Ancaman Lindu Belum Berlalu

Jalan raya yang runtuh [Image Source]
Jalan raya yang runtuh [Image Source]

Setidaknya 9 orang tewas dan lebih dari 250 terluka setelah gempa besar dan beruntun mengguncang selatan Jepang. Beberapa bangunan runtuh dan aliran listrik putus.

Dua gempa dengan kekuatan relatif besar mengguncang Kota Kumamoto, Jepang bagian selatan pada Sabtu 16 April 2016 sekitar pukul 01.25 waktu setempat. Guncangan ini terjadi selang 24 jam setelah lindu Kamis malam menyebabkan setidaknya 9 orang tewas dan 800 ratus orang lainnya cedera.

Seperti dikutip dari CNN, Sabtu (16/4/2016), gempa pertama berkekuatan 7,1 skala Richter berada di kedalaman 7 km, sementara lindu kedua mengguncang sekuat 7,4 SR  terjadi di kedalaman 40 km.  Peringatan tsunami dikeluarkan pemerintah setempat. “Peringatan atau imbauan tsunami efektif diberlakukan,” demikian ungkap Badan Meteorologi Jepang.

Rekaman yang disiarkan TV Asahi menunjukkan, petugas penyelamat merangkak di sela-sela atap rumah yang rubuh, demi menyelamatkan seorang kakek berusia 80 tahun, yang untungnya masih bernyawa. Mereka harus berpacu dengan waktu, agar sempat menyelamatkan korban yang masih bernyawa, yang terjebak di antara reruntuhan.

Guncangan yang terjadi di Jepang selatan memicu kerusakan meluas, membalikkan mobil, membelah aspal jalan, dan memicu longsor yang mengubur rumah, memutus jalan, serta menghentikan laju kereta cepat. Area terdampak juga mengalami 165 gempa susulan, yang kekuatannya bisa mencapai 5,3 SR.

Pascagempa, jalan utama kota itu tampak sepi. Pecahan kaca berserakan di sana sini, sementara orang-orang berkerumun di luar. Mereka tak berani kembali ke rumah.

Sementara dua nuklir reaktor Sendai di Kyushu masih berjalan normal, meski 3 reaktor Genkai ditutup sementara untuk inspeksi rutin.

Badan Penanggulangan Kebakaran dan Bencana mengatakan, sebanyak 7.262 orang terpaksa tinggal di dalam 375 pusat penampungan yang tersebar di Prefektur Kumamoto. Sementara, sebanyak 20 ribu personel pasukan bela diri dikerahkan ke lokasi untuk melakukan upaya penyelamatan.

Sudah menjadi pengetahuan umum bahwa empat pulau utama di Jepang yakni Hokkaido, Honshu, Kyushu, dan Shikoku, berada di jalur Cincin Api Pasifik atau ‘Ring of Fire’ yang rawan gunung meletus dan gempa bumi.

Victor Sardina, ahli geofisika di Honolulu, Hawaii mengatakan bahwa gempa Sabtu dini hari sekitar 30 kali lebih kuat daripada lindu yang mengguncang Kamis malam 14 April 2016. Gempa yang dangkal, dengan kedalaman sekitar 10 km, dan guncangannya yang berada di wilayah padat penduduk bisa memicu bencana.

Lindu tersebut juga membuat Badan Meteorologi Jepang mengeluarkan peringatan tsunami di perairan Laut Ariake dan Yatsushiro pada Sabtu dini hari, 16 April 2016 sekitar pukul 02.00 waktu setempat.

Media Jepang juga melaporkan kejadian erupsi skala kecil Gunung Aso sekitar pukul 08.30 waktu setempat. Tidak jelas apakah letusan yang terjadi ada kaitannya dengan gempa.

Yang jelas, kepanikan warga terlihat saat gempa susulan terjadi. Sebuah rekaman video mengabadikan detik-detik saat warga yang berada di tempat parkir 7-Eleven di Kumamoto panik menyusul terjadinya guncangan.

Guncangan juga dirasakan hingga Tokyo. “Bangunan terasa gemetar,” kata wartawan bernama Mike Firn kepada CNN.

Saat itu, Mike berada di sebuah bangunan sekitar 900 kilometer, atau lebih jauhnya dari pusat gempa. “Guncangan terasa kuat selama lebih dari 1 menit…bangunan bergoyang dan retak.”

Tremor terbaru menunjukkan, gempa pada Kamis adalah foreshock atau yang mengawali lindu yang lebih besar. Namun,  ahli USGS memperingatkan, bukan berarti Bumi tidak dapat menghasilkan gempa lebih besar kemudian. Tapi, secara statistik, lebih mungkin kejadian Sabtu dini hari diikuti oleh gempa susulan yang kekuatannya lebih kecil.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri melalui KBRI Tokyo mengatakan tak ada korban jiwa warga negara Indonesia (WNI), dalam gempa Jepang yang terjadi di Prefektur Kumamoto pada Kamis malam waktu setempat.

Menurut keterangan dari Kementerian Luar Negeri (Kemlu) yang diterima FORUM, KBRI Tokyo bergerak cepat mencari apakah ada WNI yang jadi korban tak lama gempa berakhir. Berbagai upaya pun ditempuh.

“Dalam upaya mencari informasi lebih lanjut atas kemungkinan adanya korban WNI pada gempa tersebut, KBRI Tokyo melakukan kontak dengan tokoh-tokoh masyarakat Indonesia di Kumamoto serta melalui jaringan sosial media WNI,” jelas Kemlu melalui keterangan tertulis, Jumat (15/4/2016).

WNI yang berada di lokasi kejadian diketahui telah mengungsi ke Kumamoto Daigaku (Universitas Kumamoto) dan sebagian lain mengungsi di Masjid Kumamoto. Meski nihil korban, KBRI memastikan mereka tak lengah. Upaya pencarian informasi soal kemungkinan jatuhnya korban akan terus dilakukan.

Dari data KBRI Tokyo, jumlah WNI yang berada di Prefektur Kumamoto berjumlah 204
orang, dengan perincian 144 orang pekerja dan 60 orang pelajar/mahasiswa.

Lima Tahun silam, tepatnya 11 Maret 2011, Jepang dilanda gempa dan tsunami dahsyat yang menewaskan lebih dari 18.000 orang atau hilang. Peringatan pun digelar setiap tahun untuk mengenang para korban.

Dalam peringatan ke-5 gempa dan tsunami Jepang tahun ini yang digelar di Tokyo, seperti dikutip dari BBC, Sabtu (12/3/2016), Perdana Menteri (PM) Jepang, Shinzo Abe dan Kaisar Akihito pun ikut serta. Mereka bergabung dengan mengheningkan cipta massal untuk memberikan penghormatan.

Pada Jumat pukul 14.46 waktu Tokyo atau 17.56 WIB, saat gempa terdeteksi kala itu, orang-orang di seluruh Jepang menundukkan kepala, mengheningkan cipta mendoakan para korban. Bunyi lonceng terdengar saat hening cipta dilakukan. Transportasi metro bawah tanah pun dihentikan.

“Banyak orang yang terkena bencana ini sudah semakin tua, saya khawatir beberapa dari mereka mungkin merasa menderita hidup sendirian di tempat-tempat yang tak terjangkau perhatian kita,” kata Kaisar Akihito pada upacara peringatan tersebut.

Gempa bumi pada 11 Maret 2011 adalah salah satu yang paling kuat yang pernah tercatat. Lindu berkekuatan 9 skala Richter melanda lepas pantai, menciptakan gelombang air besar atau tsunami yang melanda pantai utara Jepang.

Hal ini juga memicu bencana nuklir terburuk di dunia sejak Chernobyl, di pabrik nuklir Fukushima Daiichi akibat bocor. Bencana berikutnya terjadi akibat radiasi di wilayah yang meluas di sekitarnya, dan memaksa evakuasi lebih dari 160.000 orang lokal.

Lima tahun setelah bencana tersebut, sebagian besar belum bisa kembali ke rumah mereka. Meskipun kondisi sudah normal.

B Hardjono/FORUM

Comments are closed.