Sinabung Terus Meraung

Korban awan panas Sinabung (Zainul Arifin Siregar)
Korban awan panas Sinabung (Zainul Arifin Siregar)

Gunung Sinabung di Kabupaten Karo, Sumatera Utara bergejolak lagi. Debu vulkanis dan awan panas yang disemburkannya telah merenggut 24 korban jiwa.

Korban paling anyar jatuh pada Sabtu pekan lalu, akibat terjebak awan panas yang kembali disemburkan gunung tertinggi di Sumatera Utara itu. Sebanyak sembilan pengungsi tejebak awan panas setelah nekat menerobos masuk ke Desa Gamber, Kecamatan Simpangempat, Karo, yang meupakan zona merah atau berbahaya. Jarak mereka yang hanya empat kilometer dari puncak gunung membuat langkah mereka tidak bisa menandingi kecepatan sapuan awan panas.

Akibatnya, tujuh pengungsi, Karman Meliala, Irwansyah Sembiring, Nani br Sitepu, Leo Perangin-angin, Ngulik Ginting, Ersada Ginting dan Ibrahim Ginting meninggal akibat mengalami luka bakar yang sangat parah. Sementara dua pengungsi lainnya, Cahaya Sembiring dan Cahaya br Tarigan terbilang beruntung karena lolos dari maut. Meski begitu, keduanya harus dievakuasi ke RSUP Adam Malik, Medan karena mengalami luka bakar yang tak kalah parah.

Kepala Pusat Data dan Informasi BNPB, Sutopo Purwo Nugroho mengatakan Gunung Sinabung meletus disertai luncuran awan panas sekira pukul 16.48 WIB.  Tim SAR gabungan dari TNI, Polri, Basarnas, BPBD, PMI, relawan dan masyarakat yang mendapat informasi adanya warga di zona merah langsung melakukan pencarian korban dengan menyisir rumah dan kebun masyarakat.

Seharusnya kata Sutopo, tidak ada aktivitas masyarakat di Desa Gamber yang dinyatakan sebagai daerah berbahaya atau zona merah. Sejak akhir Oktober 2014, Desa Gamber telah direkomendasikan sebagai daerah berbahaya dan masyarakatnya harus direlokasi ke tempat yang lebih aman. Masih ada tiga desa lagi yang dinyatakan zona berbahaya, yakni Kutatonggal, Gurukinayan dan Berastepu. Sat ini seluruh penduduknya sebanyak 1.683 KK atau 4.967 jiwa telah diungsikan.

Pada tahun 2014, korban jiwa akibat sapuan awan panas mencapai 15 orang. Kala itu korban tidak hanya berasal dari pengungsi, tapi sebagian berstatus mahasiswa dari Medan yang sedang melakukan tugas kuliah. Dua korban lainnya tewas ketika gunung setinggi 2.600 meter ini baru mulai bereaksi pada Agustus 2010.

Banyak pihak yang menyayangkan jatuhnya korban jiwa ini. Opini warga pun terbelah, sebagian menyalahkan pemerintah yang tidak serius menangani pengungsi erupsi Sinabung. Sebagian lagi membebankan kesalahan ini kepada warga karena terlalu nekat mengabaikan tanda bahaya yang sudah disosialisasikan pemerintah.

Terlebih sejak Gunung Sinabung meletus pada 2010, sejumlah jalur masuk ke desa yang dinyatakan zona bahaya sudah dijaga TNI dan dipasangi portal. Namun tetap saja ada warga yang nekat menerobos dengan alasan berbeda. Umumnya mereka menggunakan jalur tikus, sehingga tidak terpantau oleh petugas.

Personel Koramil Simpangempat yang berjaga di portal di Kuta Tengah, Sertu N Tarigan menyebutkan sat ini ada enam portal yang masing-masing dijaga dua personel TNI. Setiap harinya, mereka betugas mulai pukul 07.00 WIB sampai 17.30 WIB. Diakuinya malam hari tidak ada penjagaan, karena sosialisasi bahaya erupsi Gunung Sinabung sudah dilakukan secara maksimal.

“Warga kan sudah tahu. Sebenarnya kalau tidak dijaga pun mereka harus mematuhi larangan masuk zona merah. Kalau ada yang masuk malam, ya terserah dan tanggung sendiri akibatnya,” kata Tarigan.

Meski ditugasi melarang keras warga masuk ke zona merah, terkadang Tarigan dan rekannya memberi kelonggaran. Sebab tidak sedikit penduduk yang mengiba agar bisa diizinkan melintas dengan alasan hanya sekadar melihat kondisi rumah dan ternaknya.

Mengenai jalur tikus, Tarigan sama sekali tidak bisa memantaunya karena keterbatasan pesonel. Sebab tugas dari atasannya, mereka hanya diminta siaga di pos yang didirikan di dekat portal. “Ada juga yang ingin mengambil beras, kentang dan lainnya yang tertinggal. Juga ada yang ingin mengambil perabotan. Tetap ada pertimbangan kemanusianlah,” tandasnya.

PVMBG juga telah merekomendasikan Desa Gamber tidak boleh ada aktivitas masyarakat karena berbahaya dari ancaman awan panas, lava pijar, bom, lapilli, abu pekat dan material lain dari erupsi. Namun sebagian masyarakat tetap nekat berkebun dan tinggal sementara waktu sambil mengolah kebun dan ladangnya. Masyarakat selalu menjadikan alasan ekonomi sebagai faktor utama yang menyebabkan mereka tetap nekat melanggar larangan masuk ke desanya. Padahal sejauh ini Gunung Sinabung masih terus menunjukkan keperkasaanya dengan terus mengeluarkan lava pihar. Pada Kamis pekan lalu, erupsi yang terjadi memuntahkan materal vulkanik ke kawasan sekitar Desa Sukandebi yang berjarak sekitar enam kilometer dari kawasan bahaya, kembali diselimuti abu vulkanik.

Kasubbid Pengamatan dan Penyelidikan Gunung Api Wilayah Barat Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Goelogi (PVMBG), Hendra Gunawan menyebutkan sejak awan panas yang merenggut tujuh korban tewas terjadi 21 Mei lalu, letusan disertai gempa vulkanik dan awan panas masih terus terjadi. Ia mengategorikan aktivitas Gunung Sinabung tetap tinggi.

Data di Pos Pengamatan Gunung Api Sinabung, grafik letusan terus meningkat. Frekuensinya bisa mencapai delapan bahkan sepuluh kali dalam sehari. “Trennya terus tetap naik, tapi pelan, sehingga tidak disadari dan kita merasa aman,” ujar Hendra.

Erupsi yang terjadi bisanya menimbulkan kolom setinggi1.500 meter, mengarah ke timur. Sedangkan luncuran awan panas sekitar 700 meter. “Adanya suplai magma dari perut Gunung Sinabung maka guguran lava yang menghasilkan awan panas umumnya terjadi setelah pertumbuhan kubah lava. Awan panas ini merupakan campuran material berukuran debu hingga blok bersuhu lebih dari 700 derajat Celsius yang meluncur dengan kecepatan bisa di atas 100 kilometer per jam,” timpal Sutopo Purwo Nugroho.

Kepala Bidang Darurat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Karo, Nata Nail menambahkan, akibat terus meiningkatnya aktivitas ini, ada kemungkinan tiga desa lain yang akan dikosongkan, yakni Desa Bakerah, Simacem, dan Sukameriah. Para pengungsi diberikan bantuan sewa rumah sebesar Rp 3,6 juta per KK per tahun dan sewa lahan pertanian sebesar Rp 2 juta per KK per tahun.
Selama enam tahun terakhir, aktivitas Gunung Sinabung nyaris tak pernah absen setiap tahun. Pada Juni 2015, muntahan awan dan gas panas dengan kecepatan tinggi meluncur ke lereng gunung sehingga sebanyak 3.000 orang diungsikan.

Deputi Rehabilitasi dan Rekosntruksi BNPB, Hermansyah menganggap uang bantuan atau jaminan hidup dari pemerintah ini seharusnya dikelola warga dengan baik agar tidak kembali beraktivitas di desanya yang sudah dicap berbahaya. “Tujuan pemberian jaminan hidup ini ya untuk itu. Agar warga yang diungsikan bisa berakativitas di tempat lain,” tandasnya.

Pendapatnya ini langsung disanggah warga. Seorang pengungsi, Sembiring bahkan mengajak pemerintah menghitung bersama warga mengenai dana yang dibutuhkan untuk bertani.  Menurutnya, bantuan pemerintah sangat kurang karena total yang diterimanya hanya Rp 5,6 juta untuk sewa rumah dan lahan. Padahal, untuk rumah saja dibutuhkan anggaran Rp 2,5 juta setahun. Sementara harga sewa satu hektar lahan saat ini sudah mencapai Rp 5 juta per tahun. “Ini belum bibit, pupuk dan lain-lain untuk perawatan. Paling tidak kalau mau menanam cabai butuh Rp 30 juta,” bebernya.

Faktor inilah yang dinilainya membuat warga membandel sehingga nekat mempetaruhkan nyawa untuk mengolah lahan di desa berstatus zona merah. Diamengakui dirinya bersama bebearapa temannya tetap nekat mendekat kaki gunung untuk mengolah lahan pribadi mereka. Mereka sadar terlalu riskan terkena awan panas yang bisa berjung pada kematian. Namun hidup di pengungsian tanpa kepastian juga membuat mereka serasa mati suri.

Zainul Arifin Siregar/FORUM

Comments are closed.