Daftar Pengemplang Pajak Versi Panama Papers

Ketua BPK Harry Azhar Azis memberikan keterangan pers usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kantor Kepresidenan, Jakarta, / ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf/aww/15.
Ketua BPK Harry Azhar Azis memberikan keterangan pers usai bertemu dengan Presiden Joko Widodo di Kantor Kepresidenan, Jakarta (ANTARA FOTO/Widodo S. Jusuf)

Semua nama yang tercantum dalam Panama Papers dicurigai menghindari pajak yang diwajabkan oleh negara mereka tinggal.

Mossack Fonseca adalah badan hukum dan penyedia jasa perusahaan asal Panama yang didirikan tahun 1977 oleh Jürgen Mossack dan Ramón Fonseca. Perusahaan ini menyediakan jasa pembentukan perusahaan di negara lain, pengelolaan perusahaan luar negeri, dan manajemen aset. Perusahaan ini memiliki lebih dari 500 karyawan di 40 negara. Badan ini beroperasi atas nama lebih dari 300.000 perusahaan yang kebanyakan terdaftar di Britania Raya atau surga pajak milik Britania.

Mossack Fonseca Co, bertanggung jawab untuk mengawasi dan mengatur jasa-jasa perserikatan dan perwalian aset dari suatu perusahaan. Fokus utama dari firma hukum ini adalah perlindungan aset, perencanaan pajak dan properti. Perusahaan ini memiliki lebih dari 40 cabang di seluruh dunia, yang kini dikenal karena terlibat dalam bocoran dokumen surga pajak Panama Papers ini.

Mossack Fonseca bekerja sama dengan lembaga-lembaga keuangan terbesar di dunia seperti Deutsche Bank, HSBC, Société Générale, Credit Suisse, UBS, dan Commerzbank. Badan ini kadang membantu nasabah bank tersebut membangun struktur yang rumit sehingga kolektor pajak dan penyidik sulit melacak arus uang dari satu tempat ke tempat lain. Singkatnya, pengusaha, pejabat, atau siapa saja yang menggunakan jasa Mossack Fonseca, berpeluang untuk menghindari pajak yang diwajabkan oleh negara mereka tinggal.

Mossack Fonseca mengelola banyak perusahaan selama bertahun-tahun. Jumlah perusahaan aktif yang dikelola mencapai puncaknya pada tahun 2009, yaitu sebanyak 80.000 perusahaan. Lebih dari 210.000 perusahaan di 21 negara muncul di Panama Papers. Lebih dari separuhnya didirikan di Kepulauan Virgin Britania Raya dan sisanya di Panama, Bahama, Seychelles, Niue, dan Samoa.

Selama sekian tahun, Mossack Fonseca menangani klien di lebih dari 100 negara yang sebagian besar perusahaan berasal dari Hong Kong, Swiss, Britania Raya, Luxemburg, Panama, dan Siprus. Mossack Fonseca bekerja sama dengan lebih dari 14.000 bank, badan hukum, notaris, dan pihak lainnya untuk mendirikan perusahaan, yayasan, dan trust sesuai pesanan klien.

Lebih dari 500 bank mendaftarkan hampir 15.600 ‘perusahaan cangkang’ (shell company) bersama Mossack Fonseca. HSBC dan rekan-rekannya mendirikan lebih dari 2.300 perusahaan cangkang.

Dexia (Luxemburg), J. Safra Sarasin (Luxemburg), Credit Suisse (Kepulauan Channel), dan UBS (Swiss) yang masing-masing mengajukan pendirian kurang lebih 500 perusahaan cangkang untuk kliennya, sedangkan Nordea (Luxemburg) mengajukan pendirian 400 perusahaan. Lebih dari satu tahun sebelum Dokumen Panama dibocorkan, surat kabar Jerman Süddeutsche Zeitung telah menerima dokumen terkait Mossack Fonseca itu, dari satu sumber anonim.

Ukuran dokumen yang dibocorkan ini mengalahkan Wikileaks Cablegate (1,7 GB), Offshore Leaks (260 GB), Lux Leaks (4 GB), dan Swiss Leaks (3,3 GB). Data bocoran ini terdiri dari surat elektronik, berkas PDF, foto, dan berkas pangkalan data internal Mossack Fonseca. Semua data diterbitkan mulai tahun 1970-an sampai musim semi 2016 dari 214.000 perusahaan.

Nah, daftar pengguna jasa Mossack Fonseca itulah yang tercantum dalam apa yang disebut Panama Papers. Di dalamnya bersisi 11,5 juta dokumen rahasia pengguna jasa Mossack Fonseca. Belakangan data ini dibocorkan ke publik. Bahkan bocoran Panama Papers ini dijuluki sebagai “bocoran terbesar dalam sejarah jurnalisme data,” oleh Edward Snowden. Sebab, bocoran dokumen ini merupakan hasil penyelidikan selama setahun oleh 370 wartawan investigatif dari 76 negara.
Dokumen bocoran ini kemudian disebarkan dan dianalisis oleh kurang lebih 400 wartawan dari 107 organisasi media di lebih dari 80 negara. Laporan berita pertama berdasarkan dokumen ini bersama 149 berkas dokumennya telah diterbitkan pada tanggal 3 April 2016 silam. Daftar lengkap perusahaan yang terlibat telah dirilis pada awal Mei 2016 lalu.

Terdapat sejumlah pemimpin negara disebutkan dalam Panama Papers. Mereka antara lain Presiden Ukraina Petro Poroshenko berjanji kepada masyarakat bahwa ia akan menjual perusahaan permennya, Roshen, saat mencalonkan diri tahun 2014. Bocoran dokumen justru menunjukkan bahwa ia malah mendirikan perusahaan holding luar negeri untuk memindahkan bisnisnya ke Kepulauan Virgin Britania Raya.

Pejabat pemerintahan beserta kerabat dekat dan teman dekat berbagai kepala pemerintahan dari kurang lebih 40 negara juga tercantum, termasuk pejabat pemerintah Aljazair, Angola, Argentina, Azerbaijan, Botswana, Brasil, Kamboja, Chili, Cina, Republik Demokratik Kongo, Republik Kongo, Ekuador, Mesir, Perancis, Ghana, Yunani, Guinea, Honduras, Hongaria, Islandia, India, Israel, Italia, Pantai Gading, Kazakhstan, Kenya, Malaysia, Meksiko, Maroko Malta, Nigeria, Pakistan, Panama, Peru, Polandia, Rusia, Rwanda, Arab Saudi, Senegal, Afrika Selatan, Spanyol, Suriah Taiwan, Britania Raya, Venezuela, dan Zambia.

Di Indonesia, nama-nama para miliarder ternama yang setiap tahun langganan masuk daftar orang terkaya versi Forbes Indonesia bertebaran dalam dokumen Mossack. Menurut tempo, mereka diantaranya.

Pemilik grup Lippo, James Riady, misalnya, tercatat sebagai pemegang saham di sebuah perusahaan bernama Golden Walk Enterprise Ltd. Perusahaan itu didirikan dengan bantuan Mossack Fonseca di British Virgin Islands pada 2011.

Ia masuk ke komunitas bisnis Amerika dimulai pada tahun 1977, ketika ia dibujuk oleh mogul perbankan Arkansas  WR Witt dan Jackson T. Stephens, dan pendiri Stephens Inc., yaitu salah satu bank investasi terbesar Amerika di luar Wall Street.

Putranya, John Riady, juga tercatat sebagai pemilik Phoenix Pacific Enterprise Ltd di BVI. Ketika dimintai konfirmasi, salah seorang keluarga Riady memberikan keterangan off the record.

Nama lain yang muncul dalam daftar ini adalah Direktur PT Indofood Sukses Makmur, Franciscus Welirang. Dia tercatat sebagai pemegang saham perusahaan offshore bernama Azzorine Limited.

Nama Fransiscus yang akrab dipanggil Frangky ini mulai muncul di atmosfir Salim Grup setelah menamatkan pendidikan insinyur kimia bidang plastik, di Institute South Bank Polytechnic, London, Inggris tahun 1974. Dalam Panama Papers,l Frangky ini tak langsung tercatat sebagai klien Mossack Fonseca. Namun ia terafiliasi lewat BOS Trust Company (Jersey) Ltd, yang menjadi klien sejak 2013.

Pebisnis terkemuka yang kini tengah mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI Jakarta, juga tersangkut dokumen ini. Sandiaga Uno, pebisnis terkemuka yang kini tengah mencalonkan diri menjadi calon Gubernur DKI Jakarta, juga tersangkut dokumen ini.

Heboh data Panama Papers juga menyeret Harry Azhar Azis. Nama Ketua Badan Pemeriksa Keuangan itu tercatat dalam daftar yang bocor dari firma hukum Mossack Fonseca, Panama. Pada awalnya, Harry membantah Sheng Yue International Limited sebagai perusahaan offshore miliknya.

Namun, kini ia mengakui kebenaran informasi tersebut. Menurut Harry, perusahaan itu dibentuk atas permintaan anaknya yang juga memiliki pasangan warga negara asing asal Chile untuk memiliki usaha bersama. “Anak saya meminta agar membuat usaha (keluarga), saya daftarkan,” kata Harry di Gedung DPR, Jakarta, Selasa, 12 April 2016.

Bahkan, Harry pun mengakui menjabat direktur di Sheng Yue International Limited dari 2010 hingga Desember 2015. Namun, dia menyatakan tak sempat mundur lantaran kesibukannya. Dia baru melepas sepenuhnya sebagai direktur setahun setelah menjabat Ketua BPK. “Dan sepanjang saya menjadi direktur memang tidak ada transaksi di perusahaan tersebut.”

Tapi kecurigaan terlanjur meluas. Terdengar desakan agar pejabat negara dan wakil rakyat harus mundur karena terkait dengan Panama Papers. Desakan itu dikemukakan dalam “Bedah Kasus Aset Indonesia di Negeri Suaka Pajak” dengan pembicara dari kalangan LSM, wartawan, PPATK Agus Santoso, dan akuntan forensik di Jakarta, Selasa 12 April 2016.

Para pemvicara adalah Direktur Eksekutif Center for Indonesia Taxation Analysis (CITA) Yustinus Prasetyo, wartawan Tempo Wahyu Dhyatmiko, Wakil Ketua PPATK Agus Santoso, Pendiri dan jurnalis KataData Metta Dharmasaputra, dan akuntan forensik Theodorus M Tuanakotta.

“Sudah pasti ada niat jahat daripada para pejabat negara dan wakil rakyat yang memanfaatkan firma hukum Mossack Fonseca (MF) di Panama. Ada berbagai motif orang memanfaatkan MF di antaranya untuk menutupi kepemilikan perusahaan, manipulasi pajak, atau pencucian uang,” kata Yustinus Prasetyo.

Oleh karena itu, para pejabat negara dan wakil rakyat yang terungkap dan terkait dengan Panama Papers harus mundur dan jangan mengelak dengan alasan belum terbukti secara hukum karena pejabat di negara lain langsung mundur begitu diumumkan terkait dengan firma hukum di Panama tersebut.

Joko Mardiko/FORUM

Comments are closed.