Aksi Rampok Para Punggawa Negara

Markas Komando Korps Marinir/panoramio.com
Markas Komando Korps Marinir (panoramio.com)

Oknum tentara dan polisi terlibat dalam aksi perampokan. Mereka ditangkap dan harus mempertanggungjawabkan perbuatannya. Aksi kriminalitas belakangan ini sangat meresahkan. Tidak hanya dilakukan oleh para penjahat kambuhan, melainkan juga diotaki oleh para penggawal Negara. Sebagai punggawa yang menjadi bagian dari penegakan hukum, tentara ataupun polisi seharusnya menjadi orang yang terdepan melindungi masyarakat, dan bukan sebaliknya.

Seperti yang dilakukan oleh trio perampok yakni Puji, Winarto dan Puryadi alias Demit. Mereka adalah oknum anggota TNI Angkatan Laut yang melakukan perampokan sebuah rumah di Perumahan Marinir Cilandak, Jakarta Selatan. “Hasil pemeriksaan ada dua tersangka. Mereka mengaku merampok rumah di Jalan Lapangan Tembak bersama tiga orang teman sipilnya,” kata Kepala Dinas Penerangan TNI Angkatan Laut Laksamana Muhammad Zainudin kepada wartawan, Selasa, 16 Februari 2016.

Dari perampokan yang terjadi pada November 2015 itu, tersangka berhasil membawa kabur uang tunai senilai Rp 4 miliar. Menurut pengakuan tersangka, uang tersebut dibagi-bagi sebesar Rp 800 juta per orang. Sementara itu, kata Zainudin, kedua anggota marinir tersebut sedang ditangani intel Pasmar 2 untuk pendalaman dan pemeriksaan. Dalam menyelidiki perampokan ini, TNI AL bekerja sama dengan Polda Metro Jaya.

Berita ini mencuat setelah pada hari Rabu, 10 Februari 2016, Kepolisian Polda Metro Jaya menangkap komplotan pencuri yang beraksi di satu rumah di Kompleks Marinir, Cilandak, Jakarta Selatan. Tiga anggota kelompok adalah anggota marinir yang tinggal di kompleks itu. Kedua marinir sudah ditangkap Polisi Militer Angkatan Laut (Pomal). Sedangkan tiga anggota lainnya ditangkap pada 10 Februari 2016 di Jakarta dan Ngawi, Jawa Timur.

Direktur Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya Komisaris Besar Krishna Murti mengatakan kasus ini berawal dari bulan November 2015 sekitar pukul 22.00 WIB. Kala itu, lima pelaku melakukan perampokan di wilayah Perumahan Kompleks Cilandak, Jakarta Selatan. “PUJI, NAPI dan PRI diduga oknum marinir. Puryadi alias Demit dan Winarto warga sipil,” kata Khrisna Sabtu (13/2/2016) melalui keterangan tertulisnya.

Lanjut Krishna, aksi perampokan yang dilakukan mereka sudah tertata rapi. Mereka berlima membagi tugas untuk merampok rumah tesebut. “Puji membagi tugas. Ia menunggu di mobil, Napi merusak pintu, Pri mengamankan penghuni rumah apabila bangun dan yang lain mengikuti (kedalam rumah),” kata Khrisna. Dalam aksinya tersebut mereka berempat dengan melompati pagar depan rumah dan merusak pintu belakang. Mereka menemukan kardus coklat berisi uang pecahan Rp50.000 dan Rp.100.000 yang berada di lantai dua. “Pelaku (Napi) kardus tersebut dicongkel dengan obeng dan terlihat ada tumpukan uang pecahan diperkirakan senilai Rp4 miliar,” kata Khrisna.

Setelah berhasil menggasak uang tersebut, lima perampok tersebut membagi masing masing jumlah uang tersebut sebesar Rp730 juta per orang. “Mereka bawa (uang rampokan) ke hotel Maxim Kwitang, Jakarta Pusat. Disana uang tersebut dibagi oleh Pri masing masing Rp730 juta, sedangkan Puji mendapat Rp760 juta karena yang memberi info rumah tempat eksekusi,” kata Khrisna. Akhirnya, pada 10 Februari 2016 Tim Polda Metro Jaya berhasil menangkap tersangka di dua tempat berbeda yaitu Pondok Bambu, Jakarta Timur dan Ngawi Jawa Timur. ” Sekitar 24.30 WIB tersangka Demit diamankan dikontrakanya di Pondok Bambu, Jakarta Timur. Sedangkan tersangka Winarto ditangkap gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Ngawi di Kabupaten Ngawi, Jawa Timur,” ujar Khrisna.

Khrisna menambahkan, Demit dan Winarto menggunakan uang tersebut untuk membangun rumah di Ngawi, Jawa Timur. Belum selesai membangun rumah, Demit sudah terlebih dulu diringkus polisi di kontrakannya di Pondok Bambu Jakarta Timur. Sedangkan Winarto ditangkap saat berada di Ngawi oleh petugas gabungan Polda Metro Jaya dan Polres Ngawi. Adapun barang bukti yang berhasil disita yakni, uang tunai sebesar Rp 1,7 juta, perhiasan (cincin, kalung dan anting, red) dan beberapa telepon genggam. Kini, pihaknya masih memburu satu tersangka lain yang diduga anggota Marinir, yaitu Napi.

Sedangkan Puji dan Pri yang diduga Oknum Militer langsung ditangkap Polisi militer Angkatan Laut (Pomal) didaerah Cilandak, Jakarta Selatan. Polisi juga sampai saat ini masih mengejar satu orang tersangka lagi Napi yang berhasil lolos dan kini masih berstatus Daftar Pencarian Orang (DPO).

Aksi perampokan yang melibatkan aparat Negara juga terjadi di Bekasi. Subdit Reserse Mobile (Resmob) Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Metro Jaya menangkap delapan tersangka pemerasan disertai perampokan tepat di depan mesin Anjungan Tunai Mandiri (ATM) di Jalan Kemang Raya, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Kasubdit Resmob Polda Metro Jaya, AKBP Eko Hadi Santoso mengungkapkan, pelaku terdiri dari 1 oknum polisi, 3 oknum marinir, dan 4 warga sipil. “Satu di antaranya ialah anggota Unit Reskrim Polsek Mampang, bernama Feri Guntara,” katanya, saat dihubungi, Minggu (14/2) malam. Para pelaku tersebut bernama, Feri Guntara (31), pacar Feri yaitu Aldilla Intan Farino (29), Ahmad Sofyan (31), Muhammad Fajarudin (24), Aidil Putra (39). Sedangkan, berdasarkan pengakuan Feri, 3 lainnya merupakan oknum anggota marinir, yaitu Wahyu, Gio dan Roji.

“Untuk anggota Marinir, kami sudah berkoordinasi dengan Pomal Lantamal III dan Intel atau Provost Marinir Cilandak,” paparnya. Feri merupakan otak dari aksi perampokan ini. Dia membeberkan rencana pada komplotannya untuk menggasak korban dengan modus operasi narkoba. Setelah rencana sudah matang, pelaku lantas mematok ATM tersebut di mana mereka memerhatikan orang yang melakukan transaksi. Pelaku mendapati korban, Agustinus Edowail. Usai korban menarik uang, pelaku lantas menyambangi mobil Toyota Yaris B 1552 FFM miliknya, Kamis (11/2) malam.

“Pada saat kembali ke mobil, para tersangka menahan pintu mobil dan mengatakan ‘diam kamu, saya dari Narkoba Polda, kamu sudah saya incar lama,” kata Eko meniru ucapan Feri. Kemudian, kata Eko, korban langsung dipukul dan ditarik ke bangku belakang mobil. Saat di dalam mobil, korban dipepet oleh kedua pelaku. “Mobil korban diambil alih oleh pelaku dan dibawa ke Jalan A. Yani, arah belakang stadion Bekasi. Para pelaku meminta ATM milik korban, serta meminta uang sebesar Rp 50 juta,” kata dia.

Tidak lama, datang dua mobil Avanza merah dan Ford Escape Putih lalu turun empat pelaku lain yang langsung menghampiri korban. Salah satu pelaku yang duduk dikemudi, lanjut Eko, sempat menodongkan senjata api jenis revolver ke lutut korban. “Para pelaku berhasil menggasak uang Rp 3 juta, I phone berikut mobil milik korban,” ujarnya. Berhasil menguras korban, para pelaku menggunakan mobil korban masuk ke dalam Tol samping Bekasi Square, lalu korban diturunkan sekitar pukul 01.30 WIB.

Selain meringkus delapan tersangka, polisi juga menyita beberapa barang bukti yang disinyalir digunakan saat melakukan pemerasan. “Di antaranya, satu senjata api revolver milik Feri (senpi organik Polri), sembilan amunisi kaliber 38 special, satu mobil Ford Escape putih, sembilan telepon genggam (satu punya korban dan delapan milik tersangka dan satu pisau lipat,” tandasnya. Kini para tersangka terancam akan dijerat dengan pasal 365 KUHP dan pasal 368 KUHP tentang tindak pidana pencurian dengan kekerasan dan pemerasan.

SOFYAN HADI/FORUM

Comments are closed.