Remote Pengendali Curangi Konsumen SPBU

Tim Subdit III Sumdaling Ditkrimsus Polda Metro Jaya menunjukan alat yang digunakan untuk kejahatan pengurangan takaran volume pengisian BBM//ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/pd/16
Tim Subdit III Sumdaling Ditkrimsus Polda Metro Jaya menunjukan alat yang digunakan untuk kejahatan pengurangan takaran volume pengisian BBM//ANTARA FOTO/Muhammad Iqbal/pd/16

Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya membongkar praktek kecurangan SPBU. Menggunakan pengendali jarak jauh untuk mengakali takaran. Modus baru.

Suasana di Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) di Jalan Raya Veteran, Rempoa, Tangerang Selatan berbeda dari SPBU kebanyakan. SPBU itu terlihat sepi, tidak ada aktivitas pengisian di tempat itu. Sepinya SPBU 34-12305 lantaran Pertamina mencabut izin operasi SPBU tersebut, terbaca jelas di bagian depan tertulis ‘SPBU Ini Dalam Pembinaan PT Pertamina (Persero)’.

Pencabutan izin tersebut merupakan buntut dari penggerebekan yang dilakukan Direktorat Kriminal Khusus Polda Metro Jaya. Kasubdit Sumber Data Lingkungan (Sumdaling) Direktorat Reserse Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, AKBP Adi Vivid mengatakan penindakan itu dilakukan setelah kepolisian mendapat banyak laporan dari masyarakat yang mengatakan SPBU tersebut diduga berbuat curang. “Pengungkapan ini setelah kami mendapat laporan dari masyarakat yang merasa dicurangi, biasanya isi bensin untuk motor Rp 20.000 penuh tapi di SPBU ini tidak penuh,” ujar Adi di lokasi tersebut, Senin 6 Juni 2016 lalu.

Adi menambahkan dari pengungkapan itu diamankan lima orang petugas SPBU tersebut. Kelima orang yang diamankan berinisial BAB (47), AGR (34), D (44), W (37) dan J (42). “Tersangka ini, dua orang operator dan tiga orang pengelola. Sedangkan pemiliknya masih dalam pemeriksaan,” ucapnya.

Adi menuturkan, para pelaku mengurangi takaran BBM menggunakan alat tambahan yang dipasangkan di dispenser pengisian BBM. Selain itu, para pelaku mengontrol alat tersebut menggunakan remote agarjika ada razia mesin bisa dikembalikan menjadi normal. “Ini temuan canggih, para pelaku bisa mengontrol menggunakan remote. Kalau alat ini aktif, kita misalkan isi bensin 20 liter tetapi ternyata setelah dicek di bejana tera hanya ada 17 liter,” ujarnya.

Dari pengungkapan kasus ini polisi menyita barang bukti berupa satu unit digital regulator stabilizer untuk mempengaruhi daya arus listrik yang mengalir dari dispenser pengisian BBM ke kendaraan bermotor, dua unit remote control sebagai pengendali untuk mematikan mesin regulator stabilizer dan tiga unit alat komponen tambahan yang dimasukkan ke dispenser pengisian BBM untuk mempengaruhi putaran mesin sehingga jumlah BBM yang keluar dari nozzle tidak sebagaimana mestinya.

Berdasarkan hitungan sementara, pelaku bisa mendapatakan keuntungan sekitar Rp6 juta,  ini berarti dalam setahun para pelaku bisa meraup untung dari kecurangan tersebut sebesar Rp21 miliar.

Atas perbuatannya para pelaku terancam dijerat Pasal 62 ayat (1) juncto Pasal 8 ayat (1) huruf a, b dan c, Pasal 9 ayat (1) huruf d, Pasal 10 huruf a Undang-Undang RI nomor 8 tahun 1999 tentang perlindungab konsumeb dan Pasal 32 ayat (2) juncto Pasal 30 dan Pasal 31 UU RI nomor 2 tahun 1981 tentang metrologi legal dengan ancaman hukuman pidana paling lama lima tahun penjara.

Polisi akan terus mengembangkan kasus ini, seperti yang disampaikan Kasubdit Sumdaling Dit Reskrimsus Polda Metro Jaya AKBP Sutarmo yang baru saja menggantikan Kasubdit sebelumnya  menduga pemilik SPBU Rempoa itu memiliki banyak cabang.

Untuk mencegah kembali terjadi tindak penipuan, kata dia, pihaknya akan rutin menggelar inspeksi mendadak sejumlah SPBU yang ikut melakukan praktik penipuan dalam pengisian BBM. “Kalau razia, saya tak boleh bicara di sini nanti ada yang kabur. Jelas, kami tak menentukan waktunya kita lakukan operasi secara terus menerus,” ujarnya.

Jika pemilik  diketahui memiliki SPBU di tempat lain, apakah kecurangan juga terjadi di SPBU lainnya, dan apakah kecurangan yang terjadi murni inisiatif karyawan, atau diketahui oleh pemiliknya?

Menjawab itu, Wakil Direktur Kriminal Khusus AKBP Hengki Haryadi mengatakan patut diduga, praktek curang itu juga dilakukan di SPBU lain, kemungkinan-kemungkinan di tempat lain juga terjadi. “Tim Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya terus melakukan pengembangan terhadap kasus ini. Kami masih terus mendalami pemeriksaan terhadap kelima tersangka. Nanti dikembangkan dan kami akan melakukan pemeriksaan terhadap pemiliknya apakah ada perintah, keterlibatan atau murni inisiatif pegawainya,” ujarnya.

Hal yang sama ditegaskan Direktur Kriminal Khusus Polda Metro Jaya, Kombes Pol Fadil Imran kepada FORUM, bahwa pihaknya terus melakukan pengembangan pada kasus tersebut. “Dan bukan hanya SPBU terkait kasus ini saja, SPBU yang lain juga kami akan selidiki. Untuk kasus SPBU Rempoa kami akan lakukan pengembangan. Begini, pemilik SPBU nya tidak bermain, karyawanya bermain. Karyawanya tidak pengurusnya yang bermain jadi semuanya kita telusuri dan selidiki. Intinya semua kasus yang terkait kecurangan di SPBU kita kembangkan.”

Pemilik SPBU yang tidak disebutkan namanya itu telah dimintai keterangan oleh penyidik Subdit Sumdaling Ditreskrimsus Polda Metro Jaya pada Kamis (9/6) kemarin. “(Ditanya) 27 pertanyaan terkait kegiatannya selama di SPBU,” imbuh Fadil. Lebih jauh Fadil mengatakan pihaknya belum memiliki bukti untuk menetapkan pemilik SPBU sebagai tersangka.

Lalu apa kata Pertamina? General Manager Pertamina Jawa Bagian Barat Jumali dalam jumpa pers di SPBU Pertamina 31.102.02 di Jl Abdul Muis, Budi Kemuliaan, Jakarta Pusat, Selasa 7 Juni 2016 mengatakan kecurangan di SPBU 34-12305 di Jalan Raya Pahlawan, Rempoa Raya, Ciputat, Jakarta Selatan, merupakan modus baru dan cukup canggih. Untuk mencegah praktik haram itu terulang, Pertamina akan menangkalnya dengan teknologi canggih. “Kami mengantisipasi dengan akan menggunakan peralatan IT yang canggih juga. Makanya nanti ke depannya akan ada vendor dispenser dan bekerjasama dengan perusahaan IT agar kami lebih waspada,” katanya.

Jumali menuturkan, pihaknya telah melakukan audit di SPBU 34-12305 pada bulan Januari-Mei 2016 dan hasilnya bagus. “Tapi ternyata oknum-oknum tersebut menggunakan teknologi canggih untuk mengelabui Pertamina dan kepolisian,” kata Jumali.

Pengelola SPBU itu mengurangi takaran dengan menggunakan alat yang memakai remote control. Jika ada uji tera, maka remote control akan dimatikan sehingga takaran dinyatakan baik. Tapi setelah petugas pergi, maka remote control dinyalakan sehingga takaran menjadi berkurang. “Modus ini memang modus baru, cukup canggih menggunakan remote pengendali jarak jauh dan matching dengan pengecekan kita 4 bulan berturut-turut. Ini artinya dia bisa mengatur kalau mendadak ada pemeriksaan atau sidak ke SPBU-SPBU,” papar Jumali.

Direktur Pemasaran Pertamina Ahmad Bambang mengatakan, Pertamina melibatkan berbagai pihak baik dari dalam perusahaan maupun luar perusahaan bahkan juga menggunakan pihak independen yang menyamar sebagai pelanggan (mistery costomer) untuk men‎deteksi terjadinya kecurangan dalam penjualan BBM yang dilakukan oleh SPBU.

Namun untuk SPBU di Rempoa tersebut, meski melakukan kecurangan tetapi ketika dilakukan pemeriksaan secara berkala telah lolos uji aspek quantity and quality. Artinya, kecurangan yang dilakukan oleh SPBU tersebut tidak terdeteksi. “Hasil Audit bulan Mei, aspek QQ (quantity & quality)-nya bagus, artinya ada hal yang bisa disetel dimana ketika audit bagus namun ketika tidak audit bisa dimainkan,” kata Bambang.
JULIE INDAHRINI/FORUM

Majalah FORUM edisi No.09 , Tanggal 20 Juni 2016

Comments are closed.