Akhir Geliat ‘Raja Minyak’

Sidang Abob cs di Pengadilan Tipikor Pekanbaru./batamnews.co.i
Sidang Abob cs di Pengadilan Tipikor Pekanbaru (batamnews.co.id)

MA memperberat hukuman mafia minyak menjadi 17 tahun penjara.  Mengacaukan perekekonomian nasional. Ahmad Mahbub harus kembali menelan kekecewaan. Hukumannya nampaknya semakin berat. Pekan lalu, Mahkamah Agung (MA) menambah pidananya. Kalau di tingkat banding lelaki yang biasa disapa Abob ini dihukum 10 tahun penjara, di lembaga peradilan tertinggi ini Ahmad dijatuhi hukuman 17 tahun penjara. Abob tidak sendiri menerima ganjaran. Rekannya Dunun alias Aguan juga menerima ganjaran hukuman serupa. Ia terbukti bersalah melakukan tindak pidana pencucian uang, hasil penyelewengan Bahan Bakar Minyak (BBM) dari Pertamina berulangkali.

Dalam putusan kasasi,  selain menghukum 17 tahun, MA menyatakan Abob dengan rekannya Dunun juga harus membayar denda Rp  5 miliar kepada negara, subsidair 16 bulan penjara.Kedua terpidana kemudian diwajibkan membayar uang pengganti kerugian negara Rp 72,452 miliar atau masing-masing ditambah hukuman 8 tahun lagi penjara bila tidak melunasi. Majelis Hakim Agung yang memutuskan perkara ini diantaranya hakim agung Artijo Alkostar dan MS Lumme.

Berdasarkan fakta yang terungkap dipersidangan, tindak pidana pencucian uang hasil penyelewengan Minyak dan Gas dilakukan Abob dan Dunun di Pekanbaru-Riau, sehingga merugikan negara Rp 149.760.938.624 atau Rp 149,76 miliar. Dalam pertimbangannya selain merugikan keuangan negara atas devisa Migas, majelis hakim juga menyatakan para pelaku sudah mengacaukan perekonomian Indonesia dan meruntuhkan harkat dan derajat Tentara Nasional Indonesia.

Perbuatan Abob yang memanipulasi potensi kehilangan (losses) BBM Pertamina untuk disalurkan ke tangki penimbunan di depot tujuan di Sei Siak Pekanbaru telah dikawal dan ‘diamankan’ oleh kapal TNI AL yang dikomandani Mayor Antonius Manullang.  Menurut majelis hakim, perbuatan Abob dan Dunun merupakan bukti nyata adanya praktik mafia migas yakni kejahatan terorganisir yang dilindungi oleh para penegak hukum yang telah terkontaminasi. Adapun Antonius diadili di Mahkamah Militer.

Dalam persidangan terungkap, secara bersama-sama pelaku sebagai jasa pengangkutan minyak Pertamina-Dumai menggunakan kapal-kapal Tanker memanipulasi muatan minyak dan gas yang disalurkan ke Depot Pertamina di Sungai Siak-Pekanbaru, kendati dalam penjagaan TNI-AL. Perbuatan Abob menurut majelis hakim, merupakan bukti praktek mafia Migas yang teroganisir untuk memperkaya diri.

Abob memang terkenal sebagai pengusaha minyak terbesar di Batam, sekaligus pengusaha angkutan minyak Pertamina di Kepulauan Riau dan Riau. Bisnis besarnya itu kini telah berakhir, karena perbuatan jahatnya dibongkar aparat penegak hukum pada 2014. Awalnya PPATK mencurigai rekening gendut atas nama adiknya Abob yang bernama Niwen Khairah, Pegawai Negeri Sipil di Pemko Batam, sebesar Rp 1,3 triliun.
Setelah ditelusuri, transaksi di rekening Niwen merupakan hasil manipulasi Migas Pertamina yang merugikan negara. Abob diduga menjual minyak Solar secara illegal ke luar negeri, termasuk ke pemilik kapal di Singapore dan Malaysia. Buktinya, seorang warga negara Singapore ditangkap petugas Bea Cukai-Karimun karena membawa uang Rp 4,5 miliar ke Batam untuk diserahkan ke Abob.

Pada 3 Juni 2014 Petugas Bea Cukai menangkap kapal Tanker MT.Jelita Bangsa milik Abob yang disewa Pertamina mengangkut 59.507.66 metrik ton minyak mentah dari Dumai-Riau, sehingga perkara terus membesar dihadapi Abob dan Aguan serta menyeret Niwen Khairah ke penjara. Niwen pun akhirnya ditangkap dan ditahan Bareskrim pada 28 Agustus 2014 kemudian Aguan, Abob  Arifin Ahmad serta Yusri  ditahan pada 6 September 2014.

Pada pengadilan tingkat pertama di Pekanbaru, dengan berkas perkara terpisah, Abob dan Dunun tahun lalu dituntut Jaksa dengan 16 tahun penjara, denda Rp 27,8 miliar. hakim Tipikor yang mengadili perkara hanya menjatuhkan hukuman pidana masing-masing 4 tahun penjara. “Terdakwa Achmad Mahbub alias Abob terbukti sah meyakinkan melakukan tindak pidana korupsi dan karenanya divonis 4 tahun penjara dengan denda Rp200 juta subsider 6 bulan,” kata hakim Ahmad Pudjoharsoyo.

Secara mengejutkan Niwen, dibebaskan majelis hakim Tipikor. Selain Niwen, majelis hakim juga membebaskan Yusri (Senior Supervisor Pertamina Regional I Tanjung Uban) dan Arifin Achmad (pekerja harian lepas Pertamina). Majelis hakim yang diketuai Achmad Setyo Pudjoharsoyo itu menilai alasan ketiganya tidak terbukti ikut serta melakukan penyelewengan minyak Pertamina. Padahal, menurut JPU dilakukan bersama kelima terdakwa, kerjasama oknum pejabat Pertamina.

Majelis hakim memerintahkan jaksa untuk membebaskan Niwen, Arifin Achmad, dan Yusri dari tahanan, mengembalikan harta benda mereka yang disita, dan memulihkan nama baik mereka. Majelis hakim juga memerintahkan jaksa untuk mengembalikan kapal tanker MV Lautan 1 milik A Bob yang disita.

Ketua Majelis Hakim Ahmad Pudjoharsoyo menilai Abob dan Dunun melanggar pasal 5 UU Tipikor dan Tindak Pidana Pencucian Uang (TPPU). Keduanya didenda Rp 200 juta subsider 6 bulan penjara.  Sedangkan ketiga terdakwa lain tidak terbukti melakukan transaksi jual beli minyak jenis premium dan solar. Namun keduanya hanya terbukti sebagai perantara terhadap pengusaha bernama Ridwan asal Singapura dengan Mayor A Manulang dari anggota TNI AL yang melakukan transaksi penjualan BBM.

Pandangan hakim ini tidak sama dengan yang disangkakan Mabes Polri bahwa Abob cs melakukan transaksi penjualan minyak ke Singapura. Ini salah satu alasan hakim, hanya memberikan vonis 4 tahun penjara dan denda Rp200 juta. Dalam persidangan hakim menyebutkan, bahwa Ridwan selalu mengirim uang ke A Manulang anggota TNI AL. Hanya saja uang hasil transaksi minyak itu dikirim melalui Abob dengan rekening atas nama Niwen Khairani. Karena hakim menilai, bahwa A Manulang anggota TNI AL tidak berwenang melakukan penjualan BBM ke Ridwan. Abob dan Aguan diposisikan hanya sebagai perantara saja.

Untuk diketahui dalam perjalanan sidang yang digelar di Pengadilan Tipikor Pekanbaru, majelis hakim sempat mengalami sejumlah kesulitan. Seperti misanya mendatangkan saksi kunci Mayor Antonius Manulang yang merupakan oknum TNI AL dimana hingga agenda pembacaan vonis pun, yang bersangkutan tidak pernah berhasil didatangkan.

Namun yang jelas, vonis itu jauh dari tuntutan jaksa yang menuntut Abob dan Dunun masing-masing dengan pidana penjara selama 16 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan penjara. Untuk uang pengganti kerugian negara, terdakwa Abob dibebankan membayar Rp 67,8 miliar subsider 8 tahun penjara. Begitu juga dengan Dunun, dituntut membayar sebesar Rp 67,8 miliar subsider 8 tahun penjara.

Sedangkan Niwen Khairiyah yang merupakan pemilik rekening berisi Rp 1,2 triliun dituntut dengan hukuman tinggi, yakni 16 tahun penjara, denda Rp 1 miliar, dan dituntut membayar sebesar Rp 6,6 miliar subsider 5 tahun penjara.   Untuk Arifin Ahmad dituntut dengan pidana penjara selama 15 tahun dan denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan penjara, serta membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 86 juta subsider 1 tahun penjara. Sedangkan Yusri dituntut dengan pidana penjara 10 tahun denda Rp 1 miliar subsider 6 bulan penjara. Serta membayar uang pengganti kerugian negara sebesar Rp 1,022 miliar subsider 3 tahun penjara.

Alhasil, Jaksa penuntut umum pun melakukan upaya banding ke Pengadilan Tinggi Riau. Usaha jaksa tersebut tidak sia-sia.  Pengadillan Tinggi Riau menambah 10 tahun hukuman Abob menjadi 14 tahun penjara, plus  denda Rp 200 juta subider 6 bulan kurungan. Perkara itu diputus majelis hakim PT Pekanbaru pada 9 November 2015 lalu dan petikannya sudah dikirim ke PN Pekanbaru tanggal 2 Desember 2015.
Dalam pada putusan tersebut majelis hakim PT Pekanbaru membatalkan putusan PN Pekanbaru sebelumnya dan mengabulkan upaya banding yang diajukan Jaksa. Belum puas dengan putusan tersebut, jaksa  mengajukan kasasi ke MA. Usaha jaksa kembali berhasil. MA mengabulkan kasasi Jaksa bahkan memperberat hukuman bagi Abob dan Dunun.  Walhasil, keduanya lebih lama berada di balik jeruji besi.

AFKHAR/FORUM

Comments are closed.