Ir. Basuki Tjahaja Purnama, Gubernur DKI Jakarta: “Yang Sponsor Saya Masih Banyak, Lho…”

Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta 2017/jberita.com
Basuki Tjahaja Purnama (Ahok) – Bakal Calon Gubernur DKI Jakarta 2017 (jberita.com)

Basuki Tjahaja Purnama, MM alias Ahok alias Zhong Wan Xie, kaya dengan prestasi. Namun tatkala maju sebagai calon Wakil Gubernur DKI Jakarta berpasangan dengan calon Gubernur DKI Jakarta Jokowi untuk periode 2012-2017, banyak pihak yang meragukan kemenangan pasangan ini. Terutama menimbang faktor Ahok yang bukan saja non-muslim, melainkan juga keturunan Tionghoa alias bangsa pendatang di negeri lain. Sejauh ini, memang warga NKRI dari etnik Tionghoa yang terjun ke dunia politik bisa dihitung dengan jari. Dan satu di antara beberapa jari itu adalah Ahok.

Jadi dalam spektrum dualisme mayoritas minoritas agama dan etnik, harus diakui bahwa pria kelahiran Gantung, Desa Laskar Pelangi, Belitung Timur, pada 29 Juni 1966 ini, minoritas. Namun, fakta mematahkan sinyalemen keraguan tersebut. Akhirnya, anak almarhum Indra Tjahaja Purnama ini terpilih sebagai Wakil Gubernur DKI pada 15 Oktober 2012, mendampingi Joko Widodo. Setelah Joko Widodo menjadi Presiden RI, Ahok pun dilantik sebagai Gubernur DKI.

Dulu, Joko Widodo dan Ahok didukung oleh sejumlah partai politik untuk merebut kepemimpinan Ibu Kota. Kini Ahok akan maju sebagi calon Gubernut DKI melalui jalur perseorangan atau independen. Akankah ia berhasil? Berikut ini wawancara Sofyan Hadi dari FORUM dengan Gubernur DKI Jakarta Ir. Basuki Tjahaja Purnama, Rabu 16 Maret 2016 di Balai Kota. Nukilannya:

Apa pendapat Anda tentang wacana Komisi II DPR RI akan merevisi Undang-Undang Nomor 8 Tahun 2015 tentang Pemilihan Gubernur, Bupati, dan Wali Kota. Yakni mengubah syarat bagi calon independen menjadi 10-15 persen atau yang kedua 15-20 persen dari daftar pemilih tetap (DPT)?

Boleh saja. Saya kira enggak masalah mau usul gimana mah. Yang penting kan itu sudah diputus MK. Saya mah ikut saja. Kalau misalnya yang diajukan itu 10 persen, berarti 1 juta KTP, kami sudah minta ‘Teman Ahok’ kumpulin. Kalau pemilihnya 7 juta, 10 persen itu 700 ribuan KTP, ya lewat dong. Aku mah santai aja. Jabatan itu amanah. Lo enggak usah rebut. Tuhan yang kasih dan Tuhan yang ambil. Yang penting lo kerja bener saja. Biasa aja saya, (partai politik) enggak bisa jegal juga kok. Kun fayakun (apa yang terjadi, maka terjadilah) ya gue.

Apa alasan Anda maju dalam Pilgub DKI melalui jalur independen?
Karena khawatiran “Teman Ahok”, jika saya tidak mendapat dukungan partai politik dalam Pilkada DKI. Sehingga mereka mengumpulkan sejumlah KTP untuk mendukung saya maju sebagai calon independen. Makanya mereka mau ajak saya keluar dari parpol. Saya penuhi keinginan mereka dan ya sudah nasib saya sekarang ada di Teman Ahok, lebih tepatnya Teman-Teman Ahok.

Bagaimana dengan tenggat waktu hingga bulan Juni untuk melengkapi berbagai persyaratan pencalonan melalui jalur independen. Sebab, Komisi Pemilihan Umum (KPU) DKI mulai membuka pendaftaran calon gubernur dan wakil gubernur dari jalur independen pada bulan Juli?
Kalau terlambat, ya sudah Ahok enggak jadi gubernur lagi.

Apa yang menyebabkan PDIP tidak jadi mendukung Anda?
Sebenarnya PDIP itu cuma butuh mekanisme waktu. Dia kan selalu pasang strategi di akhir. PDIP mungkin berpikiran kalau terlalu cepat mungkin diserang sama orang soal mekanismenya. Namun Teman Ahok tidak bisa menunggu. Apalagi Teman Ahok meragukan orang-orang di dalam partai politik.

Apakah Anda sudah mempunyai sponsor untuk mendukung pada Pemilihan Gubernur (Pilgub) DKI Jakarta 2017 lewat jalur independen?
Yang sponsor saya masih banyak loh. Datang isi. Kamu lihat saja, nenek-nenek, ibu-ibu seharian itu bantu isi formulir orang.  Sudah datang mengisi di tempat booth itu bantu buat isi orang. Langsung dia isi dan bantu isi. Masa yang begitu kita mesti tolak

Menurut Anda ada fenomena apa sehingga warga lebih memilih jalur independen?
Yang terjadi saat ini sebenarnya kita mau memenangkan warga rakyat yang masih percaya pada demokrasi untuk kehidupan lebih baik tapi sedikit kurang percaya pada orang-orang yang ada di parpol. Partai politik muncul karena Republik Indonesia memilih sistem demokrasi sejak awal didirikan. Hanya saja, saat ini orang mulai ragu dengan pengurus, kader ataupun orang yang diajukan oleh partai politik itu sendiri. Sehingga dalam perjalanannya kemudian dikeluarkanlah undang-undang yang memungkinkan calon independen maju di Pilkada. Bahkan kini partai politik pun sah-sah saja bila mendukung calon independen. Saya sendiri sudah didukung oleh NasDem meski menegaskan tak bergabung di partai itu. Bukan berarti kita tidak percaya parpol loh. Kalau Anda mau demokrasi harus parpol. Hanya saja orang mulai ragukan yang berkuasa di dalam parpol nih, makanya mereka dan parpol seperti itu. Makanya dikeluarkan oleh undang-undang boleh independen. Jadi independen ini juga bagian dari demokrasi.

Bagaimana strategi Anda dalam menggalang dana?
Silakan donasi kalau mau dukung kami. Kami ada rekening Ahok-Heru untuk dana kampanye. Sumbangan yang kita terima tentu yang sesuai dengan aturan undang-undang. Enggak mau saya kalau harus sewa Metro Mini, kasih makan, kasih kaos. Sorry aja, enggak deh model begitu. Kita bikin acara yang menarik, suruh mereka beli tiket. Dari situ kita dapat dana. Konsep Teman Ahok, yakni memperjualbelikan kaus dan merchandise. Partai pendukung bisa mencantumkan logo partai mereka di kaus Teman Ahok. Nantinya, para kader membeli kaus tersebut. Bukan kasih kaus, tetapi beli kaus. Ya, saya terima kasihlah sama Pak Wiranto. Saya sama beliau (hubungan) baik dari dulu.

Apa tanggapan Anda mengenai harta kekayaan meningkat signifikan selama 2 tahun menjadi Gubernur DKI Jakarta?
Wajarlah naik, kan ada kenaikan NJOP (Nilai Jual Objek Pajak). Saya dulu beli tanah di Pluit NJOP-nya masih Rp 3 juta, sekarang sudah Rp 8 juta. Harta kekayaan yang ada saat ini mayoritas berasal dari pendapatan sebagai gubernur. Bisnis juga sudah tidak jalan. Istri juga tidak ada bisnis.

Apakah benar Anda disebut sebagai sosok pemimpin yang nafsu terhadap sebuah jabatan?
Nafsu jabatan dari mana? Kalau nafsu jabatan itu tidak berani ribut dengan DPRD, (karena bisa) di-impeach sama partai, bisa turun. Tapi saya nantang semua. Kalau nafsu jabatan itu baik-baikin semua. Ngapain marah-marahin orang.

Apakah benar Partai Hanura juga mendukung Anda?
Buat saya partai mana pun yang mau dukung (Basuki jadi calon gubernur DKI), selama mereka mau keluar dana sendiri, ya saya terima. Saya kan bukan anti-partai. Saya tidak akan menerima dukungan partai jika harus mengeluarkan banyak biaya untuk berkampanye. Contohnya seperti meminta biaya untuk operasional ranting partai, membuat kaus, membangun posko, dan lain-lain. Saya sudah bilang, saya enggak ada uang. Kalau mau dukung saya, silakan.

Comments are closed.