Akhir Pelarian Labora

Aiptu Labora Sitorus  terdakwa tindak pidana penimbunan BBM dan pembalakan hutan secara ilegal dan pencucian uang, saat dihadirkan dalam sidang perdana yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas I B, Sorong, Papua Barat, Kamis (3/10). Dalam sidang perdana tersebut, Aiptu Labora Sitorus, anggota Polres Raja Ampat didakwa dan  dijerat pasal-pasal terkait pembalakan hutan dan penimbunan BBM, selain itu ada juga dakwaan kumulatif, yaitu pasal pencucian uang.  ANTARA FOTO/Chanry Andrew/ss/mes/13
Aiptu Labora Sitorus terdakwa tindak pidana penimbunan BBM dan pembalakan hutan secara ilegal dan pencucian uang, saat dihadirkan dalam sidang perdana yang digelar di Pengadilan Negeri Kelas I B, Sorong, Papua Barat, Kamis (3/10) (ANTARA FOTO/Chanry Andrew)

Labora Sitorus akhirnya menyerahkan diri setelah sempat buron. Ditempatkan di sel khusus. Badannya masih gempal. Tubuh Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Labora Sitorus masih seperti dulu. Hanya saja kepalanya yang plontos.  Mengenakan kaos berkerah warna biru dan celana panjang abu-abu, lelaki asal Sumatera Utara sedang menjalani pemeriksaan penyidik Polres Sorong, Senin pekan lalu.  Di kedua tangannya melingkar sebuah borgol besi. Di depan penyidik, Labora dikawal tiga orang penyidik. Raut wajahnya terlihat tenang.

Labora Sitorus, terpidana kasus pencucian uang dan pembalakan liar, baru saja menyerahkan diri ke Mapolres Sorong. Lelaki pemilik rekening bank berjumlah triliunan ini datang ke Polres pukul 03.00 WIT. Labora akhirnya menyerah usai menjadi buronan ratusan polisi selama beberapa bulan terakhir.

Kendati demikian saat menyerahkan diri Labora tampak sehat, walaupun sebelumnya ia terus bersembunyi dari 120 personel Polres Sorong yang memburunya.  “Yang bersangkutan menyerahkan diri ke Polres Sorong Kota dini hari tadi,” ujar Kapolda Papua Barat Brigjen Royke Lumowa.  Royke mengatakan, Labora menyerahkan diri karena terdesak dengan upaya pengejaran polisi.

Labora diketahui melarikan diri dari rumahnya di Tampa Garam, Sorong, Papua Barat. Ia keluar dari Lembaga Pemasyarakatan (LP) Sorong dengan alasan hendak berobat. Secara mengejutkan, ketika dijemput untuk dipindahkan ke LP Cipinang, Labora sudah menghilang.  Tetapi pelariannya itu tidak lama. Ia akhirnya menyerahkan diri ke Polres Sorong.

Geliat kasus hukum Labora memang menyedot banyak perhatian publik. Pemicunya, ia menolak dipindahkan ke Jakarta.  Melalui kuasa hukumnya, Nur Hadi, ia menempuh langkah hukum. Menurut Nur, pemindahan kliennya melanggar hukum. Ia menilai, rencana eksekusi atau pemindahan Labora Sitorus didasarkan pada putusan Kasasi Mahkamah Agung No. 1081 K/Pid.Sus/2014, 17 September 2014, adalah batal demi hukum karena putusan kasasi tersebut salah menerapkan dasar hukum.

Nur Hadi mengatakan, dakwaan dalam perkara Labora Sitorus tidak berkaitan dengan jaminan fiducia, sehingga Mahkamah Agung dinilai salah dan keliru dalam penulisan dasar hukum. Atas dasar ini, Labora menempuh perlawanan kedua.

Yakni mengadu ke Komnas HAM karena Labora merasa diperlakukan semena-mena dalam proses hukum. Tak sampai di situ, perlawanan Labora juga ditunjukkan dengan ancaman bunuh diri. Labora mengancam bakal mengakhiri hidupnya jika dipindahkan ke LP Cipinang.

Bahkan, pihak keluarga sudah menyiapkan peti mati di rumahnya andai Kementerian Hukum dan HAM (Kemenkumham) ngotot memindahkan Labora ke Jakarta. Tak hanya itu, Labora juga mengerahkan massa yang merupakan karyawan yang setia kepadanya untuk menghadang petugas Kemenkumham untuk melakukan eksekusi pemindahan. Mendapat berbagai halangan, Kemenkumham jalan terus. Eksekusi pemindahan tetap dijalani.

Namun eksekusi tersebut tidak berjalan mulus. Labora keburu kabur dari rumahnya di kawasan Kampung Arang. Ratusan polisi dikerahkan untuk memburunya.  Saat dalam pelarian,  Labora sempat bersembunyi di dua lokasi berbeda untuk menghindari penyergapan. Salah satu lokasi yang menjadi tempat persembunyiannya adalah Kampung Boweser, Sorong.  Labora mencoba bertahan hidup selama pelarian dengan mengandalkan orang dekatnya. Sementara itu, saat ini, hanya sedikit kenalannya yang bisa diandalkan untuk bertahan hidup.

Kabar kaburnya Labora membuat prihatin kalangan Istana. Presiden Joko Widodo langsung memerintahkan agar Labora segera ditangkap.  Lewat Staf Khusus Bidang Komunikasi Presiden Johan Budi SP, pemerintah mengatakan akan menegakkan aturan hukum yang berlaku. “Sikap pemerintah dan presiden jelas, negara tidak boleh kalah oleh orang per orang,” kata Johan, di Kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta.

Presiden Jokowi bahkan telah memerintahkan Menko Polhukam untuk merespons cepat informasi kaburnya Labora dari tahanan. Menurut Johan, Labora tertangkap karena reaksi cepat aparat terkait.  “Ada perintah langsung dikejar ke mana pun, enggak lama tertangkap” ujar Johan.

Merasa terdesak, akhirnya pada 8 Maret 2016, sekitar pukul 03.00 WIT, Labora menyerahkan diri ke Mapolres Sorong. Ia diantar tukang ojek.  Menurut Kapolda Papua Barat Brigjen (Pol) Royke Lumowa, Labora menyerahkan diri setelah kehabisan perbekalan. Saat menyerahkan diri, Labora tidak membawa bekal macam-macam. Niatnya lantaran terdesak terus dikejar aparat penegak hukum.

Usai menyerahkan diri, Labora lantas diterbangkan ke Jakarta pukul 12.15 WIT dengan menggunakan pesawat NAM Air. Ia dikawal  ketat anggota Brimob dari Kelapa Dua, Jakarta. Ia sempat memberikan keterangannya kepada penyidik di Polres Sorong. Sampai di LP Kelas I Cipinang, Jakarta, Labora ditempatkan di sel isolasi khusus.

Labora ditahan di sel isolasi khusus bernomor A109, yang hanya ditempati Labora seorang diri. Hal itu untuk menghindari hal-hal yang tidak diinginkan. “Misalnya seperti bunuh diri,” ujar Dirjen Pemasyarakatan (PAS) I Wayan Gusmintha Dusak.

Belum diketahui seperti apa isi sel tersebut. Yang jelas, sel tahanan itu tidak dilengkapi dengan kamera pengawas (CCTV). Kendati demikian Ditjen PAS menjamin Labora tidak akan lepas lagi selama di dalam LP Cipinang. “Sudah kami arahkan personel agar lebih berhati-hati,” pungkas Dusak.

AFKHAR/FORUM

Dini Hari Menyerahkan Diri

Polisi pemilik rekening Rp1,5 triliun, Ajun Inspektur Satu (Aiptu) Labora Sitorus kembali membuat heboh. Terpidana penjara 15 tahun dan denda Rp5 miliar, kabur ketika akan dieksekusi ke LP Cipinang Jakarta. Beruntung, ia bersedia menyerahkan diri usai dikejar ratusan aparat. Berikut, kronologi kasus yang membelit Labora yang disarikan dari berbagai sumber.
14 Mei 2013
Kapolda Papua, saat itu, Irjen Tito Karnavian mengumumkan, ada satu polisi di Polres Raja Ampat, Papua Barat, yang memiliki rekening Rp1,5 triliun. Ini berdasarkan laporan Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK).  Duit itu akumulasi nilai transaksi selama lima tahun sejak 2007-2012. Polda Papua langsung memeriksa Aiptu Labora Sitorus. Dia disangka memiliki bisnis BBM (bahan bakar minyak) ilegal, penebangan hutan ilegal, dan pencucian uang.
18 Mei 2013
Mabes Polri menangkap Labora sesaat setelah Labora mengadu ke Komisi Kepolisian Nasional di Jakarta. Labora datang ke Jakarta untuk meminta perlindungan atas penetapan tersangka.
8 Juni 2013
Polda Papua menggerebek pabrik kayu olahan milik Labora. Selain didapati ribuan kayu olahan, juga solar 1 juta liter.
29 Januari 2014
Jaksa menuntut Labora dihukum 15 tahun penjara. Labora dinilai melakukan kejahatan kehutanan, kejahatan migas dan pencucian uang. Namun, jaksa tidak meminta perampasan aset Labora.
17 Febuari 2014
Pengadilan Negeri Kota Sorong Papua Barat, menjatuhkan vonis dua tahun penjara dan denda Rp50 juta. Labora dijerat kasus dugaan memiliki bahan bakar minyak ilegal, tindak pidana pencucian uang atas kepemilikan transaksi keuangan senilai Rp1,5 triliun, serta pembalakan liar. Ia ditahan di LP Sorong.
17 Maret 2014
Labora keluar dari LP Sorong dengan alasan sakit. Keluarga membawa Labora ke Rumah Sakit Angkatan Laut Sorong untuk berobat. Hasil pemeriksaan dokter, Labora menderita sakit pinggang dan kaki kanan kesemutan. Namun dia tidak pernah kembali ke Lapas.
2 Mei 2014
Pengadilan Tinggi (PT) Papua menjatuhkan hukuman 8 tahun penjara kepada Labora.
17 September 2014
Mahkamah Agung (MA) menjatuhkan hukuman 15 tahun penjara kepada Labora. Duduk sebagai ketua majelis Artidjo Alkostar dengan anggota Prof Dr Surya Jaya dan Sri Murwahyuni.
Akhir Januari 2015
Jaksa yang berniat melakukan eksekusi Labora ditolak masuk LP Sorong. Diketahui Labora tidak lagi berada di sel tahanan. Kejati Papua berkoordinasi dengan polisi untuk mencari keberadaan Labora.  Ia ditetapkan DPO (daftar pencarian orang).
20 Februari 2015
Jaksa mengeksekusi Labora ke LP Sorong. Sempat terjadi perlawanan dari pendukung Labora. Namun eksekusi akhirnya berjalan aman. Puluhan aparat gabungan dari Polda Papua Barat dan kejaksaan ikut dalam penjemputan paksa tersebut.
4 Maret 2016
Labora rencananya dieksekusi ke LP Cipinang, Jakarta. Namun, ia melarikan diri dari kediamannya saat hendak dijemput oleh petugas Direktorat Pemasyarakatan Kementerian Hukum dan HAM.
8 Maret 2016
Labora menyerahkan diri ke Mapolres Sorong. Ia kemudian diterbangkan ke Jakarta dan dijebloskan ke LP Cipinang.

Comments are closed.