Perancis Bunuh Otak Teror Paris

Le Carillon/Foto: REUTERS/Philippe Wojazer
Le Carillon/Foto: REUTERS/Philippe Wojazer

Darah dibalas dengan darah. Nyawa dibalas dengan nyawa pula. Boleh jadi itulah langkah Perancis menanggapi aksi berdarah di hari Jumat. Perancis memilih mengirimkan jet temur ke basis ISIS dan membunuh Abdelhamid Abaaoud yang diduga sebagai otak aksi berdarah.

Jet tempur Perancis kembali menyerang basis kelompok Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Suriah. Serangan ini terjadi pada Minggu (15/11), bersamaan dengan penyelidikan polisi mengenai teror di Paris yang terjadi pada Jumat (13/11) pekan lalu.

Serangan ini diduga dilakukan untuk membalas teror yang terjadi dua hari sebelumnya. ISIS sendiri telah mengaku bertanggung jawab atas serangan yang dianggap sebagai perang oleh Presiden Perancis Francois Hollande.

Sebagaimana dilansir CNN, Paris menargetkan serangan udara di pusat komando dan perekrutan serta basis penyimpanan amunisi kelompok teror itu. ISIS mengklaim Raqqa sebagai ibukota yang disebut khalifah.

“Penyerangan kita lakukan di pusat komando ISIS. Di sana merupakan pusat perekrutan, basis penyimpanan amunisi, dan kemah pelatihan untuk kelompok teror itu,” kata penasihat menteri pertahanan Perancis, Mickael Soria.

ISIS mengklaim bertanggung-jawab atas serangan teror ini. Klaim ISIS dibenarkan Presiden Francois Hollande yang segera menggelar jumpa pers di Istana Elycee pada Sabtu pagi waktu setempat.

“Kejahatan keji tadi malam dilakukan oleh pasukan jihadis ISIS untuk melawan Perancis,” ujarnya seperti dilansir AFP.

“Kejahatan ini dirancang dan dikendalikan dari luar negeri,” imbuh Hollande. Presiden Perancis mengatakan akan melawan organisasi manapun yang berani menyerang Tanah Air mereka.

Sedikit dirunut ke belakang, Perancis terlibat operasi militer Koalisi Barat menggempur markas militan di Suriah sejak akhir September 2015 lalu. Jet-jet tempur Negeri Anggur itu menyasar gudang logistik ISIS di wilayah utara.

Sebelumnya dilaporkan BBC, serangan teror terjadi beruntun di tujuh lokasi terpisah, di kawasan timur Ibu Kota Paris. Bom meledak di Stadion Stade de France, dua bar dilempari granat dan ditembaki, satu restoran diberondong senapan mesin. Penyerangan paling parah terjadi di Gedung Konser Bataclan yang dipenuhi lebih dari 1.000 anak muda. Sejauh ini delapan pelaku tewas, tujuh meledakkan dirinya sebelum ditangkap polisi Paris. Korban sipil mencapai 129 orang tewas dan ratusan luka-luka.

Tidak cukup hanya menyerang balik ke basis ISIS, Polisi Perancis secara cepat menggelar operasi. Dalam operasi khusus di pinggiran Kota Paris, Saint Denis, itu, Rabu (18/11), Polisi Perancis membunuh tiga tersangka teroris dan menahan dua tersangka lain.

Menurut radio RTL dikutip Sputniknews, salah satu tersangka yang dibunuh adalah seorang perempuan pelaku bom bunuh diri dengan ikat pinggang yang dipasangi bom. “Operasi ini menyasar Abdelhamid Abaaoud, otak penyerangan Paris, pada Jumat lalu,” demikian laporan RMC.

Siapakah Abaaoud? Abdelhamid Abaaoud dinyatakan otak di balik penyerangan Paris pada Jumat (13/11/2015) lalu. Pria berkebangsaan Belgia itu dicurigai telah merencanakan serangan di Eropa. Abaaoud (29) disebut-sebut telah merencanakan serangan brutal di Paris dari Suriah. Dia dilatih perang bersama kelompok Negara Islam Irak dan Suriah (ISIS) di Irak dan kawasan Mediterania.

Dia adalah ketua jaringan teroris di Verviars yang dibongkar oleh polisi Belgia pada Januari lalu dalam sebuah baku tembak yang menewaskan dua anggota kelompok radikal. Dia diadili secara in absentia bersama 32 anggota kelompok radikal dan divonis 20 tahun penjara.
Setelah melakukan identifikasi, selain seorang perempuan yang bunuh diri dengan bom di ikat pinggang, rupanya Abdelhamid Abaaoud, termasuk yang tewas dalam operasi khusus di Saint Denis, Rabu (18/11). Kejaksaan Perancis mengatakan mereka berhasil mengidentifikasi mayat tersebut sebagai Abaaoud dari sidik jarinya.

Jenazah Abaaoud 27 tahun ditemukan dengan luka tembakan dan pecahan ledakan di sebuah apartemen di kawasan pinggiran sebelah utara Kota Paris. Delapan orang ditangkap dan setidaknya dua orang tewas dalam penyerbuan di Saint Denis itu. Polisi bersenjata lengkap menyerbu gedung itu sesudah mendapat kabar bahwa Abaaoud yang berkebangsaan Belgia itu berada di Paris.

Polisi menembakkan lebih dari 5.000 peluru selama penggerebekan ini, dengan menggunakan senjata laras panjang, granat, dan bahan peledak. Para penyelidik masih mencari Salah Abdeslam, yang diyakini pergi ke Belgia sesudah serangan pada Jumat (13/11) lalu.

Wartawan BBC di Paris Hugh Schofield mengatakan identifikasi Abaaoud menimbulkan pertanyaan soal keamanan. Ia berada dalam daftar pencarian orang di Perancis dan Belgia tetapi bisa masuk ke Paris dari Suriah tanpa meninggalkan jejak sama sekali.

Usai terror di Paris, sejumlah media –BBC, cnn, euronews, france24—tampak sangat berlebihan. Semua acara ditimpa dengan berita penyerbuan sarang teroris. Bahkan kesan berlebihan itu sempat merembet ke media sosial. FB-ers misalkan, banyak yang membalut foto profilnya dengan bendera Negara Perancis. Begitu pula tanggapan dunia internasional yang ramai-ramai mengutuk aksi terror Paris.

Berbeda sekali dengan tanggapan ketika terjadi serangan Israel ke Palestina yang mengorbankan anak-anak, serangan ke warga sipil Suriah, serangan ke Irak, dan pembunuhan umat Muslim di Myanmar. Dunia bungkam pada konflik yang telah mengorbankan ratusan ribu nyawa itu.

Namun kita masih dapat mengharap kejernihan hati warga Paris (Perancis) yang rupanya memilih membela kaum Muslim. Sejumlah warga Perancis menyatakan akan menghadiri pawai bersama muslim yang digelar pada pekan ini untuk mendukung muslim bebas dari ancaman Islamophobia.

Menurut laporan pemberitaan, jemaah Masjid Agung Paris di kota distrik kelima dan pusat-pusat kegiatan Muslim di seluruh Perancis menjadi korban tindakan vandalisme dari kelompok anti-Islam. Para muslim akan menjadi korban dari tudingan terorisme, menurut pemberitaan portal media muslim Saphirnews.

Saat akhir pekan lalu, coretan berbentuk salib merah tertempel di dinding masjid Paris. Selain itu, slogan semacam ‘Perancis, bangun!’ dan ‘Kematian muslim’ tertulis di dinding masjid lainnya, menurut laporan harian Perancis Le Parisien.

Kendati demikian, tindakan itu tidak mempengaruhi sikap sebagian warga Perancis. Sejumlah warga Perancis, yang telah dilarang oleh kepolisian untuk menggelar demonstrasi di Paris hingga Kamis nanti, justru menunjukkan dukungan mereka kepada muslim Perancis dan muslim di seluruh dunia melalui media sosial dan mengorganisir pertemuan lintas-iman.

Sebanyak 3.000 orang berjanji menghadiri pertemuan lintas iman “Berjalan jauh bersama muslim Perancis untuk Perdamaian dan Persatuan Nasional” yang dijadwalkan akhir pekan ini di dekat Masjid Agung Paris. Sementara 6.000 orang lainnya mengaku tertarik untuk ikut serta.

Selain itu, sejumlah pertemuan juga diagendakan melalui Facebook dengan slogan ‘Saya muslim, Daesh (ISIS) bukan’ dan longmarch ‘Berdoa untuk Paris’, dengan 13.000 peserta yang mungkin hadir akan digelar dalam waktu dekat di monumen Arc de Triomphe.

“Terorisme tidak memiliki agama atau kebangsaan,” tulis koordinator aksi Masjid Agung Paris Samia Edd Cardi, seorang muslim yang juga pengusaha teknologi. Aksi tersebut juga akan menggandeng kelompok ateis dan Kristen.

Sementara di Katedral Trinitas Suci di Paris, para imam dari seluruh dunia berencana menggelar pertemuan Persatuan Dunia Ahli Islam untuk Perdamaian dan Menentang Kekerasan. Pertemuan ini diagendakan sebelum teror Paris terjadi, dan segera dilaksanakan menyusul adanya teror tersebut mengingat urgensi dari masalah yang hendak dibahas.

“Setelah serangan keji ini, kita mungkin berharap Tuhan akan datang dan menghapus seluruh musuh kita. Sebaliknya, Jesus disalib, benar-benar tidak berdaya, menunjukkan kepada kita bahwa hanya cinta yang dapat mengatasi kebencian, kejahatan, bahkan kematian,” ujar Whalon yang berdomisili di Paris dalam sebuah pernyataan yang dikutip huffingtonpost.com.

Ya, hanya melalui upaya mawas diri, cinta dan kasih yang dapat mengatasi kebencian dan kejahatan. Bukan menjawab dengan mengirim jet tempur ke basis ISIS di Suriah, padahal Perancis ikut operasi militer Koalisi Barat menggempur markas militan di Suriah sejak September lalu.

Budi Nugroho/FORUM

Comments are closed.