usai kudeta.

JULIE INDAHRINI/FORUM

Majalah FORUM Keadilan Edisi No. 12, tanggal 25 Juli – 07 Agustus 2016

Comments are closed.