Perang Makin Terbuka

Gojek di jalanan/aktuan.com
Gojek di jalanan (aktuan.com)

Pemain bisnis transportasi berbasis aplikasi semakin melengkapi layanannya. Konsumen semakin diberi kemudahan untuk memilih.

Layanan transportasi berbasis aplikasi makin semarak. Pemain lama Go-jek yang memulai dengan layanan ojek menambah terus layanannya. Yang terbaru, Go-car telah resmi diluncurkan. Dengan hadirnya Go-car, persaingan bisnis transportasi aplikasi menggunakan kendaraan roda empat semakin ketat. Jika segmen ini sebelumnya hanya diisi oleh Grab-car dan Uber.

Fitur Go-Car sudah bisa ditemukan di antara layanan-layanan lain dalam aplikasi Go-Jek versi terbaru (2.0.0), yang bisa diperoleh di toko aplikasi Google Play Store dan Apple App Store. Ini berarti, Go-Jek secara resmi masuk ke ranah layanan transportasi roda empat berbasis aplikasi yang menjadi ladang bisnis utama Uber. Langkah ini seakan “balasan” dari Go-Jek terhadap langkah Uber masuk ke layanan utama Go-Jek, yaitu ojek motor online.

Kepala Dinas Perhubungan dan Transportasi DKI Jakarta Andri Yansyah beberapa waktu lalu menyebutkan bahwa Go-Jek berencana untuk bekerja sama dengan perusahaan taksi lewat layanan Go-Car. Merujuk pada pernyataan tersebut, layanan Go-Car berarti bakal mirip-mirip GrabTaxi yang fungsinya sebagai perantara antara perusahaan taksi konvensional dan pelanggan.

Untuk mengakses fitur GoCar,  sebelumnya harus melakukan pembaruan pada aplikasi Gojek ke versi terbaru yaitu versi 2.00. Jika sudah melakukannya, akan terlihat fitur GoCar tepat di sebelah Go-Ride. Selain kehadiran fitur GoCar, Gojek juga menyediakan fitur Go-Pay di mana pengguna diberikan keleluasaan dalam hal pembayaran. Go-Pay merupakan saku elektronik yang bisa diisi dengan melakukan transfer ATM, internet banking, dan juga mobile banking. Hadirnya fitur ini tentunya akan memberikan pengalaman berkendara yang lebih praktis dengan tidak diharuskannya pengguna untuk membayar dengan uang tunai.

Sementara itu, Uber yang identik dengan pembayaran cashless melalui kartu kredit justru mulai menerima pembayaran tunai dari para pengguna Uber Motor.

Kini, ketiga penyedia jasa transportasi berbasis aplikasi terbesar di Indonesia, yakni Go-Jek, Uber, dan Grab, telah sama-sama memiliki layanan berbasis sepeda motor dan mobil.
IIEN SOEPOMO/FORUM    

Pilih Yang Mana?
Go Car
•    Tarif minimum : Rp 10.000
•    Tarif perkilometer : Rp 3.500
•    Tarif Pembatalan : Rp 0

Grab car
•    Tarif minimum : Rp 10.000
•    Tarif Pembatalan : Rp 0

Uber X
•    Tarif minimum : Rp 3.000
•    Tarif Dasar : Rp 3.000
•    Tarif Per Kilometer : Rp 2001,44
•    Tarif Pembatalan : Rp 30.000
•    Tarif Menunggu : Rp 300 per menit

Aturan untuk Transportasi Online

Demo besar-besaran supir taksi dan transportasi lain yang memprotes layanan transportasi akhirnya membuahkan hasil. Kementerian Perhubungan (Kemenhub) secara resmi mengeluarkan aturan untuk layanan transportasi berbasis aplikasi.

Aturan tersebut dirangkum dalam Peraturan Menteri (Permen) Perhubungan No 32 Tahun 2016 tentang Penyelenggaraan Angkutan Orang dengan Kendaraan Bermotor Umum Tidak dalam Trayek. “Permen itu mengatur angkutan tidak dalam trayek, seperti taksi, angkutan sewa, carter, pariwisata, dan lainnya,” kata Direktur Jenderal Perhubungan Darat Pudji Hartanto Iskandar seperti dikutip Kompas, Rabu 20 April 2016.

Pudji menegaskan, taksi online wajib mendaftarkan diri dan nama dalam STNK harus berbadan hukum atau sesuai UU No 22 Tahun 2009, Pasal 139 ayat 4.

Penyelenggaraan taksi online atau angkutan berbasis aplikasi dijabarkan lebih lanjut dalam Bab IV tentang Penyelenggaraan Angkutan Umum dengan Aplikasi Berbasis Teknologi Informasi. Salah satunya menyebutkan bahwa perusahaan jasa angkutan tidak dalam trayek, misalnya taksi, diperbolehkan memakai aplikasi. Penyediaan aplikasi bisa dilakukan sendiri atau bekerja sama dengan perusahaan aplikasi yang sudah berbadan hukum Indonesia.

Sistem pembayaran angkutan tersebut juga boleh disematkan sekaligus dalam aplikasi asalkan tetap mengikuti ketentuan di bidang informasi dan transaksi elektronik.

Bila perusahaan angkutan umum, seperti taksi bekerja sama dengan perusahaan aplikasi, perusahaan aplikasi tidak boleh bertindak sebagai penyelenggara angkutan. Maksudnya, perusahaan aplikasi tidak boleh mengatur tarif, merekrut pengemudi, dan menentukan besaran penghasilan pengemudi.

Perusahaan penyedia aplikasi, misalnya Uber dan Grab dengan layanan GrabTaxi, juga diwajibkan memberi akses monitoring pelayanan, data semua perusahaan angkutan umum yang bekerja sama, data semua kendaraan dan pengemudi, dan alamat kantornya sendiri.

Perusahaan aplikasi yang menyediakan jasa angkutan orang menggunakan kendaraan bermotor diwajibkan mengikuti ketentuan pengusahaan angkutan umum yang dimuat dalam Pasal 21, 22, dan 23 Permen No 32 Tahun 2016.

Comments are closed.