Cegah Peredaran Narkoba, BNN Merangkul UPH dan APRINDO

Serah Terima MOU antara Kepala BNN dengan Rektor UPH/dok humas bnn
Serah Terima MOU antara Kepala BNN dengan Rektor UPH/dok humas bnn

Kejahatan narkoba tumbuh dan jadi ancamam serius. Penanganan juga bukan hanya tugas pemerintah, tetapi seluruh komponen bangsa.
Peredaran narkotika, psikotropika, dan obat terlarang (narkoba) di Indonesia semakin hari semakin merajalela. Salah satu lokasi strategis beredarnya barang haram tersebut adalah kampus. Korbannya adalah kalangan mahasiswa yang dianggap menjadi target pasar potensial.

Atas dasar itu, Badan Narkotika Nasional (BNN) melakukan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) dan sosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) di Gedung MYC MPR UPH, Karawaci, Tangerang, Selasa (16/2).
Penandatanganan dilakukan oleh Ketua BNN Komjen Pol Budi Waseso dan Rektor UPH Jonathan L Parapak disaksikan founder UPH James Riady. Kerja sama tersebut bertujuan untuk mencegah dan memberantas penyalahgunaan serta peredaran gelap narkotika dan prekursor narkotika di UPH.

“Di UPH, kami terapkan pendidikan disiplin kepada para mahasiswa, terutama anak-anak baru supaya mengagetkan mereka bahwa dunia kampus tidak bisa selalu bebas. Kami tegakkan peraturan seperti tidak boleh merokok. Begitu juga dengan dosen kami, tidak ada yang merokok. Karena kami yakin rokok itu adalah awal masuk hal tidak baik, termasuk narkoba,” ujar James dalam sambutannya.

Pada MoU ini, ruang lingkup kerja sama mencakup empat area meliputi pemberdayaan peran serta sivitas akademika UPH dalam rangka pencegahan, pemberantasan, penyalahgunaan, dan peredaran gelap narkotika (P4GN) melalui pembentukan satgas antinarkoba di lingkungan kampus. Selain itu, kerja sama ini juga akan diwujudkan dengan pengembangan muatan materi bacaan tentang bahaya penyalahgunaan narkotika dan prekursor narkotika ke dalam mata kuliah maupun perpustakaan.

“Dengan kerja sama ini UPH akan proaktif melibatkan mahasiswa, dosen, staf untuk bersama-sama mengamankan lingkungan kampus dengan melaksanakan P4GN. UPH siap berada di garis depan dalam menolak narkotika,” ucap James.

Rektor UPH Jonathan L Parapak menyatakan pihaknya memiliki aturan tegas untuk setiap penyalahgunaan narkotika di lingkungan kampus. Saat perekrutan mahasiswa dan staf, harus ada pernyataan bersih narkoba dari institusi yang kompeten. Apabila terbukti menggunakan atau mengedarkan narkotika akan dikenai sanksi dikeluarkan.

Gerakan antinarkotika di Kampus UPH sejatinya sudah dicanangkan sejak 2010 dengan menggelar kampanye “STAY AWAY” yang ditandai dengan penandatanganan dukungan secara simbolis dari ratusan mahasiswa dan staf UPH. Kemudian, dilanjutkan pada 2015 dengan kampanye “Stay Away: No S.A.D (Sex, Alcohol, Drugs) Be SMART (Study, Maturity Abstience, Responsibility, and Talent)”.

Direktur Students Life UPH, Novel Priyatna mengatakan beberapa program telah disiapkan untuk merealisasikan kerja sama ini, di antaranya dengan melibatkan sebanyak 500 mentor nonakademik yang terdiri dari para mahasiswa senior.

“Proses edukasi (terhadap bahaya narkoba, Red) juga dilakukan melalui penyebaran informasi melalui media elektronik, dan nonelektronik, seminar, maupun aktivitas kemahasiswaan lainnya seperti olahraga dan organisasi mahasiswa,” katanya.

Pada kesempatan yang sama, selain UPH, BNN juga menggandeng APRINDO untuk bekerja sama dalam mensosialisasikan program Pencegahan dan Pemberantasan Penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba (P4GN). Perjanjian kerja sama ini dilakukan setelah beberapa waktu lalu BNN dan APRINDO melakukan aksi STOP Narkoba dengan pemasangan sticker STOP Narkoba di ritel-ritel khusus yang tergabung dalam APRINDO.

Penandatanganan nota kesepahaman yang dilakukan oleh Kepala BNN dengan Ketua Umum DPP APRINDO, Roy N. Mandey, dan Solihin selaku Sekretaris Jenderal DPP APRINDO ini meliputi diseminasi informasi dan advokasi tentang P4GN; kampanye anti penyalahgunaan Narkoba; pemasangan sticker STOP Narkoba di toko-toko anggota APRINDO; serta pemberdayaan peran serta masyarakat dalam bidang P4GN.

Kepala BNN Komjen Pol Budi Waseso menyatakan dengan adanya MoU ini peredaran narkotika di dunia akademik bisa diminimalisasi. BNN, lanjut Budi, juga mengapresiasi langkah UPH yang berinisiatif membentuk satgas anti narkoba di kampusnya.

“Saat ini masalah krusial adalah penyalahgunaan narkoba yang menyasar seluruh pelosok narkoba dari segala kalangan. Kejahatan narkoba tumbuh dan jadi ancamam serius. Penanganan juga bukan hanya tugas pemerintah, tetapi seluruh komponen bangsa. Salah satunya seperti UPH,” pungkasnya.

“Pemuda Menjadi Target Regenerasi Pasar oleh Para Sindikat Narkotika”

Badan Narkoba Nasional (BNN) kembali mengukuhkan kerja sama di bidang Pencegahan penyalahgunaan dan Peredaran Gelap Narkoba. Kali ini penandatanganan perjanjian kerja sama dilakukan antara BNN dengan Universitas Pelita Harapan (UPH) dan Asosiasi Pengusaha Ritel Indonesia (APRINDO) di Kampus UPH, Jakarta, Selasa (16/2).

Penandatanganan Nota kesepahaman antara BNN dengan UPH yang dilakukan oleh Rektor UPH, Dr. (HON). Jonathan L. Parapak, M.Eng.Sc, dan Kepala BNN, Komjen Pol Budi Waseso. Hari ini merupakan perpanjangan dari kerja sama yang sebelumnya telah terjalin antara BNN dengan UPH sejak Januari 2010.

Kepala Bagian Humas BNN Kombes Pol Slamet Pribadi mengatakan tujuan dari nota kesepahaman ini adalah untuk meningkatkan peran serta dunia pendidikan dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba melalui penyampaian pengetahuan, perubahan sikap, perilaku, dan budaya melalui upaya komunikasi, informasi, dan edukasi.

“Sehingga tercapainya komitmen yang tinggi dari segenap komponen pemerintah dan masyarakat untuk memerangi Narkoba, serta terwujudnya sikap dan perilaku masyarakat untuk aktif berperan serta dalam pencegahan penyalahgunaan dan peredaran gelap Narkoba,“ujarnya.

Lebih jauh tentang kerja sama tersebut dan upaya-upaya BNN merangkul kalangan kampus dna pengusaha dalam menanggulangi penyalahgunaan dan peredaran gelap narkoba, berikut wawancara Sofyan Hadi dengan Kombes Pol Slamet Pribadi Kamis 18 Februari 2016. Nukilannya:

Langkah-langkah apa saja yang akan dilakukan pihak BNN untuk mewujudkan kerjasama dengan perguruan tinggi?
Langkah-langkahnya bisa melakukan pencegahan, pemberdayaan masyarakat, pemberantasan narkotika dan soal rehabilitasi.  Untuk pencegahan mungkin dengan melakukan sosialisasi, pemberdayaan masyarakat  membentuk kader anti narkotika dan sebagaianya. Untuk pemberantasan narkotika mungkin jika menemukan kejahatan narkotika bisa melaporkan kepada BNN.
Sedangkan untuk rehabilitasi bisa diberikan pengetahuan-pengetahuan manakala ada mahasiswa yang kecanduan narkotika bagaimana jalan keluarnya, bagaimana pengobatannya. Untuk dosen-dosen bagaimana cara bertindaknya. Misalnya dilakukan dengan pemecatan tidak apa-apa, tetapi tetap diobati. Kalau dia dipecat karena menjadi bandar narkotika, ya sudah serahkan kepada kepolisian.

Apakah akan dilakukan penyuluhan atau melakukan tes urin bagi mahasiswa atau dosen?
Betul. Penyuluhan itu bisa melakukan fokus grup diskusi, penyuluhan dan sosialisasi tentang pencegahan. Sosialiasi tentang dampak-dampak narkotika, bahaya narkotika, sosiolog narkotika.

Mengapa perguruan tinggi menjadi fokus BNN?
Perguruan tinggi adalah tempat generasi muda. Generai muda adalah aset bangsa. Generasi muda adalah calon pemimpin bangsa. Artinya seseorang yang sudah pasti akan meneruskan tongkat kegenerasian, tongkat demografi. Karena apa? Pemuda itu menjadi target regenerasi pangsa pasar oleh para sindikat narkotika. Jadi agar dua puluh tahun ke depan dia kecanduan, pengguna narkotika, konsumen narkotika mulai sekarang dibina. Sekaranglah dijual, sekaranglah diberikan narkotika kepada para pemuda agar membeli narkotika. Sampai pemuda kecanduan sehingga di dalam tubuhnya terkunci untuk selalu mengkonsumsi narkotika itu.#

Comments are closed.