“Tito Mampu Menyatukan Senior-Seniornya”

Bambang Widodo Umar, Pengamat Kepolisian (dok FORUM)
Bambang Widodo Umar, Pengamat Kepolisian (dok FORUM)

Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar berpendapat terpilihnya Komjen Polisi Tito Karnavian sebagai calon tunggal Kapolri oleh Presiden Joko Widodo memberikan harapan untuk meningkatkan kepercayaan masyarakat terhadap institusi Polri. “Saya kira tepat pemilihan itu. Semoga Polri bisa menjadi lembaga Kepolisian yang lebih baik dan dipercaya rakyat,” kata Bambang Widodo Umar.  Bambang optimistis sosok Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) itu mampu membenahi kinerja Polri menjadi lebih baik di masa depan. “Dia (Tito) punya cukup waktu dan kita harapkan dia punya keberanian untuk membenahi institusi Polri secara mendasar,” katanya.  Berikut ini wawancara Sofyan Hadi dari FORUM dengan Pengamat kepolisian Bambang Widodo Umar, Kamis 23 Juni 2016. Penuturannya:

Apa pendapat Anda tentang Komjen Tito Karnavian dari sisi pendidikan dan profesionalisme?
Pendidikan dan tugas yang telah dilakukan oleh yang bersangkutan dari catatan-catatan yang ada di media. Kalau saya sendiri tidak tahu secara pasti dari media yang saya baca prestasinya cukup baik. Kemudian juga pendidikannya juga cukup tinggi, hingga doktor. Bearti dia (Tito Karnavian, red) dengan bekal pendidikan yang cukup tinggi itu diharapkan untuk membenahi polri ini bisa lebih tuntas, lebih substantif. Tidak hanya ‘kulit-kulitnya’ tetapi juga institusinya, kelembagaannya itu betul-betul diungkap. Jadi akar permasalahan itu benar-benar dibenahi, jangan kulitnya saja.

Menurut Anda dipilihnya Tito Karnavian sebagai calon kapolri oleh Presiden Joko Widodo murni karena profesionalitas kerja dan prestasinya, bukan berdasarkan unsur politis?
Sejak reformasi pemilihan kepala Polri selalu gaduh. Selalu ada tarik-menarik kepentingan. Kali ini Jokowi membuat keputusan dengan pertimbangan profesionalitas, tidak mengarah pada politik. Tito, punya landasan profesionalitas yang baik. Dengan pertimbangan itu dia pun berharap tidak ada celah politik untuk menyudutkannya. Jika pemilihan didasari keputusan politik, hal tersebut akan membuat internal Polri menjadi rusak.  Jadi, kalau menghitung profesional tentu dari kemampuan, prestasi, kepribadian, dan keberhasilan. Itu yang bisa menunjukkan. Kalau dibandingkan yang lain, cukup banyak yang dihasilkan Pak Tito. Pendidikan dia juga cukup mendalam, diharapkan bisa betul-betul membenahi Polri. Pembenahan dan reformasi di internal Polri, akan menjadi tantangan besar bagi Tito ke depannya. Hal itu dimulai dari bagaimana Tito mampu menyatukan senior-seniornya dan bagaimana para senior bisa mengikuti kebijakan yang dibuat oleh Tito.

Menurut Anda apakah sudah layak Tito untuk menjadi seorang Kapolri?
Kalau layak atau tidak layak bisa dilihat dari kualifikasinya. Tetapi kalau di lingkungan kepolisian itu juga masih semacam militer ada hirarki, ada hubungan-hubungan yang sifatnya etika khusus di lingkungan kepolisian. Mungkin ini bisa menjadi penghambat. Tetapi biasanya kalau sudah duduki posisi tertinggi itu (calon kapolri, red) meskipun ada senior di bawahnya para senior itu menunjukan kesiapan-kesiapan untuk menjalankan perintah.  Akan tetapi komunikasi yang dilaksanakan dalam rangka bagaimana nanti menerapkan kebijakan-kebijakan yang diterapkan oleh pimpinan polri Pak Tito. Nah ini juga yang perlu diwaspadai. Karena meskipun orang itu boleh percaya tetapi apapun juga karena kebijakan bisa mengganggu dari pada posisi yang bersangkutan. Atau mungkin juniornya itu satu grup. Karena di polisi ada kelompok-kelompok.
Itu kalau mengganggu kinerja kemungkinan dia tidak bisa lancar dalam kebijakan-kebjikan yang diambil bukan oleh Pak Tito. Itu perlu ada cara-cara pendekatan yang tepat. Sehingga kebijakan yang akan diambil bisa benar-benar terlaksana dan bisa mendapatkan masukan yang baik.

Apakah menurut Anda apa yang dilakukan Presiden Jokowi dengan memilih Tito Karnavian merupakansalah satu bentuk dari revolusi mental. Sebab, keputusan Presiden Jokowi ini telah mendobrak ”tradisi” yang selama ini ada di Polri. Yakni, calon kapolri diangkat berdasarkan urutan senioritas?
Logika senior harus didahulukan dan berdasarkan angkatan itu sejak dulu memang ada di tubuh Polri. Hal itu didobrak oleh Jokowi, bahwa siapa yang lebih berprestasi maka mendapat jabatan lebih tinggi. Meski Tito dinilai sebagai junior, ada dua optimisme yang bisa menjawab. Pertama , ini bukan petama kali Tito menduduki jabatan dan membawahi senior-senior. Sepak terjang Tito mendahului angkatan-angkatannya terbukti dengan pekerjaan yang dijalani selama ini. Dari kepala polda hingga kepala BNPT, dia membawahi para seniornya. Dari situ tampak Tito sanggup menjalani.  Kedua, jabatan kepala Polri merupakan jabatan politik yang dipilih presiden dan disetujui DPR. Artinya, jabatan ini didasarkan kepada kemampuan karier dan dilindungi oleh kewibawaan politik karena perlu disetujui oleh DPR. Tito tidak punya kedekatan pada satu parpol saja. Tito cenderung berdiri netral dengan tokoh politik, dekat dengan semua pihak. Karena itu, ini tidak akan menjadi beban. Saya yakin penunjukan ini langsung disikapi dengan persetujuan oleh hampir semua pihak.

Tetapi ada anggapan terlalu jauh Presiden memilih Tito?
Siapa pun yang jadi Kepala Polri, terlepas dari angkatannya, itu pasti akan diterima. Nantinya kita lihat visi dan misi yang dijanjikan Tito untuk Polri saat menjalani uji kelayakan dan kepatutan di Komisi III. Kalau Pak Badrodin kan fit and proper test -nya bicara tentang keadilan restorative. Rekam jejak Tito juga menunjukkan pribadi dengan segudang prestasi.
Meski termasuk dalam jenderal muda di lingkungan Polri, Tito diketahui memiliki pengalaman luas di tingkat nasional dan internasional. Saya rasa tidak ada yang meragukan kemampuannya, hanya yang perlu dipikirkan adalah dia masih tergolong muda. Karena itu, jangan sampai menimbulkan gesekan di dalam Polri karena banyak jenderal di sana yang lebih berpengalaman, lebih senior, dan miliki jaringan politik luar.

Dari pandangan Anda sebagai pengamat kepolisian, sosok Tito Karnavian ini seperti apa?
Kalau dari aspek kualifikasi hanya ada satu di kepolisian yakni  Komjen Pol Awaluddin Djamin MPA. Komjen Awaluddin ini juga pernah menjadi duta besar. Itu perbedaannya. Kalau Pak Tito dari sisi force saat memimpin densus 88 kemunculannya. Kalau Pak Awaluddin, beliau memang publik administration dan ketatanegaraan. Sejak jaman mantan Presiden Soeharto mampu memberikan masukan-masukan terkait adminitrasi negara dalam konteks adminitrasi kepolisian, lebih konsepsional. Kalau Pak Tito nampaknya konsepsinya saya sebagai pengamat belum ada ide besar di dalam rangka menandingi Pak Awaluddin, belum nampak.

Bagaimana dengan prestasinya?
Kalau prestasi saya mengikuti dari media. Yang terakhir kalau di Polda Metro Jaya saat menjabat kapolda. Ia mampu mengatasi teror di Sarinah Jakarta Pusat belum lama ini. Dari sisi lainnya saya melihatnya biasa-biasa saja seperti kapolda-kapolda lainnya. Dan selama bertugas tidak ada catatan drastis misalnya tidak ada rekening gendut dan korupsi, saat pimpin (Polda) Metro ini konsisten. Tidak hebat betul, tapi sudah teruji di Polda Metro.  Tito juga cukup berprestasi dalam penanganan terorisme saat menjabat sebagai komandan Densus 88. Memang perlu ada perbaikan terutama dari sisi pendekatan penanganan kasus. Yang lebih penting, tegas dengan senior yang terbukti bersalah. Inilah tantangan Tito, saya kira berani hadapi senior-senior. Mudah-mudahan tidak segan hadapi senior yang salah. Jangan nanti kompromi.
Semoga Polri menjadi lembaga kepolisian yang lebih baik dan dipercaya rakyat. Dia punya waktu cukup dan kita harapkan punya keberanian untuk membenahi institusi Polri secara mendasar.

Apa tanggapan Anda tentang kunjungan kerja Komisi III DPR ke kediaman Tito?
Walau sah-sah saja, namun kunjungan komisi III bidang hukum DPR RI ke rumah calon Kapolri sangat berlebihan. Kunjungan para anggota komisi tiga bidang hukum ini terbilang berlebihan, meski tidak ada aturan dalam klausul dalam aturan soal fit and proper tes. Namun kehadiran para anggota dewan ini seyogianya dilakukan setelah uji kelayakan menjadi Kapolri telah kelar di laksanakan. Meski demikian, hal tersebut sah sah saja, mengingat tidak adanya aturan baku soal kunjungan kalangan legislator ini, ke kediaman calon Kapolri
.
Apakah sudah tepat Kepala BNPT Komjen Tito Karnavian sebagai calon tunggal pengganti Jenderal Pol Badrodin Haiti?
Tito merupakan sosok bersih jika dilihat dari rekam jejaknya. Selama bertugas tidak ada catatan drastis, misalnya seperti rekening gendut dan korupsi. Selain itu, ketika memimpin Polda Metro juga cukup konsisten dan sudah teruji. Sebagai calon kapolri, Tito terbilang cukup muda dibandingkan para jenderal bintang tiga lain. Kendati demikian, usia muda tak akan menghalangi Tito untuk bersikap tegas. sekali pun terhadap para seniornya. Kita berharap Tito tidak kompromistis. Salah satu pekerjaan rumah yang menanti Tito yakni pembenahan di sektor reserse dan polisi lalu lintas. Tidak sedikit kasus penyalahgunaan wewenang yang terjadi di kedua unit itu. Tentu dengan pengawasan yang ketat, dan juga pengawasan dari eksternal, juga informasi dari media, pengamat, bisa menjadi dasar untuk memperbaiki institusi.

Menururt Anda apakah Komjen Tito Karnavian bisa bekerja profesional agar mampu mewujudkan harapan publik yang tinggi?
Itu dia, beban berat itu. Tapi ya harus bisa memikul beban berat itu dengan profesionalisme, bekerja saja dengan profesional, lepaskan itu interventi-intervensi politik. Saya pandang begini, ini putusan jalan tengah yang terbaik yang dibuat Presiden, berani menaikkan junior. Harapan besar berada di pundak Tito untuk memimpin Polri menjadi lebih baik. Meskipun tergolong junior, dia meyakini Tito mampu profesional, sebab Tito memiliki prestasi dan pengalaman yang bagus selama berkarier di kepolisian.  Namun juga beliau ini akan menghadapi resistensi ke dalam. Ke dalam ini kita harapkan, meskipun dia junior, tetapi melihat penampilannnya kemarin itu saya menduga dia cukup berani untuk mengambil langkah sebagai seorang leader. Keberanian ini saya harapkan terarah sehingga hasilnya ada manfaatnya. Tapi kita mendukung karena reputasi selama ini baik, dan beliau ini seperti kuda hitam, kan enggak nyangka itu kan, yang ramainya kan yang itu-itu saja, akhirnya muncul Pak Tito.
Saya pun berpandangan bahwa pak Tito ini, saya tidak tahu persis ya, semoga benar, tidak terlalu mendekatkan diri ke partai. Saya melihat dia orang yang profesional, dari sekolahnya maupun kerjanya.

Apa tantang paling besar saat Tito memimpin Tribrata 1?
Pak Tito harus bertindak tegas. Jangan ada lagi perlindungan terhadap oknum-oknum yang membiarkan munculnya tindakan intoleransi.

Bagaimana cara Tito berkomunikasi dengan para senior yang dibawahinya?
Kalau sudah jadi Kapolri dia tidak akan kesulitan dalam berkomunikasi tetapi apakah komunikasi itu benar-benar bisa berjalan terbuka atau tulus saya kira belum tentu. Tito bakal menghadapi tantangan internal saat memimpin Polri. Dari pengimplementasian doktrin Tribata sekaligus merekstrukturasi keorganisasian Polri yang mencakup promosi-mutasi perwira yang sedang mengantre pangkat bintang setelah lulus sespati/lemhanas. Hambatan senioritas di lingkungan Polri yang perlu dikelola secara tepat sehingga bisa terbuka suatu kebersamaan dalam membenahi organisasi Polri. Semua itu perlu prioritas dan kesinambungan dalam implementasi.#

Majalah FORUM Edisi No. 10, tanggal 27 Juni – 17 Juli 2016

Comments are closed.