Pengemis Modus Baru Bermodal Tissu

duniamu.id//Anak penjual Tisu di lampu merah Bulungan, jaksel
Anak penjual Tisu di lampu merah Bulungan, Jakarta Selatan (duniamu.id)

Bocah-bocah penjual tissu di perempatan lampu merah ibukota adalah alternatif pengemis kekinian, eksploitasi anak untuk berjualan. Boleh jadi, cara ini dipilih oleh para “mandor” karena dianggap paling aman dan paling cepat mengeruk uang, ketimbang mempekerjakan pengemis yang cacat dan memelas yang akan mudah diciduk aparat.

Siang itu, Faril bersama tiga bocah lainnya lincah menyusuri mobil dan motor di perempatan lampu merah, samping kolam renang Bulungan, Jakarta Selatan. Dengan kaki telanjang, bocah itu mendekati setiap mobil yang berhenti karena lampu merah untuk menawarkan tissu dagangannya.

“Tisu,Tisu. Mbak mau beli tisunya mbak?” ucap bocah 7 tahun ini. Jangankan takut panas hujan, terserempet kendaraan pun dia bergeming. Tak jarang, justru pengendara yang was-was melihat aksi bocah-bocah penjual tissu yang tak mempedulikan keselamatan.

Faril mengaku berjualan ditemani ibunya. “Dengan ibu, itu ibu yang duduk di trotoar,” ucap bocah bergigi ompong itu sambil menunjuk trotoar di seberang jalan.

Mengarahkan pandangan ke trotoar di seberang jalan, tampak empat perempuan paruh baya asyik mengobrol di atas gelaran tikar. Ditemani camilan kacang kulit, mereka bermain kartu dan sesekali menghisap rokok filter sebagai penyempurna kegiatan mereka sebagai “mandor” atas anak-anak penjual tissu pada siang itu.

Selain Faril, ada juga Sari yang juga berjualan tisu. Wajah bocah enam tahun ini lebih memelas. Inilah yang membuat tisunya lebih laris daripada Faril. Harga 2 tisu dijual Rp.10 ribu, dua kali lipat harga di toko. “Rumah di Cikarang, kenal juga sama Faril. Sehari bisa jual 20 tisu,” tutur Sari

Benar saja. Dengan alasan kasihan, seorang pengendara motor tampak memborong tissu Sari. “Kasian, anak kecil panas-panasan. Lagian juga butuh tisu,”ujar pengendara itu saat ditanya alasan membeli tisu Sari

Selain berasal dari kampung yang sama, Faril dan Sari memiliki kesamaan yang lain. Mereka enggan difoto. “Jangan, gak mau difoto. Nanti aku aduin ibu,” ujar Sari, kemudian berlari menghampiri ibunya.

Spontan, Ibu Faril dan beberapa “mandor” lain tergesa menggulung tikar. “Jangan mau difoto, sini,” ujar seorang ibu meneriaki Faril.

Faril dan Sari adalah contoh pengemis dengan modus baru. Bocah-bocah penjual tissu di perempatan lampu merah ibukota itu adalah alternatif pengemis kekinian, eksploitasi anak untuk berjualan. Boleh jadi, cara ini dipilih oleh para “mandor” karena dianggap paling aman dan paling cepat mengeruk uang, ketimbang mempekerjakan pengemis yang cacat dan memelas yang akan mudah diciduk aparat.

Adalah Waris, juru parkir Sevel Bulungan yang menjadi saksi mata rombongan pengemis itu datang dari arah terminal Blok M tiap pagi dan malam. Menurut pria 47 tahun ini, semua anak yang datang selalu didampingi ibunya. Mereka menyebar, sebelum kembali berpusat di samping kolam renang Bulungan.

“Sekarang jarang yang ngemis, biasanya jualan tisu atau makanan,” ujar Waris.

Para ibu tersebut, lanjut Waris, akan membagikan tisu dan menunggu anak-anaknya tak jauh dari lampu merah. Tiap hari, shift pertama akan datang pada pukul 9 pagi kemudian shift pengemis kedua akan datang sekitar pukul 7 malam.

“Kalau datang biasanya kumpul di sini dulu (depan Blok M Plaza) setelah itu baru nyebar ke lampu merah, ibunya jagain kadang sambil main judi,” ujar Waris

Keberadaan pengemis di kawasan Blok M, Bulungan, dan beberapa kawasan lain di Jakarta Selatan menjadi perhatian serius aparat Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan. Walhasil, pada Jumat 25 Maret 2016, Polres Metro Jakarta Selatan berhasil menangkap salah satu komplotan pelaku eksploitasi anak. Modusnya beragam, dari memberi obat tidur hingga menyewa anak orang lain. (Baca: Rental Balita untuk Mengemis)

Empat orang sudah ditetapkan sebagai tersangka atas kejahatan yang dituduhkan. Mereka diduga memperbudak anak-anak di bawah umur, bahkan balita yang dijadikan sarana mengais keuntungan para tersangka. Empat tersangka itu adalah NH (43)‎, I (35), ER (27), dan SM (18). Mereka ditangkap di kawasan Blok M, Jakarta Selatan.

NH dan I sudah ditetapkan sebagai tersangka karena terbukti mempekerjakan anak untuk mengemis, mengamen, berjualan koran, dan menjadi joki 3 in 1.

Polisi menemukan motif mencengangkan saat para tersangka mengeksploitasi anak-anak yang mereka bawa ke jalanan, khususnya bayi. Sejauh ini ada dua modus yang dilakukan oleh tersangka. Pertama tersangka memberikan obat penenang ketika diekploitasi dan yang kedua jika tidak mau melakukan yang diperintahkan maka pelaku memaksanya dengan kekerasan.

“Miris sekali. Dalam keseharian mereka, anak-anak itu dipaksa bekerja dari pagi hingga sore. Jika tidak mau, mereka akan diberi hukuman mulai dari pukulan hingga tidak diberi makan,” kata Kapolrestro Metro Jakarta Selatan Komisaris Besar Wahyu Hadiningrat  ketika memberikan keterangan persnya di Mapolres Metro Jakarta Selatan, Kamis (24/3/2016) malam, yang juga dihadiri Yohana Susana Yembise, Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak Yohana Susana Yembise. Yohana mengapresiasi kinerja dari pihak kepolisian.

Ada 17 anak-anak dan delapan orang dewasa yang ditangkap jajaran Polres Metro Jakarta Selatan. “Salah satu pelaku merupakan ibu kandung korban,” ucap dia.

Berdasarkan keterangan sementara dari pelaku, terang Wahyu, keuntungan yang didapat dari hasil ekspolitasi para bocah itu sebesar Rp 200 ribu setiap hari. “Biasanya uang itu dipakai pelaku untuk keperluan sehari-hari seperti membeli kebutuhan pokok dan makan,” ungkap Komisaris Besar Wahyu.

Kombes Wahyu mengaku, saat ini pihaknya masih terus mendalami adanya sindikat lain yang juga melakukan modus serupa. “Untuk enam orang ibu lagi, kami tengah periksa apakah mereka juga ikut mengeksploitasi anaknya atau tidak,” ujarnya.

Satu hal yang membuat Kombes Wahyu miris, “Pada saat praktik di jalan oleh orang yang membawa itu diberi obat penenang supaya dia tenang. 1 butir obat itu dibagi 4, 1 butir untuk 2 hari. Jadi obat penenang ini supaya tenang dan tidak rewel saat melakukan pekerjaannya. Apabila anaknya tidak mau, ada tindakan kekerasan dari orang tersebut.”

Kombes Wahyu melanjutkan, obat penenang atau obat tidur yang diberikan ke bayi tersebut adalah Clonazepam. Obat itu sangat berbahaya. Bahkan, bila digunakan dengan dosis sembarangan bisa berakibat fatal bagi anak.

Kasandra Putranto selaku Psikolog Klinis dari Asosiasi Psikologi Forensik lebih rinci menjelaskan, salah satu efek buruk dari penggunaan obat itu dengan sembarangan adalah menurunkan fungsi syaraf dan gerakan anak. “Syarafnya bisa jadi lamban, bayi jadi lemas. Kalau orang biasa saja menjadi letoy. Jadi tidak bisa digunakan sembarang. Karena obat itu berdosis tinggi,” ujar Kasandra di tempat yang sama.

Menurut Kasandra, obat itu tidak dijual bebas, bahkan di apotik pun seharusnya tidak dijual. Demikian, dokter umum tidak sembarang mengeluarkan tanpa ada resep yang resmi. “Diduga, yang membeli obat itu memang memerlukan dan memakai, tapi disalahgunakan,” kata dia.

Untuk itu, Kasandra mengharapkan, polisi bisa mengusut tuntas kasus ini karena jaringan atau sindikat eksploitasi anak ini benar-benar tidak memperhatikan keselamatan anak.

Komisaris Besar Wahyu mengaku masih mengembangkan kasus ini. Terutama untuk mengendus jaringan-jaringan para pelaku eksploitasi anak ini. Bukan tidak mungkin kasus ini melibatkan sindikat perdagangan orang. Kepolisian, tambah Kombes Wahyu, juga masih mendalami apakah bayi-bayi yang dibawa para tersangka itu adalah anak kandung atau bukan.

“Saat ini masih didalami apakah anak ini adalah anak orang yang ditetapkan jadi tersangka. Tersangka terakhir (ER dan SM) adalah pasangan. Tapi tak ada surat nikah dan ada bayi. Ini perlu kita pastikan dulu,” katanya.

Para tersangka yang telah ditahan itu dijerat pasal 2 UU No 21 tahun 2007 tentang Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO), pasal 76b UU No 35 tahun 2014 tentang perlindungan anak dengan ancaman kurungan maksimal 15 tahun penjara.

Kini, kondisi 17 anak itu dalam keadaan baik. Mereka akan mendapatkan perlindungan dan rehabilitasi dari unit PPA Polres Metro Jakarta Selatan. Bahkan, Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) memberi perlindungan kepada mereka. Anak-anak itu diberi pendampingan psikologi oleh Ketua Dewan Pembina Komnas PA Seto Mulyadi.

Ketua Dewan Pembina Komisi Nasional Perlindungan Anak Seto Mulyadi mengapresiasi kinerja Kepolisian Resort Metro Jakarta Selatan yang berhasil menangkap dua orang yang diduga terlibat dalam kasus perdagangan dan eksploitasi anak.

“Kami dari Komnas Perlindungan Anak memberikan apresiasi, karena kami menyadari bahwa sudah jadi rahasia umum ada anak-anak yang dibawa orang tua (ke jalan) untuk memancing simpati dan  mendapatkan uang,” kata Seto yang juga hadir dalam konferensi pers di Mapolres Jakarta Selatan, Kamis, 24 Maret 2016.

Seto mengatakan bahwa kasus seperti itu layaknya gunung es karena tidak adanya keberanian dan kepedulian masyarakat untuk melapor. Ia juga menyebutkan dampaknya anak yang mengalami eksploitasi akan terganggu cara berpikir dan berpotensi menjadi calon kriminal.

Setelah konferensi pers, Seto yang ditemani oleh Kepala Satuan Reserse Kriminal Polres Jakarta Selatan Ajun Komisaris Besar Audie Latuheru dan beberapa petugas menghampiri ruangan unit perlindungan perempuan dan anak. Di sana, Seto mengajak bicara dua orang anak yang merupakan korban eksploitasi.

“Kondisinya yang satu capek, ngantuk yang satu sudah mulai bisa bicara. Anak-anak ini cerdas kok,” kata Seto usai menemui korban.

Seto berujar akan melibatkan rekan-rekannya dari Himpunan Psikolog Indonesia untuk membantu pengobatan psikologis korban. Tujuannya supaya anak-anak tersebut tidak trauma dan tidak menghasilkan perilaku menyimpang di masa mendatang.

“Semoga segera kembali ke dunia yang indah. Bisa sekolah dan tidak harus bekerja apapun juga sebagai joki atau pengamen,” ucapnya.

Seto berharap jajaran Polres Metro Jakarta Selatan membongkar tuntas jaringan penyewa anak ini. Karena jelas-jelas, ada bisnis dengan memanfaatkan anak-anak, bahkan bayi. “Bayangkan, sehari mereka menyewakan 20 anak, sehari menghasilkan Rp 4 juta. Kalau sebulan Rp 120 juta. Ini adalah bisnis besar,” kata dia.

Menurut Seto, para pelaku sama sekali tak peduli nasib anak-anak ini. Apalagi memperhatikan, ‎masa depan para penerus bangsa tersebut. “Anak-anak ini kan calon pemimpin. Kalau dipekerjakan, maka kita kehilangan bibit unggul,” kata pria yang karib disapa Kak Seto itu.

Dia ingin agar masyarakat lebih aktif jika mengetahui adanya eksploitasi. Seto menginginkan masyarakat melaporkan pihak berwajib jika itu terjadi.

Seto menjelaskan, dalam Undang-Undang Perlindungan Anak dijelaskan, siapa pun yang mengetahui ada tindak kekerasan terhadap anak diam saja, tak berusaha menolong atau melapor polisi, dapat terkena sanksi pidana. Ancaman hukumannya 5 tahun penjara.

“Mudah-mudahan ini menggerakkan hati masyarakat agar berani melapor,” kata Seto.

B Hardjono/FORUM

Comments are closed.