Tragedi di Markas Gay

Petugas FBI menyelidiki dinding belakang klub malam gay Pulse di Kota Orlando, Florida, AS, Minggu (12/6). Penembakan brutal yang dilakukan Omar Mateen di klub tersebut menewaskan 50 orang dan melukai 53 lainnya. (Joe Raedle/Getty Images/AFP)
Petugas FBI menyelidiki dinding belakang klub malam gay Pulse di Kota Orlando, Florida, AS, Minggu (12/6). Penembakan brutal yang dilakukan Omar Mateen di klub tersebut menewaskan 50 orang dan melukai 53 lainnya. (Joe Raedle/Getty Images/AFP)

Klub malam gay diberondong, 50 pengunjungnya tewas. Tragedi ini dipolitisir untuk mengucilkan penduduk muslim di Amerika Serikat.
Aksi penembakan brutal terjadi di klub malam Pulse di Orlando, Florida, Amerika Serikat, Minggu dinihari. Pelakunya Omar Mateen, pria yang memiliki garis keturunan Afghanistan. Mateen sendiri turut tewas setelah ditembak polisi setempat.

Penembakan brutal yang dilakukan Mateen ini, tercatat sebagai kasus paling mematikan dalam sejarah Amerika Serikat. Polisi memastikan Mateen menggunakan dua jenis senjata, yakni senapan serbu dan pistol. Kuat dugaan pria kelahiran New York yang memiliki darah Afghanistan dari ayahnya ini, juga memiliki bahan peledak.

Walikota Orlando, Buddy Dyer menilai skala kejahatan ini sangat besar. Sebanyak 50 orang tewas mengenaskan, 53 lagi terluka. Itulah sebabnya, Buddy meminta gubernur negara bagian untuk menyatakan keadaan darurat. “Kami juga menetapkan keadaan darurat di Orlando, sebagai upaya mengatasi dampak peristiwa ini,” jelasnya.

Polisi memastikan Omar Mateen pelaku tunggal penembakan. Diketahui sejak 2007, Mateen bekerja sebagai petugas keamanan bersenjata untuk perusahaan bernama G4S.

Menurut mantan istrinya, sejak itu Mateen langsung memiliki sebuah pistol kaliber kecil. Mateen juga pernah bekerja sebagai penjaga di sebuah fasilitas untuk anak-anak nakal tak jauh dari tempat tinggal mereka.

Wanita yang identitasnya masih dirahasiakan ini menggambarkan prilaku Mateen sebagai pria labil yang suka melakukan kekerasan dan telah memukulnya berulang kali. Pasangan ini menikah di Fort Pierce pada 2009 setelah bertemu secara online. Rentetan penganiayaan ini membuat pernikahan mereka kandas tahun 2011. “Dia sering memukul saya. Dia bisa memukuli saya hanya karena cucian belum selesai atau alasan-alasan kecil seperti itu,” ujarnya.

Pejabat FBI mengatakan, pria 29 tahun itu dicurigai menganut paham ideologi Islam radikal karena pernah dilaporkan menyatakan kesetiaannya kepada kelompok Negara Islam atau ISIS. Ia pun sempat dicurigai memiliki hubungan dengan Moner Mohammad Abu-Salha, warga AS yang melakukan serangan bom bunuh diri dalam konflik Suriah.

Terkait dua kecurigaan itu, Mateen pun pernah dua kali berurusan dengan FBI pada tahun 2013 dan 2014. Namun, penyelidikan dihentikan karena petugas tidak bisa mendapatkan bukti. “Penyelidikan FBI tidak menemukan hubungan substansial antara Mateen dan Abu-Salha dan kasus itu ditutup,” kata Agen Khusus Hopper.

Terlepas dari itu, polisi meyakini kalau Mateen telah merencanakan dan menargetkan kelab malam khusus gay itu sebagai sasarannya. Kecurigaan semakin berkembang karena terungkap kalau Mateen menyewa sebuah mobil menuju Orlando untuk melaksanakan serangannya.
Sejumlah media AS mulai mengaitkan perubahan nama yang dilakukan Mateen pada tahun 2006. Ketika itu ia mengajukan permohonan perubahan nama dari Omar Mir Seddique menjadi Omar Mir Seddique Mateen. Media massa juga mulai mengaitkan kalau ayahnya, Seddique Mateen, yang memiliki sebuah acara televisi di stasiun berbasis di California ternyata berhaluan anti pemerintah Pakistan dan bersimpati pada Taliban Afghanistan.

Dalam serangkaian foto media sosial, Mateen terlihat mengenakan T-shirt bertuliskan Departemen Kepolisian New York lengkap dengan lambangnya. Namun, NYPD mengatakan Mateen tidak ada kaitannya dengan mereka dan baju itu adalah barang tak resmi yang bisa dibeli di toko manapun.

Banyak saksi mengatakan kalau Mateen ternyata pengunjung rutin di kelab tersebut. Beberapa yang mengenalnya bahkan mengaku sempat terlibat langsung dalam pembicaraan atau sekadar menyapa. Di luar itu, ada pula yang mengenal karakter, sifat, atau ciri fisik lainnya.
Mateen juga muncul dalam aplikasi kencan gay, sebuah aplikasi khusus untuk kelompok gay yang melakukan kencan online atau dalam jaringan (daring). Menurut para saksi mata, sebelum serangan pada Minggu (12/6/2016) pukul 02.00 dini hari waktu di Orlando, Mateen mengunjungi kelab malam gay Pulse di Orlando. “Dia pergi ke bar ini, setidaknya dalam tiga tahun ini,” kata Chris Callen, salah satu pelanggan kelab yang mengenal Mateen.

Ty Smith, seorang gay yang telah menikahi sesama gay Callen dan kini menggunakan nama Kristina McLaughlin, juga sering melihat Mateen di kelab malam gay Pulse. Kadang-kadang Mateen duduk di pojok dan minum sendiri. Di lain waktu, dia mabuk dan menjadi sangat kasar. “Kami tidak benar-benar berbicara banyak dengan dia, tetapi saya ingat dia berbicara tentang ayahnya suatu ketika. Dia bilang, dia punya istri dan anak,” kata Smith.

Ayah Mateen, Seddique Mateen membantah tudingan puteranya sebagai gay. Justru sebaliknya, Mateen sangat risih dengan prilaku gay. Beberapa waktu lalu, Mateen sempat marah ketika melihat dua pria berciuman di Miami. “Dia menyaksikan peristiwa itu, dan menjadi sangat marah. Mereka saling berciuman dan meraba-raba satu sama lain, lalu Omar bilang, ‘Lihat itu, di depan anak saya mereka melakukan itu’,” ungkap Seddique.

Ia menegaskan, serangan itu hanya sebuah tindakan individu yang tidak ada hubungannya dengan agama ataupun kelompok radikal. “Kami memohon maaf untuk semua insiden ini. Kami sama sekali tak menduga akan ada perbuatan itu. Kami pun sama kagetnya dengan seluruh penduduk di negeri ini,” katanya lagi.

Meski dibantahnya, warga AS sudah terlanjur marah dan mengaitkan serangan itu dengan umat muslim. Kaum minoritas muslim Fort Pierce, kampung Omar Mateen di Florida, menjadi target kebencian. Dilaporkan, beberapa warga muslin di sekitar Fort Pierce Islamic Center (FPIC) mendapat perkataan tidak senonoh yang dilontarkan warga. “Kami takut. Orang-orang di sekitar mengecam dan mengeluarkan kata-kata tak senonoh ” kata Bedar Bakht, seorang imigran Pakistan.

Intimidasi ini membuat masyarakat muslim Florida tidak senyaman sebelumnya. Setiap kali akan berbuka puasa, selalu tampak banyak muslim datang ke masjid. Namun, sekarang sepi karena hanya tiga atau empat orang yang terlihat. Biasanya, mereka baru meninggalkan masjid menjelang tengah malam. Kini, mereka pulang lebih awal dan secara berkelompok. Warga berharap situasi bisa kembali normal secepatnya. “Kondisi sekarang belum normal. Orang-orang di sekitar mengecam dan mengeluarkan kata-kata tak senonoh,” katanya.

Bakal calon presiden dari Partai Republik, Donald Trump menyatakan insiden di Orlando menjadi bukti perlunya pengawasan ketat terhadap komunitas-komunitas muslim dan masjid-masjid di AS. “Kita harus mengawasi masjid-masjid dan kita juga harus mengawasi komunitas Islam. Dan, percayalah kepada saya, komunitas Islam mengetahui orang-orang yang berpotensi untuk meledak,” ujarnya.

Pendapat ini langsung disanggah lawan politiknya, Hillary Clinton. Kandidat dari Partai Demokrat ini mengimbau warga AS tidak saling menyalahkan dan tidak menjadikan insiden itu sebagai alasan untuk membenci kelompok agama tertentu.

Di sisi lain, Hillary tetap setuju dengan kebutuhan langkah yang lebih tegas untuk mencegah aksi serangan individual dan lebih mengawasi dunia maya. Meski begitu, keduanya sependapat kalau penembakan ini tidak akan terjadi bila regulasi penggunaan senjata disusun secara ketat.

Pandangan Trump juga dikritik Presiden AS, Barack Obama. Tidak seharusnya Trump mengaitkan insiden ini dengan Islam dan kemudian melarang muslim datang ke AS. Pembunuhan massal ini menurutnya menjadi pengingat kembali mengenai betapa mudah mendapatkan senjata mematikan di Amerika Serikat. “Pelaku tampaknya bersenjatakan pistol dan senapan serbu berkekuatan tinggi. Pembunuhan massal ini, menjadi pengingat tentang betapa mudah seseorang mendapatkan senjata yang memungkinkan mereka menembak orang-orang di sekolah, tempat ibadah atau gedung bioskop atau di kelab malam,” kata Obama. Zainul Arifin Siregar/FORUM

Majalah FORUM Keadilan edisi no. 09, tanggal 20 Juni 2016

Comments are closed.