Pemberontakan Bilik Asmara

kini.co.id//terpidana Nuaim Ba'asyir dikawal brimob
Terpidana Nuaim Ba’asyir dikawal Brimob (kini.co.id)

Karena lembaga pemasayarakatan di Indonesia belum menyediakan bilik asamara atau tempat untuk menyalurkan hasrat seks para narapidana, muncullah bisnis seks gelap di ruang-ruang penjara. Bisnis tersebut melibatkan para sipir penjara, karena mendatangkan rejeki lumayan besar. Senin, 11 Juli 2016, Narapidana terorisme Nu’aim Ba’asyir, mengamuk di Lapas Klas II A Pamekasan, Madura, Jawa Timur. Duduk perkaranya karena dia dia tidak mendapat fasilitas ‘Bilik Bercinta’, guna memenuhi hasrat asmaranya terhadap istrinya.

Nu’aim mengancam keamanan Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Narkotika Kelas II-A Pamekasan. Itu setelah permintaan fasilitas bilik asmara ditolak petugas. Alkisah, Sabtu 9 Juli 2016 sekitar pukul 09.30, istri Nu’aim Baasyir berinisial N mendatangi lapas.

Sekitar tiga puluh menit kemudian, warga Kampung Padangan, Joyotakan RT 03 RW 04 Serengan, Solo, Jawa Tengah itu meminta pelayanan bilik asmara kepada petugas. Namun, permintaan itu tidak diladeni. Nu’aim  yang pernah mendekam di LP Cipinang, Jakarta, itu pun marah. Sekitar pukul 10.15 mulai melakukan protes berbau ancaman. Pihak lapas segera melakukan antisipasi. Puluhan personel polisi berseragam lengkap didatangkan.

Pukul 19.40 Nu’aim Baasyir dipindah ke Lapas Kelas II-B Tuban. Itu setelah petugas berkoordinasi dengan Kantor Wilayah Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkum HAM) Jawa Timur. Pria yang divonis enam tahun itu diantar menggunakan ambulans lapas warna putih B 1633 SHX. Selama perjalanan dikawal mobil Toyota Kijang warna perak M 429 AP dan Suzuki Ertiga putih F 331 TI. Tiga kendaraan beriringan sejak keluar dari Lapas Kelas II-A Pamekasan menuju Tuban.

Kepala Lapas Kelas II-A Pamekasan Bambang Eko Putro melalui Humas Lapas Restu Wedy Lutfianto mengatakan, Nu’aim Baasyir dipindah karena dinilai mengancam keamanan lapas. Yang bersangkutan mengancam akan menyerang lapas melalui jaringannya. ”Karena dia melakukan ancaman, kami melakukan antisipasi dengan meminta bantuan polisi untuk berjaga-jaga,” ucapnya.

Restu Wedy Lutfianto menjelaskan, penolakan pemberian fasilitas bilik asmara memang pantas dilakukan. Sebab, belum ada aturan yang mengatur fasilitas itu di dalam lapas. Oleh karenanya, petugas tidak menyediakan. Bahkan, fasilitas itu tidak diberikan kepada siapa pun di lapas.  ”Sampai saat ini tidak ada aturan membolehkan adanya bilik asmara. Ini berlaku kepada siapa pun. Sebab, narapidana tidak dimerdekakan urusan hubungan suami istri di dalam penjara,” katanya.

Tapi tuntutan untuk disediakan bilik asmara memang sudah lama diperdengarkan. Pada Juli 2013 penyanyi dangdut  Septi Sanustika yang juga istri Ahmad Fathanah, terdakwa suap impor sapi di Kementan, mengaku telah menyiapkan surat permohonan ke KPK mengenai fasilitas ‘bilik asmara’ bagi tahanan. Surat itu sedang dibuat tim kuasa hukumnya. “Sudah proses dibikin, nanti akan diserahkan ke KPK. Kita baru rencana saja, sih,” kata Septi selepas membesuk suaminya di Rutan Gedung KPK, Jl. HR Rasuna Said Kav. C-1, Jakarta Selatan, Kamis 18 Juli 2013.
Dia pun memperkirakan surat tersebut akan segera rampung dan bisa dikirimkan secara resmi ke KPK pada pekan depan. Kalau selesai akan segera langsung diajukan ke KPK.

Tetapi Ketua Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) waktu itu, Abraham Samad, menegaskan tidak akan memberikan izin adanya ‘bilik asmara’. Ia pun yakin penolakannya ini tidak melanggar HAM. “Tidak bisa karena tidak ada ketentuannya, jadi tidak bisa. Ya namanya orang di penjara kebebasannya harus dibatasi, tidak boleh bebas seperti orang di luar,” kata Samad, Kamis 18 Juli 2013. “Ini tidak melanggar HAM. Kalau mau bilik asmara itu di luar, kita tidak beri izin,” tambahnya.

Sementara itu, juru bicara KPK, ketika itu Johan Budi, menegaskan pihaknya tidak dapat mengabulkannya. Johan malah meminta Septi agar menahan diri. Johan Budi Sapto Prabowo, juga menambahkan, selama ini KPK tidak pernah menyediakan fasilitas bilik bercinta untuk tahanan. Termasuk memenuhi keinginan pengunjung supaya bisa berhubungan intim dengan pasangannya yang sah yang ditahan karena kasus korupsi. Yang disedakan KPK hanyalah ruang tatap muka.

Karena tidak ada bilik asmara secara resmi, terjadilah skandal yang menggemparkan. Vanny Rossyane, model sebuah majalah dewasa, pada Juli 2013 membuat geger publik dan Kementerian Hukum dan HAM. Dia membongkar tabir skandal narkoba dan seks di Lapas Cipinang. Perempuan 22 tahun ini secara blak-blakan mengaku kerap berhubungan seks dengan mantan kekasihnya, terpidana mati gembong narkoba Freddy Budiman. Dia juga bercerita kerap memakai sabu di dalam LP Narkotika Cipinang selama menjenguk Freddy sejak Desember 2012 sampai Mei 2013.

Skandal ini kemudian ramai diberitakan media nasional dan asing. Apalagi Vanny kemudian mengklaim bahwa  salah satu ruangan yang dia pakai untuk pesta seks dan sabu di Lapas Cipinang adalah ruangan kalapas yang saat itu dijabat Thurman Hutapea. Untuk memperkuat omongannya, Vanny menunjukkan bukti berupa beberapa foto yang dia disebutnya sebagai ‘ruangan kalapas’. Thurman yang kemudian dicopot dari jabatannya membantah semua tudingan Vanny.

Dia menegaskan ruangannya tidak pernah dipakai sebagai bilik asmara oleh Freddy dan Vanny. Model majalah dewasa ini bahkan menantang sumpah pocong Thurman untuk membuktikan ucapannya. Tidak hanya Thurman, ‘nyanyian’ Vanny juga membuat Freddy sang narapidana ikut dipindahkan ke Lembaga Pemasyarakatan Klas IIB Nusakambangan, Cilacap, Jawa Tengah.

Di dunia maya juga beredar tulisan tentang bisnis prostitusi di lingkutan Rumah tahanan Salemba. Tulisan yang diposting pada Desember 2007 itu menceritakan bahwa kafetaria di Rutan Salemba memang sudah menjadi “pangkalan” bagi para Jablay, sebutan untuk perempuan pekerja seks komersial (PSK). Mereka datang khusus untuk melayani para napi di Rutan Salemba.

Kafetaria itu letaknya persis di samping pintu masuk Rutan. Tempat itu menjadi ruang tunggu bagi pembesuk yang ingin menjenguk napi. Untuk masuk ke kafetaria, pembesuk diwajibkan melapor ke pos penjaga di pintu utama, dengan menaruh tanda pengenal. Setelah diberi kartu pass Rutan Salemba berikut stempel warna merah di tangan, pembesuk disuruh masuk ke ruang kafetaria untuk menunggu sambil melapor ke ruang pendaftaran, yang ada di area kafetaria.

Ruang tunggu dan pendaftaran di rutan Salemba tempatnya lumayan luas, Lantainya bersih, dan suasananya nyaman. Menurut beberapa sipir setempat, ruang tunggu di Rutan Salemba merupakan tempat yang paling bagus dibanding penjara-penjara lain di Indonesia.
Ruangan seluas 10 x 6 meter tersebut juga dilengkapi warung kecil yang menjual aneka makanan dan minuman ringan. “Kalau mau beli kondom juga ada di kantin itu,” ujar Ayu – bukan nama sebenarnya — Jablay yang biasa mangkal di Rutan Salemba.

Ayu mengaku dirinya tidak merasa risih berada di area penjara, yang notabene tempat para pelaku kejahatan mendekam. Bahkan ia merasa sangat aman beroperasi di sana . Sebab pelanggannya tidak berani macam-macam. Apalagi ia dan teman-teman seprofesi mendapat jaminan keamanan dari para sipir di rutan tersebut.

Keberadaan para jablay ini memang jadi berkah tersendiri bagi para sipir. Selain mendapatkan uang dari sewa ruangan untuk ber ah uh ria, beberapa diantaranya ada juga yang merangkap sebagi calo. Para sipir seperti ini biasanya menawarkan jasa pelayanan seks kepada para napi di Rutan salemba. Ia akan mendapat bagian dari Jablay Rp50 ribu sampai Rp100 ribu per sekali transaksi.

Tarif para Jablay yang beroperasi di Rutan Salemba berkisar Rp200 ribu hingga Rp300 ribu, per sekali kencan, tergantung negosiasi. Soal ruangan tempat yang disediakan terdiri dari beberapa kelas. Ada kelas eksekutif, bisnis, dan ekonomi. Sebab di Rutan itu ada beberapa ruangan yang bisa dijadikan tempat pelepasan hasrat seksual napi. Misalnya di ruang Bagian Hukum dan Pelayanan tahanan (BHPT), ruang penyidikan, atau di ruang meeting sipir. Masing-masing ruangan dilengkapi matras dan kipas angin. Ruangan ini disebut kelas bisnis.

Majalah FORUM Keadilan Edisi No.11, tanggal 18 Juli 2016

Comments are closed.